Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
B-Side : Raffael


__ADS_3

Masih di rumah yang sama, suasana yang sama, serta keceriaan yang sama dari kedua sahabat itu. Kali ini kita akan memfokuskan nya kepada Raffael. Seperti yang diketahui, Raffael menutuskan untuk menjauh ke pintu dan menghubungi Affandi, sang asisten yang disebut-sebut Amira sebagai singa tidur itu. Mencari tahu masalah apa yang belum ia selesaikan.


Dia mulai mengetik nomor ponsel Affandi di benda tipis berwawasan luas itu. Sesaat setelah itu, ia mulai memencet tombol yang bersimbol telepon itu. Diangkatnya benda pipih itu di telinganya sembari menunggu sang asisten mengangkat teleponnya.


Affandi akhirnya mengangkat panggilan telepon itu.


"Selamat pagi tuan! Apa ada masalah?." Tanya Affandi di sambungan telepon itu.


"Aku ingin tahu perkembangan perusahaan!." Celetuknya kepada Affandi.


Affandi sesenggukan menelan salivanya mendengar ucapan Raffael. Dia kembali berbicara kepada atasannya itu. "Perkembangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja tuan! Investasi kita menurun sebesar empat persen dan beberapa investor sudah tidak ingin memperpanjang kontrak!."


Affandi menutup matanya rapat-rapat di seberang sambungan telepon itu. Menjauhkan telinganya dan berharap Raffael tak membuat kegundahan di dalam hatinya sendiri. Sesuai prediksinya, Raffael berteriak sekencang-kencangnya sampai ia terlonjak kaget disana. "Apa!!."


Kedua wanita yang sedang menikmati acara selanjutnya dari negeri gingseng itupun terlonjak kaget tak kalah kagetnya dengan Affandi. Mereka segera melengos ke asal suara yang diduga adalah suara Raffael.


"Kenapa lagi dengan suamimu itu?." Amira dan Rina yang juga mendengarnya segera berlari ketempat dimana pria pembuat kegaduhan ini berada.


Tak butuh waktu lama, Affandi kembali memasang mimik wajah seorang profesional di seberang sambungan telepon. Raffael dengan wajah cemasnya menanyakan alasan dibalik semua itu yang lebih terlihat seperti memaksa.


"Cepat katakan kenapa mereka memutuskan kontrak nya!." Dengan tegas mengatakannnya tak lupa wajah dingin nan galaknya yang ia tunjukkan, membuat Rina ciut nyali untuk bertanya. Namun, bukan Amira namanya jika takut akan hal itu. Dia menarik paksa tangan sahabatnya itu.


"Mir! Dia menakutkan!." Lirihnya Rina.

__ADS_1


"Ish! Memangnya kenapa? Apa dia akan mencabut nyawamu setelah ini?." Amira terus saja menarik tangan sahabatnya itu, hingga ia sampai ke depan Raffael yang sedang fokus mendengarkan Affandi.


"Tuan! Para karyawan mengatakan jika ada keterlambatan produksi yang disebabkan oleh nona Alenta! Dan dari hasil riset, nona Alenta tidak membuat rancangan baru selama satu pulan terakhir dan absen masuk kerja satu minggu berturut-turut!." Affandi menjelaskannya dengan tenang walaupun ia seperti merasakan rasanya diinterogasi polisi karena kesalahan fatalnya. Namun, karena ia sudah tahu bagaimana caranya mengontrol mimik wajahnya, suaranya tak nampak sama sekali keraguan ataupun kegugupan.


Raffael nampaknya tak terima dengan pernyataan itu. Kenapa malah menyalahkan Alenta? Pasti ini adalah kesalahan karyawannya saat bekerja. Hanya itu yang ia pikirkan. "Maksudmu Alenta bersalah, Begitu?." Dengan suara beratnya, Raffael meredam emosi dan tampak mencekal Amira yang berusaha untuk bertanya.


"Iya tuan!." Setelah berhasil mengontrol ketakutannya itu, dia berkata dengan tegas apa yang berada di dalam hasil risetnya selama sebulan ini.


Raffael menutup sambungan teleponnya dan hendak keluar dari rumah itu. Namun, Amira mencegatnya dengan berani tanpa peduli akan telinga Raffael yang sudah memerah itu. Ia berhenti dengan menahan amarahnya dan mencoba sabar menghadapi Amira.


"Ada masalah di kantor?." Tanya Amira dengan singkat.


"Iya!." Raffael hanya menjawabnya dengan ketus dan keluar dari gerbang menuju ke arah rumah Wirawan kembali. Amira yang melihatnya pun langsung berteriak pamit kepada sahabatnya. Sedangkan yang diteriaki hanya berdiam diri di ambang pintu.


"Hei memangnya apa yang akan terjadi jika kakakmu marah!?." Lirihnya yang saat ini duduk di antara keduanya dan menanyai sang adik ipar.


"Jika kakak marah, apalagi menyangkut kak Alenta, bisa-bisa dia memukul orang yang sudah membuatnya kesal!." Ucap Sania tak kalah lirihnya didengarkan oleh kedua wanita di sampingnya. Amira hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Bianca tampak menggigit jarinya dengan kondisi kakaknya saat ini.


"Pelan-pelan kak!." Ujar Bianca yang panik itu. Raffael tak memperdulikan apapun selain bagaimana caranya agar cepat menuju kantor itu. Lalu lalang yang ramai tak menghalanginya untuk menuju apa yang ia inginkan.


Kini dia berada di depan gedung perusahaan itu. Gedung yang sangat dirinya dan Ayahnya banggakan karena hasil jerih payah sendiri. Dia melangkahkan kakinya menuju ke dalam. Di belakangnya pula terdapat ketiga gadis itu yang berjalan beriringan.


Raffael dan ketiga wanita itupun sampai di ruangan Affandi bekerja saat ini. Lebih tepatnya Ruangan Presdir yang menjadi tahta Raffael. Dia membuka pintu dengan sangat keras sehingga membuat sasarannya terlonjak dari kursinya.

__ADS_1


Affandi segera membereskan bajunya yang sekiranya berantakan. Dia langsung menghadao ke Raffael tanpa menoleh, tanpa menunduk dan tanpan berpaling. Hanya berdiri saja yang ia lakukan. "Tuan!." Ucapnya dengan mantap.


"Cari siapa yang membuat kita rugi!." Tegasnya kepada Affandi. Raffael mendekatkan wajahnya ke wajah Affandi dengan tatapan tajam seperti hendak bertarung. Affandi hanya biasa saja menanggapinya. Tak ada kegentaran yang terlihat di matanya. Namun, bukan berarti hatinya tidak bergetar, hatinya saat ini bergetar ketakutan karena membuat Raffael semarah ini.


" Non Alenta, Tuan!." Ucapnya dengan hati bergetar namun tetap dengan wajahnya yang menunjukkan keprofesionalan.


Raffael memukul wajah tampan Affandi dengan telak. Affandi terjatuh dari tempatnya berdiri. Dia vangkit kembali menghadapi kebutaan atasannya ini. Kini di pipi Affandi terdapat bekas merah memar akibat ulahnya.


Affandi tetap saja pada pendiriannya kepada Raffael. Tak mau membengkokkan kebenarannya walaupun sang tuan tak kunjung sadar. Raffael telah dibutakan oleh Alenta. Cinta dan kasih sayang tak lagi penting dimatanya. Hanya ada perintah Alenta saja di dalamnya.


"Haduh! Bagaimana ini? Apa aku gentar saja ya?."


"Ahh tidak tidak! Tuan Raffael harus aadar bahwa gadis mata duitan itu hanya memanfaatkannya! Sudah kaya tapi kurang bersyukur!." Batinnya sambil menjelekkan Alenta. Tapi itulah faktanya.


"Tuan, Anda harus tegas kepada nona Alenta! Dia sudah tidak membuat rancangan produk selama satu bulan!." Serunya pada Raffael sembari membuka dan menunjukkan map hasil risetnya sebulan belakangan.


Raffael kembali mempertajam tatapannya. Dia menatap sinis kearah Affandi. "Lalu kenapa kalau dia melakukan itu? Bukankah kau seharusnya bisa mengatasi itu?." Tanyanya dengan hati yang masih diselimuti kebutaan.


Ketiga gadis yang melihatnya itu hanya menggelengkan kepalanya. Amira tahu akan kebutaan itu sama halnya dengan Affandi. Sania mendekat kepada kedua pria yang sedang berdebat itu. Nampaknya dia tetap membela kakak tercintanya.


"Affandi, Carilah solusi yang lain! Jangan hanya menyalahkan kak Alenta terus! Kak Alenta itu juga perlu istirahat!." Ujarnya dengan lantang.


Affandi semakin jengah dengan situasi ini. Kenapa mereka bisa sebodoh ini sampai terpengaruh oleh pesona Alenta? Mungkinkah itu yang Affandi pikirkan?.

__ADS_1


Baik Bianca maupun Amira tak ada yang ingin menghentikan aksi Sania itu. Entahlah, aku tidak mau ikut campur. Setidaknya itu inti dari pikiran mereka yang sedaritadi berdebat melakukan monolog dengan pikiran masing-masing.


__ADS_2