Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Married


__ADS_3

Seloroh ayam berkokok baru saja tiba. Pagi-pagi sekali, disaat cuaca sedikit berkabut, tepatnya jam enam pagi hari. Sania dan Bianca yang sedang beberes kamar tiba-tiba mendapatkan telepon dari orang yang berbeda. Namun, disaat yang hampir bersamaan.


Mereka menjauh dan mengangkat telepon itu dengan senang hati. Sepertinya dari kekasih mereka.


"Halo sayang, kenapa telepon?" Bianca dengan senyuman manisnya menanyai kabar sang kekasih.


"Sayang, hari ini aku mau lamar kamu! Nanti siap-siap ya?" Kini Affandi pula yang berbicara pada Sania. Mereka tampak kegirangan.


Pasangan yang satu ini sedang dalam masa kasmaran yang memuncak. Saling memuji satu sama lain bahkan waktu telepon.


"Iya, nanti siang aku tunggu deh! Kamu udah kasih tahu kak Raffael kan?" Sania sedang memastikan tak ada yang terlewatkan dengan persiapan Affandi.


"Udah sayang, kakak kamu sendiri yang udah minta Dateng jam 10! Katanya sekalian!" Bian kembali menegaskan jam kedatangannya.


"Sekalian, gimana?"


"Tau tuh!"


"Yaudah! Aku mau lanjut bersih-bersih dulu!" Sania dan Bianca sama-sama mengatakan itu pada sang kekasih, lalu mematikan teleponnya.


Mereka kembali bersama. Dengan kabar yang sama pula, mereka menceritakannya satu sama lain.


"Kak Sani! Hari ini aku dilamar kak Bian, kak!!!" Bianca sangat antusias dengan ini. Begitu pula, dengan Sania.


"Masa sih? Gue juga sama, Bi!! Aaahhhhaha akhirnya!" Mereka menangis bahagia. Bersama saling memeluk dan saling mengucap selamat.


Akhirnya siang pun tiba. Rasanya sangat singkat untuk menunggu waktu bahagia itu. Sebentar lagi, mereka akan dilamar oleh sang kekasih hati.


Seperti jam pasir yang menyusut sangat cepat, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Affandi dan Bian.


"Eh? Mau ngapain Lo Fan?" Bian tampak terkejut dengan kehadirannya, begitupula Affandi.


"Mau ngelamar Sania! Lo sendiri ngapain?"


"Ya sama lah, Lo pikir mau apa?"


Dari belakang, terdengar suara teriakan wanita paruh baya yang penuh dengan kebahagiaan. "Aha! Bian! Tunggu dong! Mama kan mau bareng sama kamu!"


Mama Bian terlihat tersenyum senang hari ini. Dia langsung menarik kedua pria itu dan masuk ke dalam.


"Fandi juga ada acara disini?" Tanya ramah Mama Bian.


"I-iya Tante!" Bau harum parfum wanita paruh baya itu menyeruak di hidung Affandi.


'Spesial banget parfumnya. yahh, buat calon menantu tersayang!'


"Tante, Fandi duluan ya?" Affandi berlalu pergi meninggalkan keduanya.


"Ayo Ma! Tunggu apa lagi sih?"


Mereka pun masuk ke dalam rumah itu. Rumah wirawan yang dijadikan Raffael markas acara lamaran kedua adiknya.

__ADS_1


Tampaknya, belum ada lagi paparazi ataupun media yang akan meliput mereka karena Raffael sendiri sudah mengumumkan kehadirannya di pertemuan para pebisnis itu.


Raffael tersenyum bangga karena kini, dia merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua yang anaknya hendak dilamar oleh seorang lelaki. Bangga, takjub, terharu, dan bahagia tiada henti berdesir cepat membentuk sebuah setruman listrik yang unik di jantungnya.


Dan akhirnya, mereka melaksanakan pernikahan seminggu setelahnya. Bukan hanya Bianca dan Sania, tapi Fara juga dimasukkan dalam list pernikahan serentak itu.


Dan yang paling spesial, Raffael membuat pesta pernikahan khusus untuk keempat pasangan yang termasuk dirinya. Raffael ingin memperbaiki kesalahannya dulu dengan mengadakan pesta pernikahan untuk mereka juga.


"Fara! Kamu,, sshh nggak,,,,, nggak apa-apa kannn?"


"Jangan khawatir ya! Semuanya bakalan baik-baik aja! K,,Kamu,,, nggak usah gugup, ya?"


Irfan terus saja mengoceh tak beraturan seperti itu. Dia menggenggam erat tangan Fara yang sudah dibalutkan renda dan perhiasan.


Fara tak lantas menjawabnya. Dia hanya bisa tersenyum menanggapi sang suami yang detak jantung nya bahkan terdengar sampai ke New York. Sentuhan dingin dari tangan Irfan membuat sensasi tersendiri di hatinya.


Gugup. Hanya itu yang bisa menggambarkan kondisi Irfan saat ini. Walaupun terus saja melantur tak tau kemana siklus otaknya akan berjalan dan menunjukkan susunan kalimat yang tepat, dia sendiri tak mau menghentikannya. Kegugupan yang dirasa seperti menghantui seorang pemalu, ternyata membuahkan kemanisan tersendiri. Senyuman Fara.


"Sayang, bukannya kamu yang khawatir sama gugup?" Fara malah dengan gamblangnya menunjukkan kebenaran itu.


Bukannya meredakan kegugupan Irfan, Fara malah lebih tertarik untuk menggoda Irfan. Memperlihatkan cermin besar yang tepat berada di depan mereka, dan memperlihatkan betapa gugupnya Irfan.


Irfan semakin tak karuan. Angin yang seolah menyelinap masuk dan berlarian sesukanya, membuat denyut nadi Irfan semakin kencang. Rasanya seperti uji nyali di tempat semewah ini.


Wajah putih berseri yang berubah menjadi kelu dan pucat walaupun tidak dalam keadaan sakit. Bibir dan dahi yang mengkerut tak bisa membohongi setiap mata yang melintas.


"Ahahahaha! Irfan? Kamu kenapa sih? Biasanya aja jahilin aku! Bikin salting, bikin deg-deg an lagi! Kenapa malah kamu yang deg-degan sekarang?"


"Hufffhh! Fan, aku cantik nggak?"


Di ruangan yang tak jauh dari tempat Irfan dan Fara berada, Sania dan Affandi pun sedang bersiap.


Sania dengan gaun cantiknya dan polesan make up seolah sedang memanjakan mata Affandi. Terlebih lagi, wajah bersemu manis yang jarang dilihatnya ini sungguh 'lah membuat hati gemas sendiri.


Tersenyum gemas dengan tingkah laku Sania dan terus saja menyayat bibirnya menggunakan gergaji gigi. Bukan itu saja. Bahkan, kedua tangan itu sangat susah diajak kompromi. Bergetar kesana kemari akibat efek detak jantungnya yang terus memompa darah lebih cepat.


"Ehhhh, c— cantik kok! K—kamu Cantik banget!" Lihatlah. Bahkan bibir itu tak bisa berkompromi untuk hanya sekedar mengatakan sepatah kata yang terbilang sangat mudah itu.


Sania pun ikut tersenyum melihat tingkah pria yang sedang terpana di depannya ini. Beberapa kali menutup matanya memastikan hal yang sama di depan cermin rias.


"Fan. Kamu bikin aku gugup deh," Kini dia sendiri yang merinding. Hatinya yang dag-dig-dug tak dapat berhenti dan kembali bekerja dengan normal walaupun sudah diusahakan.


Affandi pun sama sepertinya. Berulang kali membuang napas dan meremas ujung jasnya. "Ehh, keluar yuk! Pasti udah pada nunggu itu! Ini kan pesta pernikahan kita semua!"


"Iya! Kamu pegang tangan aku ya?" Pinta Sania yang sekarang berstatus sebagai istrinya.


Mereka larut dalam suasan itu. Tak menanggapi beberapa kali ada orang yang memanggil mereka sedari tadi.


"Ehh, Tuan Affandi!" Glekk. Sekarang barulah suara itu terdengar. Dia menatap kaku gadis yang memanggilnya itu.


"Ke-kenapa?" Tanyanya sedikit tersipu dengan kelakuannya sendiri.

__ADS_1


"Lima belas menit lagi pesta pernikahannya dimulai, Tuan!" Ujar gadis itu yang merupakan salah satu penata rias disana.


"Iya, nanti saya kesana! Kamu bisa tinggalin kita disini!" Perintahnya penuh dengan wibawa.


"Baik, Tuan!" Gadis penata rias itu pergi dan membereskan beberapa barangnya yang masih berserakan di kotak.


Affandi kembali kepada Sania. Gadis cantik, oh bukan! Wanita cantik yang sudah menjadi miliknya saat ini.


"Ayo turun! Nanti kalo kakak kamu ngamuk aku yang kena loh," candanya penuh gelak tawa.


"Mana ada,,, yang ada nanti dia datengnya belakangan! Kita yang nunggu mereka pasti!" Ujarnya Sania sembari memasang wajah julid.


"Bi! Udah make up nya?" Bian dengan wajah manis penuh senyuman mengulurkan tangannya.


"Udah kak! Ini bentar lagi siap!" Kata Bianca yang masih melihat wajahnya dan memastikan dirinya sudah tampil sempurna di depan Bian.


Bian tampaknya terheran sendiri dengan Bianca. Menggelengkan kepalanya sembari tersenyum pasrah. "Udah cantik, Bi! Yuk turun!"


Bianca memonyongkan bibirnya. "Kakak ih, bentar!" Lagi-lagi memastikan tampilannya sudah cantik.


Bian sudah tak sabar lagi, sudah lima menit lebih Bianca terus saja melakukan hal yang sama. Iapun segera menarik pinggang ramping itu dan mengecup sekilas bibir ranum Bianca.


"Cantik banget!!" Ujarnya penuh keyakinan. Bianca tersipu. Tersenyum malu dengan tuturan Bian yang terkesan sedang terpesona dengannya.


"Y-yaudah ayo turun kak!" Bianca melepaskan cengkraman tangan besar itu dari pinggang nya. Segera melangkahkan kaki dan mengalihkan pikirannya dari rasa gugup.


Bian tersenyum dan segera meraih tangan Bianca dengan hangat. Mengiringi Bianca turun ke bawah dengan sangat romantis.


"Sayang, aku ganteng kan?" Raffael menatap bangga tubuh ramping nan kekarnya, juga wajah tampannya yang memiliki siluet yang mempesona.


Dengan percaya dirinya dia berpose dan memotret tubuh berbalutkan jas berwarna putih tersebut.


"Enggak! Jelek!" Amira tertawa melihat wajah pria itu yang ditekuk kesal.


Tak lama kemudian, Raffael ikut tertawa melihat tawa renyah sang istri. "Oo, jadi aku jelek nih? Nih nih! Masih jelek!" Raffael menggelitik Amira tanpa ampun membuat tawa bahagia yang lama tak dirasa.


"Ahahah! Apaan sih, udah El, udah!"


Akhirnya mereka keluar. Dengan wajah kesal, ketiga pasangan itu menatap sengit Raffael yang diduga sebagai dalang permasalahan.


Raffael pun membalasnya. "Apa lihat-lihat?" Sentaknya pada ketiga pria itu.


"Enggak! Nggak ada!" Kata mereka dengan sebal.


Raffael menarik Amira dan membawanya ke pesta itu dengan senyum manisnya. Mengisyaratkan betapa bahagianya dia hari ini.


Aroma parfum Paris yang menyeruak dari tubuhnya bahkan tak terasa lagi melihat kemanisan wajah sang istri.


"Maaf ya, gue pacaran dulu sama istri gue! Makanya jangan ganggu!!"


Siluet cahaya yang tembus menyinari jendela gedung terasa semakin indah dengan kehadiran kedua sejoli itu di pesta. Walaupun sayangnya, Mito dan Rina memutuskan untuk pergi bulan madu dan tebang ke Paris meninggalkan kegembiraan dan kesedihan dalam hari bahagia ini.

__ADS_1


__ADS_2