Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Rencana


__ADS_3

Affandi terkejut, karena baju dan barang-barang yang ada di rumah itu dikeluarkan dari rumah itu. Begitupun kedua tuan putri yang menangis tersedu-sedu karena dipaksa keluar oleh sekelompok orang berbadan besar itu. Namun, dari yang dilihatnya hanya ada barang-barang Sania, Bianca dan dirinya saja. Dia tak mengetahui keberadaan koper Raffael.


"Maaf pak, sebenarnya ini ada apa ya?."


"Rumah ini sudah tidak menjadi milik tuan Raffael lagi. Karena sudah dipindah namanya ke nama bos kami!."


Sekarang dia mengerti. Ini adalah ulah dari Hendri. "Fandi! Sekarang kita kemana?." Tanya mereka dengan hati ter iris-iris.


"Ee, kita ke hotel saja nona! Naik mobil saya!." Affandi membawa kedua orang itu ke hotel.


Namun, setelah menyewa kamar hotel, dia malahan melihat Alenta dengan Hendri.


"Ha? Mereka bersama? Habis dari mana?."


*****


"Raffael! Irfan akan anterin kamu ke rumah nenek!." Kata Ayah tanpa menoleh sedikitpun kepada Raffael.


"Iya Yah! Raffael akan pertimbangkan keputusan Raffael!." Kata Raffael karena sedih akan berpisah dengan Lily nya.


Amira sama sekali tak melihatnya. Ia hanya menunduk dan menunduk saja. Raffael yang melihatnya mencoba mendekat.


"Mira!!." Tak ada jawaban.


"Amira!!!." Sekali lagi lebih keras, namun tak ada jawaban.


"My Lily!." Amira terkejut. Suara lembut dengan panggilan khas Lily itu? Seketika membuatnya mendongak.


"Apa?." Tanya Amira dengan cepat.


"Lily? Maksud kamu?." Tanyanya sekali lagi.


Raffael tersenyum. Ah, akhirnya bisa melihat wajahnya setelah semalaman dikucilkan.


"Aku pergi ya?." Kata Raffael.


Amira masih tak mengerti. Dahinya mengernyit dengan deraian air mata yang ternyata sudah sedari tadi mengalir.


"Bye bye, Lily kecil!." Raffael mengusap-usap rambut Amira. Ah, sudah sekian tahun lamanya tak merasakannya lagi.


Wajah manis Amira saat melihat dirinya dengan dingin. Dan rasa itu kembali lagi dihatinya.


Kedinginan yang menyembunyikan sejuta kehangatannya. Dia membalikkan badannya dan melangkah


Amira semakin deras menangis. Dia menghentikan Raffael dengan satu kalimatnya.


"Sejak kapan kamu menyukai Amira, dan sejak kapan kamu menyukai Lily!." Terhenti sudah langkah sang pria impiannya.


"Aku menyukai Lily sejak pertama kali bertemu!." Tanpa membalikkan badannya.


"Ada rasa kepada Amira sejak pertama kali dia memijitku! Rasanya ada yang kembali setelah sekian lama!." Ujarnya lagi.


"Mencintai Lily dan Amira ketika tahu kalau mereka sangat dekat!." Sambungnya lagi.


"Terus kamu pilih siapa?." Tanya Ibu yang sudah mengerti.

__ADS_1


"Bu, kamu ngapain sih? Tidak usah ditanyai." Kata Ayah.


"Ayah diam dulu!." Kata ibu.


"Tadi malam aku sudah memutuskan pilih Amira Bu! Tapi aku ingin nenangin diri!."


"Saya tidak percaya! Kamu itu tetep saja tukang selingkuh!." Marah Ayah.


"Tidak apa-apa kalo Ayah tidak percaya! Tapi, aku mohon sama ayah, kasih kesempatan sekali,,, saja buat Raffael!." Katanya.


Tuan Wirawan masih dengan angkuhnya melipat kedua tangannya.


"Ayah, jangan galak-galak dong!!." Kata Ibu mencoba merayu Ayah.


"Yaudah Raffael berangkat dulu ya, semuanya!." Raffael pun pamit.


'El, jadi kamu kakak itu, aku udah nunggu kamu bertahun-tahun!'


*****


"Maaf, Tuan Raffael! Sepertinya Affandi sedang mencari anda!." Kata Irfan memecah keheningan di mobil itu.


"Ah, masa?." Tanyanya mengetes Irfan.


"Ya, tadi saya lihat dia mondar-mandir di depan rumah Tuan!." Katanya.


"Yaudah, kenapa tidak dijemput saja sekalian?."


"Saya tidak diperintahkan untuk itu!." Ucapnya dengan nada datar.


'Dasar anak buah nyebelin!!.' Gerutunya dalam hati.


Irfan pun tersenyum. "Jangan ngatain orang di dalam hati loh, Tuan! Bahaya kalo orangnya tahu." Kata Irfan seperti sudah tahu saja apa isi hati Raffael.


'ai? Dia tahu apa yang aku katakan tadi?'


Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya Irfan mengehentikan mobil di depan sebuah rumah. Rumahnya sedang, namun memiliki desain yang mewah.


"Irfan, gimana sama adik-adik saya?."


"Mereka masih ada jadwal kuliah! Dan selama seminggu akan menginap di hotel!." Jelasnya.


"Lah, kenapa nggak dirumahnya Ayah saja?." Raffael terheran-heran.


"Affandi sudah menyarankan, tapi mereka tidak mau! Mereka menyewa satu kamar selama seminggu!." Irfan sepertinya tak bisa santai ketika berbicara dengannya.


"Jangan kaku kaku kenapa sih?." Irfan tak berkutik. Setelah menurunkan koper, dia berbalik dan hendak masuk lagi.


"Eh, tunggu! Sejak kapan saya bawa koper? Kok ada disini?."


"Saya minta yang lain ambil baju tuan kemarin!." Raffael menganga.


Anak buah mertuanya ini lebih cepat bergerak dibandingkan anak buahnya sendiri. Memangnya sekeras apa sih latihannya?


"Ya-yaudah makasih ya!."

__ADS_1


*****


Irfan langsung saja menuju keberadaan Fara. Dia sedang bersama Affandi untuk mendapatkan bukti mengenai kasus Raffael dengan Hendri.


"Gimana Far?." Tanpa salam tanpa menyapa, Irfan langsung duduk di sebelah Fara.


"Ada orang dalam yang bisa niruin tanda tangan Raffael, Sania, dan Bianca!." Affandi sendiri terkejut.


Bagaimana bisa mereka mengenal semua anggota keluarga itu. Bahkan mereka tidak perlu penjelasan darinya.


"Karena itu, kita harus cari bukti lain buat membuktikan kalau Hendri telah melakukan itu secara ilegal!." Fara melanjutkan ucapannya.


"Aku nggak nyangka, Tuan Wirawan bermusuhan dengan orang yang juga dimusuhi menantunya!." Ucap Irfan merasa prihatin.


"T-tunggu, maksudnya Hendri itu orang yang ngincer,,,," Affandi menghentikan ucapannya. Walaupun tetap membuka lebar matanya.


"Iya! Dia yang ngincer Nona Amira! Yang dijanjiin kakek buat jadi istrinya!." Mereka menundukkan kepalanya.


Sekarang, mereka bergerak untuk menuju kediaman nenek Raffael. Kembali menghampiri Raffael. Namun, tentu saja sudah meminta izin kepada tuan Wirawan.


Rencananya, mereka akan minta bantuan Raffael untuk mengalihkan perhatian Alenta. Karena setelah melihat Alenta dengan Hendri, Affandi mengecek cctv hotel itu.


Ternyata sudah beberapa kali mereka ke sini. Bahkan mereka pesan satu kamar untuk berdua. Dan bukti ini disalin ke ponselnya agar Raffael semakin yakin untuk memilik Amira.


*****


"Ada apa, Affan?."


"Kenapa tiba-tiba kesini?."


"Dan, kenapa kamu sama mereka?." Tanya Raffael secara beruntun.


"Maaf tuan! Saya ingin meminta bantuan tuan terkait pemindahan nama secara ilegal yang dilakukan Hendri!."


Baiklah. Raffael sedikit mengerti. Dia memegang dagunya beberapa kali setelah mendengar cerita pencarian yang dilakukan mereka dari kemarin.


"Kami minta, anda ngalahin perhatiannya Alenta!." Raffael terkejut.


"ALENTA?? KENAPA ALENTA?." Mereka terdiam.


Firasat Raffa sepertinya tidak enak jika dilihat dari situasi ini. "TUNGGU, Fan,,,, Alenta nggak terlibat kan?."


Wajah Raffael sudah sangat cemas dengan keadaan ini. Jika benar, berarti selama ini secara tidak langsung dia memberikan jalan masuk kepada Hendri melalui Alenta. Karena Alenta tahu dimana dokumen perusahaan berada. Sementara dokumen yang lainnya beberapa ada di rumah, juga gedung itu.


"Ini tuan!.kemarin saat saya ke hotel, saya lihat mereka bersama, dan waktu saya cek cctv, ternyata mereka sudah sering kesana!."


Raffael melihat video-video yang sangat mesra itu. Sekarang, ia memutuskan untuk mengikuti langkah mereka.


"Kapan misinya? ."


"Mungkin akan memerlukan waktu cukup lama. Dan Tuan harus memperlakukannya secara romantis Minggu ini, setidaknya sampai buktinya sudah diproses kan!."


Mereka memulai rencananya.


"Hari ini, tuan harus mengajak Alenta makan yang lama, biar kami bisa masuk ke rumahnya. Apa tuan tahu ruang monitor cctv nya?."

__ADS_1


__ADS_2