
Sayup-sayup terdengar suara kendaraan berlalu lalang dari dalam mobil travel. Mereka Akhirnya bisa pulang setelah hari yang panjang itu. Mereka memutuskan untuk pulang pada paginya karena sudah mulai kelelahan. Semuanya menuju rumahnya Amira.
Kedatangan yang lebih awal ini membuat Ayah dan Ibunya cemas. Akankah mereka bertengkar atau apalah yang menyebabkan mereka pulang lebih awal.
"Ibu!" Amira memeluk ibunya yang sangat dirindunya itu.
Sementara Maya, mengulas senyuman dan mengusap rambutnya penuh kasih sayang.
Raffael pun menyapa mertuanya. "Ayah!" Dirinya langsung mengecup tangan mertuanya itu penuh hormat.
"Iya! Kamu inget ya! Minggu ini, ikut Irfan latihan bela diri!" Ayah sudah memperingatkannya beberapa kali. Tapi, tetap saja Amira khawatir. Pasti latihannya tak pernah ditempuh Raffael.
"Yah, kenapa nggak dikurangin aja?" Keluh kesah sag putri padanya.
"Ya nanti, kalo cepet adaptasi ayah kurangin!" Jawab entengnya ayah.
Raffael menarik lengan ayahnya agar cepat-cepat masuk ke dalam. Seperti orang yang ingin menyembunyikan rahasianya, Raffael berbicara sangat pelan.
"Yah! Mau tanya!" Katanya.
"Apa?"
"Anak ayah itu kenapa sih? Tiba-tiba jadi over obsesif ke Raffa?"
Ayah sedikit terkejut. Setelah sempat kesal dirinya ditarik Raffael, kini dirinya berpikir keras dengan apa yang dikatakannya.
"Hmm, kayaknya Maniacnya kambuh!"
"Kambuh? Maksudnya?" Mereka berdua tampak sangat serius saat berbicara dengan berbisik-bisik itu.
Terlihat sangat lucu.
"Ya, kalo lagi kambuh biasanya over Maniac! Tapi kalo biasa ya Maniacnya bisa terkendali!" Kata Ayah dengan yakin.
"Ah masa? Dia ada keturunan Maniac dari siapa sih? Dari ayah?" Raffael mendapat reward pelototan spesial dari ayah.
"I-iya Yah! Nggak tanya lagi kok!" Katanya.
Mereka pun masuk dengan kisangnya masing-masing. Terlihat tersenyum riang bersamaan.
"Eh, Ayah sama kamu ngapain? Kok mukanya pada nggak enak dilihat gitu?" Amira.
"Nggak ada, masuk yuk!" Mereka semua masuk seperti apa yang dikatakan Raffael.
"Emm, Bianca!" Bianca tersenyum mendengarnya.
"Kakak mau lamar kamu Minggu ini!"
Whatttt!??!! Semua orang bertanya-tanya dengan keputusan mendadak dari Bian.
"Kenapa kak? Kok mendadak gitu," Tentunya, Bianca merasa ini aneh. Tiba-tiba saja kekasihnya ini berubah pikiran?
"Kakak nggak pengen kamu dideketin sama cowok-cowok somplak itu!"
"Hah? Ja-jadi kakak tahu kalo aku,,,," Bian hanya tersenyum.
"Kakak tahu siapa aja orangnya!" Katanya sambil menunjukkan eye smile miliknya.
"Sejak kapan?" Tanyanya lebih lanjut.
"Sejak kamu SMP!" Kata Raffael tiba-tiba.
Raffael tampaknya tak percaya sendiri dengan apa yang diucapkannya. Dia tahu Bian memaksa Mahendra untuk terus mengawasi Bianca. Terlebih lagi, Bian tahu Bianca adalah anak populer. Selain cerdas, dia juga primadona kecantikan di sekolahnya dulu.
Dan sampai sekarang, Bian juga tahu siapa yang terus mengincar Bianca.
"Wah, cinta gila!" Kata Amira menganga.
"Se-serius kak?" Pipinya bersemu kemerahan setelah mendengar kata-kata itu.
'Sejak SMP? Iya sih! Gue mulai jadi primadona waktu SMP!' hatinya membenarkan.
"Yaudah kak! Aku nurut aja!" Katanya tak tahu lagi mau bilang apa.
Mereka tersenyum bersama setelah mendengar itu. Terutama, Raffael dan Mito yang melihat sendiri perjuangan Bian menjaga Bianca.
Pernah sekali, Bianca hampir dibully saat SMP karena disukai banyak laki-laki. Perundungan itu pun berhasil dihentikan karena Bian.
"Sayang!" Wah, si jahil mulai lagi.
"Apa?"
Raffael mendekat dan menyatukan kedua kening mereka. Hal yang tak dimengerti Amira. Selalu saja terbalik setiap saat. Ketika dirinya ingin diam, Raffael bergerak. Dan juga sebaliknya. Rasanya seperti hubungan yang unik menyenangkan. Saling menggoda disaat salah satu sedang lugu lugunya. Iyakan?
"Bikin adek yuk!"
Blush!! Pria ini tahu kapan harus menyerang Amira. Setelah melewati ujian panjang dari sang istri, kini giliran dia yang memberikan ujian itu.
*****
Sania pergi ke luar sendiridan ingin jalan-jalan ke sekitaran. Suasana yang semenjak kuliah ini tak pernah dilakukannya. Sekarang, dia seperti tersadar betapa berubahnya Bianca dan dirinya.
Dulu mereka adalah gadis baik-baik yang tak suka macam-macam. Tapi, setelah kuliah circle pertemanan mereka itu berisi orang-orang kelas atas yang suka memanjakan diri dengan uang.
Bahkan, rasanya ingin menangis ketika dirinya malah menjelekkan kakak iparnya dulu. Kakak yang ternyata sangat mencintainya.
"San," Orang yang dipikirkannya sudah datang. Namun, tak disangka Affandi juga bersama Amira.
"Kak? Ngapain kesini?" Tanyanya seperti sedang sedih.
"Kamu kenapa?" Amira mengulas senyuman untuknya.
"Kayaknya emang lingkungan aku udah rusak deh kak! Temen, gaya hidup, bahkan orang yang aku kira lebih segalanya dari kakak!" Katanya murung.
Amira tersenyum. "Kamu nggak perlu panggil kakak segala! Kita kan seumuran! Mito, sama Rina juga kan?"
"Iya sih, tapi rasanya kamu udah kayak kakak aku sendiri! Perhatian!!" Sania semakin menunduk.
"Kok gitu? Jangan bandingin aku sama Raffael atau Alenta loh!" Candanya.
"Setiap orang itu beda-beda! Kakak kamu mungkin kurang perhatian, tapi itu semua kakak rasa ada alasannya! Dia cuman ngerasa hampa aja!"
"Hampa gimana?"
"Setelah ibu kamu meninggal, yang didik dia itu ayah kita! Kamu tahu sendiri kan? Karena Raffael harus jadi penerus! Dia harus bisa pegang kendali perusahaan!"
"Sedangkan kamu, pasti lebih sering sama ibu kan?"
Benar juga. Kakaknya mungkin tidak tahu bagaimana kasih sayang ditunjukkan sebenarnya. Karena didikan keras kedua manusia itu yang lebih mendominasi kepalanya. Sedangkan Sania dan Bianca lebih banyak bersama Bu Maya, kan?
"Kakak masuk dulu ya? Lain kali kakak undang ke pesta minum teh spesial cewek deh!" Katanya sembari berjalan kedalam.
__ADS_1
Kini, tersisa Fandi dan Sania. Sania kembali menunduk, namun bukan karena sedih. Dia malu bertemu Affandi seperti ini. Berdua saja saat jam baru mulai masuk pukul delapan.
"Kenapa?" Pertanyaan macam apa itu?
"Nggak ada!" Mereka kembali terdiam dengan perasaannya masing-masing.
"Besok kamu ada janji sama temen kan?"
Sania terkejut. Orang yang selalu mengajaknya bertengkar kini berbicara lembut padanya?
"Kok tau?"
"Kamu udah ada pasangan?" Tiba-tiba saja bertanya seperti itu.
"Belum! Kenapa emangnya! Tudep aja deh! Nggak usah lama-lama!" Sepertinya ia mulai geram karena sudah menunggu daritadi tapi Affandi terus-terusan bertanya.
Affandi tersenyum getir. 'Apa mau ya dia sama gue?'
"Aku mau jadi pasangan kamu!" Degg!!
'pasangan,,,, Gue?'
"Kenapa?" Sania mencoba memancingnya.
"Bukannya bawa pasangan ya?" Dia masih belum terbuka.
"Iya sih, tapi nggak wajib!" Sania mencobanya lagi. Ingin sekali rasanya mendengar deklarasi penembakan dari Affandi.
"Kalo gue bantu boleh ngga?" Tanyanya tak berterus terang.
"Bantu apa? Ngapain dibantu?" Sania mulai mendekatinya.
"Jadi pasangan nya, Nona!" Affandi berdiri kikuk tak bisa bergerak.
"Pasangan apa?" Sekarang, Sania membuat mereka berhadapan.
"Pasangan,,,, pasangan apa ya? Hehe!" Affandi masih saja belum mau mengatakannya.
"Ya pasangan buat janji itu! Biar non Sania nggak malu!"
"Nggak sekalian pasangan kekasih?"
Glekk!! Affandi menelan ludahnya sendiri. Kini, kedua tangan Sania berada di bahunya.
Dia hanya bisa menutup mata memohon keselamatan.
"Nona ma-mau,,, ja-jadi pacar,,,,,, Saya?" Cukup lama juga dia mengatakannya. Itupun dengan menunduk dan menutup mata.
"Mau! Jadi istri juga mau!"
"Hhha?" Spontanitasnya keluar.
"Haduh, kurang jelas apa?" Sepertinya Sania mulai kesal sendiri.
"Aku mau kamu lamar aku, secepatnya!"
Affandi terbelalak mendengarnya. Kenapa dia memintanya tiba-tiba. Hanya itu yang dipikirkan. Sepertinya seminggu ini dia akan sakit kepala karena memikirkan ini.
"Ke-kenapa tiba-tiba kamu minta?"
"Karena kamu nggak peka! Nggak maju juga! Masa aku harus kalah sama Bianca yang baru 19 tahun?" Sekarang dia malah marah-marah.
Memang ya, wanita itu bawel dan aneh. Sedikit-sedikit sedih, lalu marah, lalu entah ap lagi yang dilakukannya.
Duarrr!!!
Sania semakin terkejut dengan pria ini. Secepat itu dia mau mewujudkannya? Jujur saja dia tak berharap secepat ini. Sehabis wisuda nanti dia sudah punya suami?
"Kok cepet banget sih?"
"Tadi minta, sekarang protes! Maunya apa sih?" Dasar Affandi si kaku.
Sania semakin marah. "Sebenernya kamu bilang mau ngelamar itu karena permintaan aku atau karena kamu cinta sih sama aku??"
Berteriak tepat di depan wajah Affandi memang tak akan ada efeknya. Harusnya Affandi mengerti kan dengan apa maksud perempuan ini. Kenapa dia melakukannya seperti menerima perintah saja?
Sania berbalik badan dan menangis. "Hiks! Kalo nggak cinta sama aku nggak usah lakuin! Nanti dikira terpaksa lagi!"
Huft. Affandi menarik napasnya dalam-dalam. Sepertinya Sania memang benar-benar menginginkannya ya?
Affandi tersenyum dan menarik Sania dari belakang. "Mau dilamar sekarang juga boleh! Aku siap lamar kamu kapan aja! Aku cinta kamu, San!"
Mereka berdua terlarut dalam suasana itu. Sania yang dipeluk dari belakang, dan Affandi yang senyaman memeluk guling. Mereka memejamkan mata bersama.
"Kamu serius,,, Fandi?" Tampaknya Sania masih tak percaya dengan ucapan Affandi.
Affandi pun tersenyum. Dia tahu Sania menginginkan tindakan ketimbang janji manis saja.
"Kamu tunggu aja! Kalo kelamaan cari aja cowok lain!" Katanya dengan enteng.
"Ihhh! Ya jangan lah! Hihi," Sekarang Sania sudah lega.
Pria berusia 25 tahun yang tujuh tahun lalu melamar pekerjaan di rumahnya. Namun malahan bertengkar karena Sania yang menabrak Affandi dan membuat makanannya jatuh.
"Janji ya? Bakal dilamar?" Sania berbalik dan menggenggam tangan pria itu.
Pria itu tersenyum. "Nggak janji! Tapi diusahain sebelum terlambat!"
*****
Selamat pagi dunia. Setelah kegiatan melelahkan Minggu ini, akhirnya Minggu kedua telah tiba. Pagi-pagi sekali sudah ada yang mengejutkan Amira.
Raffael pagi-pagi sekali sudah memeluknya diatas ranjang. Dia tersenyum dan mencium mulutnya.
"Selamat pagi, sayang!!" Dia tersenyum bahagia akhirnya bisa bebas dengan Amira tanpa diganggu para bocah itu.
Amira belum juga mau membuka matanya. Dia terlalu lelah untuk bangun dan bergembira.
"Ah, kakak! Udah! Jangan cium terus dong!" Amira mencoba menghindar saat Raffael ingin mencium mulutnya lagi.
"Masih capek ya?" Amira melihat senyuman itu. Senyuman yang semanis madu. Dia semakin berdebar melihatnya.
'Ternyata gini ya rasanya punya suami ganteng? Tiap pagi harus deg-degan!'
"Kayaknya Maniac kamu udah nggak kambuh lagi ya?" Tanya Raffael melihat Amira yang sudah tak menyerangnya lagi.
"Si-siapa yang kasih tau?" Amira semakin malu dengannya.
"Ayah yang bilang!" Raffael kembali tersenyum. Senyuman yang hangat itu mampu mengulas senyuman yang sama pula di bibirnya.
"Sini cium!" Pinta sang suami.
__ADS_1
"Enggak mau! Kan masih bau!" Tolaknya dengan cepat.
Raffael masih memeluk tubuhnya dari atas. Bahkan sekarang lebih lagi. Dia mencium wajahnya bertubi-tubi.
"Udah sayang! Jangan lagi! Ahahahaha!"
Raffael menatap manis Amira. "Misi pagi ini selesai!"
"Ha? Misi apa?" Amira terlihat sangat polos dimatanya.
"Misi buat istri senyum di pagi hari!"
"Ahahahaha, apaan sih itu! Hihihi ahahahaha!"
Mereka tertawa bersama. Sekarang rasanya kebahagiaan Raffael sesederhana ini. Padahal dulu dia bahagia kalau menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Itupun harus kelelahan dulu.
"Makasih udah mau bahagiain aku!" Amira berinisiatif mencium Raffael. Tapi, Raffael keli ini menolak dan memasang wajah belagu.
"Katanya masih bau! Kok mau cium?"
"Iiih kakak!"
"Ihihihi! Jangan kayak kemarin ya? Kamu buat aku takut tau!" Kata Raffael mengingatkan kejadian kemarin-kemarin.
"Ya, sesekali nggapapa kan?" Raffael mengangguk.
Memang harus kan sesekali dia mendapatkan reward spesial begitu?.
"Nanti kamu masuk kerja lagi?" Amira tampaknya kecewa. Dia ingin lebih lama lagi bersama suaminya itu.
"Kenapa nggak ikut aja? Tapi kamu tau kan, cuma setengah hari! Setelah itu ayah kamu hukum kakak untuk yang terakhir kalinya!"
Minggu yang melelahkan ini sepertinya mampu membuat Raffael lengah. Dia lupa kalau semakin dia ingin cepat selesai, Ayah akan semakin menambahkannya.
"Sttt! Jangan bilang gitu kalo di luar loh! Nanti ditambahin lagi sama ayah!" Kata sang istri.
Kini Raffael memulai kejahilannya lagi. Saat Amira masuk ke shower, Raffael mengikutinya dan berhasil mandi bersama.
"Dasar mesum!" Kata sang istri melihatnya mulai macam-macam saat ganti baju.
"Mesumnya sama kamu doang kok! Nggapapa kan?" Tanyanya penuh dengan godaan.
"Hhh, terserah!" Dia tersenyum melihat seringaian lelakinya itu.
"Awas loh! Nanti malem nggak dapet!" Raffael menghentikannya.
Rasanya sangat tidak adil untuknya. Dia lelah selama seminggu ini. Ya, walaupun Amira juga sih, tapi kan ini waktunya menikmati waktu berdua setelah seminggu?.
"Sayang, ihhh!" Raffael merasa sangat kesal. Tak adil, begitulah isi hatinya.
Tapi, kalau tidak dihentikan, bisa-bisa Raffael tak mau ke kantor hari ini.
"Enggak! Nanti malem aja!" Hah! Raffael sedikit kecewa. Tapi, setidaknya hari ini Amira akan menemaninya.
*****
Akhirnya mereka sampai ke kantor. Saat melewati beberapa karyawan, mereka terkejut karena Amira berada di belakang Raffael. Karena, yang mereka tahu Amira hanya tamu Raffael yang ingin bertemu masa itu.
"Ih, lihat tuh! Nggak cocok banget gandeng tangan bos kita!"
"Iya! Pak Raffael kan perfect, lah dia? Kayak pengangguran aja, pakek kaos oblong kesini!"
"Iya! Nggak secantik seseksi mbak Alenta ya?"
Pyarrr!!
Raffael tak menyangka akan ada yang mengatakan itu. Walaupun begitu, Amira tampaknya biasa biasa saja dengan gunjingan itu.
"Sayang? Kamu nggapapa?" Raffael langsung saja bertanya saat berada di ruangan.
"Enggak tuh! B aja!" Katanya tanpa ekspresi sedikitpun.
"Serius?" Raffael tampak murung. Sepertinya dia kecewa karena Amira tak meresponnya.
'Padahal, aku sedih banget dibilang gitu!'
Ternyata Amira pun sedih. Tapi tak bisa menunjukkannya di depan Raffael. Dirinya yang terbiasa bersikap datar dengan hal seperti itu membuatnya terlihat seperti itu.
"Sedih sih sedih, tapi ya mau diapain!"
Sepertinya Amira menganggap enteng hal itu. Tentu saja, ini bukan pertama kali dia dijadikan bahan ghibah seperti ini.
"Ya dibales lah!" Raffael kini tampak sangat kesal.
"Udah! Biarin aja! Nanti juga kapok sendiri!" Amira tampak santai-santai saja dengan hal itu.
Jeglek!!
Suara pintu yang dibuka membuat Amira dan Raffael menoleh. Ternyata yang datang adalah pengganti Alenta untuk memproduksi produk baru.
"Selamat pagi Pak! Saya ingin menunjukkan hasil karya saya Minggu ini!" Seperti seorang pelukis profesional saja.
"Eh, Raffael ya?" Dia tampaknya kenal dengan Raffael. Dia tersenyum hangat dan memberikan map itu.
"Jadi kamu yang punya perusahaan ini!" Raffael tampaknya tak bergeming. Bella yang tampak kecewa melihat keberadaan Amira di sofa.
"Fan! Masuk!" Raffael memintanya masuk dan mengurus jam Rapat nanti siang.
"Iya tuan! Siang nanti jam sepuluh pasti semuanya sudah berkumpul!"
Raffael tampak tak ingin sekali melihat Bella ini. Amira pun, merasa Bella ini bukan sesuatu yang patut diramahi untuknya.
"Lo nggak usah sok akrab sama Gue, disini gue bos nya! Paham??" Tegasnya pada Bella.
"Iya Raff! Tenang aja! Masih aja suka marah-marah Lo ya?" Katanya seolah tahu apa kebiasaan Raffael.
Bella keluar dengan rasa bahagia. Sementara Amira tampak cemburu dengan wanita itu. "Bella tuh siapa kamu?" Akhirnya proses interogasi dimulai.
"Dia temen SMA ku! Kenapa? Cemburu ya?" Mulai lagi menggodanya
"Ya iyalah! Jangan-jangan dia juga pacar kamu ya?" Semakin tak masuk akal pertanyaannya.
"Pacar apa sih? Hahaha. Enggak Lo! Kamu kan pacar aku sekarang!" Raffael mendekatinya dan memeluknya dengan erat.
"Jujur aja! Dia pacar simpenan kamu kan?" Ini semakin parah.
Wajah cemberut Amira terlihat sangat imut. Membuat Raffael terus tertawa walaupun merasa Amira sangat aneh hari ini.
'Nih cewek yang dipikirin apaan sih?'
"Hih! Dibilang enggak kok! Aku gigit nih!"
__ADS_1
Yang benar saja? Raffael benar-benar menggigit hidungnya. "Au! Jangan!! Ih,"
Mereka tertawa bersama. Seperti pasangan baru yang membara akan cinta, Raffael dan Amira terus saja menunjukkan perhatian itu tanpa malu sedikitpun.