Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Affandi, Sania dan Bianca


__ADS_3

Affandi baru saja menghantarkan kedua gadis yang diamanahkan untuknya itu keluar. Namun, lalu lintas yang padat membuatnya memukuli setirnya sendiri. Sudah hampir setengah jam mereka bertiga tak keluar dari sana.


Kedua gadis itu terus saja mengutuki pembuat kemacetan dengan sumpah serapahnya dan tak lupa juga komat kamit menyebutkan nama binatang yang muncul di kepalanya. Affandi yang kelaparan pun mencari keberadaan restoran di sekitar mereka.


"Nona! Saya lapar! Saya akan mencari restoran yang dekat di sekitar sini!." Selorohnya menatap kaca yang menggantung di atas. Keduanya saling melirik dan tersenyum.


"Baiklah! Ayo kita ke restoran! Aku juga sudah lapar!." Sania segera mengguncang tubuh Affandi dari belakang saking tidak sabarnya untuk menyantap makanan.


Tak butuh waktu lama, Affandi sudah menemukan restoran yang berada di dekat mereka. Sembari menunggu macet di jala, ia belok ke arah tempat parkir di restoran itu. Karena Restoran tepat di depan kemacetan, membuat mereka bernapas lega walaupun tak bisa pulang ke rumah.


Mereka menuruni mobil itu bersamaan. Lalu, Affandi uang hendak menelpon Raffael dihentikan aksinya oleh Sania.


"Heh! Mau apa kau?." Tanya Sania sembari mengambil paksa ponsel Affandi.


Affandi menatap kesal kepada Sania. Dia menggerutu sendiri di dalam hatinya. "Mau menelpon kakakmu, Nona!." Affandi menekankan kata terakhirnya.


Sania memutar malas kedua bola matanya. "Kau mau kalau kakak membanting ponselnya? Kau tidak ingat tadi dia marah-marah begitu kepadamu?." Tanya Sania dengan kesal.


"Ohh baiklah kalau begitu! Kau saja yang menelpon!." Affandi.


"Apa?? 'Kau' ?." Tanya Sania kepada Affandi saat mendengar kata Kau dari mulutnya.


"Iya, siapa lagi?." Ketus Affandi.


"Heh! Terserah!." Dengan wajah juteknya, dia melempar ponsel Affandi ke sembarang arah membuat sang empunya menangkap benda sakral itu dengan gelagapan.


Sania mulai mengetikkan nomor Raffael di ponselnya. Setelah itu, dia memencet tombol yang bersimbolkan telepon di sana. Sembari menunggu kakaknya mengangkat, Sania berjalan ke dalam menyusul Bianca yang ternyata sudah masuk sedari tadi. Dia mengangkat benda pipih berlogo apel digigit itu sembari menghampiri adiknya.


Affandi yang kesal menekuk wajahnya dan berjalan mengikuti Sania. Namun, siapa sangka wajah yang ditekuk itu begitu digemari oleh banyak wanita di restoran itu. Para kaum hawa yang meihat wajah tampan tertekuk itu tertegun dan menganga sampai ada juga yang meneteskan air liur.


"Kakak! Kami terjebak macet disini! Jadi Affandi mengajak kami ke restoran untuk makan! Mungkin kami akan pulang terlambat!." Pekiknya saat kakaknya sudah mengangkat telepon itu.


Raffael menekuk wajahnya sesaat setelah itu. Bagaimana tidak, Sania langsung berbicara tanpa memperdulikan sapaan dari sang kakak. "Iya! Jangan pergi ke sembarang tempat atau aku akan menghakimimu di tempat itu!." Ucapnya sembari menutup sambungan telepon.


*****


"Kenapa cepat sekali menutup telponnya?." Amira membaringkan dirinya di kasur setelah selesai dengan ritual mandinya itu. Dia juga sempat mendengarkan percakaban dari kedua saudara itu.

__ADS_1


Raffael tersenyum dan meletakkan ponselnya di meja. "Tidak ada! Mereka ada di restoran! Jadi mungkin akan terlambat pulangnya!." Jelasnya pada Amira. Sementara Amira hanya ber oh ria mendengarnya.


Raffael tiba-tiba saja memeluk pinggang Amira dengan erat. Amira yang mendapatkan perlakuan itupun terkejut dan membelalakkan matanya. Raffael tampaknya tak peduli dengan hal itu. Dia malah asyik menyenderkan dagunya di pundak Amira.


"Boleh ya?. " tanyanya pada Amira.


Amira segera menganggukkan Kepalanya dan segera mengontrol detak jantungnya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan barulah ia mulai mengendalikan detak jantungnya yang tak beraturan itu.


Dia mencoba memaulai pembicaraan dengan Raffael. "Ehh, apa Ayah sudah tau kalau kita pulang?." Tanyanya dengan bahu yang bergetar.


Raffael membuka matanya dan melirik sekilas kearah Amira. Dia kembali memejamkan matanya. "Sudah! Sudah ku telpon tadi!." Tukasnya.


"Tuhan! Kenapa ujianku seberat ini?." Teriaknya dalam hati kecilnya itu.


*****


Sania, Bianca, serta Affandi memesan beberapa makanan yang sangat berbeda. Affandi yang hanya ingin nasi goreng, Sania yang suka dengan ayam geprek, dan Bianca yang memilih untuk memesan spaghetti.


Mereka menyantap makanan itu dengan lahapnya saking laparnya ketiga manusia itu. Affandi menghentikan kegiatannya ketika melihat ada cabai yang berada di sudut bibir Sania. Dia segera mendekatkan tangannya ke wajah Sania, membuat si empunya merona.


"Heh! Kau mau apa?." Tanya Bianca sembari memukul tangan Affandi. Affandi yang merintik kesakitan pun hanya bisa menyebutkan list nama binatang di dalam pikirannya. Bianca masih menatap tajam kearah Affandi.


Dengan perasaan kesalnya, dia kembali mengunyah makanan yang ia beli itu. Dia mengumpati dirinya sendiri yang bernasib seperti ini.


"Sial! Tau begini aku di kantor saja!."


"Pekerjaanku kan belum selesai! Aku bisa lembur disana!.". Teriaknya dalam hati.


Dia segera menghabiskan makanannya dan membayar apa yang mereka semua pesan. Dia memanggil pelayan restoran itu.


"Mbak!." Pekiknya dengan keras.


Salah satu pelayan pun datang dan mencatat beberapa makanan serta minuman yang telah mereka pesan.


"Totalnya seratus dua puluh ribu ya mas! Ada yang mau dipesan lagi?." Ucap pelayan itu.


"Wahh! Ini sekretaris Affandi kan? Aku sangat beruntung bisa bertemu dengannya! Dia sangat tampan!." Teriaknya dalam hati dengan mata berbinar-binar, namun tetap mencoba profesional.

__ADS_1


"Ehh! Tapi kedua gadis ini siapa ya? Apa pacarnya?.... Ahh sepertinya tidak mungkin! Mungkin salah satu petinggi di AMars!." Gumamnya dalam hati mengetahui kehadiran Sania dan Bianca.


"Tidak ada! Ini uangnya!." Ketusnya sambil menyerahkan uang tunai. Affandi segera berdiri diikuti kedua gadis yang sudah menjadi beban dan tanggung jawabnya itu.


Namun, saat hendak berdiri kening Sania terbentur dengan kening Affandi. "Awff! Hati-hati dong!." Pekik Sania.


"Awff iya iya maaf!." Lirihnya Affandi.


Pelayan itu segera pergi agar tidak terlibat masalah selanjutnya. Sementara Bianca hanya menyipitkan matanya sembari berlalu pergi.


"Haduh! Berhenti menjadi kucing sama tikus sehari saja, Bisa tidak! Aku lelah melihatnya!." Tukas Bianca sembari berjalan meninggalkan keduanya.


"Ish! Semuanya gara-gara kamu, Affandi!!." Affandi mendik sendiri mendengarnya. Dia mengikuti langkah kaki Sania yang sudah terlebih dahulu menghentakkan kakinya menuju mobil.


"Lah? Kenapa aku yang disalahkan?." Affandi bergidik bahu sendiri menanggapinya. Dia berjalan dengan wajah tampannya yang menjadi pusat perhatian semua orang, namun tak ada yang berani berkutik karena tahu siapa yang sedang berada di sana.


Affandi sudah berada di kemudi mobil saat ini. Lalu lalang yang ia lihat tadi sudah hilang ditelan bumi. Sekarang, tinggal beberapa kerumunan saja yang ada, namun bukan kemacetan lalu lintas tentunya.


Ada beberapa bioskop yang barusja memutarkan filmnya, membuat beberapa pengunjung yang terlambat melakukan tawar menawar dengan penjaga.


Pusat perbelanjaan juga tak luput dari keramaian yang tiada hentinya itu. Entah kapan kebisingan kota ini akan reda.


Affandi menyalakan mesin mobil dan melaju menuju kediaman keluarga Wardana. Tak ada pertikaian lagi dalam perjalanan kali ini. Affandi dan Sania hanya saling menatap sinis saat tak sengaja tatapannya bertemu. Sedangkan Bianca lebih memilih berselancar ke lautan media sosial dan mencari update terbaru hari itu.


Mereka akhirnya sampai di kediaman Wardana. Saat gerbang dibuka, mereka sudah disambut oleh beberapa pelayan yang menunggu di depan pintu rumah utama. Tak ada yang mendongakkan kepalanya saat para petinggi rumah itu berjalan kearah pintu. Affandi segera membukakan pintu untuk kedua adik dari tuan mudanya.


"Silahkan masuk nona muda!." Titahnya kepada Sania dan Bianca.


"Iya! Lain kali jangan berurusan lagi denganku!." Lagi-lagi Sania mengibarkan bendera perang kepada Affandi. Entah apa yang membuat kedua manusia itu selalu melakukan perang dingin saat berpapasan.


Affandi hanya tersenyum simpul menanggapinya. Dia seperti menganggap enteng ucapan itu pertanda tak ingin berdebat, karena memang dirinya sudah terkuras habis tenaganya untuk hari ini. "Terimakasih atas sarannya!."


Sania yang mendengarnya pun memasang wajah kesal khasnya yang membuat Affandi terhibur sendiri. Sementara Sania sedang berkomat kamit membaca mantra serta menyebut sumpah serapah yang dia ingat.


"Dasar kambing! Kadal! Cicak anti betina! Bisa-bisanya bilang kalau itu saran!." Pekik Sania dalam hatinya.


"Wah! Lumayan, dapat hiburan gratis!." Affandi.

__ADS_1


"Haduh! Mulai deh kalian! Berhenti sehari saja bisa tidak?." Protes keras dari Bianca itu membuat keduanya dim tak bergeming dan kembali ke tempatnya masing-masing.


__ADS_2