Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Drama dalam kamar


__ADS_3

Dimalam itu, Amira terlihat sangat kelelahan dan terlihat pucat. Ia merasa seperti diperbudak oleh Raffael.


"Cih!! Nggak guna! Banyak banget baju kotornya!" Katanya kesal.


"Oh iya!! Jam berapa nih!?.( Melihat hp) Sial!! tengah malam!!" Makinya dengan suara pelan.


"Aghh tidur aja lah!!". Ujarnya sembari keluar dari ruang ganti.


Jeglek. Amira melihat sekujur tubuh Raffael yang terlentang di atas ranjang dengan piyama yang ia kenakan.


"hah! terus gue tidur dimana?" Amira.


Amira melihat kearah sofa. Karena ia mengantuk, ia kembali ke ruang ganti, mengambil selimut, lalu beranjak ke sofa dengan menundukkan badannya.


"Aghh akhirnya aku bisa tidur!!". Ujarnya sembari menarik selimut.


Raffael terbangun dan menyadari Amira tidur di sofa dengan selimut yang terdapat di lemarinya. Ia beranjak menuju sofa itu.


"Ngapain Lo??". Tanyanya sembari melihat Amira.


"Ngapain tidur di sofa!!?" Bentaknya.


"Terus gue tidur dimana kali nggak disini?". Tanyanya sembari duduk.


"Tidurlah di lantai!!". Jawabnya santai.


"hih! dasar Orgil!"


"Oh iya! Jangan pakek selimut gue!! Harganya mahal!". Sambung Raffael sembari memasang wajah licik.


"Apa!! Lo mau Gue mati kedinginan!?". Tanyanya kaget.


"Kalo nggak mau yaudah penting udah gue kasih tempat!!". Jawabnya santai.


"Heuh!!." Amira sangat gemas dengannya. ingin merobek-robek wajahnya itu.


Dia melempar selimut yang dipakainya ke wajah Raffael. sembari menuju lantai dan tidur di sana tanpa alas apapun. Sementara Raffael? Ia menuju ranjang empuknya dengan wajah yang senang karena ia bisa mengerjai Amira.


'Ayah salah! dia bukan orang baik! orang nggak bermoral gini kok! kalo begini terus gue bisa mati!!' Amira.


Pagi pun tiba. Raffael bangun dan beranjak menuju kamar mandi. Ia tak sadar bahwa di bawah sisi tempat tidurnya terdapat Amira yang terbujur kaku kedinginan. Ia sudah selesai mandi dan memakai setelan jas yang biasa ia kenakan. Dan nampaknya Affandi belum sampai di kamarnya.


"Hhah! Amira!? Lo kenapa?" Tanyanya khawatir.


"Nggapapa!". Jawabnya sembari tersenyum dengan wajah pucat.


Raffael memegang dahi Amira. dan dia sangat terkejut karena tubuhnya sangat panas. "Lo demam? Naik ke kasur! gue panggilan dokter!" Ucapnya sembari menggendong Amira.


'Ngapain nih orang? masih waras kan? ngapain dia perhatiin gue? Nggak ngerti gue!' Amira.


Affandi tiba di depan pintu kamar Raffael dengan setelan jas rapinya. Ia berdiri tegak di depan pintu menunggu Raffael keluar. Jeglek. Raffael keluar.


"Fan, Panggilin dokter! cepetan!"!!". Ucapnya sembari kembali ke dalam kamar dengan gelagat cemas.


'Ha? yang sakit siapa?'


" Baik tuan!!"


Affandi mengambil ponsel yang ada di sakunya dan menelpon Dokter.


"Bian!! cepat datang ke rumah!!" ujarnya.


"ngapain? kok tiba-tiba gini sih?". tanya dokter itu.


"ada yang sakit!! tapi Gue nggak tahu siapa. Tuan Raffael yang nyuruh!!". Ujarnya.

__ADS_1


"Okey bentar lagi sampek!!". tuutuuutuut. Ia mematikan teleponnya.


Dokter Bian telah tiba di rumah. ia diantarkan oleh pak Amdan untuk membawakan tasnya. Sesampainya di depan kamar.


"tuan Affandi!! ini Dokter Bian sudah sampai!!". Ucap Pak Amdan sopan pada Affandi.


"Baiklah pak!! terimakasih. serahkan saja tasnya pada saya!! anda bisa kembali bekerja!!".


ucapnya sembari mengambil tas. Pak Amdan pun pergi. Affandi mengetuk pintu kamar dan masuk bersama Dokter Bian.


"Siapa yang sakit Raff!?". tanyanya pada Raffael.


"dia yang sakit!!". jawab Raffael singkat.


"dia!? ini istrimu kan!? kok bisa dia sakit ha!?". tanya Bian heran.


" halo adikku!? mari kuperiksa!!". ucapnya.


"adik!? siapa!? aku!?". tanya Amira heran.


"hhaha. iya, kamu!! emangnya siapa lagi!?". jawabnya sembari memeriksa.


"gimana!?". tanya Raffael terlihat cemas.


"nggakpapa, ini cuman demam biasa! tapi gue saranin dia istirahat selama tiga hari! kasih bubur ya". jawabnya tenang.


"Okey, Fan kasih tahu pak Amdan ya!!". ucapnya kepada Affandi.


"baik tuan!!".


'Kenapa nih? kenapa tiba-tiba perhatian?' Affandi.


Pak Amdan kembali ke pekerjaannya. saat kembali, ia bertemu dengan Mahendra.


"saya tidak tau tuan besar!! saya hanya mengantarkan sampai depan pintu!!". jawabnya sopan.


"Okey, makasih pak". ucapnya sembari menuju kamar Raffael.


"apa dia perlu obat!?". tanya Raffael.


"ehehem perlu dannn mungkin, sedikit cinta!? wkwkwk". jawabnya meledek.


"Jangan ledekin gue ya!! Gue takut ayah marah! itu doang!!". bentaknya.


"oh masa!?". ledeknya lagi.


"Tapi kayaknya Lo cemas banget tuh. lagipula ya, dia lebih cocok sama Lo daripada si Alenta! Iyakan Fan?". sambung Bian.


"iya!!". jawab Affandi sependapat.


"apa!! nggak mungkin!!". ujar Amira membuat semua orang terkejut.


"Mungkin, kan Alenta gila harta! dia juga nggak mau tuh dicium Raffael, cuman mau dipeluk aja! mungkin dia ngincer harta Lo tuh Raff". sambung Bian.


"Enggak! gue nggak kenal ya sama Alenta!" Jawab Amira.


'Wah, berani banget! Alenta aja nggak berani bentak Raffael!' Bian.


'Bener juga! Alenta itu emang ular di kehidupannya tuan Raffael!' Affandi.


Ayah Mahendra Sampai di depan pintu dan langsung masuk ke dalam.


"Raffael!! siapa yang sakit!?". ujar Ayah sembari membuka pintu.


"ohh hai Om??". sapanya santai.

__ADS_1


"hai Yan, siapa yang sakit!?". tanyanya.


"nona Amira tuan!!" jawab Affandi.


Ayahpun mendekat dan melihat kondisi Amira. "tidur dimana kau semalam nak!? kenapa sampai demam begini!?". tanyanya pada Amira.


"aku tidur di-"


"Di ranjang ayah!! tapi dia nggak mau pakai selimut!!". bohongnya memotong ucapan Amira.


"masa!? kenapa!?". tanya ayah pada Amira.


"Gerah yah! nggak biasa tidur sama cowok!" Amira sangat kesal dengan Raffael.


'Penipu Lo!' Amira.


"ohh gitu!! mulai sekarang, biasakan ya?" Mahendra.


"Iya ayah!!". Amira.


"Yaudah yuk sarapan! nanti punya Amira biar pelayan yang anter!!" ujar Ayah.


"Okey Om, semuanya, aku permisi dulu!! jaga diri baik-baik ya adik kecil!!". ujar Bian sambil mencubit pipi Amira.


"auuh!! sakit!!". gumam Amira yang terlihat menggemaskan.


"wkwkwk gemes banget!! kalau cerai dari Raffael nikah sama Kakak Bian yang tampan ini ya?" canda Bian. plakk. satu pukulan mendarat di dada Bian.


"jangan aneh-aneh!! dia mantunya Om!! ayo kita turun". Mahendra.


Mereka keluar. sekarang, tinggal Raffael dan Amira dan beberapa pelayan berada di depan pintu.


' Waktu dipijit kemarin, tangannya persis kayak Lily! '


Raffael mengingat saat masih remaja dulu. dia ditolong oleh seorang gadis yang cantik, manis, berani, tak kenal takut. saat Amira memijatnya kemarin, rasanya seperti Lily yang memegang tangannya dan mengobatinya.


'Bahkan cara dia lihat orang persis banget! Apa Amira itu... Lily ya? orang yang udah gue cari dari dulu? '


Amira terlihat menginginkan sesuatu. "Mau apa?." Kata Raffael menatapnya lebar-lebar.


"Itu, bubur!" Amira melihat ke pintu.


Ternyata, pelayan berada di luar tak berani masuk karena belum diperintahkan Raffael. "Masuk!"


sepiring Bubur dan minumnya pun masuk. Raffael meraih nampannya dan mendekat ke Amira.


"Sini!" Raffael menyuapi Amira.


Kasih sayang yang bahkan tak dilihatnya kemarin tiba-tiba muncul entah dari mana. Bahkan Raffael menyuapinya sampai isi piringnya habis.


"Aaa!" Sekarang Raffael memberikan obatnya pada Amira. mereka berdua tersenyum.


"Biar cepet sembuh!" katanya.


"Aku mau tidur! tinggalin aja!" Kata Amira mulai menutup matanya.


Raffael merasa iba melihatnya. Bagaimanapun, dia merasa bahwa Amira adalah Lily kecilnya yang selama ini dia cari.


"Masih kedinginan gitu minta ditinggal! Sini, Aku peluk!" Raffael masuk ke dalam selimut dan memeluk Amira erat-erat.


"Nggak makan?" Tanya Amira tahu kalau suaminya belum makan.


"Nanti! Udah tidur aja!" Kata Raffael ikut menutup Matanya.


'Semoga kamu beneran Lily yang aku cari!'

__ADS_1


__ADS_2