
Setelah tidur siang, Raffael pergi menemui Alenta kembali. Dirinya harus membuat Alenta tak curiga untuk hari ini.
Karena, pagi sampai siang tadi pengawas rumahnya kalang kabut karena tak bisa masuk akses.
Irfan sengaja menyuruh temannya mengambil potongan anak buah Alenta yang kalang kabut untuk menghiburnya dan juga Affandi.
Sementara Amira sedang pergi ke restoran Mito untuk melihat kedua sahabatnya itu.
"Bagas! Mito sama Rina kemana?" Tanyanya.
"Emm, lagi... Itu mbak, di ruangannya mas Mito!" Jawab Bagas sedikit ragu.
Amira curiga dengan gelagat Bagas. "Kamu kenapa sih, kok kayak takut gitu?"
"Enggak mbak! Mau saya antar?" Kata Bagas.
Amira mengangguk. Sudah lama sejak tidak melihat mereka. Dan sekarang Bagas, yang biasanya meng-handle tugas-tugas Mito sekarang lagaknya seperti ini? Kenapa ya?
"Eh, silahkan mbak!" Amira masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
"Mito, Rina," panggilnya.
Amira malah mendapatkan penampakan tak biasa. Mito tertidur di sofa dengan kepala yang disandarkan pada kaki Rina. Dan Rina juga tertidur.
"Uoooohuuuuh!" Sepertya Rina terbangun.
"Mi-mira!" Matanya bulat sempurna. Seperti sedang tertangkap basah melakukan kejahatan.
"Rin, ngapain kamu...." Amira menghentikan ucapannya kini, Mito yang terbangun.
Setelah melihat lebih jeli lagi, mereka memiliki cincin yang sama di jari manis mereka.
"Ka-kalian? Tunangan?." Kini, Amira membulatkan mata serta mulutnya. Takjub dengan apa yang baru saja diketahuinya.
"Bukan! Aku udah nikah sama Rina!" Jelas Mito dengan santai.
Tapi tampaknya Rina dan Bagas tak bisa tenang. Mereka semua tahu bagaimana kisah cinta Amira dan Mito.
Mereka pikir, Amira masih menyukainya. Sementara Mito dan Amira memang sudah mengikhlaskan takdir masing-masing.
"Apa?" Amira tampaknya marah.
"Kenapa nggak bilang sama aku?"
"Mir! Ja-jangan marah!" Rina panik sendiri.
"Kok kamu nggak bilang sih Rin, kamu kan tahu aku suka sama kue kondangan!" Hah? What the hell?
Rasanya Rina ingin membakar habis apa yang dilakukannya tadi. Begitu juga dengan Bagas.
"Jadi kamu nggak marah kalo semisal aku nikah sama Mito?" Tanyanya memastikan.
"Ya enggak lah, Rin! Aku malahan seneng!" Rina tampaknya masih bingung.
"Akhirnya move on juga dari aku!" Amira menggoda Mito.
"Ya jelas udah lah!" Rasanya dirinya kesal. Diejek seperti itu karena masih tak dapat pengganti setelah Amira.
"Kenapa aku nggak diundang?" Sekarang mereka bertiga duduk berdampingan.
"Ya, kita cuman ngundang kerabat dekat aja! Dan rencananya sih, nanti-nanti aja dipublish nya!" Kata Mito yang masih sedikit mengantuk.
"Oh,, gitu!" Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.
'Lah, ternyata mbak Amira nggak cemburu kalo mereka nikah?' Bagas yang sedari tadi sudah merinding sekarang merasa menyesal melakukannya.
Cukup lama mereka berbincang. Sampai akhirnya, Amira memutuskan kembali keluar dan memesan makanan.
"Bagas! Aku minta Jajangmyeon sama es cappucino ya?" Pinta Amira sembari melangkah ke tempat duduknya.
Saat sedang menunggu, Amira dipanggil oleh seseorang. Dari suaranya sih, sangat familiar. Tapi siapa?
"Nona Amira!" Teriaknya saat melihat Amira.
Amira pun melirik. 'Oh, ternyata Laila!'
Jika Amira pikirkan lagi, ternyata Fara dan Laila tak kalah jauh. Rambut lurus, wajah mulus, langsing, tinggi ideal.
Tapi, Fara adalah gadis tomboy, sementara Laila gadis sederhana yang kalem dan sopan.
Gadis itu tersenyum senang. Setelah beberapa hari ditugaskan Raffael ke cabang perusahaan, dirinya tak menemukan siapapun di rumah.
Para pelayan lain bilang rumah ini sudah ganti pemilik. Dan rencananya, beberapa dari mereka akan resign dari sana.
"Jadi kamu cari kami selama dua hari?" Laila yang duduk manispun tersenyum dan mengangguk.
Amira mengerti sekarang. Mereka pasti tidak betah setelah mengetahui informasi kalau rumah itu jatuh ke tangan Sarah Omero.
Laila duduk sambil menunggu pesanan. Ternyata, pesanan mereka diantar oleh dua orang yang berbeda. Bagas dan seorang pelayan perempuan.
"Kok jadi dua segala? Kamu nggak kenal Laila, Gas?" Amira mengeriyitkan dahinya.
'Apa Raffael cuman pernah ajak Affandi ya? Bawahan yang lain atau pelayan di rumah nggak ada gitu?' Batinnya heran.
Bagas tersenyum. Pipi merahnya sudah terdeteksi oleh Amira. "Ke-kenal kok mbak!" Ucapnya malu-malu.
"Terus? Kok nggak jadi satu aja?" Untuk ke sekian kalinya Amira bertanya.
"Ya, saya pikir kan datengnya nggak barengan! Jadi aku bedain!" Amira hanya menjawabnya dengan " Oh " saja.
'hmm, roman romannya ada yang lagi kasmaran nih.
*****
Amira meninggalkan restoran Mito. Sekarang, dirinya kembali ke rumah dan mendapati mereka semua berkumpul di ruang tamu.
"Loh, Ayah! Kenapa ni? Kok,,,, rame-rame!" Ucapnya sedikit bimbang.
Mereka semua tampak sedih dan kesal. Termasuk Sania dan Bianca. Ayah yang tampak mengeratkan kepalan tangannya, dan ibu yang menggenggam erat-erat celananya.
"Kenapa sih, Ayah?" Tanya Amira masih dengan mengeriyitkan dahinya.
"Alenta sama Hendri juga ibunya kabur. " Kabar duka pertama.
"Dan neneknya Raffael, harus pindah nama rumah Raffael! " Serangan cepat berikutnya.
Amira membelalak. Kabur? Kemana? Apa bakal aman buat mereka?. Dia hanya memikirkan itu.
Namun, Amira tetap berusaha menenangkan.
"Nggapapa! Nanti kan polisi yang temuin!" Kata Amira tersenyum lapang.
Mereka semua serasa terhipnotis dengan ucapan itu. Semuanya ikut tersenyum dan membahas hal berikutnya.
"Jadi gimana kak? Kita jadi liburan nih?"
Tampaknya si bontot sudah tak sabar lagi dengan liburannya. Sementara Raffael malah memikirkan tentang Ayah mertuanya.
'Apa bener semudah itu Ayah ngelepasin Gue! Kayaknya perasaan Gue nggak enak deh!'
Benar saja, setelah feeling-nya itu, Raffael diberi tatapan tajam eh sang mertua.
"Raffael,,," Senyuman.itu rasanya seperti pisau yang siap menusuk jantungnya. Sangat menakutkan. Ditambah lagi tatapan Wirawan yang sudah seperti elang.
"A-ayah?? Ehehe,,,, ke-kenapa ya??" Raffael tersenyum kikuk.
Hanya ada satu kalimat di pikirannya saat ini. 'Nasib buruk di depan Lo Raffael!'
__ADS_1
"Sepulang liburan nanti, kamu ayah hukum ikutin pelatihannya Irfan!" Duarrr. Pelatihan Irfan?
Sekarang Amira pun ikut cemas. "Eeeh, Yah! Apaaaa nggak berlebihan itu?" Tanyanya agak ragu.
Wirawan mengacuhkannya.
"Pokoknya selama sebulan Raffael harus ikut! Nanti biar Affandi sama Ayah yang urus perusahaan!" Kata tegas Ayah bagaikan singa.
Huh!! Tak ada gunanya melawan. Raffael akan dihajar habis-habisan untuk fokus, fokus, dan fokus.
Haduh!!! Itu yang mereka semua ucapkan.
"Ohiya, Amira! Ayah tarik Irfan ya? Kamu sama Fara! Dan Ayah mau kasih lihat rumah kamu!" Seperti biasanya, dia berbicara seperti ala-ala bangsawan.
"Ha? Sejak kapan aku punya rumah?" Tanya Amira.
"Nanti kamu bakal ditemenin Fara. Yang mau ikut ya ikut aja! Kalo kita kan udah sering, ya Yah?" Kata ibu menimpali seenaknya.
Akhirnya mereka semua memutuskan untuk pergi kecuali Wirawan, Maya, dan Irfan. Dalam perjalanan selama satu jam itu, Affandi mengendarai mob yang ditumpangi sepasang suami istri itu. Sementara sisanya, bersama Fara.
"El, udah ah, malu diliatin Affandi!" Rengeknya melihat sang suami terus saja mencium wajahnya.
"Udah! Nggak lihat dia!" Jawabnya dengan enteng.
Pipi Amira sudah bagaikan udang rebus. Tak bisa menahan malu, namun juga tak bisa berhenti tersenyum. Memang begitu ya kalau pasangan muda.
"Lily!" Entah kenapa Raffael ingin sekali menyebut nama itu.
"Emm?" Spontanitasnya menjawab dengan lucu.
"Panggil aku kakak!! Sekali,,, aja! Aku kangen Lily!" Ia memeluk tubuh mungil itu.
Bagaikan melihat rumahnya diterpa badai, dirinya menangis tak karuan terlihat menyesal.
"Iya, kakak!" Amira melembutkan nada bicaranya.
"Hiks hiks hiks!!" Amira terheran. Dirinya ikut larut dalam kesedihan yang ada pada suaminya.
"Kak! Jangan nyesel! Mungkin semua yang kakak lakuin selama ini yang buat aku lebih sabar!" Katanya dengan lembut membelai tangan sang suami.
"Hiks! Aku nyesel, Mir! Selama ini aku udah yakin kalo kamu itu dia! Tapi aku malah dengerin hasutannya Alenta! Aku jadi sering marahin kamu dulu," Jelasnya panjang lebar.
Amira memegang bahu lebar itu. Dia menegakkan badan Raffael kembali. Melihat dengan seksama, wajah penyesalan yang ada pada insan itu.
"Nggapapa! Aku seneng kamu masih bisa perhatian sama aku semasa dulu!" Amira mencium kedua pipi Raffael.
Hangat yang dirasanya. Bahagia yang dirasanya. Walaupun, dia tak tahu bagaimana bisa dulu secara tiba-tiba mencintainya.
Inilah takdir. Dari terpasa menjadi cinta. Tertulis di garisan takdir bahwa dialah milikmu.
Dialah yang harus kamu taklukkan hatinya. Melapangkan dada untuknya. Menerima segala kekurangannya.
Raffael mulai serius kembali.
"Ohiya! Bukannya foto aku waktu kecil kamu pernah lihat ya?" Ha? Amira tak mengerti.
"Itu loh, yang foto besar di rumah! Masa kamu nggak sadar kalo itu aku?" Tanya Raffael terheran-heran dengan Amira.
"Eee, ehehe! Nggak sadar! Hehe, maaf ya!" Amira tampaknya merasa bersalah karena telat menyadarinya.
Padahal ia selalu mengingat wajah itu. Tapi kenapa malah tak sadar saat melihat bahwa itu adalah wajah Raffael kecil yang dulu pernah ditemuinya?
"Kamu juga sama aja! Masih nggak yakin sama aku!" Kini giliran Amira menyerang.
Sekarang, tak ada yang bisa disalahkan. Faktor lain yang menyebabkan kejadian ini memang tak bisa dilupakan. Alenta yang selalu menghasut Raffael, dan Amira yang diberi kejutan dua kepribadian oleh Raffael. Perang ini hanya akan selesai jika kebenciannya telah usai. Dan sekarang, waktunya menyelesaikan itu.
Amira akhirnya maju dan berinisiatif mencium Raffael. Mereka berdua larut dalam dunianya sendiri dan tak kenal malu walaupun ini ada di perjalanan.
"Tu-tuan!! Sudah sampai,,,, hiiiigggghhh!" Sepertinya Affandi sedang menahan runtuhnya iman.
"Kenapa?" Affandi menggeleng, menutup matanya rapat-rapat.
"Makanya! Cepat cari pasangan sana! Sania udah nungguin loh,"
lah, dia malah menggoda Affandi. Affandi malu sendiri kan jadinya.
"Ti-tidak tuan!" Raffael tersenyum.
Akhirnya setelah sekian lama, dirinya kembali menggoda Affandi dengan menggunakan nama Sania.
"Kak!" Raffael membelalak. Ini bukan suara kedua adiknya. Lalu, siapa?
Raffael melengos. Oh tuhan! Istrinya.
'Amira salah makan obat ya? Kok,,,'
Sekarang giliran Raffael yang merinding. "Sa-sayang?" Dia merapatkan giginya sembari tersenyum.
"Ke-kenapa?" Tanyanya masih mengira kalau istrinya itu salah makan obat.
"Ayo turun!" Akhirnya kedua rekan itupun turun.
"Sayang,,, kok!" Tampaknya dia masih tak percaya. Panggilan ‘kak‘ tadi itu,,,
Seringaian dari bibir Amira sudah tak dapat tertahankan. Ingin sekali rasanya menggoda Raffael.
Meletakkan tangannya ke bahu Raffael, lalu berbicara tepat di telinganya. Dengan suara desahnya, "Baru dipanggil ‘kak‘ aja udah merinding!"
Buku kuduknya berdiri semua. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tangan dan kakinya tak bisa berhenti bergetar. Sepertinya bukan dia lagi yang akan mendominasi.
"Sa-sayang!!" Rengeknya.
"Kenapa sayang??" Ucapnya dengan suara menggoda.
"Ja-jangan gini!!!" Raffael menutup matanya rapat-rapat.
Merinding sekali menyadari Amira yang seperti hendak melahapnya hidup-hidup. Padahal 'kan, seharusnya dia yang begitu.
"Muchhh!" Sentuhan itu rasanya seperti membawa suasana baru.
Sudah kedua kalinya dirinya merinding dicium Amira. Sekarang harus bagaimana? Dulu dan kemarin dia yang mendominasi. Tapi sepertinya sekarang, mereka akan saling menggoda. Atau, malah Raffael yang kelabakan karena Amira yang sudah mulai menunjukkan cintanya?
"Mi-mira! A-ayo masuk dulu!!" Dia berlari ke depan menemui keempat manusia itu.
Dan terlihat dari belakang, mereka semua merinding dengan tingkah baru Amira. Bahkan Fara yang tak pernah melihatnya. Sepertinya, sekarang dia harus kuatkan iman karena akan menjadi asisten Amira yang sesungguhnya.
"Haduh!! Ayah, ayah! Udah dibilang aku nggak suka mewah! Eh, malah dikasih yang buwesssarr dan muewwwffaah sama dia!" Kata Amira setelah melihat bagian luar dan dalam rumah yang serba putih nan mewah.
Tin tinnn! Sepertinya ada yang datang. Klakson mobil itu berhasil membuat mereka teralihkan dengan rumah itu.
"Fara! Buka pintunya bentar!" Fara menundukkan kepala. Menuruti perintah Amira dan menyambut tamu itu.
"Amira!" Ah, ternyata kedua orang tuanya dan Irfan yang datang.
"Ayahhhhh!!!" Sepertinya Amira tak antusias dengan kedatangannya.
Mata tajamnya dan mimik dinginnya meretakkan semangat Ayah untuk menghampirinya.
"Eee, eheheh kenapa ni? Nggak suka sama rumahnya?" Tanya ayah agak takut.
Amira memalingkan wajah dan melipat tangannya di depan dada.
"Kan aku udah bilang! Aku nggak suka mewah! Kenapa malah dikasih rumah ini sih? Jual aja sana! Jual!" Demonya.
Mereka semua membelalak keheranan. Apa? Jual? Sampai segitunya ya suka yang sederhana?
"Ya jangan dong! Kan bagus rumahnya!" Amira bersikeras meminta rumah itu untuk dijual.
__ADS_1
"Aku nggak peduli! Aku mendingan tinggal di villa daripada di sini!"
Duarrr. Semuanya kembali ternganga. Ayah dan anak itu bertengkar konyol dengan kekeras kepalaannya masing-masing.
*****
Hari berlalu begitu cepat. Setelah Maghrib, mereka kembali ke kamar masing-masing yang termasuk baru bagi mereka. Kamar yang lebih luas namun tak berlapiskan emas seperti biasa. Cukup nyaman, walaupun Amira sebentar lagi akan menjualnya dengan harga mahal.
Amira terbaring di ranjangnya. Ranjang yang dulu pernah digunakan Raffael setelah dibawa kabur anak buah mertuanya. Dia masih ingat. "Rumah istrimu!" Dia tersenyum mengingatnya.
Kata-kata gamblang yang dicelotehkan Fara ternyata bukan sembarang gamblang. Ini memang milik istri tercintanya.
Kasur yang waktu itu berantakan, kini telah dibersihkan oleh pelayan disana. Dia bahagia. Akhirnya bisa bersama Lily kecil yang dicarinya. Harapan barunya dulu. Dan sekarang pun masih menjadi harapannya.
"Sayang! Nggak makan malam?" Raffael mengangkat tubuh Amira dan memeluknya.
"Ah capek!" Gelagat manjanya mulai keluar. Membuat jantung suaminya berdentum dengan kerasnya.
Ia mendengarnya. Telinga yang tepat berada di depan dada membuatnya bisa mendengar detakan itu dengan jelas. Lebih cepat, lebih cepat lagi.
"Kak! Kok deg-degan?" Ah, imutnya wanita yang satu ini.
Hatinya sangat berbunga setelah AmRaffael tampak malu dan semakin mempercepat lajunya jantung itu.
Amira tersenyum. Sangat ceria. Mendorong Raffael jatuh ke kasur itu, dan memeluk tubuhnya dari atas seperti anak kecil.
"Kau gadisku yang manis, coba lihat aku disini,,,, disini ada aku yang cinta padamu ♪♪" Pria besar itu bernyanyi. Pinggang ramping dan otot kekarnya kalah melawan kemanisan Amira.
Amira tertawa bahagia. "Ahahahahhaha! Kakak nyanyi?" Raffael ikut tersenyum. Sangat indah dimatanya.
"Suka?" Tanyanya.
"Hmm!" Amira mengangguk berulang kali.
"Udah yuk, ditunggu ayah loh!" Raffael bangkit dan menggendong Amira.
Amira tampaknya malu dengan perlakuan manis Raffael. Namun, Raffael lah yang lebih terkejut dengan hal tak terduga tadi. Itukah tanda cintanya pada seseorang? Saat dia sudah mau menunjukkannya dengan yakin, tanpa ragu-ragu!.
"Wah,, kayak pengantin baru aja nih, kakak kakak ini!" Sania menggodanya.
Pipi merah semu Amira tak dapat disembunyikan. Dia duduk dan menyantap makanannya dengan cepat.
Raffael menyeringai mendengarnya. "Kamu nyusul dong, sama Affandi!" Boom!! Serangan balik.
Sania tampak gagal setelah mendengarnya. Terlebih lagi, Affandi juga berada di meja makan itu. Keduanya sepertinya sama saja. Tak mau mengakui dan terus bertengkar.
Ahahahah! Mereka semua tertawa dengan sikap yang ditunjukkan Sania. Terlebih lagi Affandi. Dia sampai menutup matanya dan ingin menangis.
"Stop tuan muda!" Lirihnya ingin menangis.
Bianca tampaknya murung. Setelah Irfan datang bersama orang tua Amira, ia bahkan tak melirik Bianca sedikitpun. Bianca sangat berharap padanya.
"Ehhh, kak! Liburannya gimana? Cuma berempat?" Ia tampak sendu.
Matanya mengisyaratkan permohonan pada Amira. Yang dipandang pun mengerti. Bianca ingin liburannya lebih berkesan dengan mereka.
Amira tersenyum simpul. Tampak sekali aura kedewasaan yang jarang sekali dilihat orang lain.
"Iya! Nanti kakak ajak yang lain,"
Bianca tampak gembira. "Siapa aja kak?" Tanyanya dengan antusias.
"Emm, Kita berempat, Mito, Rina, Affandi," tampaknya Amira masih menginginka yang lain.
"Gimana kalo ajak Bian juga!" Kata Raffael. Amira tersenyum mengiyakan.
"Ohiya, Fara juga!" Bianca mulai melunturkan. Senyumannya lagi.
Sementara sang kakak, Sania mulai lagi dengan adiknya.
"Kenapa? Ngarep ada Irfan?" Yang disangkut pautkan diam tak peduli. Sementara Bianca tampak malu dengan itu.
"Iya deh, iya! Nanti diajak! Iyakan, Mas Irfan?" Amira juga ikut-ikutan ternyata.
"Iya, NONA!" Irfan mengeratkan giginya. Bahkan dagunya juga. Tampaknya ia sangat tidak suka jika Amira mengajaknya karena Bianca.
Sementara mereka makan, tiba-tiba Amira ingin sekali menunjukkan cintanya saat ini. Bukan karena ada banyak orang, tapi karena moodnya sedang baik saja.
"Kak! Jangan belepotan!" Raffael meringis walau tak kesakitan.
Tubuhnya kembali bergetar. Jantungnya berdetak hebat setiap Amira memberikan tetesan cintanya. Amira melapi mulut Raffael dengan tangannya sendiri. Lalu mengelapnya dengan tisu.
Mereka bagaikan reaksi kimia yang jika disatukan akan tercampur aduk dan menghasilkan penemuan yang baru. Penemuannya adalah, ini untuk pertama kalinya Raffael menggigil seperti itu saat diberikan cinta. Bahkan bersama Alenta saja dia tak pernah begini.
'apa ini yang disebut cinta yang berbahaya?' Raffael.
"Mira! Jangan gitu!" Amira menaikkan alis sebelahnya.
"Terus gimana?" Tanyanya masih tenang.
Raffael yang terus merasa tak karuan pun menjawab sekenanya. "Jangan gini! Nggak usah berlebihan juga kan?"
'Kamu pengen nguji iman apa gimana sih?'.
Amira tampaknya mendingin. "Berlebihan?" Suaranya tampak seperti dulu. Asing. Itu yang dirasa Raffael darinya.
"Okey! Aku ke kamar," Semua orang terdiam. Namun, mertua Raffael itu sepertinya tak bisa untuk tak mentertawakan.
"Ahahahah! Rasain tuh!" Kata Ibu.
"Buk! Jahat banget! Terus gimana ini?" Dirinya mulai panik sendiri. Bisa-bisa tiba-tiba Amira mendingin lagi.
"Gini loh. konsepnya Amira itu, mau disayang apa dibuang!" Kata Ayah.
Raffael terkapar lemah di kursinya. Dia tak bisa diabaikan begitu saja oleh Amira. Tapi, kalau Amira terus yang bertindak, bisa-bisa dia jantungan.
Akhirnya, dia memutuskan menemui Amira. Masuk ke dalam.kamar baru itu, celingak-celinguk mencari keberadaan Amira. Jeglek. Suara pintu dibuka.
Ternyata Amira barusaja mandi. Dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Terlihat sangat imut juga cantik Dimata Raffael.
Raffael menganga sampai mengeluarkan air liur. "Sa-sayang!" Panggilnya masih merinding.
"Apa?" Katanya seolah biasa saja dengan panggilan itu.
"Mau ngomong bentar!" Dia mendekatinya. Semakin dekat, namun Amira mencoba menghindar.
'Grepp'.
Terlambat. Rafael terlebih dahulu memegang tangannya. "Sayang! Maafin aku!" Tutrnya sedikit manja.
"Huh! Maaf kenapa?" Tanyanya masih tak mau memandang Raffael.
"Aku nggak ada maksud buat bilang ‘berlebihan‘," Katanya tak ingin Amira semakin menjauh.
Dia segera menarik Amira dalam pelukannya. "Aku cuman nggak biasa! Biasanya kan kamu nggak begitu perhatian! Karena lihat kamu berubah tiba-tiba jadi aku pikir ini sedikit berlebih daripada biasanya!" Ucapnya sambil menangis memohon.
'Aaa! Manisnya!!' sungguh sama saja dengan sang suami.
Amira menganggap yang dilakukan Raffael ini sangatlah manis. Menangis, merengek tak ingin diacuhkan.
Akhirnya, dia mengurungkan niatnya untuk seminggu tidak memperhatikan Raffael. Ia mengusap tengkuk Raffael dan mengacak-acak rambutnya.
"Ihhh, imut banget sih,,," Amira gemas sendiri dengannya.
Raffael pun melepaskan pelukannya dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sembari tersenyum cerah.
"Mulai sekarang, harus terbiasa loh!"
__ADS_1