Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Meninggalnya Tuan Besar


__ADS_3

Gelapnya langit yang dihiasi bintang serta bulan purnama itu tak membuat suasana kota mencekam. Lampu-lampu jalanan serta gedung pencakar langit yang memasang lampu warna-warni indah tak bisa dilewatkan untuk dinikmati. Keindahan itupun dihiasi dengan rintikan hujan yang mengguyur beberapa bagian kota itu dengan tenang. Hujan yang menjadi saksi akan keanehan hidup Amira saat ini. Gadis berstatus istri seorang Raffael Wardana itu menatap keluar jendela dengan senyum getir yang menghiasinya.


Ada rasa marah di dalam matanya yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada rasa ragu yang tak bisa dijelaskan artinya. Ada rasa tak percaya yang terus ada namun selalu mengelak. Memikirkan sang penyandang gelar Suami di buku nikahnya yang sepertinya hanya menjadikannya pelampiasan saja.


"Dia memelukku kan tadi?."


"Itu pelukan tulus'kan?.


"Kamu tidak jadikan aku pelampiasan'kan, El?".


Pertanyaan itu berulang kali muncul di benaknya yang seakan buta akan apa yang ia lihat beberapa hari ini. Bukankah tak ada kata cinta dari mulutmu yang terucap untukku? Selalu saja aku yang tak berdaya! Kenapa kau berlaku seenaknya padaku? Hah, mungkin itu pertanyaan konyolnya yang tak pernah ia pikirkan selama ini. Aku benar-benar merasa bodoh setelah melihatnya! Bukankah sangat mudah bagimu untuk mengetahui hal sekecil itu? Kejujuran seseorang! Ataupun ketulusannya! Biasanya kau sangat ahli, Amira.


Berbagai pertanyaan tiba-tiba saja muncul di benaknya secara tiba-tiba. Tak ada yang mengundang, tak ada pula yang ingin mengusir pergi rasa itu.


"Dia tulus'kan?." Di masih saja berpikir tentang apa yang dilihatnya itu.


"Ah!! Tidak!! Sepertinya kau hanya pelampiasan saja, Amira!." Gumamnya.


"Bukannya dia baru saja putus?."


"Kemungkinan besar'kan, jika dia menggunakanku hanya untuk membiarkan kegalauannya itu pergi?." Dahinya berkerut memikirkan hal itu sendiri.


Sekarang nampaknya dia tak bisa lagi berbagi cerita nuansa cintanya kepada Rina. Sangat jauh untuknya bertemu kembali dengan Rina.


Terlebih lagi, pasti Ayahnya mengawasi pergerakannya. Entah apa bahaya nya Amira hingga Ayahnya sampai melakukan itu. Bukankah Amira seharusnya menikmati hidupnya setelah menikah?. Tapi kenapa aku tak melihatnya sekarang?. Mungkinkah itu yang ada di pikiran Ayahnya?.


"Haish! Okey, nikmati saja hidupmu yang sekarang, Mir! Kamu hanya bisa mengikuti alurnya saja! Jangan bawa hati sebelum


Raffael yang bawa! Sakit hati takutnya nanti!." Mata sendu dan badannya yang menunduk sudah bisa menjelaskan betapa pusingnya dia.


"Ayah! Aku ingin pulang saja!."


"Aku tidak suka disini!."


"Aku suka saat aku bersam Rina!."


"Aku suka saat aku bersama kalian!."


Amira meneriakkan itu dalam lubuk hati paling dalamnya beberapa kali. Seperti anak kecil yang tak tahu jalan pulangnya, Amira terduduk lemas di bawah jendela itu dengan telungkup.


Dia menangis sesenggukan dengan pikrannya yang masih sama. Sampai akhirnya, Raffael keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya dililit handuk. Amira yang melihatnya pun menghapus air matanya dan segera bangkit. Dia mendekat ke ranjang dan segera menidurkan dirinya di atas kasur empuk bernilai tinggi itu.


"Eh? Belum tidur?." Raffael melempar satu handuk ke arah Amira. Dengan cepat, Amira menangkapnya dan melakukan tugasnya.


"Sini!." Tak ada senyum di wajahnya. Hanya ada tuturan lembut yang membuat Raffael mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Tadi sedang apa?". Raffael benar-benar menikmati usapan lembut dari tangan Amira. Tak terasa dirinya sampai hampir tertidur saking nikmatnya saat Amira mengeringkan kepalanya.


"Tidak ada! Hanya menikmati hujan!." Amira menyelesaikan tugasnya dan menepuk wajah Raffael beberapa kali karena Raffael benar-benar akan tertidur.


"El!! El!! Bangun! Ganti baju dulu sana!." Titahnya pada Raffael.


Raffael yang tersentak pun melihat sekeliling dengan matanya yang masih menyipit itu karena kantuk. Dia beranjak menuju ruang ganti miliknya dan memakai baju tidur miliknya pula.


Dia segera keluar dan menidurkan tubuhnya di ranjang itu. Amira sudah tertidur duluan sepertinya. Tidurnya tampak tak nyaman. Wajahnya juga tampak tegang saat itu. Entah apa yang ada di mimpinya.


"Aku masih membencimu!."


"Walau bagaimanapun juga, seharusnya aku bisa hidup dengan Alenta dengan tenang!."


"Tapi kamu datang dan menghancurkan semua mimpi kami!." Monolog Raffael.

__ADS_1


"Aku tahu!."


"Kamu juga tak kalah bersalahnya di dalam cerita ini sepertiku!."


"Aku harus melupakan Mito yang sangat baik itu demi menikahimu!." Oh, sepertinya Amira hanya pura-pura tertidur saja. Dia bergumam dalam hati.


"Aku merelakan kebahagiaanku dan bersedia menjadi pelayan yang kau permainkan demi mewujudkan keinginan Ayahku!." Dia masih saja ber monolog.


"Jangan merasa paling tersakiti, Raffael Wardana!."


"Kau membenciku dengan segenap hati kan?."


"Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapan ku suatu hari nanti!." Ingatlah ikrar itu, Amira. Jangan sampai kau yang melakukan itu.


*****


Pagi pun tiba. Semua keluarga Wardana sudah berkumpul di meja makan kecuali ayah mereka. Mahendra Wardana sepertinya masih saja disibukkan dengan pekerjaan yang diberikan oleh putranya sendiri. Raffaell memberikan tanggung jawab untuk urusan kerjasama kepada sang ayah.


Tatapan sinis Sania dan Bianca tak luput dari pandangan. Sepertinya mereka masih saja tak suka dengan Amira. Terlihat seperti musuh yang sudah mempersiapkan jadwal kematiannya. Amira meletakkan beberapa sayuran dan buah-buahan di meja makan yang tampak seperti restoran bintang lima itu. Dia duduk di sebelah suaminya dengan dingin. Masih teringat jelas, perkataan Raffael yang membuatnya sakit. "Kamu egois, Raff! Kamu pikir kamu paling tersiksa disini?." Batinnya.


Mereka mulai menyantap makanannya dengan hikmat. Hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar di meja itu. Semuanya berperilaku dingin satu sama lain. Tak peduli pak Amdan memperhatikan mereka dari jauh. "Tuan besar! Sepertinya mereka belum bisa akrab bahkan sampai hari ini!." Pak Amdan berbicara dengan suara lirih dan melaporkan pengamatan melalui sambungan telepon.


"Hah! Baiklah pak! Tidak masalah! Aku sedang berkendara sekarang! Aku akan pulang dan mungkin tiba dirumah siang ini!." Seloroh Mahendra pada Amdan.


Pak Amdan menganggukkan kepalanya. "Baik tuan besar! Hati-hati saat berkendara!." Dengan dadanya yang sakit melihat tuan besar yang sudah dilayaninya sejak dulu kecewa, pak Amdan membalikkan badan dan menjauh dari ruang makan itu.


"Ahahaha, baiklah pak AmdaAan!! AaAghh!!." Suara yang tadinya terlihat bersemangat tiba-tiba saja menjadi teriakan yang begitu kencang. Suara tabrakan antara dua mobil pasti membuat pak Amdan khawatir.


"Tuan besar!! Tuan besar!!." Pak Amdan segera berbalik dan berlari menuju ruang makan itu. Dia menghadap ke Raffael dengan wajah piasnya itu.


"Tuan muda!! Aku ditelpon Tuan besar dan tadi aku mendengar suara tabrakan saat mengobrol dengan Tuan besar!! Sepertinya mobil tuan besar mengalami kecelakaan!." Wajah piasnya itu sudah tak bisa disembunyikan lagi. Pak Amdan, pria tua yang masih mengabdi pada keluarga Wardana itu menangis sejadi-jadinya mengingat apa yang ia dengar saat telepon tadi.


Raffael langsung saja menarik Affandi yang sedang berada di ruang kerjanya dan memintanya mencari informasi terkait masalah ini. "Mobil ayah kecelakaan! Cepat cari tahu keberadaannya dan apa yang terjadi!." Raffael segera menarik jas yang dikenakan Affandi.


"Apa?? Baik tuan muda!!". Affandi sembari berjalan segera menghubungi orang-orangnya dan meminta bantuan.


"Halo tuan Affandi??." Suara yang terdengar dari sambungan telepon Affandi.


"Cepat cek CCTV dan cari keberadaan tuan besar! Tuan besar kecelakaan!." Tukasnya segera mematikan telepon.


Affandi menyetir mobil Raffael dengan lihainya. Dengan tiga wanita dibelakang dan tuan mudanya di sebelah kirinya. Dia masih menunggu informasi dari orang-orangnya. Sampai akhirnya orang tadi menelpon lagi.


"Tuan! Keberadaan mobil tuan besar ada di perbatasan kota xx dengan kota xx!! Saat ini, sudah dibawa polisi ke rumah sakit xx! Ada juga Mobil yang sengaja menabraknya dari arah depan!! Aku akan mencari siapa yang menabrak tuan besar!." Jelasnya.


"Bagus!! Lanjutkan pekerjaan mu!!." Raffael lah yang ternyata memegang ponsel Affandi. Dengan ini dia bisa tahu semuanya tanpa harus menunggu Affandi menjelaskan.


"Ehh? Tuan muda??." Dia tampak girang.


"Ba-baik! Saya akan lanjutkan!." Ujarnya. Raffael segera menutup sambungan telepon itu dan meletakkannya di tempat semula.


Dengan aura kepemimpinannya itu, dia memerintahkan Affandi menuju tempat itu. "Affandi! Segera menuju ke rumah sakit xx!! Polisi sudah menangani jenazah ayah disana!." Perintahnya.


Affandi segera melajukan mobil itu dan menuju rumah sakit yang disebutkan tuannya itu. Wajah kedua pria tampan ini akan menjadi konsumsi publik yang tepat kalau ditangkap kamera. Namun, saat ini bukanlah waktunya itu. Raffael terus saja memantau perkembangan yang dilakukan anak buahnya itu.


"Ini tidak bisa terjadi!! Ayah!! Jangan tinggalkan kami!!." Sania berdoa dalam hatinya agar tak terjadi apapun pada sang ayah. Setelah beberapa satu setengan jam perjalanan dari pusat kota ke perbatasan, mereka akhirnya dapat sampai di rumah sakit itu. Raffael serta lainnya segera berlari. Menuju tempat administrasi dan memperlihatkan kartu nama keluarga Wardana.


"Aku mencari korban kecelakaan di perbatasan kota pagi ini! Ada di ruangan mana?." Raffael menggebrak meja membuat yang bertugas disana gemetaran.


"Emm-emm! Ada di ruang jenazah tuan!." Ungkapnya dengan rasa takut akan aura mencekam didepannya itu.


"Apa???." Raffael marah dan berteriak kepada wanita yang bertugas itu. Namun, Amira segera menghampirinya dan memintanya cepat-cepat bertemu ayah.

__ADS_1


"El!! Kita tidak ada waktu untuk ini! Kita ke ruang jenazah saja untuk melihatnya!!." Akhirnya Raffael pergi dengan wajah dinginnya itu. Mereka segera pergi ke ruang jenazah dan melihat ada penjagaan polisi disana.


"Bukankah ini tuan Mahendra? Kenapa bisa seperti ini?." Kedua polisi itu berbincang.


"Sepertinya kejadian ini sudah direncanakan sebelumnya! Aku harap bisa mengurusnya! Kalau bersangkutan dengan tuan Raffael pasti akan susah untuk kita membantu!."


Raffael yang mendengar itupun mengeratkan genggaman tangannya serta Giginya. Tak lupa pula, matanya yang menatap tajam kearah kedua polisi itu. "Kalian!!." Pekiknya sembari menghentakkan kakinya dengan kuat dan berjalan kearah mereka.


Para polisi yang menjaga di depan pintu ruang jenazah itu sedikit terkejut. Bergetar hebat dengan keberadaan tuan muda Raffael yang dikenal dingin dan kejam itu. "Tu-tuan Raffael!!". Salah satu dari keduanya menyapa dengan merinding.


"Dimana Ayahku!!." Tatapan tajam menusuk itu membuat suasana menjadi dingin. Hawa mencekam seperti tiba-tiba saja datang. Sudia polisi itu membukakan pintu ruang jenazah dan menuntun mereka semua kedalam dengan rasa takut.


"Si-silahkan tuan!!."


Mereka pun masuk ke dalam secara bergantian. Yang pertama kali masuk adalah Raffael dan Affandi. Sementara yang lainnya menunggu di luar.


Raffael melihat jasad Ayahnya yang terbujur kaku di sana. Dengan tubuhnya yang memiliki bekas luka serta sisa lumuran darah karena kecelakaan itu. Dia menangis. Affandi juga. "Hiks hiks! Apa ini Ayah??." Dia mengeluarkan isi hatinya itu. Dengan isakan yang terdengar kencang.


"Kenapa Ayah pergi??."


"Aku masih membutuhkan Ayah!!."


"Aku tidak bisa mengurus segalanya tanpa Ayah!!."


Isakan terdengar lagi. Kali ini, dari kedua pria yang ada di dalam. Bukan hanya Raffael yang tak bisa menahan tangisnya. Namun juga Affandi yang sudah selama itu bekerja kepada tuan besar nya juga tuan muda yang tertunduk lemas memegangi tangan Ayahnya yang kaku itu.


"Kakak!!." Sania masuk ke dalam dengan adiknya. Dengan wajah sedihnya itu mendekati Raffael.


Tak bisa menahan tangisnya lagi, Bianca menangis dan memeluk jasad Ayahnya.


"Aku sayang Ayah! Aku sayang Ayah!!." Terus saja mengucapkan itu di dekapan Ayahnya.


Raffael keluar. Membiarkan kedua adiknya itu memeluk Ayah mereka dengan erat. Diikuti pula Affandi di belakangnya. Dia melihat kearah kursi tunggu. Amira dengan tatapan kosongnya sesekali meneteskan air matanya.


Dia menghampirinya. Duduk di samping Amira dan menanyakan mengapa dia menangis. "Kenapa?." Raffael bersandar dibahu Amira.


"Tadi pagi ada pesan dari Ayah!."


"Aku tidak melihatnya karena waktu makan aku mematikan sambungan Internetnya!." Amira memberikan ponselnya itu pada Raffael.


Nak, Ayah akan pulang!.


Mungkin nanti akan lebih cepat dari biasanya. Kamu jaga Raffa ya! Jangan biarkan dia jadi manusia yang tidak benar!.


Raffael menyerahkannya kembali kepada Amira. Menatap Amira dengan tatapan anehnya yang tak dapat dimengerti oleh Amira. "Kenapa?." Tanya Amira. Mengeriyitkan dahinya menatap Raffael yang berada di bahunya.


"Tidak ada!." Jawab singkat pria itu. Dilanjutkannya membuka ponsel lalu mencari nomor yang hendak dihubunginya.


"Halo!." Suara di seberang telepon sana terdengar. Suara wanita tua yang sedikit lemah.


"Nenek Hiks! Ayah meninggal, Nek!." adunya pada sang nenek. isakan terdengar lagi. tampak lebih kencang dari yang pertama. Affandi yang berada di belakangnya hanya mampu menatap nanar sang tuan muda.


"Apa??." suara terkejut nenek.


"Ada dimana kamu sekarang?." Tanya tegas Nenek.


"Ada di rumah sakit XX Nek, dekat perbatasan kota!." Nenek bergegas. mendengar isakan tangis Raffael semakin kencangnya.


"Okey, nanti Nenek kabari Paman sama Bibi mu! kamu tunggu kami ya!." Perintah dari Nenek.


Raffael hanya mengangguk dan terisak saja. segera mematikan sambungan telepon itu.

__ADS_1


__ADS_2