
Kegembiraan baru, warna baru dalam kehidupan Amira dan Raffael kini kian terlihat jelas. Seperti paparan gambar sketsa yang telah diubah sesuaikan dengan pemikiran sang pelukis.
Senyuman semakin madu yang selalu lolos dari wajahnya membawa rasa kenyamanan baru di hati Amira. Namun, dibalik itu semua, tentu saja sang pengacau akan tetap menjadi pengacau.
sekelebat mata memancarkan kebenciannya dengan sorotan elangnya yang menyeramkan. walaupun begitu, tak ada yang menyadarinya sama sekali. Kebahagiaan mereka terlalu besar untuk melihat seutas kebencian itu.
"Gue nggak akan biarin Raffael jadi milik Lo, Amira! Raffael cuma punya Gue!!" Satu demi satu kata yang penuh penekanan itu membawanya kedalam lubang kebencian yang semakin dalam.
"Dulu, Alenta, Sekarang Elo! Gue nggak mau ambil resiko lagi!" Entah apa kicauan yang keluar dari mulutnya itu.
Tuk!! tukk!! tukk!!
Suara sepatu heels terdengar dari arah pintu yang menggema di seluruh ruangan. Membuat beberapa tamu undangan berhenti dan terfokus pada sumber suara itu.
Suasana yang tadinya gembira menjadi tiba-tiba mencekam seolah malaikat maut yang menimbulkan gema demi gema itu. Namun, tanpa diduga. Beberapa gadis cantik dengan gaun pesta datang memasang wajah kokoh dan dingin.
"Oh, itu pasti temennya Tuan Raffael! Atau, yahh mungkin kenalannya!" Suara demi suara bisikan berlalu melewati telinga mereka yang terdengar pekat.
Sungguh malang nasib Amira kali ini. Mungkin itulah perkataan yang tepat untuk menggambarkan paparan mata yang sekelebat nampak tadi.
"Pesta yang sebenarnya baru dimulai!" Seloroh orang itu dengan mata melebar seperti ingin memuntahkan lahar dan tangan yang dikepal erat tak aturan.
"Eh, Raffael? Jadi ini istri kamu yang ada di berita itu?" Gelak tawa hinaan satu persatu keluar dari mulut tamu yang terlambat datang itu.
Raffael seperti sudah kesal walaupun dengan sindiran ringan seperti itu. Urat lehernya mengencang tampak seperti tali yang benar-benar kuat ikatannya.
Letupan api yang membakar habis wajahnya bak sudah tahu apa klise selanjutnya arah pembicaraan itu.
"Eh, Lo! Sadar diri dong! Iya, Gue akuin sih, Lo emang cantik! Tapi nggak selevel sama orang-orang kelas atas kayak kita!" Bisikan demi bisikan sekarang semuanya menjadi milik Amira.
Amira sendiri tampak tak begitu peduli dengan itu. Wajah penuh percaya diri nan wibawanya yang masih terpancar kuat rasanya menghempas keempat gadis itu untuk lebih ter gertak.
Kekakuan pada tubuhnya yang sebelumnya membuat tak bisa bergerak, bahkan berkata-kata sedikitpun tak menghalanginya untuk tetap tersenyum. Sementara mereka, semakin merasa terancam dengan itu.
Wajah kesal nan tak terima pun muncul.
"Lo mau hina Gue disini?" Sentak salah satunya melihat senyum terukir indah di wajah Amira. Namun, Amira semakin tersenyum senang.
"Sayang? kamu nggak apa-apa?" Rafael mendekat dan menyatukan keningnya dengan kening Amira. menatap lekat, walaupun rasanya ingin sekali mengalihkan pandangan tanpa cinta yang ada pada matanya sekarang.
Amira tersenyum sembari sesekali membuka tutup matanya. "Engga! Kayaknya kamu yang lebih 'apa-apa' deh!" Ledeknya melihat Raffael yang sebentar lagi tak dapat mengendalikan emosinya.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum bangga. Gelak tawa mengerikan dari mulutnya memenuhi seluruh ruangan yang seharusnya penuh dengan pesta itu.
"Sesayang itu Lo sama cewek lusuh ini?" Raffael mengeratkan cengkraman tangannya, dan mulai melangkah mendekatinya.
*plakk!
Mata merah menyala, yang melolong bak serigala. Menyatakan peperangan diantara mereka.
"Nggak ada yang boleh hina Amira, di dunia ini!" Sentakan yang dibarengi dengan wajah bengis pemangsa ditunjukkannya.
"Kenapa? Karena apa yang gue bilang ini bener?" Gadis itu menjeda kata-katanya, memilih tersenyum lugu berkedok mengejek untuk Raffael dan Amira.
"Wah, nggak nyangka gue! Seorang Raffael Wardhana gitu loh?"Ejeknya makin menjadi.
Mendidih sudah otak Raffael saat ini. Dan semakin gencar pula gadis itu mendekati Amira. Setiap detik. Setiap Langkah. Semakin dekat, tepat di hadapan Amira. Menatap Amira dengan jijik namun juga sombong atas kedudukannya di kalangan masyarakat.
"Konyol banget ya? Raffael pilih orang yang biasa aja kayak Lo!"
Mereka sama-sama tersenyum walaupun dengan arti yang berbeda. Amira tampak polos nan lugu Dimata Gadis itu tanpa ia sendiri tahu apa isi kepalanya.
Amira tersenyum ramah seperti orang yang baru berkenalan. "Konyol banget ya? Orang kayak Lo sok bener banget didepan Gue!"
Gadis itu melotot menggigit bibir bawahnya yang keluh walaupun ingin mencaci. Menahan dirinya sendiri untuk tidak macam-macam.
"Kenapa, Violin Alfi Nandana, putrinya Pak Brata Nandana? apa gue bener?"
degg. Dia sendiri terkejut dengan mulut itu. Mulut yang dengan mudah menyebutkan namanya tanpa cacat. Entah seberapa tahu dirinya. Atau jangan-jangan, lebih dari yang dia kira?
"Apa? Gimana bisa?" Masih ingat gadis yang matanya terlihat sekelebat bayangan? inilah kondisinya saat ini. Memantau Amira dan sama terkejutnya dengan Violin.
Amira masih sangat tenang tanpa keringat menetes sedikitpun. Bahkan tanpa wajah kalut ragu yang lebih tampak pada orang di sekitarnya.
"Gimana? masih kurang?" Amira malah menantangnya.
"Okey. Violin Alfi Nandana putri Brata Nandana, pemilik hotel bintang lima top 5 yang nggak ngasih gaji karyawannya selama beberapa bulan. Lulusan Universitas AAVI Indonesia yang rencananya akan terjun bulan depan tapi malah terlibat skandal?!" Lengkap.
Semua orang tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan Irfan dan Fara yang selama ini menjadi mata elangnya keluarga itu.
"Kok nona bisa tau ya, Far?" Irfan sendiri terkejut dengan ucapan Amira yang secepat kilat tanpa cacat itu.
"Perasaan belum kita selidiki Sampek situ deh? iyakan?" Kata Irfan mengingat apa saja yang sudah mereka selidiki tentang orang-orang di sekitar Raffael.
__ADS_1
"Iya! waktu itu kepotong tugas lain!" Bisiknya pada Irfan.
"Lo!!! Lo mata-mata??? Nggak ada yang tau itu kecuali orang-orang Gue!! Ngaku Lo!!!" Gertaknya pada Amira yang membeberkan hal ini.
"Loh? emang kenapa? bukannya bagus kalo gue beberin?" Tantangnya dengan siluet mata pedasnya.
Pancaran listrik bak terhubung di dunia ilusi menimbulkan api membara diantara Amira dan Violin. Hembusan angin ringan yang menyejukkan terus saja mencoba menenangkan suasana.
Seluruh tamu undangan merasa tertekan seperti sedang disandera oleh penjahat yang bengis dan kejam.
Violin menyeringai licik. "heh, Lo pikir dengan tau itu, Lo jadi hebat?" Bengisnya menampar pipi Amira.
Tubuh Amira goyah ke samping, walaupun begitu Amira sepertinya tampak senang sekali. Senyum menukik tajam di bibirnya terasa menyayat tubuh Violin. Tersiksa. Dia baru tau siapa yang dihadapinya.
Mata merah menyala Raffael membuat Amira teralihkan. Ia menghentikan Raffael yang sudah melayangkan tangannya di udara. Dengan mudah, Raffael menurutinya.
'Oke, kita lihat apa lagi yang tersembunyi dari kamu, My Lily!' Batin Pria itu menatap bengis ketiga gadis lainnya yang sudah tak ingin bergabung lagi dalam drama Violin.
"Jadi, menurut Lo gue sehebat apa?" tanyanya dengan suara tenang.
Api membakar seluruh tubuh Violin saat itu. Beraninya orang ini. Begitulah kira-kira.
Mata itu kembali beraksi. "Bella, Lo salah target kayaknya!" seperti yang kalian baca. Dia adalah Bella. Gadis menyebalkan yang berusaha mengambil Raffael.
"Hih! Kurang ajar kamu ya??" amuknya pada Amira yang masih terlihat santai. Amira menyeringai licik, dan mendekat untuk membisikkan sesuatu ke telinga Violin.
"Dibayar berapa sama Bella?" Duarr!! sebuah kata yang tak pernah diduga Violin keluar dari mulut wanita ini.
"L-lo tau dari mana?" Ucapnya melangkah mundur melihat itu.
"Mata gue dimana-mana!" Teman-teman Raffa yang tadinya meremehkannya pun tak berkutik dengan Amira.
Ya, walaupun mereka merayakannya dengan gembira, beberapa teman Raffael, bahkan sebagian besar masih saja meremehkan Amira.
"Se-sebesar apa koneksi Lo???" Teriak Violin terbelalak.
Amira menyekat tangan Violin dan menariknya lebih dekat dengannya. "Sebesar siapa aja yang udah keluar masuk kamar Lo??" Tanya Amira bermaksud mengintimidasinya.
"Ok-okey, Lo menang, gue yang kalah!!" Tubuh Violin merinding mendengarnya. Diapun pergi dari tempat itu, begitupun Bella dan ketiga temannya itu.
Raffael tersenyum senang dan segera memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Amira hanya diam saja dan tersenyum seperlunya tanpa ada yang mengerti apa yang dipikirkannya saat ini.
__ADS_1
"Sayang, kamu juaranya!!"