
Selesai mandi bersama itu, Amira mengumpat di batinnya, sejadi-jadinya dengan wajah kesal. sementara Raffael hanya terkekeh geli melihatnya. Raffael dan Amira mengganti pakaian di ruang ganti yang terpisah. Tentu saja hal itu disebabkan akan kekesalan Amira yang kian memuncak.
" Dasar pria kurang ajar! Memperlakukan orang seenaknya saja!!." Ucap Amira yang sangat keras saat mulai merapihkan pakaiannya. tentu saja, Raffael yang mendengar itu langsung menyungging senyuman.
* haha! maafkan aku ya, aku memang serakah!.* batin Raffael setelah mendengarkan suara Amira.
----------------
Mereka berdua pun turun ke ruang tamu. disana sudah ada pak Wirawan, bu Maya, Sania, dan Bianca. dimana pak Amdan?. ia telah pergi saat Maya telah sampai ke kamar Raffael.
Sepertinya, ada sedikit kecanggungan disini. Melihat dua sejoli yang tak pernah terlihat sedikitpun kemesraanya, membuat Sania dan Bianca bertanya-tanya keadaan yang ada di hadapannnya sekarang. Tentu saja, karena saat turun Raffael tampak memeluk pinggang Amira dengan sangat erat. Nampaknya ia pun nyaman saat memeluk pinggang istrinya itu.
" Hentikan! kenapa kamu memeluk pinggangku?." tanya Amira dengan suara yang pelan.
" kenapa memangnya? enggak boleh?." tanya Raffael.
Amira pun kesal karena bukannya dijawab, Raffael malah menanyakan kembali hal yang tidak perlu. Setidaknya itulah menurut Amira. *sialan!.* Amira.
" Diamlah, Sayang! atau mereka akan tahu kalau kamu enggak nyaman ada disini!." Raffael membisikkannya tepat di samping telinga Amira. hal itu membuat bulu kuduknya berdiri merinding akan suara Raffael.
Mereka pun duduk di sofa, bersama yang lain. Seketika itu, kedua Kakak beradik itu menghela napas. " kakak, ini Ibu Maya! kamu pasti belum mengenalnya kan?." Tanya Sania dengan membusungkan dadanya.
" oh, tentu saja...." Belum menyelesaikan kalimatnya, Bianca sudah menyelanya terlebih dahulu.
" Aku tahu kakak pasti baru mengetahuinya. tapi, sebenarnya dia bukanlah Ibu kandung kami!." kata Bianca.
" ahaha, iya tapi aku sudah..." Ucap Amira yang kembali dipotong oleh Bianca.
" Dia yang telah merawat kami dari kecil! tapi jangan salah paham dulu! dia bukan baby sitter!." ucap Bianca yang sepertinya enggak memperdulikan ucapan Amira.
Raffael, Wirawan dan Maya hanya menggelengkan kepala melihat hal itu. Sania dan Bianca tidak tahu kalau Maya adalah istrinya Wirawan, bahkan Raffael. yah, mungkin sebelum kejadian di kamar tadi. Bianca masih kekeh terus saja berbicara tanpa memperdulikan yang lainnya.
Hingga akhirnya, " Sudah Bianca! hentikan dulu!." Ucap Maya sedikit tegas yang dibalas senyum murung oleh Bianca.
" Amira sudah mengenal ibu! karena dia adalah anaknya ibu!." ucap Maya yang membuat Sania dan Bianca sedikit terkejut.
__ADS_1
" Ha?." ucap kedua kakak beradik itu serentak.
" bukannya ibu belum menikah ya? bagaimana bisa ibu punya anak?." tanya Sania dengan wajah polosnya.
Seketika itupun, Wirawan, Maya dan Raffael tertawa sekencang-kencangnya, seperti melihat kepolosan anak kecil. ya, walaupun Sania sudah dewasa sih.
" Bu Maya itu istrinya pak Wirawan, mengerti?." ucap Wirawan yang dibarengi dengan suara tawa.
" hah? benarkah? kenapa kami baru tahu?." Tanya Bianca tidak percaya.
" ya karena kami enggak pernah kasih tahu ." Ucap Maya dengan santai.
" hah! aku bahkan juga baru tahu!." ucap Raffael dengan menatap tajam pada bu Maya.
----------------
Mereka selesai berbincang-bincang di rumah ini. Dan sepertinya hari pun sudah semakin siang. kini kita sudah berada di jam 09:37 siang. Dan nampaknya, Maya, Sania, Bianca dan Wirawan pergi keluar rumah merayakan kepulangannya Maya.
Sementara itu, lihat dulu kedua sejoli yang sedari tadi berdiam diri mematung di sofa ini. Mereka adalah Raffael dan Amira. Sepertinya, Amira ingin menanyakan sesuatu, tapi dia agak canggung dan takut untuk menanyakannya
" El?." ucap Amira yang hanya dibalas 'emm' oleh Raffael.
Raffael menyungging senyuman, lalu mengusap rambut Amira dengan lembut. " silahkan!." ucap Raffael yang terus saja melihat wajah Amira dengan Intens.
Seketika mata Amira pun melebar dan senyum bulan sabit pun terukir di wajahnya. " benarkah?." tanya Amira ingin memastikan apa yang ia dengar.
* jika sampai ada pengecualiannya, aku akan memukulmu tuan Raffael yang menyebalkan!.* Ucap Amira dalam hatinya yang sepertinya sedang menduga-duga sesuatu.
"hmm, tentu saja! kenapa kamu seperti orang yang baru saja mendapatkan hadiah?." ucap Raffael dengan suara yang berat. Ia lalu mencium bibir Amira sekilas, yang tentunya membuat wajah Amira memerah.
* ha? sepertinya tragedi satu malam sudah membuatnya berubah ya? benarkah itu? atau, dia hanya bosan saja?... akh kita lihat saja nanti." Ucap Amira dalam hatinya, dengan jantung yang berdegup kencang.
" hei! apa yang kamu pikirkan?." Tanya Raffael dengan tatapan sendu nan lembut, namun tetap saja dengan nada yang datar.
Amira pun menoleh ke arah Raffael yang sedang asyik menatapnya dan sesekali mengusap pipi lembutnya Amira. " eung? enggak ada!." Ucap Amira dengan sedikit menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
" oh iya, aku lupa!." Ucap Raffael yabg sedikit berteriak membuat Amira tersentak kaget.
" apa!?." tanya Amira dengan singkat.
" kamu boleh pergi jika aku ikut bersamamu!." Ucap Raffael dengan santai.
* agh! sudah kuduga!! sudah kudugaaa!!.* Batin Amira yang berteriak membenarkan apa yang ia duga-duga. Namun, tidak melakukan apa yang ia rencanakan sebelumnya.
" eum? kenapa? kamu enggak mau?." tanya Raffael yang sedikit mengerti dengan suasana hati Amira, dilihat dari mimik wajahnya yang kusut.
Raffael menyeringai karena hanya diberikan wajah cemberut oleh Amira.
* hahaha! enggak akan ku lepaskan kamu sebelum aku puas!." Raffael.
*heuh seharusnya aku izin saja kepada ibu, daripada izin kepadanya!.* Amira.
----------------
Wirawan, Maya, Sania dan Bianca sudah pulang. saat ini, Wirawan dan Maya sedang menunu ke ruang tamu. sementara Sania dan Bianca langsung saja masuk ke kamar masing-masing untuk mencoba pakaian mereka. kini, Amira menghampiri ibunya dan memberitahukan apa yang ia inginkan.
"ibu!." selorohnya dengan manja saat ibunya akan duduuk di sofa.
*sudah cukup, Amira! jangan bersikap seperti itu kepada ibumu, atau aku akan semakin enggak bisa lepas darimu! jangan membuat iseng ku ini jadi kenyataan!.* seloroh Raffael dalam hatinya dibarengi dengan suasana hatinya yang tidak karuan.
"kenapa sayang?." tanya Maya yang sudah hafal dengan Amira, sehingga ia tahu kalau Amira akan meminta sesuatu.
"bolehkah aku pulang ke rumah? sehari saja!." tanya Amira.
"memangnya kenapa? apa kamu enggak betah disini?." tanya Maya kembali.
"emm! bukan begitu! aku sudah izin kepada Mito agar aku bisa pulang! aku enggak mau menyia-nyiakan cutiku!." ucap Amura dengan Manja.
"hahaha! baiklah! enggak masalah!." ucap Maya dengan santai.
*ah! akhirnya aku bisa kembali ke kamar cantikku yang tersayang walaupun hanya sehari!!.* ucap Amira dalam hati dengan wajah yang sumringah.
__ADS_1
*hah, baiklah. mumpung aku belum pernah pergi kesana, aku akan ikut bersamanya!.* seloroh Raffael dalam hatinya.
Akhirnya Wirawan dan Maya membawa empat penghuni rumah itu ke kediaman milik mereka.