
..."Siapapun yang aku temui, siapapun yang aku sukai, Aku pasti akan meninggalkan mereka jika di garisan takdirku tertulis namamu"...
...~Raffael Wardhana~...
...*****...
Lima tahun kemudian.....
"Aydin, Jangan nakal sama Ayna!!"
"aaaa! Mama!! Kak Aydin jahat huaaaa!!"
"wekwekwek!!! Kejar sini, kejar!!"
Raffael tersenyum senang melihat pertumbuhan anaknya yang memiliki kepintaran dan wajah yang menawan itu. Dengan sedikit kenakalan tak membuatnya marah kepada kedua anaknya. Bagaimanapun, Amira telah bersusah payah untuk melahirkannya, dan Tuhan sudah berbaik hati memberikan kedua anak yang sangat ia sayangi.
"Aydin! dengerin kata Mama ya?" Raffael menghentikan langkah putranya yang tampan ini. Tersenyum teduh dan meminta Sang anak mendengarkan Perkataan Mamanya.
"Iya Pa! tapi kan seru jahilin Ayna!" Katanya dengan wajah tengil anak kecil.
Raffael tersenyum melihat wajah kesal sang istri karena anaknya yang satu ini benar-benar mirip dengan Raffael.
"Raffael! kok malah senyum sih? Anak kamu itu buat Ayna nangis!" Kata sang istri penuh dengan Omelan beruntun berikutnya.
Raffael mendekat. menarik pinggang sang istri dan menggodanya. "Kenapa? Jahilin orang kan seru, apalagi kamu yang aku jahilin!" Kata Raffael dengan wajahnya yang menyebalkan.
Istrinya itu menyubit pinggang Raffael dengan sangat kuat, sehingga bisa terlepas. "Ahahhah rasain tuh! enak kan dijahilin?" Dia tersenyum senang bisa memberi Raffael pelajaran.
"eh, Amira!! Jangan kabur kamu ya!" Ya benar. Amira masih hidup.
__ADS_1
Setelah kejadian itu, Amira mengalami mati suri selama beberapa jam membuat Raffael sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan. Begitupun Amira.
"Heh, Pasutri bucin!" seseorang datang dari arah pintu membawa pasukan pasutri lainnya juga anak-anak mereka.
orang itu adalah Irfan. Dia membawa yang lainnya untuk menginap di Villa baru Raffael yang memiliki pemandangan bagus dan banyak kamar.
"kenapa emangnya? Lo iri gue bucin sama istri gue?"
"Nggak ada kita iri sama Lo ya!" Kata Bian dengan sebal.
"Buktinya?"
"Gue udah punya istri bucin sendiri! puas Lo?" kata Mito unjuk diri.
"Apaan sih, lebai kalian!" Kata Sania yang tak sabar untuk duduk.
"Iya tuh! Yuk, Far!" Bianca.
"huh! dateng-dateng minta minum!" cibir Amira dengan senyuman.
"Tamu adalah Raja!!!" Entah kenapa mereka bisa pas sekali mengatakannya. bersamaan dengan kepergian Amira ke dapur Villa.
"Aydin!!" Teriak anak Irfan dan Fara da berlari ke arah Aydin. Namanya Rakha.
Seorang anak berlari mengikuti lajunya Rakha berlari. "Rakha! tungguin!" itu adalah Billy, anaknya Mito dan Rina.
"Billy pelan-pelan larinya, nanti jatuh!!" Kata Rina yang mengikuti anaknya dari belakang.
Mereka tersenyum saling pandang dan masuk ke dalam dengan sukacita. namun, Dua gadis cantik dari belakang muncul dan tersenyum renyah menuju Ayna.
__ADS_1
"Kak Ayna! ayo main ke kamar!!" Kata Cantika, anaknya Bian dan Bianca.
"Cantika, kasih salam dulu sama Om Raffael! nanti dia ngambek nggak mau ngasih Ayna gimana?" Kata anak Affandi dan Sania yang bernama Naura.
"Iya-iya! sana! bawa anak Om pulang sekalian! kalian yang kasih makan!" Ahahahaha. Semua orang tertawa melihat wajah cemberut lucu Naura.
"Om kok gitu sama kak Naura! Jahat ihh!" Kata Cantika dengan mode julidnya.
"Cantika jangan gitu dong! kamu nggak lihat mukanya Naura? dia marah tuh!" Kata Rakha melihat Naura yang meninggalkan mereka dan menarik Ayna ke kamarnya
"Eh, Naura! anak Om jangan dibawa!" Teriak Raffael penuh ledekan.
"Nggak Mau! Kak Ayna kan mau sama aku! kenapa Om ngelarang? Iyakan kak?" Kata Naura yang terus menarik Ayna ke kamar Ayna diikuti Cantika.
"Ehh, Dasar cewek! main aja terus dikamar!" Kata Billy kesal dengan pemandangan yang hampir setiap bertemu dihatnya.
"Udah, ayo main tembak-tembakan!" Aydin menengahinya dan menarik kedua pria kecil itu menjauh. Sementara para orang tua tertawa dengan sikap lucu anaknya masing-masing.
"Sayang," Panggilnya pada Amira.
"emmm?" gumam wanita itu sembari melihat senyum masuk suaminya.
"Siapapun yang aku temui, siapapun yang aku sukai, Aku pasti akan meninggalkan mereka jika di garisan takdirku tertulis namamu" Mereka tersenyum bersama dengan kata-kata yang dilontarkan Raffael.
"Ciee, darimana Lo belajar ngegombal?" Tanya ketiga pria itu kecuali Affandi pada Raffael.
"Itu perwujudan bucin namanya!" Kata Affandi saat minum yang segera disentak oleh Raffael.
"Heh! Enak aja!"
__ADS_1
Semuanya tertawa renyah dengan berkumpulnya mereka semua. Sekarang, hanya tersisa kebahagiaan di hidup mereka. Mereka yakin, apapun tantangan dan Ujian dari Tuhan, akan dapat di lalui dengan lancar. Ya, semoga saja.