
Selepas kepergian Irfan dan Fara, Amira hanya lontang lantung saja di rumah. Tak ingin melakukan apa-apa. Mertuanya yang belum lama ia kenal sudah pergi meninggalkannya. Sekarang, tak ada lagi penyejuk hati untuknya di rumah besar itu. Tak ada lagi yang bisa membuatnya tersenyum disana. Ketiga kakak beradik itu tidak menyukainya. Satu-satunya yang menyayanginya hanya Ayah Mahendra nya.
Akhirnya ia memutuskan untuk berbaring di kamarnya. Menatap langit-langit dan memikirkan hal yang entah darimana asumsi itu datang.
"Gelas!."
"Bagaimana bisa benda itu bisa dinamakan gelas ya?."
"Kenapa tidak dikasih nama lolipop saja?."
"Terussss,,,, kok bisa orang jaman dulu bisa mengerti caranya berbicara?."
"Bahkan mereka bisa buat tulisan!."
"Kan dulu belum ada a, b, c, d!! Mereka kasih nama gelas darimana ya asal usulnya?".
Pikirannya dengan random menunjukkan klise masa lalunya. Amira teringat dengan anak laki-laki yang pernah ia temui dulu.
*****
"Hahahaha! Dasar manja! Tiap hari selalu minta dijemput Pakai mobil!." Ucap salah seorang yang membuli pria itu.
"Iya! Masak bekalnya harus diantarkan dulu setiap jam makan siang! Kamu laki-laki apa perempuan sih!." Ucap yang lainnya pula.
Pria berusia 12 tahun itu hanya bisa terbujur lemas di tanah, dan menyuarakan Isak tangisnya. Ia selalu diperlakukan seperti itu oleh mereka-mereka. Tapi, kali ini lebih parah. Pria kecil ini didorong sampai terdapat luka di lututnya.
Di dekat gedung perlombaan LCC tingkat Sekolah Dasar, Amira melihat Pria yang sedang dibuli itu terisak tangis. "Siapa tuh?." Tanyanya penuh rasa ingin tahu.
"Hiks hiks! Ayah!! Huuuu!." Tangisnya.
Mereka mendekati pria kecil itu, namun, karena Amira melihat kejadian itu sedari tadi, ia segera maju dan menghalangi pria-pria pembuli itu.
"Hei! Mau apa kalian!?." Teriak Amira kecil dengan lantang.
Mereka yang awalnya menatap buas pria itu dengan akal liciknya, sekarang menatap Amira dengan heran. "Siapa kamu??."
"Jangan mengganggu kami! Ini bukan urusan kamu!."
Amira melangkahkan kaki dengan aura dingin khasnya. Sepertinya, dari kecil memang sudah memiliki wajah dingin. "Aku,? Pikir saja sendiri!!."
"Cih, anak kecil jangan nakal ya!." Ledek mereka dengan bibir kanan yang dinaikkan ke atas.
Tiga pria pembuli itupun maju dan mencoba mengganggu Amira juga. Namun, Amira dengan sedikit bersusah payah dapat menyelesaikan urusan kecilnya itu. Karena, sedari kecil ia memang sudah diajarkan ayahnya bela diri sedikit, agar Amira bisa lebih siap menghadapi hal yang tak terduga.
"Cih, yang suka main keroyok dengan perempuan jangan sok hebat ya!." Ujar Amira melempar kesombongan.
Amira berbalik dan melihat pria itu yang terduduk di tanah. Menatapnya penuh kagum dan senang. Amira segera menghampirinya dan mengulurkan tangannya. "Kakak tidak apa-apa 'kan?." Tanyanya dengan wajah terukir senyuman manis.
Pria itu menganga melihat senyuman Amira yang manis. Bahkan, ia ingat, saat Amira bersikap dingin tadi, wajahnya tetaplah terkandung rasa manis yang tercampur dengan kedinginan bagai salju.
"I-iya! Tidak apa-apa! Hanya memar sedikit kok!." Ucap pria itu terbata. Amira semakin memancarkan senyumannya. Membuat Pria itu semakin terpana dengan kemanisan wajah Amira.
Amira mengerutkan keningnya, melihat lutut yang memar akibat benturan kaki pria itu dengan tanah. "Aduh! Kakimu harus diobatin, kak!."
"Aku antar ke UKS ya?." Tanya Amira dengan wajah khawatir, sementara pria itu semakin memandangi gerak gerik Amira yang menurutnya semakin menggemaskan.
"Iya!." Ucap pria itu tak sadar karena terlena.
Amira menarik tangan pria itu dan membawanya ke UKS. Mengambil kotak obat dan berjongkok di depan pria itu. Sementara pria itu sendiri duduk di ranjang UKS.
Pria itu semakin bahagia. 'Aku tidak pernah melihat gadis semanis kamu!.'
'Se pemberani kamu!.'
'Tubuh mungil bernyali besar!.'
Akhirnya Amira selesai mengobati memar pria itu. Dia masih dalam posisi yang sama. Mereka saling memandang satu sama lain.
"Ashh!." Desahnya. Pria itu dengan spontan memegangi lututnya.
"Ehh, kenapa kak? Perih ya?."
"Iya sedikit!." Balas Pria itu.
"Maaf ya kak! Ini sudah pelan-pelan kok!."
'Tampan!.' Amira mulai melihat Wajah pria itu lebih detail.
'eh, Amira! Kamu harus lebih menjaga mata kamu!!.' Batinnya menyadarkan diri.
Tak selang beberapa lama, Pria itu tiba-tiba saja mengelus-elus kepala Amira. Tersenyum, dan berkata, "Lily!!." Lirihnya.
Amira menepis tangan pria itu dan bangkit. "Namaku bukan Lily!." Ucapnya kesal.
Pria itu tersenyum, memandangi punggung Amira yang tak suka dengan panggilannya. " Tapi kamu imut dan mungil seperti Lily! Aku maunya panggil Lily!." Jelasnya.
"Heh! Terserah!." Acuhnya.
Pria itupun bangkit dari duduknya. Menghampiri Amira yang tengah berkacak pinggang, "Terimakasih sudah menolongku! Aku tidak pernah melihat gadis seperti kamu!."
Pria itu menunduk sesaat. "Suatu hari nanti aku akan mencari mu! Aku akan selalu mengingat wajahmu! Dan tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu!." Jelas pria itu.
"Dan aku akan melupakanmu!." Kata Amira tidak terlalu menggubris perkataan pria itu.
Amira pergi dengan langkah angkuhnya meninggalkan pria itu yang tersenyum senang melihat wajahnya yang jutek.
"My little Lilly!." Ucap lelaki itu.
****
Amira mengingatnya kembali.
Ingin sekali rasanya mencari pria tampan yang pernah ia tolong itu.
"Kakak itu, siapa ya namanya! Sampai sekarang masih ingat!."
Amira tersenyum.
Menatap samar langit-langit yang samar-samar seperti bergambar Pria kecil itu. Tiba-tiba, dia melebarkan matanya dan duduk di sisi ranjang.
"Bukannya beberapa tahun lalu aku lukis mukanya kakak itu di buku ya?."
Amira mulai bangkit dan mencari-cari buku yang sudah disimpannya beberapa tahun lalu. Akhirnya dia menemukannya di laci meja kecil yang ada di sisi ranjang.
Dia membuka buku tebal yang isinya sudah berisi coretan wajah pria kecil itu.
Banyak sekali gambar bahagia yang digambar Amira dengan pria itu.
Katanya saja akan melupakan pria itu.
Tapi nyatanya sampai dia besar masih ingat dia.
Bahkan sampai detail dia menggambarnya.
*****
Di rumah tempat Raffael berada sekarang, akhirnya Raffael terbangun. Dia terkejut mengetahui dirinya tak berada di bar itu lagi. Yang lebih membuatnya terkejut lagi, dia tidak berada di rumahnya.
"Rumah siapa nih?."
"Kenapa aku disini?."
__ADS_1
Raffael mulai melihat-lihat sekelilingnya sehabis keluar dari pintu kamar itu. "Ini kenapa rumahnya putih semua?."
"Tidak dari emas sih, tapi cantik sekali rumah ini!." Ucapnya terpana dengan keindahan rumah itu.
"Anda sudah bangun??." Tanya Fara yang tiba-tiba datang.
Raffael melihat perawakan Fara yang hampir sama dengan Amira. Kaos oblong dan celana hitam yang membuatnya terlihat lebih dingin tetapi tetap terlihat keren.
'Dia seperti Amira! Tapi sepertinya dia sejatinya gadis tomboy!.'
Raffael melihat Fara dari atas sampai bawah dengan mendetail. Membuat Fara risih sendiri dengan mata itu.
"Berhenti melihatku seperti itu!." Ucapnya dengan wajah risihnya.
"Maaf!." Mereka terdiam beberapa saat.
"Emm, apa aku boleh bertanya?." Kata Raffael.
"Apa?." Tanya Fara dengan dingin.
"Sebenarnya aku ada di mana? Kenapa aku tidak kenal tempat ini!." Tanya Raffael sembari melihat kembali isi rumah itu.
"Rumah istrimu!!." Jawab Fara dengan sembarang.
"Aku serius bertanya! Kenapa malah dijawab begitu?." Jawab Raffael sedikit membentak.
Fara tampak tak acuh dengan Raffael. " Kamu lapar tidak? Di dapur ada makanan!." Tanyanya.
"Iya! Aku lapar!." Jawab Raffael sekadarnya.
Fara menuntun jalan Raffael menuju ke dapur. Disana sudah ada pelayan yang menyiapkan makanan untuknya. Sesampainya di meja makan, Fara hanya bermain dengan ponselnya. Membiarkan para pelayan melayani Raffael yang dipenuhi kebingungan.
"Hei!! Ini rumah siapa sih??." Bentaknya pada Fara.
Fara hanya meliriknya sekilas. "Cari tahu saja sendiri!." Jawab Fara dengan malas.
Mau tak mau Raffael menyantap makanannya dengan hati kesal.
Sementara Fara menyalakan televisi yang ada di dekat ruang makan.
"Berita hari ini! Sebuah bar elit di kota XX hancur dalam seketika akibat ledakan bom yang terjadi!."
Kata pembawa acara dalam tayangan itu.
"Korban tewas terdapat 101 orang, luka parah terdapat 15 orang, sementara luka ringan 59 orang.
Diduga peledakan bom dilakukan dengan sengaja oleh satu pihak.
Pihak berwenang akan segera menyelidiki kasus tersebut!."
Fara lantas mematikan tayangan televisi tersebut.
Raffael yang sadar akan sesuatu mengeriyitkan keningnya.
"Bukannya itu bar yang aku datangi semalam? Kenapa bisa di bom??." Tanya heran Raffael.
Sekali lagi, Fara malas untuk menjawabnya. Memutar bola matanya dan beranjak dari duduk.
"Ayo! Aku antarkan pulang!." Ajaknya pada Raffael.
Raffael hanya melongo saja. Tak mengerti kenapa gadis ini sangat dingin padanya.
"Hei! Kamu belum menjawab pertanyaan 'ku!." Latah marahnya pada Fara.
"Mana aku tahu?." Jawab Fara sekenanya.
Raffael sudah menyerah dengan wanita yang berada di hadapannya.
Sedari tadi, Raffael hanya mengikuti kemana Fara menyuruhnya pergi, karena tak tahu lokasi yang saat ini ia pijaki.
Namun, tanpa diduga.
Fara membawanya ke rumah mertuanya. Wajah Raffael sedikit pias jika dilihat Fara dari samping kiri.
Tentu saja, di teras rumah, itu berada, ada Wirawan dan Maya juga Amira yang sepertinya menatap tajam kearah mobilnya. Amira hanya leyeh-leyeh saja sambil meminum teh kesukaannya.
Mobil pun berhenti di pekarangan rumah.
Langkah Raffael serasa gontai merutuki perbuatannya kemarin.
Untuk apa kamu tidak menjemput Amira dan malahan pergi ke bar?.
Raffael mendekat dan menyalami tangan kedua mertuanya itu.
"Kesini juga kamu akhirnya!!." Ucap Wirawan sedikit membentak.
Raffael menunduk. "Maaf ayah! Aku tidak bisa berfikir jernih kemarin!."
'waduh! Tanda-tanda kematian ini?'
"Seharusnya kamu berfikir sebelum bertindak!!." Bentak marah Wirawan.
Mata wirawan yang melotot tajam kearahnya membuatnya menunduk dan tak berani menatapnya sama sekali.
"Maaf ayah!." Ucapnya dengan lesu.
'Apa aku akan menyusul ayah hari ini??.' Raffael hanya bisa bergidik ngeri.
Membayangkan mertuanya mengamuk kepadanya saja tak bisa. Apalagi melihatnya juga merasakan amukannya.
"Sekarang kau ayah hukum karena sudah minum di bar! Untung saja ada anak buah ayah yang menjemputmu!!."
Ha? Ayah bilang apa tadi? Tidak ada kata-kata mengusir Amira kan?
Okey! Aku sedikit aman!
"E-e, maaf ayah! Jangan hukum Raffa dong Yah! Masa mantu ayah yang ganteng ini mau dihukum sih?." Pinta Raffael.
"Masuk!!." Semuanya mengikuti Ayah kedalam. Termasuk Fara.
"Ada kabar buruk dari anak buahnya Ayah," kata Ayah berbalutkan rasa sedih.
"Kenapa yah?." Tanya sang putri dengan tenang.
"Saham dan seluruh aset kamu diambil oleh Hendri, secara ilegal."
"Ap-apa?? Tidak mungkin Yah!!." Kata Raffael yang syok dengan berita itu.
"Kamu bisa sedikit tenang, karena yang diberitakan hanya tentang perusahaan saja!."
"Dan tentang pengeboman itu, juga Hendri pelakunya!." Kata ayah lagi.
"Ta-tapi kenapa yah?." Tanyanya masih tak mengerti.
"Karena tidak semua berkas dan aset ada di gedung itu! Dan dia mutusin buat bunuh kamu. Karena dia udah tahu kamu itu suaminya Amira!."
"Lah, kenapa dibawa-bawa segala nama aku?."
"Ya karena memang itu alasan dia! Mau gimana lagi?."
Ponsel Raffael berbunyi. Jika dilihat, itu adalah telepon dari Alenta. Raffael pun meminta izin untuk pergi ke luar.
__ADS_1
"Halo!."
"Halo, sayang! Apa kamu baik-baik saja? Aku dengar..."
"Aku baik! Cuma sedikit syok sih!."
"Maaf ya, karena beberapa waktu lalu aku tinggalkan kamu!."
"Tidak masalah!."
"Tapi sekarang bagaimana? Rumahmu juga udah diambil alih kan?."
"Tunggu. Kenapa kamu bisa tahu?." Tanya Raffael yang curiga karena tidak mungkin berita sampai secepat itu ke tangan ayahnya. Sementara Irfan sudah menutup rapat berita itu.
"Ap-apa? Ke-kenapa? Ehehe, bukan sayang! Aku hanya menebak saja!." Kata Alenta.
"Iya! Katanya ayah rumah dan sahamnya juga diambil!." Ujarnya sedih.
"Semangat sayang! Kamu pasti bisa berjuang lagi kok!." Kata Alenta.
"Iya, tapi masalahnya aku nggak punya modal kan? Terus aku harus gimana sayang!."
Ayah keluar dan mengecek keberadaan Raffael dikarenakan dirinya sangat lama. Namun, yang didengarnya malahan hal seperti itu. Dari belakang, menatap Raffael dengan intens. Semua anggota keluarga pun menghampiri ayah.
'Jadi begini kelakuan kamu Raff?'
"Yaudah ya sayang, besok aku kabarin lagi!." Raffael pun mematikan teleponnya. Saat hendak berbalik, dirinya terkejut. Ayah sudah berada di ambang pintu. Mendengarkan semuanya.
"Jadi begini?." Kata Ayah dengan tegas.
"Maafin Raffael yah! Dari awal Raffael sudah bilang tidak suka dengan Amira! Tapi kalian terus maksa menikah! Jadi, aku tidak memutuskan hubungan sama Alenta," Ujarnya jujur.
"Tapi kenapa?." Tanya marah Ayah.
"Karena aku masih sayang sama Alenta, Yah!." Kata Raffael merasa sangat bersalah.
"AMIRA!!!!." Ayah marah padanya. Sekarang, Amira pun bertekuk lutut pada ayahnya.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak bilang sama Ayah??." Tanya Ayah dengan rasa berkecambuk dihatinya.
"Maaf Ayah! Amira pikir tidak perlu beritahu pada ayah!"
Ayah menutup matanya. Sepertinya ini adalah perasaan yang sangat mendalam. Begitupun ibu.
"Baiklah! Begini saja! Kamu pilih anak saya atau wanita tidak tahu diri itu!!." Raffael semakin tertunduk.
Jujur ia tak tahu. Raffael mulai menyukai Amira walaupun tak mau mengakuinya. Namun, dia masih tak mau melepaskan Alenta karena dia pikir Alenta adalah kenangan terindahnya. Lima tahun ia lalui bersama Alenta.
"Aku, aku tidak,,,, bisa Ayah!." Kata Raffael.
Amira pun tak berkutik. Dirinya sudah sampai sejauh ini. Memutuskan hubungan dengan Mito, menjadi istri yang hanya seperti simpanan saja, dan akhirnya menerima sedikit cinta dari Raffael.
'aku rasa kamu terlalu menikmati momen kecil itu, Amira. Itu salahmu! Seharusnya kamu bisa kendalikan diri!'
Ayah mengerang, mengeratkan gigi. Apa yang dipikirkan pria ini? Dia ingin semuanya! Tidak bisa begitu, tidak semua harus menjadi miliknya.
"Kalo kamu nggak bisa, besok kamu akan saya kembalikan ke keluarga kamu! Dan kamu bisa merenungkan kembali keputusan kamu disana!." Kata ibu memutuskan.
'Raffael, ibu pengen kamu yang jadi mantu ibu satu-satunya, Cuma itu!.'
"Eoh? Ibu! Tidak bisa begitu dong!." Protes Ayah.
"Terus gimana lagi? Belum tentu juga kan Alenta benar-benar yang dicintai sama Raffael? Jadi kenapa enggak?." Kata Ibu tetap pada pendiriannya.
"Yaudah! Karena permintaan kamu aku turutin!."
"Raffael! Kamu, ini malam terakhir kamu ketemu anak saya!."
Akhirnya ayah kembali masuk ke rumah. Sedang Amira telah melepaskan kaki Ayahnya dan berdiri. Namun, tanpa diduga, Ayah berbalik dan memukul pipi Raffael sampai dahinya terbentur tembok.
"Ah, Ayah!!! El, El!!!." Amira meneteskan keringatnya dan tampak sangat khawatir.
*****
Amira membawanya ke kamar. Dengan telaten dia mengobati luka itu. Raffael terus menatap intens wajahnya. Namun, Amira tak berkesan sedikitpun. Tetap dingin kepada Raffael.
"Kamu kenapa?." Raffael tersenyum. Mencoba mendekat kepada Amira lagi. Namun, Amira diam tak merespon sama sekali.
"Mira! Kenapa? Kamu tidak ingin melihatku?." Tanya Raffael namun masih tak diberi jawaban.
Raffael mencoba melunakkan hatinya. Dia hendak menyentuh pipinya. Namun, lagi-lagi, "Aku mau mandi! Permisi!."
Raffael sudah menyerah. Perjalanan satu jam dari rumah itu membuatnya lelah. Saat membaringkan dirinya, dia tak sengaja melihat sebuah buku di atas nakal Amira. "Buku?."
Dia memegangnya. Raffael perlahan membukanya. "Hah? Ini kan wajahku waktu kecil? Dan gadis ini?.... Lily?." Raffael mulai tersenyum.
'Aku menemukanmu, Lily!.'
"El!." Panggil Amira yang ternyata ada dibalik pintu.
"Iya, kenapa?." Suara Raffael terdengar sangat bahagia.
"Maaf, aku lupa tidak bawa handuk! Bisa kau ambilkan?." Tanya Amira dengan rona merah di wajah.
Raffael tersenyum jahil. "Tidak mau! Ambil saja sendiri!." Ucapnya memulai rancangan.
"Bagaimana bisa?." Rengek Amira padanya.
"Ya tinggal berjalan saja kan?." Kata Raffael tersenyum bodoh dengan entengnya.
"Tidak bisa! Aku tidak pakai baju!." Ucap Amira semakin merona.
"Hahahaha! Baiklah, aku ambilkan! Dimana?." Kata Raffael sudah puas dengan rencananya menggoda Amira.
"Ada yang baru di plastik! Lemari paling bawah!."
Raffael pun mengambilkannya. Saat hendak memberikannya, "Eits! Enak saja! Ada syaratnya!."
"Apalagi sih?." Kata Amira sudah tak sabar. Raffael menunjuk pipinya. Artinya dia minta dicium. Seperti bayi yang manja pada ibunya saja.
"Tidak usah! Sini!." Amira mengulurkan tangannya.
Akhirnya Raffael memberikannya. Dia tak ingin membuat masalah karena ia tahu, kemarahan Ayah adalah kemarahan Amira juga. Namun, sebelum Amira masuk ke dalam, Raffael mencium pipinya sekilas. Amira tentu saja tak bereaksi. Dia langsung masuk dan kembali dengan ritualnya.
'Jadi, kamu memilih Lily, atau kenangan selama lima tahun, Raffael?' Raffael termangu. Apa keputusannya. Walaupun ia tahu Lily adalah hal yang dinantinya, tapi cinta buta nya kepada Alenta mengubah segalanya.
Amira sudah keluar. Sekarang, dengan baju tidurnya berwarna pink yang manis dipakainya. "Cantik banget!." Kata Raffael yang takjub melihatnya.
"Buku aku? Kok ada di kamu?."
"Aku mau simpan buku ini! Boleh kan?."
Amira langsung saja mengambil buku itu. "Tidak boleh!." Sambaran dari Amira.
"Kenapa? Memangnya siapa yang kamu gambar?." Pancing Raffael.
"Dia orang yang lebih aku cintai dari kamu! Bahkan Mito!." Ucapnya dengan marah.
'Wahh, dapet bonus nih? Dicintai sebagai Raffael kecil sama Raffael besar! Awwww Doble kill!!!.' Kata Raffael dalam hatinya.
Raffael sedang bersorak gembira dengan kabar itu. Bukankah rasanya sangat Waw ketika orang yang kau sukai mengakuinya tanpa sadar?
__ADS_1