
Teriknya matahari tak membuat aktivitas yang ada di kota ini terhenti. Banyak sekali para kuli bangunan yang masih mengaduk semen, serta mengangkat beberapa batu bata ataupun barang lainnya ke tempatnya. Banyak pula para polisi berseragam yang menertibkan lalu lintas. Tak ada kata lelah untuk mereka.
Hendri kini sudah menemukan cara untuk menyelinap ke dalam brankas Raffael yang dijaga ketat itu. Dia seperti penyelundup yang memasukkan barang-barang khususnya dengan taktik. Dia menyuruh anak buahnya tetap mencari kelemahan Raffael, mencari keberadaan Amira, mendesak Wirawan dengan perjanjian konyol itu, serta hal lainnya.
Dia menyisakan beberapa anak buah untuk menjaga markas sementara yang mengikutinya melancarkan aksi hanya ada 5 anak buah termasuk dua orang ahli ITnya juga. Satu ahli IT untuk mengarahkannya dan juga memberi tugas monitor satu serta menyadap CCTV yang ada di setiap ruangan. Sedangkan satu ahli IT nya lagi ditugaskan untuk mencarikan jalan pemasangan bom yang dipegang oleh monitor 2 dan 3. Lalu mencari pin dan password dari brankasnya.
"Monitor satu, pergi ke post petugas ke duabelas. Disana akan ada yang keluar untuk istirahat! Jangan sampai orang lain yang menggantikannya!." Ucap Salah satu dari dua ahli IT itu.
"Baik!." Orang yang memiliki kendali monitor satu berbicara dengan lirih. Dia berjalan ke arah dimana orang dari post dua belas yang barusaja keluar. Dia langsung mengajukan diri dan tak mengizinkan orang lain mengambilnya. Akhirnya orang itu menyetujuinya dan anak buah Hendri pun masuk ke post penjagaan ke duabelas.
Dia menyiapkan kostum penyamaran khusus yang membuatnya bisa masuk ke dalam Bank pusat itu (anggap saja itu sebutan yang Hendri gunakan untuk markas penyimpanan uang milik Raffael pribadi).
"Paket!." Ucap Hendri yang menyamar sebagai tukang pos. Dia membawa kardus yang sangat bersar, tentunya untuk melakukan misi ini.
"Ohh ada kiriman dari tuan muda ya?." Tanya petugas yang ada di pintu. Hendri pun mengangguk dan tersenyum ramah kepada petugas itu.
"Baiklah! Silahkan masuk, antarkan ke gudang penyimpanan!." Ucap petugas itu.
Dia melewati pintu Bank dengan aman sebagai pengirim paket, lalu masuk ke dalam gudang. Disana terdapat celah terowongan yang bisa membuatnya menemukan jalan ke tempat brankas itu berada. Brankasnya sunggu dijaga ketat. Terdapat anak buah di sepanjang jalan menuju brankasnya dan terdapat pin yang dipasang kuat di pintu sana. Setelah itu, ada sinar laser yang akan berbunyi jika sinarnya itu disentuh oleh sesuatu. Yang terakhir, ada sandi yang dipasang di pintu brankas.
Dengan arahan dari sang anak buah yang ahli dalam IT, dia menggerakkan tubuhnya mengarah ke ruangan khusus itu.
"Bos, belok ke kiri dan tetaplah perlahan melakukannya! Jangan menimbulkan suara!." Ahli IT itu masih membimbing Hendri dengan layar monitor yang melacak lokasinya Hendri saat ini. Hendri yang memakai headphone memudahkannya untuk berkomunikasi.
__ADS_1
Hendri hanya menurut saja tanpa ingin menanyakan sesuatu. Kini, dia sudah berada di atas area pintu masuk ruangan Khusus itu. Terdapat dua penjaga di pintu masuknya. Setelah itu jika pintu terbuka akan terlihat brankasnya di dalam sana.
Hendri tak sengaja memukul seng yang ada di samping tubuhnya sehingga membuatnya harus mundur karena ada lubah di bawah tubuhnya. Mungkin saat ini dia berada di atasnya post sembilan. Petugas yang menjaga di bawahnya pun menoleh ke asal suara dan mencoba menemukan suara itu. Namun, Hendri telah berhasil mundur dari posisinya sehingga dia tak terlihat.
"Sial! Aku terlalu tidak sabaran untuk memiliki aset Raffael!." Gumamnya dalam hati.
"Bukankah tadi ada suara?." Tanya petugas satu kepada petugas dua.
"Iya, tapi kenapa tak menemukan apa-apa ya?." Tanya petugas dua kepada petugas satu.
Petugas itu nampaknya tak terlalu memperdulikannya. Mereka kembali dalam posisi berjaga. Sementara hendri dia melanjutkan aksinya dengan lebih hati-hati kali ini.
Anak buah hendri yang bertugas membawa bom peledak sudah bergerak. Dibawah bimbingan ahli IT 2, mereka meletakkannya di tempat yang sekiranya akan memakan banyak korban. Salah satunya adalah di katin peristirahatan petugas. Disana pasti akan ada banyak manusia kan?. Monitor 2 bergerak dan menyamar sebagai salah satu dari mereka, dengan bantuan seragam kebersihan yang akan membawanya masuk.
"Maaf, saya petugas kebersihan yang baru! Saya diminta untuk membersihkan gudang tuan!." Ucap orang yang memegang monitor dua. Penjaga itupun mempersilahkannya masuk tanpa curiga.
"Bagus! Cepat ganti bajumu! Buka paket yang telah diletakkan tuan Hendri di ujung sana! Yang besar itu!." Ahli IT dua itu memberi arahan kepada monitor dua.
Monitor dua segera melepaskan seragam itu dan membuka dengan hati-hati paketnya. Dia mengambil seragam yang sama persis dengan penjaga lainnya. Lalu, dia memasukkan seragam kebersihan ke dalam paket. Dia juga tampak mengambil yak besar yang mirip pula dengan punya penjaga, namun berisikan bom. Dia kembali menutup paket itu dengan sempurna.
Dia pergi ke kantin. Disana terdapat banyak tas para penjaga yang tergeletak di lantai. Dengan trik yang sama pula, Monitor dua menenteng tasnya dan meletakkannya secara perlahan dibawan. Setelah itu, ia pura-pura makan bersama yang lain. Setelah waktu yang ditentukan, dia pura-pura pergi ke toilet dan kabur darisana. Karena CCTVnya sudah diretas oleh ahli IT satu.
"Ehh? Kau mau kemana?." Tanya pria yang berada di samping monitor dua.
__ADS_1
"Aku mau ke toilet! Perutku sangat mules setelah makan!." Ucapnya dengan akting yang sempurna. Dia segera berlari dari sana dan pergi ke toilet.
Namun, setelah pergi ke toilet monitor dua diperintahkan oleh Hendri dan ahli IT dua untuk menggantikan petugas yang ada disamping monitor satu, karena itu akan semakin mempermudah Hendri untuk masuk.
"Monitor dua? Segera keluar dan gantikan petugas yang beristirahat itu! Dia dari post dua belas!." Ucal ahli IT dua.
"Baik! Akan saya laksanakan!." Ucapnya dengan tegas lalu segera keluar dan mengajukan diri untuk berjaga di post duabelas.
Monitor tiga pula menaruh bomnya di atas gedung itu. Dengan bantuan dari ahli IT dua, dia berhasil ke atas gedung dan siap mengaktifkan bom jika sudah diperintahkan. Dia juga akan melubangi bagian tengah atap itu dengan laser nanti, agar Hendri bisa kabur lewat sana bersamamya. Disana kebetulan memang tidak ada CCTV nya sehingga memudahkan anak buah Hendri melakukan tugasnya.
Kini, Hendri sudah berada di atas post duabelas. Dengan segera, ia membuka penutup peralon itu dengan sangat perlahan. Karena yang menjaga adalah anak buah ya sendiri, jadi tak masalah untuknya. Setelah itu, hendri dan keduanya masuk kedalam sana. Tentunya setelah mengetahui PIN dari ahli IT itu.
Kini Hendri dan anak buah telah masuk ke dalam brankas itu. Ternyata brankasnya ada di tengah ruangan, sementara yang ada di sekitar brankas adalah uang yang dikelola oleh Raffael. Dia membuka brankas itu dengan mudah tentunya dibantu oleh anak buahnya.
Rencana berjalan dengan sempurna disana. Namun, saat Hendri hendak kembali, seperti dugaannya anak buah Raffael sangatlah jeli dengan gerak-gerik aneh yang berada di sekitarnya. Saat ia hendak kabur lewat atap yang sudah dilubangi salah satu anak buahnya. Ada yang datang memeriksa dan setelah melihat ada pencuri, petugas itu segera memencet tombol darurat.
Tombol darurat yang membuat suara seperti sirine itu berbunyi membuat semuanya ketar-ketir. Beberapa berlarian kesana kemari. Banyak diantara mereka yang berada di tempat istirahat, hal itu membuat Hendri semakin mudah untuk mengurangi jumlah pasukan Raffael. Ketiganya sudah naik ke atap dan segera menyusul sang Monitor tiga. Hendri memerintahkan monitor dua untuk meledakkan semua bom yang telah terpasang. Dalam hitungan mundur lima menit, mereka terjun dari gedung itu menggunakan parasut, lalu segera berlari dari tempat itu.
Akhirnya setelah hitungan lima menit, banyak korban berhamburan disana. Darah dan ratusan jasad yang ada disana tergeletak tanpa sisa. Namun, siapa yang menyangka jika hendri hanya mengambil kontrak kerjasama dari pariwisata terbesar di kota itu. Yang lainnya ia tinggalkan tergeletak disana. Tentu saja setelah kejadian itu Raffael mengalami rugi besar. Hanya beberapa korban saja yang masih selamat. Itupun terluka parah akibat ledakan dari du bom yang terpasang.
Setelah menjauh dari tempat itu dan mengungsi ke hotel, para anak buahnya heran kepada Hendri.
"Bos? Kenapa tidak kita lenyapkan saja para petugas yang masih hidup itu?." Tanya salah satunya.
__ADS_1
Hendri tersenyum miring mendengarnya. Dia segera memasang lagak arogannya itu. "Memangnya apa yang bisa dilakukan Raffael setelah ini?." Tanyanya kepada anak buah.
Mereka hanya terdiam mendengar ucapan Hendri itu.