
Malam ini terasa lebih damai. Selepas hujan yang turun waktu Maghrib tadi, aroma Petrichor yang menyenangkan membuat makan malam terasa lebih bermakna.
Dan tentunya, akhirnya mereka semua berdamai. Tak ingin bertengkar lagi. Bianca sudah tak lagi mengharapkan Irfan. Yang dia inginkan saat ini adalah kembali mencintai Bian sepenuhnya.
Jujur saja, setelah melihat perjuangan Bian mencintai secara diam-diam, juga kesetiaannya dari kecil sampai dewasa membuat mereka semua iri. Dari mereka semua, cinta Bian lah yang paling bermakna. Penantian panjang selama kurang lebih 20 tahun, kini terwujud. Dia menjadi kekasih Bianca, dan setelah lulus kuliah akan cepat menikahinya.
Bianca tentunya percaya. Ia tak menyangka akan ada kejutan seperti ini hari ini. Tangisan yang berharga di momen senja kala itu, membuatnya ingin sekali cepat-cepat lulus kuliah. Tapi, dia harus bekerja keras agar lebih cepat selesai. Walaupun Bianca adalah anak yang pintar, keinginannya untuk bersama Bian mengalahkan kelakuan otaknya bekerja.
"Bian,"
"Ha?"
Bian dan yang lain menoleh kepada sumber suara. Raffael. Si ketua di rumah itu. Rafael ingin sekali mengetesnya sebelum dua Minggu lagi masuk kuliah, agar Bianca tak terlalu terburu-buru dan malah memberikan hasil yang membuat adiknya itu kecewa sendiri.
"Lo serius mau ngelamar adik gue?" Dasar Raffael sok serius,
"Iya! Serius kakak ipar!" Wah, sifatnya yang tak ingin terlalu serius kembali lagi. Kini Raffael sudah tenang.
'Huft! Udah normal lagi nih anak! Berarti kayak dulu, masih setia!' Raffael.
"Ahahahah! Apaan sih Raff? Lo khawatir gue yang tiba-tiba bersahaja gini kesetiannya berkurang?" Bingo!! Tepat sasaran.
Kini, semuanya ikut tertawa mengetahui fakta itu. Benar juga ya? Tapi, bukannya semakin dewasa semakin tambah setia? Entahlah.
Mereka semua melanjutkannya. Sampai akhirnya, makanan habis dan mereka berbincang-bincang.
"Kak!" Panggilnya Bianca pada kekasihnya.
"Iya?" Orang ini kembali serius lagi. Apa memang ini keasliannya? Entahlah.
"Aku suka kakak apa adanya! Jangan berubah ya?" Bianca seperti ingin memastikan kalau dia bersikap serius seperti ini bukan karena ingin mencari perhatian Raffael.
"Tenang aja! Cuman agak capek! Jadinya ya, nggak mood! Capek banget lihat pada berantem dari siang!"
Bian benar. Mereka semua terlihat kelelahan walaupun sangat bahagia. Terutama Amira yang notabenenya penyerap emosi.
"Iya nih! Sayang, Kalo capek kita tidur aja ya?" Raffael mulai lagi.
Setelah seharian tak mendapat perhatian khusus itu kembali, sepertinya dia merindukannya. Apalagi, Amira yang terus-menerus menyelesaikan masalah. Melihat Irfan yang tak kalah keras kepala dari tuannya saja sudah membuatnya lelah.
"Kalo kangen bilang aja! Nggak usah alesan tidur segala! Emangnya di kasur ada apanya?"
Blarrrr. Raffael kena lagi.
Tatapan elang menggoda dan nada bicaranya itu membuatnya merinding sendiri. Belum lagi perhatian kecil yang diberikan Amira. Apa yang harus dilakukannya. Dia belum terbiasa dengan senyuman penuh 24 jam nya Amira.
"Ke-kenapa lagi sih??" Kelenjar keringat semakin banyak keluar dari pori-pori kulitnya.
Hah, Rasanya seperti melihat buaya saja.
'ah, enggak-enggak! Gue harus berani! Masa Raffael yang mendominasi kalah sama buaya betina baru sih?' Raffael.
"Kenapa? Kayaknya kamu yang kangen sama aku!"
Sekarang mereka seperti buaya jantan dan betina yang adu gombal, namun tak mau mengalah satu sama lain. Tatapan dingin dan seksi Raffael, juga mata elang menggoda dari Amira. Mereka sedang berada di dunianya sendiri.
"Mulai berani ya sekarang?" Entah kenapa Amira yang mengatakannya.
"Bukannya kamu yang mulai berani?" Bantah sang suami.
"Hmm?"
"Dulu ngebantah, sekarang mau godain Raffael? Berani juga kamu!"
Krekkk. Benar juga. Selama ini kan, dia sangat berbeda jauh dari apa yang dilakukannya saat ini. Tapi, bodo lah.
"Oh, jadi ini yang kemarin merinding kayak dikejar hantu?" Blamm!! Satu serangan lagi.
Raffael tersentak. "Huft! Iya deh! Aku kalah! Jadi mau apa?"
"Wah, adik kita yang satu ini luar biasa ya? Raffael aja ngaku kalah sama dia!" Kata Mito.
Bian menatap sebal pada Mito. "Hehh, adik Lo aja sana! Dia calon kakak ipar Gue! Jadi Gue nggak bisa manggil dia adik kecil dong!"
Bodo lah. Mereka terhibur dengan tontonan sesaat itu. "Jangan-jangan Raffael abis ini kelainan lagi gara-gara Kak Mira!" Sania juga mulai ikut-ikutan.
"Wah harus diwaspadai nih?" Sangat lucu. Mereka semua memiliki reaksi serius yang terlihat polos namun menggemaskan.
"Okey! Aku mau pelayanan khusus dari mas suami!"
Glarrr!!
"Pe-pelayanan khusus?" Semua mata tertuju padanya.
Apa ini sungguh-sungguh? Amira meminta hal yang sangat terbalik dengannya.itupun di depan mereka semua. Sekarang, Raffael benar-benar merasa canggung. Untuk pertama kali ada orang memintanya begitu.
"Kenapa? Nggak boleh? Kakak nggak kasihan sama aku yang udah ngelajang 21 tahun ini?"
Duarrr!! Raffael semakin tercengang. Ternyata seorang Amira bisa manja dengan cara begini ya?
'Nggak usah imut imut kenapa sih? Ini nih! Akibat istri lebih dominan imutnya!'
"I-iya!" Raffael melihat sekelilingnya.
Mereka semua jadi kikuk karena perbuatan Amira. Bahkan Irfan dan Fara. Raffael menelan ludah sendiri. Jakunnya yang bergerak semakin membuat Amira bersemangat.
"Ja-jangan hari ini ya?" Prrrtttr.
__ADS_1
"Yah, nggak jadi!" Lirihnya kecewa karena Raffael.
Raffael tak bisa mengecewakan istrinya. Dia harus cari cara lain. Dia tak mau menerkam dua kali sehingga semakin membuatnya agresif.
Raffael menaruh Amira dalam gendongannya. Tahu kan? Gendong di depan yang seperti menggendong anak-anak itu? Amira tampak sangat imut karena tubuh mungil dan rampingnya disandingkan dengan Raffael yang tinggi dan kekar.
"Peluk aja ya?" Amira menatapnya polos tak percaya.
Ternyata Raffael tak se nafsu an yang dia kira. Dia juga memiliki batasan, sehingga bisa mengendalikan nafsunya itu.
Amira tersenyum riang bagaikan anak kecil yang dijanjikan hadiah oleh ayahnya.
"Mito! Lo di lantai dasar ya! Gue lantai bawah!" Mereka berdua pergi tanpa melihat yang lainnya. Benar-benar ada di dunianya sendiri.
*****
"Huft!"
Hembusan angin malam yang dingin disertai suasan teras yang indah, membuat Fara teringat akan sesuatu.
Sesuatu yang membuatnya menyukai Irfan walaupun sudah diberi peringatan keras. Jenis cintanya ini memang agak.... Gimana ya?
Malam yang sama seperti saat dirinya merasakan dinginnya malam saat ini, Fara melangkah keluar dari kontrakannya yang sudah habis masa tinggal.
Sebulan ini, dia tak memiliki penghasilan lagi karena habis dipecat dari tempatnya bekerja. Berjalan membawa koper berwarna hitam itu dengan wajah tertunduk lesu.
Hujan yang tiba-tiba turun membuatnya harus berteduh di pos ronda dekat sana. Tanpa disadarinya, sebuah mobil terhenti dan seseorang keluar dengan payungnya.
Dialah Irfan. Sosok penyelamat yang sampai kini dicintainya. Bukan hanya disukai. Fara mendongakkan kepala, melihatnya menghampiri.
"Kamu nggapapa?" Tanya pria itu sembari tersenyum seperti memberi sebuah harapan baru.
"Eng-enggak!" Kilahnya tak ingin mematik api di hatinya.
Angin yang berhembus kencang membuatnya kedinginan saat itu. Irfan yang menyadarinya langsung melepas jaketnya dan memberikan jaket itu.
"Ah, enggak! Nanti kamu kedinginan lagi!" Kata Fara mencoba menolak.
Tapi, Irfan adalah pria yang sedikit ngotot. Dia menggantungkan jaket itu menutupi tubuh Fara.
"Cewek itu harus diberi kehangatan!" Blush,
seperti panah asmara yang tertancap dihatinya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya dan membuat pipinya memerah. Rasanya sudah lama tak merasakan ini. Tapi, Fara menyukainya saat pandangan pertama.
Pria tinggi gagah yang membawanya ke rumah tuan Wirawan saat langit mencurahkan gemerlap kilat dan hujan. Inspirasinya selama ini.
Pria yang terus menarik ulur perasaannya.
"Kenapa nggak masuk?" Suara Irfan membuyarkan lamunannya.
"Enggak! Lagi pengen nikmatin suasana aja!" Katanya beralasan.
Irfan tersenyum jahil. Kini saatnya menggoda Fara lagi. Entah kenapa ini menjadi hobinya semenjak kehadiran gadis ini.
"Oh, menikmati suasana, apa mengenang suasana?" Deg!
'Gawat! Dia tahu lagi!' Fara ketar-ketir sendiri.
"Eng-enggak kok! Suka suasana kayak gini," Kilahnya.
"Suka banget sama Petrichor!" Ha? Petrichor?
Fara dengan lugunya menanyai Irfan. "Petrichor itu apaan sih?" Tanyanya dengan wajah polos.
"Cari sendiri di google!" Tolaknya lanjut ke misi ke dua.
"Emangnya apaan sih tuh!" Yang benar saja. Fara menuruti apa yang dikatakan Irfan. Dengan polosnya mencari dan mencari.
'wah, imutnya!!' Sepertinya Irfan sendiri berbunga-bunga melihatnya.
Rencana keduanya sedang dilancarkan. "Yakin? Bukan karena itu pertama kali aku temuin kamu?"
'HA? Aku? Kamu? Udah nggak lama, nih orang!' Fara terkejut lagi.
Dengan niat baiknya karena mengira orang dihadapannya ini sedang sakit, dia menyentuh dahi Irfan.
Irfan yang memiliki kesempatan pun menggodanya lagi. "Nggak sakit kok! Cuman deg-degan aja!" Boom!!.
Irfan menarik tangan Fara supaya dia bisa mendekatkan wajahnya ke Fara. Dan sesuai dugaan, Fara kembali malu dengan godaannya itu.
'Sial nih orang! Tarik ulur aja terus!' Wah wah! Sepertinya ada yang terjebak ni?
"Ngapain si?" Fara mendorong tubuh Irfan sekuat tenaga sampai terlepas dari cengkraman.
Sementara, Irfan semakin semangat menggodanya. Tapi, sepertinya ini sudah cukup larut untuk melakukannya.
"Udah! Nggak usah malu gitu! Gue cuma ngetes Lo! Yakali gue mau cium Lo! Jangan banyak ngarep deh!" Duarrr!
'kan? Tarik ulur lagi? Bukan tarik ulur lagi ini namanya! Tapi, kubawa kau melayang tinggi dan ku hempaskan ke bumi!'.
Sikap Irfan langsung berubah setelah melakukan itu. Ia tak sedikitpun merasa berdosa karena sudah mengacak-acak hati seorang gadis yang sudah rapih. Bahkan, saat kembali berbincang dengan kedua bujang itu, seperti sama sekali tak terjadi apa-apa. Dasar jahat!.
Lalu kenapa dia mengatakan bahwa Fara lebih baik dari Bianca kalau begitu?
Membuat berharap saja!
'hihhh!! Sebel banget gue sama si Irfan!'
__ADS_1
'Nyebelin!'.
Sekarang bahkan bukan pipinya saja yang memerah. Tapi telinga dan seluruh wajahnya. Merah cabai yang bisa berubah menjadi api membara.
Fara melangkah masuk, sembari menghentakkan kakinya. Yang tentunya, membuat para pria itu keheranan.
"Sstt! Uiii! Cewek Lo kenapa?" Bian.
Irfan menyipitkan matanya. "Cewek gue dari mananya?" Katanya tak suka.
"Ya terus itu kenapa marah gitu abis Lo samperin? Lo godain dia?" Wah, insting Affandi ternyata cukup kuat ya?
"Hmm. Ya! Gitu lah!" Dirinya sangat bangga setelah melakukan perbuatan ini. Bahkan, kedua pria itu malah menyanjungnya.
*****
Fara masuk ke kamar dimana ada kedua kakak beradik itu. Dirinya yang sedikit sungkan dengan Bianca terkalahkan dengan amukan berapi itu.
"Loh loh, Far! Kenapa? Kok kayak sebel gitu?" Sepertinya Bianca sangat memperhatikan.
"Non!" Ucapnya sembari memegang tangan Bianca.
"Hmmm?" Bianca yang tak mengerti hanya bisa menarik alisnya keatas.
"Non Bianca Beruntung nggak jadian sama cowok nyebelin kayak Irfan!" Bianca semakin bingung.
"Nyebelin gimana maksudnya?" Sekarang dia mengeriyitkan dahi.
"Irfan itu orang yang paling nyebelin sedunia! Tahu nggak? Setelah non dibawa ke angkasa lepas, non bakalan di dorong kebawah dan jatuh ke tanah!" Ucapnya penuh gairah.
Bianca yang melihatnya pun tertawa. Pantas saja Irfan menyukainya. Irfan itu tipe lelaki yang mengejar, bukan dikejar. Karena itu, Bianca pikir mengerti kenapa Irfan tak suka dengannya.
"Mungkin karena itu ya, Irfan sukanya sama kamu?"
"Kamu itu orangnya dikejar! Sementara aku mengejar!!" Kata Bianca tanpa menyesalinya.
Fara membelalak mendengarnya. "Ha? Dikejar apanya? Dia itu kayak buaya darat tau! Suka banget godain cewek! Terusan di ghosting lagi,"
Sania dan Bianca yang melihatnya tertawa tanpa henti. Memang sangat lucu kisah cinta yang dialami orang se-villa itu.
Mereka menikmati waktu di villa itu dengan sangat gembira. Bahkan, kegembiraan yang berlipat-lipat ganda walaupun harus melalui pertengkaran dulu.
Pernah mendengar kebahagiaan akan terasa berlipat-lipat ganda jika dilalui dengan jalur yang sulit dulu? Mungkin itulah yang mereka alami saat ini.
Raffael dan Amira yang terpaksa menikah, dan ternyata sama-sama saling merindukan versi kecil mereka,
Mito yang rela melepas orang tersayangnya dan diganti dengan Rina yang mungkin lebih baik untuk kehidupannya,
Bian yang menunggu 20 tahun agar bisa memiliki Bianca seutuhnya,
Irfan yang memiliki cara tersendiri mencintai Fara, walaupun terkadang caranya agak menyebalkan,
Affandi yang sering bertengkar dengan Sania namun justru disanalah perasaan mereka muncul.
Semua itu serasa anugrah karena mereka telah melalui dengan sabar. Menunggu dan menunggu walaupun itu tak pasti. Takdir seseorang tak akan tertukar kan?
*****
"Sayang!!" Amira mulai menggodanya lagi.
Sepertinya setelah mengetahui isi hati Raffael dia mulai menyukai hal ini. Menggoda Raffael habis-habisan.
Amira sengaja memakai baju tidur berwarna merah terang yang terbuka. Sangat-sangat menggoda iman Raffael.
"Ud-udah, Yang! Udah dibilang kan? Jangan sekarang! Kakak tersayang kamu ini juga masih mau hidup!" Raffael benar-benar diberi kejutan bom berlian oleh Amira.
Saat ini jantungnya terasa berdetak berkali-kali lebih cepat dibandingkan biasanya.
Amira tersenyum. Se dag dig dug itu ya Raffael melihat penampilannya yang hot malam ini.
"Iya-iya! Peluk doang kok! Nggak macem-macem!" Katanya masih dengan tatapan elangnya.
Raffael menutup rapat matanya melihat ketika melihat kegilaan Amira yang sesungguhnya ini.
"Kan seharusnya aku yang makan kamu! Kenapa jadi kebalik sih?" Memang heran sih, tapi inilah nyatanya.
"Sayang! Aku mau lihat!"
"Apa? Lihat apa?" Raffaell sudah panik sendiri mendengarnya.
"Masak aku pakek baju seseksi ini nggak bisa lihat roti sobek sih?"
Deg!!!
"Ro-roti, so-sobek?" Raffael memegangi kancing bajunya erat erat.
Tapi,.sudah terlambat. Amira bertindak cepat dan melepas kemeja Raffael.
Amira tersenyum. Dia mulai memegangnya. "Wah, rasanya gini ya kalo suami punya sendiri? Yang kayak artis-artis gitu! Berotot tapi tetap ganteng!!"
Rasanya seperti dipermalukan istri sendiri. Keinginan nyeleneh Amira sudah mulai meresahkan.
Itu juga yang dipikirkan Mito dan Rina. Amira itu Maniacc!! Yang suka tergila-gila sama sesuatu. Contohnya saja saat dirinya bersikeras bisa melukis.
Sudah dari SMP, dan dia melukis dinding kamarnya dengan lukisannya yang menawan. Menawan sih, tapi dia sangat tergila-gila akan itu. Sehingga ia mendaftar sendiri ke kuliah seni.
Ayahnya sendiri juga terkejut saat mengetahui ke Maniac an Amira yang semakin menjadi. Tapi, ada kalanya dia berhenti sendiri dan memutuskan untuk serius.
__ADS_1