
Siang ini semakin terlihat perputaran waktunya. Sudah sekitar jam sembilan pagi disini. Setelah pembicaraan sia-sia dengan ayahnya itu, Amira masuk me kamarnya untuk memebersihkan diri. Tak ada lagi yang bisa ia bicarakan dengam Ayahnya. Ayahnya kurang peka dan kurang memahami apa yang diucapkannya. Memang, terkadang seperti itulah orang tua. Mereka mengatakan bahwa mereka mengetahui sifat yang dimiliki anaknya, namun ternyata masih banyak yang tersimpan di dalam diri anaknya.
Amira memegang gagang pintu dan memutarnya dengan cepat. Disana, nampak Raffael tengah berbaring diatas ranjangnya. Dengan merentangkan kedua tangannya, ia seperti habis dihukum oleh seseorang dan akhirnya bisa terbebas dari hukuman itu. Amira hanya berlalu saja tanpa ingin menyapa suaminya itu. Ia membuka pintu kamar mandi dan mulai menyopot satu persatu bajunya yang telah kotor.
Iapun membersihkan dirinya, dilanjutkannya dengan mencuci baju menggunakan mesin pencuci yang mempermudah kegiatannya. Ia keluar dengan rambut panjangnya yang tergerai berantakan juga bajunya yang sudah seperti selebgram muda dari negeri ginseng itu. Segera berjalan menuju meja rias dan mengambil sisir dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Tampak Raffael yang ketiduran diatas ranjang yang sama. Kedamaian memenuhi dirinya saat ini. Melihat suaminya kini seperti kembali ke masa remajanya. Wajah yang tenang, ceria dan ramah. Membuatnya teringat kembali dengan pembicaraannya dengan sang ayah.
Mendengar suara aneh dari kamar itu, Raffael pun terbangun dari tidurnya dan mendapati istrinya tengah mrnyisir rambut. Oh, ternyata itu yang mengganggu tidurnya. Suara sisir disertai dengan cipratan air dari rambut basah Amira.
"Apa yang kau lakukan?." Tanya Raffael dengan ketusnya.
"Tak ada! Hanya menyisir rambut!." Tukasnya tak kalah ketus dengan sang suami.
Mereka hanya terdiam setelah itu. Jika didalam sebuah film komedi, mungkin sudah ada iringan suara jangkrik yang membuat suasana menjadi cair. Namun, ini bukanlah disana.
Amira menyelesaikan kegiatannya dan hendak keluar rumah. Ia meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu. Takut jika nanti Raffael mencarinya dan meninggalkan rumah tak tahu jalan pulang. "El, aku ingin keluar sebentar!." Tuturnya.
Raffael mememalingkan wajahnya yang tampak jengan itu. Sekarang Amira dibuat kebingungan dengannya. Tak ada jawaban dari mulut suaminya itu. Tak tahu apa yang mengganggu pikirannya dan tak bisa pula membantunya.
"Ada apa denganmu?." Amira mendekati suaminya itu dan segera duduk bersebelahan dengan Raffael. Dia segera mengusap pundak Raffael.
"Hmm? Tidak ada! Hanya bosan saja!." Tuturnya dengan lembut sembari memandang sang istri.
Amira mencoba berkomunikasi dengan Raffael. Dia mencoba mengajaknya untuk pergi ke luar rumah. Sembari berkeliling diantara rumah tetangganya dan menenangkan hati.
"Mau ikut denganku tidak?." Tanya Amira.
Raffael mempertimbangkannya. Ia nampak berfikir keras walaupun pertanyaannya hanya seperti itu. "Bagaimana jika nanti para tetanggamu mengejarku dan mereka terpesona denganku?". Tanyanya dengan tatapan lugu.
Amira menjauhkan wajahnya yang terkesan risih dengan apa yang dilontarkan suaminya itu. Gila apa? Bisa-bisanya memikirkan hal seperti itu. Mana ada orang yang bisa mendekatinya? Sudh pasti jika berusaha bicara dengannya sudah ditempeleng Affandi.
"Kenapa? Apa pertanyaanku salah?." Tukasnya melihat sang istri yang berperilaku aneh.
Amira mulai mengatur napasnya kembali. Dia melirik sekilas. "Mana ada yang berani macam-macam denganmu? Jika ada yang beranipun mungkin sudah diterkam singa tidur itu!." Selorohnya dengan kesal.
"Ha? Singa tidur?.". Tanya Raffael yang terlihat tak mengerti.
__ADS_1
Amira semakin kesal bicara dengan Raffael. Ia pun menatapnya jengah dan segera bangkit. "Affandi!." Amira meninggalkan Raffael dalam kamar sendirian. Tak peduli dengan panggilan dari Raffael.
"Haish! Kenapa dia malah marah? Aku sama sekali tidak mengerti dengannya!." Raffael segera bangkit dan menyusul sang istri. Ternyata Amira sedang berada di teras rumah. Meminum teh yang sudah hangan untuk diseruputnya. Tak lupa juga ia duduk di kursi itu. Setelah selesai melakukannya, Amira mengetahui keberadaan Raffael saat itu. Dengan tatapan jengahnya, dia melangkahkan kakinya keluar rumah. Raffael tentu saja mengikutinya.
Letak rumah Amira memanglah agak jauh dari pemukiman warga. Karena keluarga mereka yang memiliki privasi lebih, juga anak buah Wirawan yang senantiasa berlatih di rumah itu membuat kedua orang tuanya membangun rumah agak jauh dari pemukiman warga. Saat memasuki pemukiman itu, semuanya tampak mewah dan indah. Ya, walaupun tak semewah rumah milik Raffael, namun cukup mewah untuk sekedar pemukiman.
Walaupun mereka orang yang cukup terpandang, namun kebiasaan dan tingkah lakunya tak jauh berbeda dari ibu-ibu kompleks di daerah sekitarnya. Suka sekali bergosip saat belanja sayuran ataupun saat arisan. Mereka melihat keberadaan Amira disana. Dengan insting kepo dan sok tahunya, mereka membicarakan Amira tepat didepannya dan juga Raffael.
Amira tampak biasa-biasa saja disana. Namun, Raffael yang mendengar dirinya diikut sertakan tersulut api kemarahan. "Wah, mbak Mira, sudah punya suami yang tampan ya ternyata! Dipelet apa tidak itu mbak!." Ujar salah satu dari mereka.
Raffael mendekati Amira dan mengeluarkan isi pikirannya sembari berjalan beriringan dengan Amira. "Apakah kau tidak merasa jengah dengan mereka? Atau setidaknya marahlah, Amira! Kenapa kau tidak menggubris saat mereka mengatakan itu!." Tuturnya.
"Untuk apa?." Amira mengalihkan pandangannya. Kini ia menatap Raffael kembali. Tatapan datar yang ditunjukkannya sudah jelas membuat Raffael semakin kesal.
"Yaaa untuk membalas mereka tentunya!." Ucapnya dengan penuh ambisi.
"Hah! Sia-sia saja! Ibuku sudah pernah melakukannya!." Ucapnya dengan santai.
Raffa terdiam disana. Ia tak berani berkata apa-apa lagi jika yang dibicarakannya sudah mengenai ibu Mayanya itu.
Amira terus saja berjalan diiringi dengan cemoohan yang ia dapatkan. Lalu, ia menuju ke rumah yang tidak lebih mewah dari rumah sekitarnya. Dia memencet bel rumah itu. Di depan gerbang, ia menunggu pak satpam untuk membukakan gerbangnya. "Pak! Rinanya ada?". Amira bertutur dengan sopan kepada pria paruh baya itu.
Rina berada di ruang keluarga sendirian, sedang menonton drama kesukaannya. Dia tampak mengomentari dramanya itu karena terbawa emosi. Rina bahkan tak menyadari keberadaan Amira dan Raffael membuat Amira menepuk pundak Rina dengan keras.
"Aaaa! Hantu siang bolong!." Latahnya karena terkejut. Dia segera menutup matanya ketakutan. Membuat Amira dan Raffael terkikik sendiri.
Dia kembali membuka matanya. Telihat jelas Amira dan sang suami berkunjung ke rumahnya. "Hah! Amira? Mengagetkan saja!." Ujarnya.
"Ahahaha! Reaksimu itu sangat lucu!." Amira berhenti tertawa setelah itu. Dia duduk di sebelah Rina, diikuti Raffael yang hanya ikut-ikutan saja.
Rina melanjutkan aktivitasnya yabg terhenti tadi. Ternyata drama itu telah selesai karena sudah jamnya untuk berganti acara televisi. Dia menggerutu, menyalahkan Amira yang datang tiba-tiba.
"Dasar Amira! Tidak tahu kesenangan orang saja kau!." Gerutunya pada Amira. Amira hanya menyeringai mendengarnya. Ia mengalihkan pembicaraan diantara mereka.
"Hhehe, maaf! Apa paman tidak ada di rumah?." Tanyanya.
Rina mulai teralihkan perhatiannya dari televisi kepada Amira. Ia menjawabnya dengan santai. "Iya! Ayah dan ibu keluar kota selama satu bulan penuh!."
__ADS_1
Amira membesarkan pupil matanya, dan mengembalikan ekspresi seperti semula. "Apa kau tidak takut jika ada laki-laki yang datang kerumah?."
Rina hanya bergidik bahu dan terlihat bodk amat dengan hal itu. Rina yang menjadi teman Amira sejak pindah rumah di usianya 7 tahun itu sudah diajari ayah Wirawan bagaimana caranya beladiri. Namun, Rina yang rumahnya agak jauh dari Amira jarang sekali mengunjunginya dulu. Tentunya karena orang tua Rina tak pernah mengizinkannya. Orang tuanya pun dulu seperti warga yang lainnya. Mencemoohkan keluarga Amira. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan bantuan Rina mereka menjadi keluarga yang dekat sekarang.
"Ha? Benarkah? Kau tidak takut jika aku malam-malam datang kemari?." Raffael menggoda Rina dengan gayanya itu. Tampan mempesona juga berkelas tak dipungkiri didalam diri Raffael.
"Hih! Memang kau berani?." Tanya Rina balik kepada Raffael. Dia menatap sinis pria itu. Tak ada kata takut kepada sang CEO yang telah lama menduduki tahta tertinggi ini.
"Ternyata temannya sama saja ya, tidak ada takutnya!." Gumamnya sembari tersenyum kecut yang tentunya tak didengar oleh kedua sahabat itu.
"Sudahlah! Kalian bicara saja! Aku akan menelpon asistenku!." Ia beranjak dari sofa itu meninggalkan kedua sahabat yang sama-sama bergidik bahu. Menelpon sang asisten yang tak lain adalah Affandi.
Amira dan Rina bercengkrama dengan riang di ruang keluarga itu. Tempat yang seharusnya kedua orangtua Rina berada. Namun, digantikan dengan Amira yang sudah dianggap saudaranya sendiri.
"Kau ini! Aku sangat sebal denganmu!." Amira.
"Kenapa? Apa salahku?." Tanya Rina sembari bergidik bahu.
"Kau bilang akan menghabisi orang yang menyakitiku! Tapi malah sepertinya kau sangat antusias saat melihat Raffael!." Ucapnya dengan tatapan malas itu.
Rina hanya cengengesan mendengarnya. Tak salah lagi, ia memang kesal mendengar bahwa temannya itu sudah disakiti. Namun, melihat kedekatan Amira dan Raffa tempo hari, ia jadi tak mempermasalahkan keberadaan Raffael lagi dalam hidup Amira.
"Hehe, maaf! Tapi sepertinya waktu itu kau sangat dekat dengannya!." Ucapnya menatap serius kearah Sahabatnya itu.
"Ya, kelihatannya saja!." Amira memutar bola matanya saat mendengar penuturan Rina itu. Amira tampak ragu untuk mengatakan sesuatu. Sehingga, membuuat Rina mendesaknya.
"Ada apa, Mir? Bicara saja! Santailah!." Rina.
"Rin, aku mengundurkan diri dari restorannya Mito!." Ucapnya yang teringat akan masalah itu.
Rina membelalakkan matanya sesaat. Mendengar orang yang selalu ada bersamanya itu kini memilih untuk mencari jalannya sendiri. "Kenapa, Mir? Apa kau tak nyaman berada di sana?." Tanya Rina dengan lirih.
Amira tersenyum melihat kepedihan hati kawannya itu. Ia mulai berbicara lagi saat Rina mulai menangis memikirkan apa yang pernah ia buat sampai Amira keluar dari sana. "Ayahku yang meminta, Rin! Dia bilang aku harus masuk ke perusahaannya Raffael!."
Rina membelalak mendengarnya. Mendengar itu dari Amira, itu berarti dia tak bisa lagi keseringan bersama Amira. Sahabat baiknya yang semasa kecil sampai dewasa saling menolong dan membagi suka duka. "Lalu kau menyetujuinya?." Tanya Rina yang muali menundukkan wajahnya yang lesu itu.
Amira hanya mengangguk mendengarnya. Ia juga tak tahu harus berbuat apa. Tak ingin melakukannya, namun tak ingin mengecewakan Ayahnya. Rina yang mengerti dengan sifat yang dimiliki Amira sejak kecil ini hanya mengangguk pasrah saja tanpa ingin mengganggu gugatnya. Tak ada yang bisa ia lakukan jika Amira sudah yakin.
__ADS_1
Mereka menonton film bersama setelah itu. Tanpa memperdulikan Raffael yang sibuk dengan dunianya sendiri di ujung pintu. Tak ingin juga beralih dari pandangan mereka yang sedang melihat para aktor tampan itu.