
Jam telah menunjukkan pukul tujuh, dan ini waktunya para tuan rumah pulang dan berhenti dengan aktifitasnya diluar. Amira telah kembali ke kamarnya dan bersiap untuk makan malam. tetapi sebelum ia keluar kamar,
"Nona, mari! saya antar ke depan!!". ujar Laila.
"Ke depan? ngapain, Bukannya ini jam makan malam?" tanya Amira.
"iya nona, kita akan makan malam!! tapi, orang yang ada di rumah terutama para pelayan wajib menyambut kedatangan tuan rumah nona!!". jelasnya.
"oehh, gitu! kalo gitu ayo!" seru Amira.
Amira dan Laila segera turun dan bergegas menuju teras rumah yang dipenuhi para pelayan.
Mobil pertama telah tiba, mobil itu mendekat secara perlahan, dan terlihat Sania dan Bianca ada di dalam nya. Mobil pun berhenti.
"selamat datang nona Sania!! nona Bianca!!". ucap seluruh pelayan saat pintu mobil telah dibukakan oleh sopir.
"eeh Laila!! Aku nyapa mereka nggak ya!?". bisik Amira pada Laila.
"enggak perlu nona!! kamu akan menyambut kedatangan suami nona secara khusus nanti!!". jawab Laila.
"khusus!? Maksudmu!?". tanya Amira pada Laila.
"nanti anda akan mengerti nona!! wkwkwk". jawabnya sambil tertawa.
Sania dan Bianca telah keluar dari mobilnya. Mobil yang mewah dan elegan itupun segera menjauh menuju garasi mobil. Sania dan Bianca berjalan mendekati Amira.
"halo adik ipar!?". sapa Amira pada adik beradik itu.
"hmm halo!!". jawab Bianca dingin.
"nggak usah sok akrab sama kita, Amira! Lo itu kedudukannya sama aja kayak pelayan!" ujar Sania.
"Amira!?". tanya Amira pada Sania.
"iya! Amira! Ngapain gue harus panggil Lo kakak!? kita kan seumuran!!" jawab Sania.
"hah? jadi umurmu 21 tahun!?". tanya Amira.
"menurut Lo!? dasar bodoh!! kata pak Wirawan, Lo beda empat tahun dari kakak!!". sambung Sania yang bicara dengan bahasa yang cukup kasar.
glek. Amira terdiam dan tidak percaya akan kata-kata kasar yang diucapkan Sania.
"nona!! jangan bicara seperti itu kepada nona Amira!!". sahut Laila membela Amira.
"diem Lo!! kak Sania kan benar!! Cuman lebih tua beberapa bulan kok!!". sahut Bianca ikut-ikutan.
Sementara itu, pak Amdan yang mendengar perdebatan mereka pun sepertinya punya niatan untuk melaporkannya pada ayah Mahendra.
'Sepertinya bapak bakalan ngelaporin kalian, Nona Nona! ' Pak Amdan.
Mobil selanjutnya tiba, dan itu adalah mobil terakhir yang akan disambut oleh para pelayan. mobil hitam yang lebih mewah dan elegan dari mobil sebelumnya. Mobil tersebut mendekati area teras rumah. kali ini, terdapat Affandi sebagai sopir dan Raffael serta Ayah yang berada di kursi belakang.
"selamat datang tuan Mahendra!! tuan Raffael!! tuan Affandi!!". sambut para pelayan.
'Sambutan khusus apaan sih? jadi kepo deh gue! ' Amira.
Affandi keluar dari mobil, dan menuju pintu belakang untuk membukakan pintu. Raffael dan Ayah keluar dari mobil, dan diikuti semua pelayan bahkan kedua Adik iparnya itu, menundukkan kepalanya lalu pergi. Sementara Amira hanya berdiri kaku tidak tau apa-apa. Mereka bertiga mendekati Amira.
"Amira! Nyaman dirumah ini!?". tanya Ayah pada Amira sambil mengulas senyuman di bibirnya.
"eumm iya Ayah!! aku temuin tempat yang paling nyaman!" jawab Amira santai.
"ayah, aku masuk!!". sahut Raffael sembari melangkah.
"tunggu! Kesini dulu!". kata Ayah menghentikan langkah Raffael.
"ada apa lagi". tanya Raffael pada Ayah.
"kasih ciuman kepulangan sama istrimu!!". ujar ayah membuat Amira Dan Raffael terpaku.
__ADS_1
'Cium? Iuhhh jijik gue! ' Amira.
"aku nggak mau!!". ujar Raffael sembari berbalik dan melangkahkan kakinya.
"Kalo kamu nggak nurut sama ayah, besok ayah akan buang kamu ke kolong jembatan, Raffael!!". ancaman yang Ayah berikan.
Raffael pun berhenti melangkah. Amira yang melihat itupun tertawa terbahak bahak. tetapi lucunya, ia melakukannya tanpa terdengar suara sedikitpun. Raffael berbalik, iapun melihat tawa unik nan indah Amira.
'Ha? ini Amira? aahhh imut banget ketawanya!' Raffael.
'Ini nona? kenapa gue nggak tau fakta unik yang satu ini ya?' Affandi.
"kamu tahu ini tradisi kita kan, Raffael!" kata ayah. Tradisi apa? cipika-cipiki saat pulang?
"Okey okey! tapi di kamar aja ya yah!" Alasan yang dilontarkan Raffael agar terbebas dari ini.
"DISINI RAFFAEL!! ayah yakin kamu nggak akan lakuin didalam!!". ujar Ayah.
'Apa, disini? gue juga harus lihat? wahhh gawat!' Affandi.
"Tapi ayah!!". Amira yang tadinya tertawa pun ikut mengeluh.
Raffael mendekati Amira dan.....cup....dia mencium kening, kedua pipi, lalu hidung serta mulut Amira dan menahannya cukup lama.
'aaa ayah! aku mau keluar dari sini!' Amira.
Affandi dan Ayah terlihat menutup matanya dan senyum samar terlihat di wajah mereka.
'Kenapa first kiss gue malah ke dia sih? semuanya gara-gara ayah nih!' Raffael.
Mereka melepaskan ciumannya. "wkwk akhirnya!! Mir, ini tradisi keluarga! lakukan tiap hari ya? biar suami istri tuh kelihatan selalu mesra!". pinta Ayah.
"e eh, baik Ayah!!".
'Sialan gue harus ngelakuin hal bodoh gini?' Amira.
"Beneran ya? mata ayah ada banyak loh!" tekannya.
'Harusnya gue cium orang yang lebih pantas!' Raffael.
Merekapun masuk ke dalam rumah. kini mereka berada di meja makan. Meja yang terbuat dari keramik, yang dilapisi batu mulia. kemegahan pun semakin tercipta dengan adanya enam kursi putih bak kursi pengantin yang terjejer di sekitar meja. Namun, disan tidak terlihat adanya harmonisasi karena semuanya makan dengan lahap tanpa mengucapkan sepatah katapun.
'Kalo makan sama ayah pasti berisik! ya, walaupun cuman berdua! beda kalo sama keluarga ini!' Amira.
'kenapa harus dia yang ada di depan gue? coba aja gue bisa undang kak Alenta!' Sania.
...----------------...
Semuanya telah selesai makan malam, dan kini mereka kembali ke kamar masing-masing. di kamarnya, Amira sudah selesai mengganti pakaian nya dengan piyama. ia keluar dari ruang ganti menggunakannya. Raffael sedang duduk diatas ranjang dan melihat Amira keluar menggunakannya.
"apa tu!?". tanya Raffael.
"ini? Ya piyama tidur lah? apa lagi emangnya!?". ujar Amira.
"Jelek tau pakek itu! itu lagi Rambutnya! iuhh" kritim Raffael.
'hah? berani Lo ya komentarin gue?'.
"Emangnya kenapa? Rambut gue emang begini! piyama ini juga bukan gue yang minta!". ujar Amira sambil tersenyum.
Amira berjalan menuju lantai.
"eh eh, mau kemana!?". Tanyanya.
"ya tidurlah!!". jawab Amira lugas.
"Lupa sama kerjaanmu!?". tanya Raffael. Amira mulai malas kembali.
"Udah selesai kan demamnya? sini pijitin gue!!". ujar Raffael.
__ADS_1
"heuh kemarin Lo bilang nggak boleh duduk di sofa! jadi gue naik pangkat nih?". tanyanya dengan bibir kanan yang di naikkan.
"jangan banyak omong, cepetan naik!! pijit kaki gue!!". tegasnya.
Amira terpaksa mengikuti perintahnya lagi. dia adalah anak yang menurut di sebagian besar hal. jadi, ya begitu.
'Padahal tadi pagi gue yakin sama dia! tapi setelah dipanasin Alenta, gue kok ragu lagi ya? apa emang bener Alenta nggak baik buat gue?'
...----------------...
Di kamar Ayah, terlihat ayah yang bersiap untuk pergi tidur. tetapi, pak Amdan tiba-tiba masuk dan memberi laporan.
"permisi tuan besar!!" pak Amdan.
"ohh pak Amdan? masuk pak! ada laporan apa!?". tanya ayah pada pak Amdan.
"tuan!! nona Sania dan Bianca bicara tidak sopan pada nona Amira!!". ujar pak Amdan.
"apa!?". tanya ayah yang terkejut.
"mereka bahkan melakukannya didepan seluruh pelayan tuan!!". sambung pak Amdan.
...----------------...
Amirapun naik ke atas ranjang itu. dia hendak memijit kaki Raffael.
"eh tunggu!!". Raffael.
"kenapa lagi!?". Amira.
"pijit tangan dulu!!". pintahya lembut.
Amira mulai memijit tangan Raffael, sementara Raffael terlihat memandangi wajah Amira dengan senyum samar di bibirnya.
'Wajah kamu enggak secantik Alenta! tapi kenapa aku lihatnya kamu itu seindah permata?' Raffael.
Amira mulai memijat lengan Raffael. ia harus sedikit mendekatkan tubuhnya dengan Raffael. Raffael yang tak menyadari itupun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Amira.
dan........empt.... tanpa sadar mencium bibir Amira.
'Mau mati nih orang!' Amira.
Amira mendorong tubuh Raffael ke sudut kasur.
"Maksud Lo apa? ngapain Lo cium gue! Lo nggak tau siapa gue?" pertanyaan panjang yang keluar dari mulut Raffael.
"APA!? GUE! Nggak salah denger gue?". tanya Amira terkejut sekaligus heran dengan pertanyaan Raffael.
" iya!! elo lah!! dannn jangan lupa lo dorong gue sampai sudut ranjang!!". sambung Raffael.
"Otak Lo masih jalan kan? Jelas-jelas Elo yang cium gue, goblok! pakek bilang gue yang lakuin lagi?". Makinya pada Raffael.
"APA!? LO PANGGIL GUE BODOH!?". Tanya Raffael sambil teriak.
'Kenapa Gue selalu refleks maki orang sih!'
"eeh maafim gue!! nggak sengaja!!". Amira dia terus saja memohon sambil menundukkan kepalanya serta memejamkan matanya erat-erat.
"Lo mau gue laporin ke ayah Lo!?". ancamnya pada Amira.
"Enggak, enggak, enggak! gue mohon! jangan!". pintanya pada Raffael dengan posisi yang sama.
'Waktunya main, Amira,,,, orrr Lily!'
"Okey, nggak masalah! tapi dengan satu syarat!!". Raffael.
"apa syaratnya!?". tanya Amira.
Raffael memegang erat bahu Amira, lalu dia menggulingkan badan Amira ke ranjang. Sekarang posisinya, Amira tidur di ranjang dengan Raffael yang duduk di sebelahnya menghadap ke bawah(Amira). Raffael mulai membuka satu per satu kancing baju Amira.
__ADS_1
"e ehh Lo mau apa!!! pergi!!". pintanya dengan mencoba melepaskan diri.