
Dorrr! Dorr!! Dorr!
Bunyi sebuah pistol ditembakkan beberapa kali oleh seseorang. Segerombolan pria berjubah hitam yang dipimpin oleh seorang mafianya.
"Tuan! dia sudah meninggal!" Mafia itupun menyeringai licik. Wajah bengisnya menampar seluruh imajinasi seseorang yang ditembaknya tadi.
"Heuh, Pak tua Wirawan, ini akibatnya macam-macam sama tuan Hendri!" Dua mayat yang terbujur kaku di sebuah tempat yang tak diketahui letaknya.
"Bawa mereka ke hadapan Amira dan Raffael! Biarin mereka ngerasain sakitnya!" Orang itu menatap mayat yang kaku dengan bengis.
Wirawan dan Maya telah ia habisi di markas mereka. Dan ponsel genggam keduanya disita dan dibawa pergi olehnya.
Malam hari yang dingin sekali, Amira memakai baju yang tak biasa di pakainya. Baju seksi dengan dada yang sedikit terbuka kerahnya. Ia menyeringai melihat Raffael yang sedang lembur di rumah.
Perlahan, namun pasti. Amira mendekati dan menggodanya. Raffael yang merasa aneh pun menariknya ke pangkuan. Dia mendesah.
"Kenapa nih? kok godain terus? hmmm? kenapa sayang?" tutur lembutnya pada Amira.
Amira tersenyum malu. Pipi dan belaian telinganya memerah ditengah kepalanya yang tertunduk malu. Raffael semakin penasaran. Dia mencium hidung sang istri seperti bayi kecil. Amira tersenyum geli dengan sikap yang diambil Raffael.
"Kenapa? Jawab sayang!!!" Rengek sang suami. Amira semakin menyerang Raffael dengan senyumnya itu. tak mau berkata apa-apa.
sampai akhirnya, Amira menarik tangan Raffael dan meletakkannya di perutnya. Raffael menganga. Apa maksudmu?. Apakah?.
"Ka-kamu, h-hamil?" Tanyanya dengan wajah ragu. Amira tersenyum manis, mengangguk lalu memeluk erat tubuh besar itu.
Tangis bahagia terluncurkan dari netra cokelat Raffael.
Raffa segera meraih telepon genggam berlogo apel digigit miliknya. Menelepon beberapa orang sekaligus dan mengabarkan berita gembira ini.
"Aduh, kak! kenapa sih?" tanya Sania yang sedang sibuk dengan Affandi.
"Iya nih, ganggu aja!" Kata Bian yang juga sedang bersipu manja dengan istrinya.
"Ada kabar apa? Kok telfon?"
Siang harinya, Raffael mengadakan makan bersama dengan menu-menu mahal restoran Mito. Amira pun ada disana. Termasuk Bella juga. Bella tampak tak selera dengan apa yang baru saja diberitakan kepada seluruh karyawan. Amira hamil?
Bella mencengkram kuat gagang sendok dan pisau yang dipegangnya. Lalu, menuju toilet umum. Menelpon seseorang yang sangat dekat dengannya.
Selang beberapa menit, telepon itupun diangkat. dengan suara lembutnya bertanya, "Iya sayang, kenapa?"
"Ayah! Amira hamil!! Ayah harus bunuh dia, gimanapun caranya!!" Tutt. Bella langsung saja mematikan teleponnya dengan geram. sementara Ayahnya, menghela nafas panjang dan mulai memerintahkan beberapa anak buahnya untuk melakukan itu.
Ditengah kebahagiaan Raffael, ia ditelpon oleh Ayah mertuanya yang lupa ia beritahu. Iapun memuji otak Wirawan yang cakap. "Emang sejauh itu bisa kerasa ya?" Herannya melihat telepon yang terus berdering itu.
Raffael mengangkatnya. "Halo Ayah?" Ujarnya terdengar sangat senang.
__ADS_1
"Kedua mertua Lo udah gue habisin! datang ke pinggir sungai dan ambil sendiri Mayatnya" Kata orang itu tanpa nada.
"Ap-apa? Lo siapa?" Raffael terbangun dari duduknya, dan menjatuhkan air matanya.
"Dasar br*ng**k!!!" Makinya pada orang itu. Raffael menangis dan menarik Amira ke pelukannya.
"El? kenapa sayang??" tanyanya yang melihat Raffael terasa aneh.
"Ayah sama Ibu dibunuh anak buahnya Hendri!!" Raffael menangis tersedu-sedu. Amira yang mendengarnya pun pingsan di tempat, sehingga Raffael membawanya ke ruangan.
"Sayang, jangan sedih!" Kata Ayah pada Amira.
"Bentar lagi kita akan ketemu!" Sambung Ibu yang tersenyum lembut sama seperti Ayah.
"Ta-tapi kenapa? Kenapa kalian ninggalin Aku? hiks." Amira terus saja menangis mencoba memeluk raga kedua orang tuanya. namun, udah itu sia-sia. Perlahan, sosok itu menghilang entah kemana.
"A-ayah? ibu???" Teriaknya melihat kepergian mereka.
Amira pun terbangun. Tercium bau aromaterapi juga minyak kayu putih di hidungnya yang sangat pekat.
"Kak?" Ternyata Sania dan yang lainnya.
Amira terlihat masih pusing saat mencoba bangun dari tidurnya. Sania, Bianca, Fara, dan sahabatnya Rina pun mendekat. Menatap penuh duka untuk Amira.
"San? Kemana kakak kamu?" Tanya Amira yang menghawatirkan Raffael.
Amira tampak frustasi dengan kejadian itu. Walaupun ia sangat menurut pada Raffael yang memintanya untuk makan bergizi, namun Amira sering pingsan karena tak bisa menerima kenyataan ini.
"Sayang, jangan begini! Ayah sama Ibu juga pengen lihat cucunya sehat! Okey?" bujuk sang suami setelah sebulan ini Raffael mencoba menaikkan moodnya.
"Ayah pernah bilang, jangan pernah nangis kalo nggak ada dia! Aku udah janji nggak akan nangis! tapi ternyata..." Amira tak mampu meneruskan ucapannya. matanya hitam dan wajahnya pucat. walaupun begitu, dia sendiri juga berusaha menerima takdir itu.
"Sayang, Ayah sama Ibu lagi seneng sekarang, dia udah kembali ke Tuhan! hal yang paling dirindukan manusia di dunia ini! Kamu nggak seneng?" Jelasnya mencoba mengingatkan Amira dengan Tuhan yang menjadi tujuan.
Amira tersenyum mengeluarkan air mata. "Iya, mereka bahagia sekarang. jadi aku juga harus berusaha bahagia!"
Sembilan Bulan kemudian....
Tinnn! Tinn! Tinnn!
Sruuttt!
Brakkkk!!!
Kecelakaan terjadi akibat truk tangki BBM mengalami rem blong. Kejadian tragis itu disaksikan oleh banyak orang yang sedang melintas di jalan raya. Korban banyak dan berangsur karena kejadian berada dekat lampu merah. Beberapa mayat, bahkan potongan tubuh korban kecelakaan itu berserakan di jalan.
Raffael dan Amira juga menjadi korba dari kecelakaan itu. Namun, karena mereka di dalam mobil, dan tidak bertabrakan langsung dengan truk itu, mobilnya terseret ke pinggir jalan dan mengalami kerusakan yang agak parah. Tubuh Amira terpental dan membentur bagian kaca depan mobil karena sedang melepaskan sabuk pengaman. Amira mengalami sesak napas dan pendarahan di bagian perut selama perjalanan ke rumah sakit. Ditambah lagi, sebentar lagi anak kembar yang tumbuh di rahimnya berumur sepuluh bulan. Sudah saatnya Dilahirkan.
__ADS_1
Raffael yang sudah sadarkan diri berlari ke ruangan yang ditempati Amira. Menangis tak henti-hentinya menelungkup kan tangannya dengan tangan Amira.
"Sayang! Hiks jangan tinggalin aku!!! Hiks!!"
Namun takdir berkata lain, bayi yang berhasil di selamatkan menjadi saksi perjuangan Amira sebelum sepeninggalnya ke alam ruh. Tangisan bayi menyertai kepiluan yang dirasakan Raffael.
"Sayangnya Papa, lihat deh, Mama nggak mau bangun! hiks. Bangunin yukk!!" Raffael menggendong bayi kembar tak identik itu dan mencoba membangunkan Amira.
"Sayang, lihat deh! anak kita udah lahir!" Raffael bercucuran air mata. Tak kuasa memegangi kedua anaknya yang sama-sama sepertinya. Raffael bahagia atas kelahiran dua buah hati ini. Namun, juga berduka atas apa yang dikatakan dokter. Istrinya telah meninggal dunia.
"Abang gantengnya mirip banget sama aku, dan dedek cantiknya persis kamu!" Raffael menangis tersedu-sedu tak kuasa menopang berat badannya.
"Kak! Jangan gini kak!!" Bianca menangis melihat keadaan kakaknya yang menyedihkan. pada Akhirnya, Sania dan Rina mengambil kedua bayi itu dari tangan Raffael.
Sepertinya, mereka juga tengah hamil, namun Amira lah yang sudah menumbuhkan belum lebih dulu. Dalam kurang dari enam bulan, Bayi kembar itu sudah memiliki kawan bermainnya.
Mereka semua tak ada yang berani menenangkan Raffael. Bahkan, semuanya juga sama seperti Raffael. Mereka kehilangan sosok Amira yang selalu ada untuk setiap orang yang disayanginya.
"Fandi? Gimana? Lo mau bilang sekarang?" Bisik Irfan pada Affandi yang hendak mengatakan sesuatu.
"Iya! kalo nanti-nanti kak Raffael bisa marah! Daripada gue kena amuk kan?" Kata Affandi hendak mengatakannya.
"Kak!" Panggilnya pada Raffael.
"Dalang dibalik kecelakaan, dan kematian Orang tua Amira udah ditangkap!" Raffael dengan cepat memotong perkataan Affandi.
"Siapa dalang kecelakaannya, Affan?" Tanyanya dengan Isak tangis yang masih terdengar.
"Bella dan Ayahnya!" Kata Fara saat Affandi tak kunjung mengatakannya.
Raffael tampak marah dengan berita itu. wajahnya memerah juga telinganya. genggaman tangannya begitu kuat sampai tampak seluruh urat di wajah dan tangannya.
"Bella!!!" Gumamnya dengan suara bariton itu.
"kak, jangan! Amira lebih penting dari Bella! iyakan?" Kata Affandi menghentikan Raffael yang ingin keluar mengejar Bella.
Raffael kembali menangis. Bagaimanapun juga, ia merasa ini juga salahnya. Tak bisa menjaga Istrinya dengan baik. Bahkan, saat awal bulan kandungan, ia tak bisa mengendalikan istrinya ini yang terpuruk dalam kematian orang tuanya. Raffael mulai memukuli dirinya sendiri. menamparnya, bahkan hendak mengambil pisau buah yang ada di atas nakas.
"Raffael! Jangan!!" Kata Mito dan Bian sebagai sahabatnya serentak.
Bian marah pada Raffael. Ini hal konyol. Dia ingin meninggalkan dua bayi kecil ini sendirian?. Bian lantas menamparnya. Untuk kedua kalinya, Raffael benar-benar menunjukkan keseriusannya.
"Lo lihat anak Lo baik-baik! Lo mau dia jadi yatim piatu sejak lahir??" Bentaknya pada Raffael.
Raffael melengos dan melihat kedua anaknya yang ada di gendongan Sania dan Rina denganwajah menyedihkan.
Raffael menangis memeluk Bian dan juga Mito yang tepat berada di depannya. Hatinya hancur melihat istrinya terkapar, bukan. Tapi terbujur kaku di ranjang rumah sakit itu. Dia menangis tanpa henti setelahnya.
__ADS_1