
Indahnya pemandangan sore tak membuat hati seseorang tenang. Lalu lintas yang padat, urusan perusahaan, ditambah lagi sekarang masalah bertambah satu lagi. Masalah besar dalam hidupnya dan juga nasib keluarganya.
Raffael mengemudikan mobilnya tanpa Affandi di sana. Ia terlanjur kesal dengan Affandi sehingga membuatnya enggan meminta Affandi menyetir untuknya. Bahkan ketiga gadis yang ikut-ikutan pergi bersamanya ke perusahaan tak menumpang lagi padanya melainkan pada Affandi.
Dia berhenti di pinggir danau yang cukup terkenal di kota itu. Dia menyewanya sampai dia selesai menenangkan dirinya. Entah kapan itu, yang jelas dia akan membayar banyak untuk kepuasannya sendiri. Dia menatap langit yang mulai menguning itu dengan nanar. Sesekali, ia melemparkan batu kerikil ke tengah danau untuk melampiaskan keresahannya.
"Maaf bos! Kontrak telah dicuri dan seluruh aset serta para pasukan lainnya terkena Bom sehingga banyak dari mereka yang menjadi korban!." Ucap anak buahnya di sambungan telepon.
"Bodoh! Kenapa kalian tidak waspada? Kalian pikir Hendri Omero itu bukan orang yang licik? Kenapa kalian bisa selengah ini?." Pekiknya pada anak buah yang berada di sambungan telepon itu. Raffael segera menutup sambungan telepon itu dan mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
"Bagaimana bisa aku memiliki anak buah yang payah semua? Sekarang aku harus bertanggungjawab atas kematian mereka semua! Aku harus mengkreasikan jasadnya!." Gumamnya sembari menarik rambutnya dengan kuat.
Tertibalah saat ada orang yang menepuk bahunya dengan pelan. "Hei? Apa yang kau lakukan?." Tanya orang itu. Dari suaranya, dia adalah seorang wanita. Wanita yang sangat dikenalinya. Yang sangat membuatnya muak dengan hari-harinya ini. Dialah Amira.
Raffael menoleh dan menatap Amira dengan sendu. Bagai bumi yang tak mungkin bisa menggapai langit, dia tampak putus asa saat melihat Amira. "Kenapa kamu kemari?." Tanyanya mengalihkan pandangan dari Amira.
Amira tersenyum mendengarnya dan segera duduk disamping Raffael yang saat ini masih disibukkan oleh batu kerikil itu. "Aku ingin menemuimu!." Ucapnya dengan lembut sembari menatap hangat sang suami.
"Kau tidak perlu menemuiku!." Ketusnya.
"Kenapa? Maksudmu hanya nona Alenta dan Sekretaris Affandi yang terhormat saja yang bisa melihatmu dari jarak dekat seperti ini?." Amira mengikuti apa yang dilakukan Raffael. Dia menatap langit dengan ketenangan di hatinya.
"Aku hanya tak ingin ditemui!." Raffael.
"Jika tidak menemuimu maka aku ingin menemui kedamaian yang ada disini!." Tukas Amira dengan santai.
"Tempat ini sudah kusewa untuk dirimu sendiri! Bagaimana bisa kau masuk kesini?." Tukasnya dengan ketus.
Amira tersenyum getir mendengarnya. "Kau kira aku bodoh apa? Kalau hanya masuk ke tempat seperti ini mah, dengan mudah aku melakukannya!." Ucapnya menatap Raffael dengan lembut.
"Ha? Bagaimana caranya? Semua orang takut padaku!." Ucap Raffael dengan yakin.
Amira tersenyum mengejek dan menautkan kedua alisnya untuk Raffael. "Oh! Benarkah? Jadi orang tuaku juga takut padamu ya?."
Raffael terdiam tak bisa ataupun berani menjawabnya. Ia tahu manusia seperti apa Wirawan itu. Tak kenal ampun!. Sementara Maya adalah orang yang mendidiknya setelah sepeninggal ibunya.
Mereka sama-sama terdiam disana. Tak ada yang bicara kembali setelah sekian menit. Mereka hanya menikmati suasana dengan khidmat. Sampai akhirnya.
"Kau sangat hebat ya?." Amira.
"Eumm?." Raffael mengeriyitkan keningnya.
Amira kembali tersenyum mendengar jawaban Raffael yang selalu ketus kepadanya. Padahal dia lebih sering menjawabnya dengan lembut.
__ADS_1
"Iya! Kau hebat! Diusiamu yang masih terbilang muda kau sudah mewarisi perusahaan ayahmu! Bahkan kau juga mewarisi kerumitan hidup yang sama! Bahkan kukira lebih rumit dari ayahmu! Dan hebatnya lagi kau menutupinya hanya dengan mengubah sifatmu!." Ucapnya sembari tersenyum nanar menatap danau.
Raffael membesarkan pupil matanya mendengar itu. Sepertinya masih banyak misteri dari seorang Amira yang tak ia ketahui. Bahkan sepertinya Amira lebih tahu tentangnya daripada dirinya sendiri.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu!." Raffael.
Amira tersenyum kembali. Dia merebahkan dirinya diatas rerumputan hijau itu. Tempat dimana mereka duduk sekarang menatapi danau dan juga langit jingga. Raffael enggan untuk melakukannya. Ia ingin memastikan jawaban Amira terlebih dahulu.
"Jika aku menjadi dirimu, mungkin aku sudah mengurung diri di kamar selama berbulan bulan sambil menangis meratapi nasibku! Tapi dengan mudahnya kau menjadikan dirimu yang begitu ceria dan penuh perhatian menjadi dingin dan kejam!." Tutrnya dengan lembut.
Raffael menatap Amira dengan sendu. Dihujani suasana langit jingga itu, bagai menjadi pelengkap saksi bisu memorinya sedari kecil. Perlahan tapi pasti cairan bening yang tak diinginkn kehadirannya pun melakukan aksi terjun payungnya di pipi Raffael.
Raffael ikut membaringkan dirinya di rumput itu. "Aku akan segera bangkrut!." Ucapnya secara tiba-tiba.
Amira menatap heran kepada Raffael. Dimatanya terlihat seperti menanyakan "apa maksudmu?." Begitulah isyarat mata yang ia tunjukkan.
"Setelah aku berdebat dengan Affandi dan meminta kalian keluar tadi, salah satu anak buahku yang ada di gedung penyimpanan aset mengatakan salah satu aset yang ada di brankasku dicuri dan sisanya lagi dibom oleh musuhku! Aku terus menyebut sumpah serapahku padanya! Aku tak tahu harus apa!." Ucapnya terus terang kepada Amira.
Jika asetnya adalah surat tanah, maka negara bisa mengambilnya kembali karena tidak akan ada buktinya. Jika yang hangus adalah kontrak kerjasamanya, maka mereka yang membuat kerjasama dengan Raffael tak akan bisa memperpanjang kontraknya. Sehingga itu bisa menjadi kemungkinan besar bagi Raffael untuk runtuh.
Amira memberi tanda mengerti kepadanya dan menanyakan kelanjutan ceritanya. "Lalu apa yang terjadi?." Tanyanya.
Raffael terus menatap nanar si jingga itu hingga ia kembali menerjunkan air mata kepedihannya. "Aku menelepon Alenta untuk mengatakannya! Dan dia memutuskan hubungan denganku!." Ucapnya.
...----------------...
Ia menunggu jawaban dari sang kekasih namun tak kunjung juga. Setelah menelpon sekitar empat sampai lima kali, barulah Alenta mengangkatnya.
"Halo sayang?." Alenta.
"Sayang bisakah kita bicara?." Raffael.
"Ada apa? Katakan saja disini! Aku sedang sibuk!." Alenta.
"Asetku dihanguskan oleh musuhku!." Raffael.
"Apa??." Alenta membelalak mendengarnya. Ia tampak tak senang dengan berita ini. Segeralah ia memasang wajah sombongnya diseberang sambungan telepon.
"Hah! Kukira kau sangatlah kaya dan tidak bisa dikalahkan, Raff! Tapi ternyata kau tidak lebih dari sampah yang berlindung diri di tong sampah!." Ucap Alenta dengan sombong.
Raffael kaget mendengar ucapan Alenta yang selama ini tak pernah kasar padanya. "Len, kenapa kamu seperti ini?." Tanyanya dengan buliran air mata yang mengalir.
"Aku tak menyangka jika untuk menghadapi musuhmu yang hanya satu itu kau harus hampir bangkrut seperti ini! Lebih baik kita akhiri hubungan ini!." Ucapnya Alenta panjang lebar.
__ADS_1
Belum sempat Raffael ingin bicara, Alenta sudah terlebih dahulu memotongnya. "Ohiya, satu lagi! Aku akan keluar dari perusahanmu itu! Tak perlu surat pengunduran diri! Aku juga tak perlu pesangon darimu! Aku takut membebani pikiranmu yang sebentar lagi perusahaannya hampir bangkrut itu!." Ucapnya lagi.
Alenta menutup sambungan telepon secara sepihak. Membuat Raffael runtuh sendiri dibuatnya. Kekasih yang dulu sepertinya selaku mendukungnya, selalu baik padanya, kini tak memiliki belas kasih dan langsung memutuskan hubungan antara mereka.
...----------------...
"Jadi seperti itu?." Tanya Amira yang diberi anggukan oleh Raffael.
"Kau bisa tinggal di rumahku untuk sementara!." Ucapnya tanpa ragu. Raffael membesarkan pupil matanya seketika itu.
"Tidak perlu! Dirumah masih ada surat tanah rumah dan perusahaan dan juga aku bisa menjual rumahku! Kau tahu kan rumahku seperti apa?." Tanyanya pada Amira.
Amira mengingat kembali setiap pojok demi pojok rumah bak istana itu saat ia pertama kali pergi kesana. Rumah yang limapuluh persen terbuat dari emas itu pasti akan dibeli oleh miliarder asing. Memang tak akan mungkin membuat Raffael bangkrut seketika jika memiliki rumah itu. Namun, cukup untuk membuatnya mengorbankan beberapa miliknya.
"Ya, aku tahu! Kau tidak akan bangkrut semudah itu! Orang kaya ya tetap saja kaya! Berkuasa!." Sepertinya Amira menguarkan unek-unek kali ini. Raffael tahu apa maksudnya. Dia sendiri pernah ingin membuat jatuh Amira dengan kekuasaannya. Namun, sepertinya ia tak akan bisa lagi melakukannya. Karena kini dia sedang berada di masa genting.
Dia hanya tersenyum simpul menanggapinya. Kembali menikmati sore yang indah itu bersama.
"Ohiya! Kemana ayah? Kenapa dia tidak terlihat dari kemarin?." Amira memiringkan tubuhnya menghadap Raffael. Dia pastinya heran akan meberadaan ayah mertuanya itu. Namun, saat ibunya mengunjungibya ia terlalu antusias dan tak memikirkan hal lain.
"Ayah pergi ke luar kota! Ada yang harus ia urus disana!." Raffael menoleh kearah sang istri. Cahaya senja yang tenang menyinari wajah Amira. Membuat pesonanya jauh lebih indah dan lebih kuat dari biasanya. Raffael tersenyum tulus melihat pemandangan gratis itu.
Amira yang menyadarinya langsung bangkit dengan gugup. Dia memalingkan wajahnya dari Raffael.
"Kenapa?." Raffael ikut bangkit dari posisinya dan duduk menyamai Amira.
Amira tertunduk disana. Rona merah yang ada di pipinya sudah tak bisa di sembunyikan lagi. "Jangan melihatku seperti itu!." Ucapnya sembari meihat pemandangan agar bisa menormalkan detak jantungnya kembali.
Raffael tersenyum senang saat itu, namun tak diketahui oleh Amira karena dia terus saja menatap sembarang arah. "Memangnya kenapa?." Tanyanya.
Amira sudah bisa mengontrol detak jantungnya sehingga ia kembali menatap Raffael. "Kenapa apanya?." Tanyanya kembali kepada Raffael.
Raffael tersenyum licik mendengar hal itu. Dia memajukan badannya dan membuat Amira terjatuh ke tanah. Dia berada diatas Amira dengan kedua tangannya yang berada di samping tubuh Amira, membuat sang empunya tak dapat berkutik.
Raffael menempelkan hidungnya ke hidung Amira. Senyum licik itu kembali muncul di wajahnya. "Kalau seperti ini saja bisa kenapa aku tidak boleh melihatmu dari samping?." Ujarnya pada Amira. Amira menelan salivanya. Ia benar-benar didekap oleh Raffael di suasana senja itu. Raffael semakin mempererat dekapannya.
"Terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku!." Amira mulai melunakkan tatapannya yang tadinya sedikit terkejut dengan tindakan suaminya itu. Namun, Amira masih terpaku disana dan tak bisa berkutik. Mulutnya keluh walau hanya untuk mengeluarkan sepatah kata.
Raffael bangkit dari posisinya setelah menyadari Amira susah bernapas di dalam dekapannya itu. Dia duduk kembali dan menarik tangan Amira. "Duduklah!."
"Bagaimana bisa kau sampai disini?." Seloroh Raffael.
Amira menundukkan kepalanya dan mulai berbicara, "Tadi aku melihatmu keluar dengan wajah frustasi! Karena khawatir aku meninggalkan adikmu dan segera menyusulmu menggunakan ojek!." Jelasnya dengan lirih kepada Raffael.
__ADS_1
Raffael tersenyum mendengarnya. Ia segera meletakkan kepalanya di pundak Amira. "Aku tidak tahu bagaimana perasaanku! Aku membencimu tapi aku juga mencintaimu, Amira!." Selorohnya dalam hati.
Amira hanya membiarkan apa yang dilakukan Raffael. Tak ada kata tak nyaman dalam hatinya. Hanya saja, mungkin ia sedikirt gugup dengan situasi yang menurutnya aneh. Namun, dia mencoba menyembunyikan rasa gugupnya demi menenangkan Raffael yang pikirannya sedang porak poranda itu.