Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Villa


__ADS_3

Keputusan sudah final. Tak ada yang bisa menghalanginya lagi. Sehari setelah mereka tempati rumah itu, Amira langsung menjualnya.


Mereka semua sudah membujuk Amira untuk tak melakukannya. Namun Amira tetap bersikeras. Dia bahkan menjual tanahnya sekalian.


Niatnya, Amira ingin membangun rumah di dekat rumah ayahnya. Namun, Ayahnya menolak karena lingkungan itu. Akhirnya, Amira mencari tempat yang strategis. Tak jauh dari kantor juga kampus kedua adik iparnya, namun juga tidak berada di perkotaan. Ia sudah lelah hidup di kota.


Hari ini adalah hari dimana Amira menjanjikan liburannya. Ia memilih villa dekat hutan yang berada di desa ujung.


"Kak! Seriusan desanya Deket sama hutan? Nanti kalo ada apa-apa gimana?" Tanya Sania khawatir.


"Nggak usah khawatir, kalo kamu nggak masuk hutan ya enggak terjadi apa-apa lah!" Kata Raffael tak mengapa.


Setelah sampai, rupanya Villa yang dimiliki Ayah itu sangatlah bagus. Tanaman yang menghasilkan daun teh tumbuh subur di sana. Dan hutannya pun agak jauh dari desa. Jadi, aman lah kiranya.


"Wahhh!" Semua orang tertegun dengan villa cantik itu.


Irfan yang memiliki kuncinya melangkah dan membukanya. "Silahkan masuk!"


Totalnya ada empat kamar disana. Dua kamar di lantai dasar, dan duanya lagi di lantai bawah.


"Loh, kak! Kok kamarnya cuma dua?" Tanya Bianca sedikit khawatir.


Amira tersenyum. Kejutan yang belum pernah dilihat siapapun kini dibukanya. Pintu yang berada di dekat ruang keluarga dibuka. Tangga menuju lantai bawah pun terlihat.


"Ayo!" Mereka semua mengikuti Amira. Termasuk kedua anak buah Ayahnya yang sebenarnya belum pernah mengetahuinya.


"Wahhhh! Kayak ruang rahasia!" Semua orang berpendapat sama dengan Bian. Kini, mereka membuka kedua kamar itu.


Kamar bernuansa roman wish, dan roman elegan. Sepertinya kamar itu untuk pasangan suami istri.


"Ini buat pasangan?" Affandi angkat bicara.


"Iya! Nanti Gue sama El kamar ini!"


Amira memilih kamar dengan nuansa Roman elegan. Sesuatu seperti itu sangat disukai Raffael. Elegan dan mewah. Dan, kamar yang paling besar.


Dan berarti, Mito dan Rina bertempat di kamar dengan nuansa Roman wish. Bau wangi parfum yang seperti memberi kesan harapan, juga warna ungu yang dipercaya memiliki spiritualitas tinggi dipadukan warna biru.


"Lah, terus yang satunya siapa kak? Yang pasangan kan cuma kalian!" Kini Mito dan Rina menunduk malu.


"Se-sebenarnya Gue sama Rina udah nikah!" Boom! Jeduarrr! Bom dan petir untuk semuanya.


Namun, mereka harus bahagia walaupun berita mengejutkan itu memberi kesan tidak menyenangkan.


"Oh, ya-yaudah! Ke kamar kalian masing-masing ya? Ehehehe!" Amira akhirnya memisahkan mereka.


Raffael yang marah karena tak diundang, dan situasi canggung yang lainnya.


Mereka masuk ke kamar. "Sayang! Mereka bakalan baik-baik aja nggak ya?" Raffael memeluk Amira dari belakang.


Sesuatu yang membuat Amira kesal, kini mulai membiasakan diri untuk Raffael.


"Nggapapa! Nggak akan berantem kok!" Hanya mereka yang tahu apa maksudnya ini.


Setelah cukup lama berdiam diri di kamar, dua pasang suami istri itu naik untuk melihat situasinya. Hanya satu kata. Kacau.


"Eh, nggak bisa! Gue mau tempat tidur yang luas! Jadi cowok-cowoknya kesana aja!"


"Tapi nanti nggak muat! Kita kan tinggi besar! Nggak kayak kalian cewek-cewek,"


"Nggak usah banyak alesan! Cewek itu selalu benar! Sana ke kamar sebelah!"


"Tapi kita kan juga pengen rehat! Ngotot banget jadi cewek!"


"Lo pikir cuman Lo yang capek?"


Adu mulut tak kunjung usai. Nampaknya, Amira harus melakukan sesuatu.


"Diem!!" Perintahnya.


"Kakak ih!" Mereka mengeluh.


"Kalian mah enak! Udah berpasangan! Tidurnya bareng, dan luas tempatnya!"


"Lah kita, nih, kasurnya yang satunya lebih besar! Kita semua tiga orang!"


Amira tampaknya sudah frustasi sendiri. Ia membuat keputusan terakhir.


"Yang cewek di bawah, yang cowok diatas! Udah titik! Yang bertiga nempatin kasur yang lebih besar!" Kata Amira membuat mereka semua berhenti.


"Ta-tapi sayang!!" Raffael tak terima.


Setelah dua hari ini baru bertemu, dan sekarang harus berpisah ranjang lagi? Dia tak bisa melakukannya.


"Enggak! Udah final!" Lagaknya seperti seorang hakim.


"Udah! Pindahin lagi barang-barangnya!" Kata Rina melihat situasi yang mengecewakan untuk para suami itu.


Sekarang sudah adil. Rina dan Amira berada di kamar dengan nuansa Roman wish. Sementara ketiga gadis itu di sebelahnya.


Untuk para pria itu, siapa peduli! Yang penting urusannya sudah selesai.


"Haduh! Gini nih, kalo cewek sama cowok nggak dipisah kalo milih kamar!" Rina tersenyum mendengar itu.


Jika dipikirkan lagi, Amira ini orangnya berusaha berbuat adil. Kalaupun tidak, dia bisa menghandle masalah dengan baik. Tapi lucunya, tidak ada hari tanpa bersinggungan dengan Ayahnya.


"Kalo kayak gini kan yang atas nggak berisik lagi!" Rina ternyata juga resah sendiri.


Aromaterapi yang dipasang di kamar bawah membuat suasananya tenang namun tak mencekam. Akhirnya mereka beristirahat dengan tenang.


Namun, tok tok tok!


"Sayang! Buka!!" Kebisingan satu.


"Rin, Sayang! Ini aku! Buka dong!"


'Duh, jangan gila! Mau tidur siang malah diganggu!' Batin Amira sudah lelah.


Rina membukanya. "Kenapa sih?" Kedua gadis itu sama saja.


Kedua pria berotot itu malah cengengesan melihat istri masing-masing.


"Kangen sayang!" Mito mendekati istrinya.


Seperti setahun tak bertemu, mereka memeluk erat pasangannya masing-masing. Sementara kedua wanita itu sudah lelah sendiri menghadapi hari.


"Udah, kalian keluar sana. kita mau tidur siang!"


"Wah, pas banget dong! Kita juga!" Kata Raffael.


"Nggak bareng aja nih?" Tanya Mito seperti sudah ingin menyantap mangsanya.


"Enggak! Kalian keluar sekarang!" Amira dan Rina mendorong kedua pria itu dan mengunci pintunya rapat-rapat.


Huh, akhirnya damai kembali. Kenapa mereka sangat berisik? Membuat lelah saja.


*****


Akhirnya mereka semua sudah bangun. Walaupun bukan tidur yang panjang, namun mereka cukup segar untuk kembali melakukan aktivitas.


Irfan mengajak pria sekamarnya, yaitu Affandi dan Bian keluar mencari udara segar. Dan ketiga gadi itu juga. Mereka berjalan bersama. Sementara dua pasangan kita, tengah asyik bermain di rumah. Permainan Jenga.


Setelah beberapa menit, Amira lah yang menjatuhkannya.


Karena permainan ini mereka buat sendiri, jadi hukumannya juga ditentukan oleh mereka.

__ADS_1


"Okey, karena kamu yang kalah, kita berdua yang akan kasih hukuman!" Rina dan Mito sangat serius memikirkannya. Bahkan hampir sepuluh menit.


"Kamu, lakuin sesuatu yang bisa buat pasangan kamu salting!" Wah, hukumannya sangat ringan.


Tapi, tentu saja ini tidaklah ringan untuk Raffael. 'Ah, kena lagi!'


Amira menyeringai. "Sayang!" Dengan suara menggoda dia memanggilnya.


Dan, tepat sekali. Raffael tak bisa bersikap biasa saja. "I-i-i iya!" Suaranya tampak takut dan gemetar.


"Ahahahahhaha!!" Mira tertawa sangat keras saat melihat wajah Raffael yang malu.


"Kamu ini ya!!!" Raffael geram dan membopong Amira ke kamar lantai bawah. Yah, dan mereka berdua memutuskan untuk mencari keberadaan yang lain.


"Kak! Jangan dulu!!" Amira merengek dalam kamar yang ditempatinya itu.


Namun, sepertinya Raffael tidak mendengarkan. "nggak mau!" Katanya acuh tak acuh.


"Ihh, kakak jahat!" Kata Amira sambil sok sedih.


"Biarin! Siapa suruh godain kakak terus?" Katanya sambil mendekat.


*****


"Sayang, mereka kemana ya?"


"Nggak tahu tuh! Daritadi nggak ketemu! Ini kan udah mulai sore," kata Rina dengan cemas.


"Lagian si Raffael ngapain sih, pakek aktif segala! Kan jadinya kita bingung carinya!" Mito sedikit geram dengan Raffael yang melakukannya sore-sore begini.


"Aktif? Aktif apaan?" Rina sepertinya tak mengerti. Wajah polos manisnya itu berhasil mencuri perhatian Mito.


"Ya- pokoknya gitu lah!" Katanya salah tingkah.


"Eh, mas ganteng sama mbak cantik! Yang tinggal di villa itu ya?" Ibu itu sepertinya tahu.


"Iya! Kok ibuk tau?" Tanyanya dengan ramah.


"Oh, kan disini jarang ada orang baru! Kemarin, saya lihat mbak Mira sama kalian!" Jawabnya Ramah.


"Oh, kalo gitu, ibuk tau temen-temen saya pada kemana?" Tanya Rina.


"Oh, tadi kayaknya ke arah pasar mbak!"


"Gitu ya buk, makasih ya! Kita langsung ke pasar aja!" Kata Mito terburu-buru.


Mereka pergi ke pasar yang ditunjukkan ibu warga desa itu. Mereka melihat preman pasar yang sedang melawan mereka.


Para lelaki bertarung melawan mereka, sementara para gadis mundur walaupun Fara sesekali ikut menyerang.


"Fara! Mundur!" Kata Irfan menghawatirkan ya.


Fara mundur kembali. Namun, tampaknya Bianca cemburu dengan itu. Dia maju dan mencoba melawan mereka. Namun, tentu saja gagal.


Affandi merenggangkan pukulannya, melihat Sania yang terluka karena melindungi adiknya.


Mito dan Rina seperti penyelamat menyelamatkan mereka dan membantu melawan.


Kini, Fara tak bisa tinggal diam. Dia serahkan Sania.pada Bianca dan melawan mereka. Akhirnya mereka menang.


Affandi yang melihat Sania kesakitan memegang kepalanya pun, segera menggendongnya.


"San, nggapapa kan?" Tanyanya khawatir. Sania mengangguk.


"Fara! Kamu ngapain sih?"


Tampaknya yang dimarahi murung. Dia menundukkan kepalanya tak berani menatap Irfan. "Aku pengen bantuin!!" Kekehnya ingin membela diri.


'Kok Irfan perhatian banget ya sama Fara?' batinnya Bianca.


"Udah! Ayo, bantuin Sania dulu!" Beruntung ada Bian yang melerainya.


Affandi tersenyum dan membawa Sania sendiri. Baginya, menggendong Sania dari sisi manapun itu sangat mudah. Karena ia sudah sering melakukan itu.


Dulu, Sania selalu bermasalah dengan anak nakal, baik laki-laki maupun perempuan. Affandi yang selalu ditugaskan menjemput kedua gadis itupun terbiasa menggendong paksa Sania agar ia ikut bersamanya.


"Kak! Kak Sania, maaf ya!"


Sania berada di sofa villa sekarang. Bianca tak berhenti menangis karena tahu ini salahnya. Karena dia cemburu melihat Irfan lebih memperhatikan Fara.


"Nggapapa! Bentar lagi juga diobatin lukanya!"


"Lagian Lo ngapain sih maju segala? Jangan gegabah deh!" Kini Irfan marah lagi.


Entah berapa kali dia merasa semua yang menyangkut Bianca pasti bermasalah. Padahal, Bianca sendiri tak mau seperti itu.


"Udah deh, Fan! Dia kan cuman berniat baik!" Bianca malah dapat pembelaan dari Fara.


"Lo juga sama! Cewek itu nggak usah ikut-ikutan berantem!" Bentaknya pada Fara.


"Irfan! Gue cuman mau dapet perhatian dari Lo! Emang nggak boleh ya?" Bianca menangis tersedu-sedu.


Secuek itukah Irfan? Kenapa dia tidak merespon sama sekali waktu aku melawan tadi? Mungkin itulah isi pikiran Bianca.


"Kenapa? Lo suka sama Gue?" Irfan mulai berapi-api.


"Iya! Gue suka sama Lo!! Tapi Lo lebih perhatian ke Fara daripada Gue! Kenapa ha?" Kini, mereka beradu kemarahan.


Affandi yang baru menemukan kotak p3k pun memukul mereka tanpa takut.


"Berisik!!! Nggak lihat Sania lagi pusing?" Affandi mulai mengobati luka Sania.


Seperti dua sepasang kekasih yang saling menyayangi, bahkan keributan di sebelah mereka pun tak terdengar sedikitpun. Mereka hanya menikmati waktu luang ini untuk saling memandang. Sama-sama suka namun tak mau mengungkapkan.


"Lo juga! Apa sih yang dilihat Irfan dari Elo?"


Fara terdiam. Tak disangka dirinya juga kena batunya. Hah menyebalkan.


"Gue itu lebih segala-galanya dari Elo!"


Fara pun mulai menangis. Tak disangka setelah sekian lama tak merasakan suasana ini. Kenapa harus menangis sekarang? Kenapa tidak nanti saja? Aku belum pernah menangis seperti ini! Rasanya sakit saat dibandingkan oleh rival sendiri.


"Dia lebih baik dari Lo!" Bianca terdiam mendengarnya.


Bianca keluar dan menangis. Sementara Fara dia tak berkutik dan memilih menjauh. "Fara!" Irfan frustasi sendiri.


Jika dilihat, ternyata Amira dan Raffael sudah memperhatikan sejak tadi. "Irfan!!" Panggil Amira.


Irfan menghadap ke Amira. Amira mengajaknya keluar berjama Raffael juga. Sementara Bian tampak murung sedari tadi.


"Yan!" Mito memanggilnya.


"Lo nggak mau tenangin Bianca?" Sambungnya melihat Bianca yang mulai goyah.


"Biarin aja dulu! Kalo disamperin malah tambah marah nanti," jawabnya dengan hati getir.


Bian masuk ke kamar dan mengunci pintu. Kejadian yang barusan membuatnya benar-benar merasa sakit.


Sania tak mengerti. Begitupun Rina dan Affandi.


"Kak Mito! Sebenernya kak Bian kenapa sih? Kok kayak sedih gitu!" Mito pun ikut sedih melihat sahabatnya itu.


Dia duduk di kursi tunggal dan mulai menceritakannya.


Dulu, waktu Bianca lahir, pria pertama yang melihatnya adalah Mahendra. Setelah itu, barulah Bian.

__ADS_1


Dia sudah lama menantikan bayi itu. Karena semasa ibunya hamil, Bian terus mengatakan dia miliknya. Orang yang paling berbahagia selain orang tuanya adalah Bian. Bukan Raffael. Sepertinya, Cinta Bian pada Bianca waktu masih di kandungan mengalahkan Raffael.


Setelah itu, Bian memohon pada Mahendra untuk memberikan nama.yang mirip dengan bayi perempuan itu. Saat itu, dirinya sudah berusia enam tahun.


Setelah dewasa, Bian tetap memantaunya walaupun sibuk dengan pekerjaan dokternya. Ia sedih karena Bianca sering sekali dekat dengan laki-laki. Pernah sekali, Bian mengungkapkan perasaannya. Namun, ditolak mentah-mentah karena Bianca pikir dia hanya bercanda.


"Yah, kamu tau kan San, Bian orangnya nggak suka serius! Nangis di depan orang aja nggak pernah dari kecil kok! Bawaannya itu bercanda mulu" Kata Mito.


"Makanya orang sering ngira Kak Bian itu nggak bisa serius?" Sepertinya Sania sudah menangkapnya.


Cerita kelahiran itu tak diketahui Bianca maupun Sania sebelum hari ini.


Mito ikut merasakan kesedihan temannya itu. "Dia pasti sedih banget sekarang! Hiks!" Mito menangis.


Mereka bertiga memang sering bersama. Jadi Sania sudah hafal, kalau yang satu bersedih, pasti yang lain juga. Begitulah pertemanan Raffael, Mito, dan Bian selama ini.


"Bian! Lo nggak mau samperin dia? Sekali aja! Jangan sedih terus gitu! Lo nggak bisa diem-diem terus!" Mito menggedor pintu kamar berulang kali. Namun, tetap sama. Hanya isakan tangis yang terdengar dari dalam.


*****


"Lo kenapa Fan? Kok jadi emosional gitu?" Amira membuka pembicaraan.


"Nggakpapa non!" Katanya tak mau mengakui.


Amira tahu Irfan tidak akan mengatakannya disini.


"Bilang aja! Mumpung ada kakaknya loh!" Amira meyakinkannya. Sekarang, Irfan menarik napas panjang dan mulai bicara.


"Saya sangat nggak suka sama Nona Bianca! Dulu dia udah jelekin Nona di depan saya!"


Mereka berdua mendengarkannya dengan seksama. Bahkan, tak ingin memutus pembicaraan Irfan.


"Saya juga nggak suka dia cari-cari saya terus! Saya nggak bisa sama cewek yang begitu!"


Ia meneteskan air matanya. Membanting kakinya sendiri ke tanah dan berlutut di kaki Raffael.


"Maafin saya, tuan! Saya tahu anda sayang Bianca! Anda pasti pengen banget hukum orang yang buat hatinya hancur!" Dirinya menangis tersedu-sedu.


Walau bagaimanapun, dia hanya menyukai Fara walaupun beberapa waktu lalu menyangkalnya.


"Saya cintanya sama Fara, Nona! Saya nggak bisa kalo sama yang lain!!"


Amira tak berkutik. Ia menunggu apa yang akan dilakukan Raffael.


"Bagus!" Apa?


Kedua manusia itu terkejut. Membelalak mata itu secara bersamaan. Lalu, saling memandang tak mengerti. Apa maksudnya bagus?


Sekarang, Raffael tersenyum. "Berarti, si Bian masih ada kesempatan! Aku harus kasih tahu dia!"


Setelah berkeliling beberapa gang, dan pembicaraan yang cukup mengejutkan itu, Raffael, Amira dan Irfan kembali.


Bianca masih tampak di taman belakang tertunduk lemas. Sementara Fara membawa tasnya seperti hendak pergi ke suatu tempat.


"Loh, Fara mau kemana?" Amira tampak ga tahu.


Bianca tak akan mau disini jika masih ada Fara. Tapi, semuanya harus diselesaikan dulu. Walaupun sebaiknya dua orang yang bertengkar harus diberi perantara dulu.


Amira menarik barang-barang yang dibawanya dan meletakkan kembali ke dalam villa.


"Mit, Bian kemana?" Mito bergidik bahu.


"Yan! Masih ada! Yang semangat dong!" Kata Raffael penuh dengan semangat membara.


Raffa beberapa kali menggedor pintu sambil memanggil nama sahabatnya itu. Namun, selang beberapa menit, Bian keluar dengan busana baru dan wajah yang lebih fresh.


"Tau! Nggak usah teriak segala!" Sepertinya Bian tak ingin menyembunyikan keseriusannya lagi. Tak ada kata tersenyum dari wajahnya kali ini. Dia sangat serius, melebihi semua orang disini.


Lalu, dia tersenyum manis. "Ekhem, tenang! Gue yang urus Bianca! Bocah ingusan kayak dia nggak mungkin nggak nurut kan?" Katanya dibumbui candaan.


Bian menuju taman belakang. Sementara yang lainnya duduk di ruang keluarga.


Perlahan, namun pasti. Bian menghampiri orang yang 19 tahun lalu dinantinya untuk hadir ke dunia.


"Bianca!" Panggilnya dengan lembut.


Masih terdengar sesenggukan itu, rasanya seperti menyayat hati Bian. Selama ini, dia lah yang paling sering menghibur Bianca jika sedang bersedih. Walaupun, harus menggunakan cara konyol sekalipun.


"Kamu kenapa?" Kini, Bian berada tepat di sampingnya. Membelai rambutnya tak seperti biasa.


"Hiks! Kak! Kok Irfan jahat banget ya sama aku?"


Bian membiarkan gadis itu memeluknya sampai tenang. Namun aura yang sangat berbeda ini berhas membuat Bianca lebih cepat tenangnya.


Bjan menunduk sedih. Sepi sekali rasa hatinya setelah tahu bahwa dia menyukai Irfan sampai menangis.


"Kamu,,,, lebih jahat! Bianca!" Suara magnetis seraknya berhasil membuat Bianca merinding.


Suara merendah itu yang tak pernah ditunjukkannya pada siapapun, kini ditunjukkan pada Bianca. "Kak! Ap-apa maksudnya?"


"Kakak, udah bantuin kamu selama sembilan bulan sebelum kamu lahir! Bahkan kakak minta om Hendra kasih nama yang ada nama kakak ke kamu!" Bianca tertegun mendengar itu.


"Kakak, selalu ngawasin kamu, kakak selalu berusaha buat kamu bahagia! Walaupun dengan hal-hal konyol!" Bianca sekarang mulai menundukkan kepalanya.


"Kakak udah coba tembak kamu! Ya, walaupun kakak tahu kamu akan tolak! Karena kamu pikir kakak main-main!" Bianca tersentak.


"Ja-jadi yang waktu itu?"


*****


Saat itu beberapa tahun yang lalu. Bian selalu melihat Bianca diganggu oleh Doni. Orang yang beberapa hari lalu hampir melukainya.


Karena Bian tak tahan, akhirnya dirinya turun tangan dan memberi pelajaran langsung pada Doni.


Tepat setelah itu, Bianca diajaknya ke taman dekat kampus. Bunga warna-warni bertebaran di tanah. Sangat banyak. Akhirnya, saat itu Bian mengungkapkan perasaan yang dipendamnya selama puluhan tahun.


"Bianca! Mau jadi pacar kakak?"


Bian selalu tersenyum untuk memberikan kesan ceria. Agar dirinya tak terlihat murni di depan orang lain.


Tapi, "Ihh, kak! Yang bener aja! Konyol tahu nggak! Nembak kok pakek cengengesan! Kakak lagi main-main kan?"


Bian tetap berusaha tersenyum. Walaupun dirinya ingin sekali menurunkan senyumannya itu. "Aku nggak mau! Nanti kakak bilang ini cuma prank lagi!"


Bianca meninggalkannya. Dengan berat hati, Bianmelangkah dan kembali ke rumahnya. "Hah! Bi, Aku kangen Kamu!" Ungkap rindunya sepulang ke rumah.


Dia menangis sejadi-jadinya malam itu. Tahun itu, menjadi sejarah dimana Dokter ceria Bian tak seperti biasa. Dia tampak dingin kepada sesama dokter seminggu setelah kejadian itu.


*****


"Kak! I-itu beneran?" Bian tersenyum teduh. Kali ini ia mengangguk dan menghadap ke depan.


Senja hari yang menjadi saksi kepedihannya kembali lagi. Sekarang, mereka bahkan seperti menyapa Bian yang ada di masa lalu.


"Huaaahah!" Bianca menangis tak karuan.


Bian yang panik pun hanya bisa memeluk dan mengelus rambutnya. "Bi! Kenapa? Jangan nangis dong! Kakak nggak ngerti harus ngapain sekarang!"


Bianca berhenti. Sekarang, dia menatap wajah Bian yang terkena siluat kuning-oranye indah itu.


"Kakak kenapa nggak bilang kalo waktu itu lagi serius?" Rengeknya.


"Eh??" Kini giliran Bianyang tak mengerti.


"Kakak tau nggak? Waktu itu aku lagi suka sama kakak! Aku nggak tahu kalo waktu itu beneran!" Rengekannya semakin banyak.

__ADS_1


Kini, Bian benar-benar tidak bisa menenangkan Bianca. Tak seperti biasanya, Bianca pun merasa, hari ini adalah tangisan paling bersejarah untuknya.


Mereka berdua akhirnya tersenyum bersama.


__ADS_2