Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Kisah cinta Mito dan Amira


__ADS_3

matahari telah turun dari singgasananya, digantikan dengan sang rembulan yang tenang dan indah memantulkan cahaya matahari penyemangat hari. kini, para pegawai kantor, pedagang kaki lima, buruh pabrik dan lainnya telah selesai melakukan tugasnya dengan baik.


lalu lalang yang padat tak membuat pemandangan kota yang indah menghilang begitu saja. namun, tentu saja para pekerja yang hendak kembali berkumpul bersama keluarganya itu tak sabaran dan terbawa emosi karena suntuknya jalanan kota dengan berbagai jenis motor dan mobil yang tak mau kalah ingin segera pulang.


Amira telah selesai membersihkan dirinya dan turun ke dapur untuk membantu sang ibu memasak. mengingat dirumahnya kini sudah bertambah lagi penghuninya, pasti ia merasa kasihan pada ibunya karena membiarkannya berkutat di dapur sendiri.


dengan lihainya, ibu dan anak itu memasak berbagai makanan untuk makan malam yang sekiranya disukai oleh tamu mereka. yah, lebih tepatnya keluarga besan mereka. Amira dan keluarga yang lebih menyukai makanan lokal berupa nasi, sayuran dan gorengan serta minumannya yang hanya teh dan air putih. sedangkan Raffael dan. kedua adiknya yang lebih menyukai makanan khas orang kaya yang rata-rata sudah mengikuti gaya makan luar negeri.


Amira kembali ke kamarnya untuk meminta turun sang suami yang baru saja selesai membersihkan dirinya. sedangkan ibu Maya, memanggil suaminya yang berada di ruang tamu sambil membaca laporan dari anak buahnya dan juga memanggil kedua kakak beradik yang berkutat dengan kesibukannya sendiri di dalam kamar tamu.


Amira membuka pintu kamar dan mendapati suaminya hanya menggunakan celana jeans berwarna biru serta handuk kecil yang diletakkan di kepalanya. ia berusaha tenang, agar tak menjadi keributan baru di rumahnya. jika dia berteriak, apa yang akan orang tuanya fikirkan? bukankah mereka suami istri? kenapa mereka sepertinya tidak terbiasa?


dia mendekati suaminya itu. "turunlah! makanan sudah siap di bawah!." Selorohnya sembari menundukkan pandangannya.


Raffael yang tadinya duduk di tepi ranjang membelakangi Amira sontak saja menoleh dan tersenyum. "sebentar sayang! jika bisa bantu aku mengeringkan rambut!." pintanya.


Amira menatap jengan ke arah Raffael namun tetap saja mendekat. dia berdiri di depan Raffael dan mulai mengusap kepala Raffael dengan handuk kecil. namun tanpa ia duga,Raffael melingkarkan tangannya ke pinggang Amira. dengan menahan geli di perutnya, dia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik.


Amira selesai melakukan tugasnya. dia beralih ke kaos oblong berwarna putih yang ada di lemari dekat walk in closet. dia mengambilnya dan segera memberikannya kepada Raffael dengan wajah jutek khasnya. Raffael menerimanya dengan bergidik bahu. tak lama setelah itu, ia mulai memakainya serta menyisir rambutnya di depan cermin.


"ayo turun!." ucapnya sambil menarik tangan sang istri.


"aku bisa berjalan sendiri!." Amira melepaskan genggaman tangan itu dan segera turun. ia merubah mimik wajahnya yang awalnya jutek menjadi ceria secerah bunga matahari.


di meja makan, sudah ada Maya, Wirawan, Sania dan Bianca disana. Raffael nampaknya terkejut dengan pemandangan ini. Sania dan Bianca yang makan lebih lahap dari biasanya dengan makanan khas orang kaya itu, sedangkan hidangannya ada dua menu yang bertolak belakang.


mereka segera duduk menyusul tuan rumah yang sudah makan terlebih dahulu karena tak sabar menunggu kedua sejoli itu. "Ayah, kenapa ada dua menu yang sangat berbeda disini?." tanya Raffael.


Wirawan meliriknya sekilas dan berkata, "Tidak tahu! tanya saja pada mereka!." Dia menujuk ke arah kedua wanita itu dengan ketus. sedangakan yang di tunjuk hanya bergidik bahu saja.


"ya, kan ibu pikir kalian tidak akan suka dengan makanan yang biasa kami makan! jadi, ibu minta saja Amira membuatkannya!." tutur ibu dengan tenang dan santai.


Sania dan Bianca membelalak mendengarnya. tak lama kemudian, Amira mendudukkan bokong nya ke tempat duduk, disusul dengan Raffael yang melakukannya juga. Maya, Wirawan, Raffael dan Amira melirik ke arah kedua kakak beradik itu dengan seksama. lalu saling menatap satu sama lain. terakhir, mereka serentak melihat kearah Amira. namun yang diberi kode pertanyaan malah menggidikkan bahunya saja.


mereka memakan makanan buatan ibu dan anak itu dengan sangat lahap. keluarga Amira yang sangat suka dengan masakan sang ibu, dan keluarga Raffael yang suka dengan cita rasa khas yang membuat hidangan mereka semakin enak.


namun, keheningan itu terpecah saat Wirawan melontarkan ucapannya. "Nak, apa kamu masih bekerja di restoran Mito?." ia menanyai sang buah hati yang merupakan anak semata wayangnya itu dengan penuh kelembutan.


Amira hanya melirik ayahnya itu sekilas. dan dengan ketusnya dia berkata, "iya! kenapa?." tanyanya.


"kenapa tidak keluar saja? kamu kan perancang? kamu juga pelukis, kenapa masih memilih menjadi pelayan restoran!." pertanyaan Wirawan secara beruntun itu membuat suasana hati Amira menjadi jenuh sendiri. dia sampai menekuk wajahnya dan tak mau melihat ayahnya.


"kenapa? apa kamu masih menyukainya?." tanya Wirawan tanpa basa-basi lagi. dia menatap nanar ke arah puteri tercintanya itu. sedangkan Raffael dan kedua adiknya melebarkan pupil matanya.


"jadi orang yang kamu sukai itu Mito?." tanya Raffael yang hanya mendapatkan anggukan dari Amira.


Raffael yang sedikit cemburu menggebrak mejanya dan kembali ke kamar Amira. kepergiannya ditatap oleh semua orang yang ada di sana. "kak? apakah benar seperti itu?." kali ini Sania nampaknya serius dengan ucapannya.


"iya! aku dulu menyukainya!." ucapnya menanggapi sang adik ipar yang mendapat reward tamparan dari Bianca. tamparan keras itu mengejutkan semua orang yang berada di sana. termasuk Maya yang tak pernah melihatnya berbuat sebegitu kasarnya kepada orang lain.


"ternyata kamu itu busuk ya kak! di depan semua orang saja kamu sepertinya mencintai suamimu! tapi nyatanya, kamu menyukai pria lain!." Bianca mengucapkannya tanpa pikir panjang begitu juga dengan Sania yang sama pendapatnya dengan sang adik. mereka berdua pergi meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar Tamu.

__ADS_1


kini, tinggal Amira dan kedua orang tuanya yang ada di sana. "nak! kamu masih menyukainya?." tanya Maya yang melihat anaknya terus memegangi bekas tamparan itu.


Amira menatap nanar ke arah sang ibu. "Ngapain sih buk?."


"Ngapain aku masih suka sama dia! aku kan udah punya suami!." ucapnya.


"lagipula! aku dan dia memutuskan untuk menganggap teman satu sama lain setelah pernikahan itu terjadi! dan sekarang, dia benar-benar melakukannya!." sambungnya. Amira mulai menitihkan air matanya. dalam hati dia menjerit, kenapa tak ada keadilan untuknya di dunia ini?


Raffael yang masih berhubungan dengan kekasihnya saja tidak ada yang mengusik! kenapa saat semua tahu tentang hal ini seperti melihat sejarah yang disembunyikan?. ia terus saja menangis. sementara kedua orang tuanya mencoba membuatnya tenang.


memang tak ada suara tangisan yang keluar dari mulutanya. hanya ada isak tangis di dalamnya. namun, itulah Amira. tangisan tanpa suara. kedua orang tuanya memeluknya.


"nak! temuilah suamimu! jelaskanlah semuanya kepada Raffael! aku tahu kamu belum bisa mencintainya secara utuh! tapi, walau bagaimanapun juga dia adalah suami sah mu!." Wirawan menjelaskan posisi Amira saat ini.


Amira meng "iya"kannya dan pergi ke kamarnya dengan wajah murungnya. tak bisa menahan air mata karena ketidak adilan ini. terus saja


mengusap pipinya yang memerah itu. dia sampai di depan pintu. namun, rasanya sangat enggan untuknya masuk ke dalam. walaupun, kamar ini adalah kamar yang sangat ia rindukan selama ini. namun, kejadian kali ini berbeda. terdapat penghuni lain di dalamnya.


dengan perlahan ia memutar gagang pintu itu dan mendapati sang suami tengah berbaring melentangkan tangannya memenuhi ranjang. ia mendekati sang suami dengan berlahan dan memanggilnya dengan lirih.


"Raffael?."


Raffael membuka matanya dan mendapati istrinya itu tengah berdiri di ujung ranjang. dia menarik tangan Amira sehingga Amira terjatuh ke pelukannya. Amira tak menolak maupun membalas pelukan itu. dia lebih memilih menangis dalam pelukan Raffael. sampai akhirnya terdengar sedikit isakan dari Amira. Raffael yang tadinya menutup matanya pun membuka mata secara perlahan.


"ada apa?." Dengan dinginnya, pria itu mengataknnya sambil terus memeluk istrinya.


dengan isakannya yang terdengar semakin lemah, Amira pun berkata "apakah hanya orang sepertimu yang mendapatkan keadilan!." Amira mendongakkan kepalanya sehingga tatapan antara keduanya saling bertemu.


"ha? kenapa memangnya!." tanya Raffael.


"ini adalah bekas tamparan dari adik bungsumu itu!." kali ini dia mengucapkannya dengan lantang.


"lalu? kamu pantas mendapatkannya!." bak api yang dibiarkan tergeletak begitu saja, dia melontarkan apa yang menurutnya benar tanpa menyaringnya dulu.


" kenapa? kenapa hanya aku yang mendapatkannya?." Amira dengan menahan marahnya mengatakan hal itu.


"karena kamu berani menyukai pria lain selain aku!." sungguh tanpa beban mulut itu berbicara. tak ada rasa bersalah dan introspeksi diri sendiri.


Amira mendorong tubuh Raffael menjauh darinya. dan dia menaikkan tubuhnya agar bisa bersandar dengan bantal yang ada di atas kepalanya. dia sudah berhasil melakukannya saat ini.


"hahaha! jika aku pantas ditampar, lalu kamu pantas diapakan? dicambuk?." seringaian licik itu menghiasi wajah Amira. membuat lawan bicaranya mendekatkn wajahnya ke wajah Amira. kini, mereka berada di satu bantal, dengan Amira yang sedang tersudutkan posisinya karena berada di ujung ranjang dan hampir jatuh.


"iya! aku pantas dicambuk! tapi setelah aku mendapatkan kenikmatan duniawi!." tak kalah seramnya dengan Amira, Raffael menyeringai licik dan mulai merabakan tangannya ke wajah mulus Amira. namun, aksinya ini dicekal oleh Amira.


"dasar pria penuh nafsu! aku yakin kamu sudah pernah melakukannya dengan para pemuas nafsu di bar kan?." Amira mendorong kembali tubuh Raffael. namun, sang empunya malah tak bergeming sedikitpun. dan malahan semakin mendekatkan dirinya, membuat kedua sejoli ini berdekatan secara intim.


"sudahlah! jelaskan padaku tentang kamu dan Mito selengkapnya! atau aku tak akan berhenti malam ini!." ucapnya dengan seringaian licik.


"dasar payah! bagaimana jika aku terjatuh ha?." Amira sedikit meninggikan suaranya.


Raffa segera melingkarkan tangannya di pinggang ramping Amira membuat sang empunya hampir saja mengamuk. "tidak akan! aku akan menjagamu!."

__ADS_1


"baiklah! aku cerita!." gumamnya yang kesal dengan aksi Raffael.


"aku, Rina dan Mito dulu adalah teman satu kampus. aku kenal dengan Mito dari Rina. setelah sekian lama berteman, kami lulus dan Mito membuka usahanya sendiri. sampai detik itu memang tak terjadi apa-apa. tapi, saat Mito menawarkan pada kami pekerjaan di restorannya dan Rina memaksaku ikut, aku menjadi lebih sering melihat Mito. Mito mulai berbagi masalah restorannya denganku. dan tanpa sadar kami saling jatuh cinta!." jelasnya.


"lalu kenapa kamu malah menikah denganku!." Raffael mengeratkan tangannya dan membuat Amira benar-benar mepet dengannya.


"hei! lepaskan aku!." serunya.


"kenapa? kamu takut? lanjutkan saja ceritamu!." seringaian licik itu kembali lagi di wajah Raffael.


"huft! Mito mengungkapkan perasaannya saat restoran sudah hampir tutup di malam hari. disana, para pelayan restoran yang lainnya turut serta atas kejadian itu! namun, aku menolaknya!." Amira menghentikan ucapannya.


"kenapa kamu menolaknya? bukankah kamu menyukainya?." Raffael semakin cemburu saat itu. ia menekuk wajahnya dan memonyongkan bibirnya ke depan. membuat Amira gemas sendiri.


Amira yang gemas pun tertawa dan menoel-noel hidung mancung Raffael. "hahaha! kamu sangat lucu!." Amira masih melanjutkannya.


seketika itu, Raffael tersenyum manis melihat keceriaan, kemanisan dan ketulusan di wajah Amira yang tak dapat di jelaskan."jika kamu menyukainya lakukanlah kapanpun kamu mau!."


Raffael menarik Amira ke tengah ranjang namun tetap tak melepaskan pelukannya itu. dia bersiap lagi untuk mendengarkan cerinta dari Amira.


"lanjutkanlah!." ucapnya dengan tersenyum manis.


"aku menolaknya karena dia hanya mengajakku pacaran! menurutku, pacaran itu sia-sia saja! jika tidak cocok, putus dan menangis di kamar satu minggu! hahaha! benar-benar merugikan manusia! lalu, setelah menjelaskan alasan itu, aku memintanya melamarku!."


Amira berhenti sejenak, lalu melihat wajah suaminya yang seakan tersulut api cemburu itu. wajahnya kembali ditekuk saat Amira berbicara tentang melamarnya.


Amira yang gemas akhirnya mencium pipi Raffael dengan sangat cepat. lalu, segera menceritakan kejadian selanjutnya.


"dia menyanggupinya! setelah beberapa hari menyiapkan diri, dia melamarku. di rumah ini, di hadapan orang tuaku, dia mulai menyampaikan tujuannya. sayangnya, ayah menolak mentah-mentah lamaran itu. karena ayah bilang aku sudah dijodohkan. ayah juga tahu kalau dia temanmu! bahkan aku. tapi aku hanya diam saja seolah tak menyangkanya saat ada di pernikahan." Amira kembali terdiam. Raffael yang menyadari hal itupun beralih menatap sang istri setelah sedari tadi menatap langit-langit kamar.


Dia mempererat pelukannya dan sesekali mencium puncuk kepala Amira. "lanjutkan!." ucapnya yang terus saja memeluk tubuh mungil Amira.


"baik!." Amira menatap malas ke arah Raffael namun tetap melakukan apa yang diminta Raffael.


"aku sangat terkejut dengan kata perjodohan yang keluar dari mulut ayahku. lalu mendengar hal itu, Mito pulang dengan perasaan kecewanya. sejak saat itu, dia mulai menjaga jarak diantara kami! sementara ayahku terus saja memantauku agar tak berdekatan dengan Mito lagi. dan aku pun menyadari hal itu. demi menghargai perasaannya dan juga rasa sayangku kepada ayah, aku melakukan hal yang sama, sampai-sampai aku lupa bahwa dia adalah pria yang pernah kusukai dan kubuat patah hati. sampai akhirnya, aku dijodohkan denganmu!." ungkapnya yang menjadi kata pamungkas diakhir kalimat.


Raffael tersenyum bahagia saat mendengar ending cerita cinta seorang Amira itu. namun, rasa ingin tahunya tak sampai di situ saja.


"apa kamu masih mencintainya atau setidaknya menyukainya?." tanya Raffael dengan wajah seriusnya.


Amira menatap lekat kedua pupil mata yang ada di hadapannya itu. "heum! aku menyukainya sampai sekarang!." ucapnya dengan serius.


seketika itu, Raffael mengeraskan rahangnya dan mengepalakan tangannya yang masih memeluk Amira. " apa?." tanyanya dengan suara berat.


"apa? itu memang benar! aku masih menyukainya!." ucapnya yang terkesan seperti meledek Raffael. Raffaelpun terpancing emosi dan mulai mencium bibir Amira. namun, Amira mencoba menahan serangan mendadak itu.


"hei! dengarkan aku! aku menyukainya sebagai teman! aku tidak menyukainya sebagai pujaan hatiku setelah dia menjaga jarak dariku! ayolah! jangan seperti ini!." ucapnya yang mencoba menahan mulut singa itu agar tak menerkamnya.


"mau seperti apapun kamu menganggapnya, tapi kamu tetap saja menyukainya! aku tidak suka!." Raffael mulai menggila. sampai akhirnya,


dugg!

__ADS_1


Amira menendang perut Raffael sehingga membuatnya bergerak mundur. "hah! rasakan itu! aku adalah Amira Alexandria! aku tidak mudah ditaklukkan!." dengan dinginnya dia berkata seperti itu.


Dengan menahan sakit di perutnya, akhirnya Raffaelpun tidur dengan tangannya yang meraih pinggang Amira. saat ini Amira tengah membelakanginya dan tidur meninggalkan Raffael.


__ADS_2