
Mobil jenazah akhirnya sampai di rumah. Siang yang terik menjadi saksi akan kepayahan yang ditimpa semua anggota keluarga. Rumah yang awalnya penuh dengan suara sibuk pelayan yang bertugas berubah menjadi hampa. Semua pelayan sibuk mempersiapkan semuanya dengan hati gundah mereka. Tuan besar telah tiada.
Dan akhirnya, keluarga besar Wardana telah hadir. Mengisi kesedihan yang semakin menjalar ini.
Beberapa teman Raffael juga turut hadir disana. Salah satunya, Dokter Bian. Dokter yang pernah dipanggil Raffael saat Amira demam waktu itu.
"Raff! Kamu yang sabar ya! Tante ucapin turut berdukacita! Semoga kamu bisa menenangkan diri kamu setelah ini!." Ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah Tantenya Raffael.
Raffael dengan matanya yang sudah bengkak karena menangis sedari tadi hanya bisa mengangguk.
"El,"
Aku mendekat pada Raffael. Pria yang memiliki gelar suamiku itu menunduk dan menempelkan keningnya di pundak ku. Aku terenyuh. Kesedihannya yang menjalar tak dapat kuhilangkan begitu saja.
"Ini, minum dulu!."
Ku sodorkan gelas berisi air putih itu di depan wajahnya. Dengan wajah lesu diapun meraihnya.
*****
"Hiks hiks! Ayah! Kenapa cepat sekali ninggalin kami! Aku masih ingin bersama Ayah!." Seru Bianca.
Raffael menghampiri adik kecilnya yang dengan tubuh lemas memeluk jenazah ayahnya itu. Dengan wajah sedihnya namun ia tahan agar bisa menenangkan adik-adiknya.
Ditariknya tubuh mungil adiknya itu, dan dipeluknya dengan erat. Dengan Isak tangisnya, Bianca memegang kepalanya. Penglihatannya seperti kabur, wajahnya pucat, keringat dingin dan telinganya berdengung cukup lama. Akhirnya ia pingsan di dalam pelukan sang kakak.
"Bi! Bianca!." Raffael berteriak melihat sang adik. Dia lantas mengangkat tubuh Bianca dan segera diletakkan tubuh itu diatas sofa panjang.
"Kakak! Bianca kenapa??." Tanya Sania dengan wajah yang semakin panik.
Amira pun turut mendekatinya. Begitu juga Dokter Bian yang dengan intuisinya sebagai seorang dokter ingin memeriksa pasiennya. Dan dengan bantuannya lah, akhirnya Bianca tersadar.
"Eung, kakak!!." Panggil gadis itu pada kedua kakaknya dengan suara lirih.
Dia terlihat masih sedikit pucat. Wajahnya seperti mengingat kejadian yang baru dialaminya. Bianca akhirnya kembali menangis.
"Hei! Jangan menangis! Tenangkan dirimu." Pinta Sania dengan wajah iba kepada sang adik.
Sania menghapus air mata yang tersisa di pipi Bianca. Adik kecilnya itu memeluknya dengan erat. Membiarkan tangis kesedihannya terkuras sehabis habisnya.
"Hiks! Kakak! Ayah sudah pergi!! Hiks!." Ucapnya berulang kali dalam dekapan Sania.
"Tenanglah! Ayah pasti akan sedih melihatmu begini!." Amira maju. Dengan wajah prihatinnya itu, berinisiatif menenangkan Bianca. Dia bahkan hendak menyentuh kepala Bianca.
"Hiks! DIAMLAH!! Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan! Kamu itu cuma cari muka saja disini!." Hardik marah Bianca dengan deraian air mata.
"Bianca benar! Memangnya kamu siapa? Kamu itu istri yang tidak berguna buat Raffael, hanya bisa merusak suasana saja!."
Nenek Wardana maju. Dengan cepatnya ikut serta merendahkan Amira. Amira lalu terdiam. Raffael tak ada niatan membantahnya. Ia hanya cuek saja dan kembali pada jenazah ayahnya.
"Maaf nek! Aku hanya berusaha membantu!." Semua orang tak ada yang berbicara. Amira dengan wajah terpuruknya menundukkan kepala. Namun, tentu saja membuat nenek Wardana semakin kesal.
Nenek menarik lengan Amira dengan wajah merah padamnya dan mendorong tubuh itu ke tembok. Membenturkan tubuh Amira beberapa kali ke tembok.
"Kamu itu orang asing jangan sok prihatin dengan kami!! Lebih baik kamu pergi kembali ke rumah orang tuamu!!." Nenek menarik lengan Amira dengan paksa keluar rumah. Sementara Amira hanya bisa mengeluarkan Isak tangisnya disana.
"Hiks, hiks! Nek, jangan!! Jangan usir saya! Jangan usir saya!." Amira.
"Pergi kamuu!! Seharusnya Alenta sudah menjadi menantu kesayangan keluarga Wardana! Kamu itu penghancur impian kami semua!!." Hardik Nenek.
"Sopir!! Sopiiir!!."sopir pun menghadap kepadanya. Dengan wajah galaknya mendorong Amira sampai terjatuh dan menyuruh sopir itu mengembalikan Amira ke rumah orang tuanya.
"Baik nyonya!." Sopir itu hanya bisa menunduk penuh ketakutan melihatnya. Lalu mengambil mobil dan meminta Amira masuk ke dalam.
*****
Akhirnya pemakaman selesai. Dengan khidmat juga deraian air mata selalu terkucir deras di mata pelayat.
__ADS_1
Namun, tampaknya Amira tak berada di sana. Mereka semua tampak sudah berada di depan mobil. Bian dengan berat hati ingin mendebat Raffael.
"Raff!." Panggil pria berstatus dokter itu.
"Kenapa?." Dengan dinginnya Raffael merespon.
Akhirnya mereka bersandar di depan mobil. Membicarakan masalah yang pastinya dengan dugaan Bian akan dimenangkan Raffael.
"Kenapa kamu tidak ajak istrimu? Bukankah dia juga ingin melihat proses pemakaman nya?." Tanya Bian dengan wajah serius.
Raffael menyeringai. Seringai serigala yang menyeramkan itu, membuat Bian sedikit bergidik ngeri.
"Kenapa memangnya?."
"Dia istriku! Bukan istrimu!."
"Hanya aku yang boleh memerintahnya!." Ujar Raffael dengan berturut-turut dengan arogannya.
Bian membulatkan matanya. Meneguk sesekali saliva nya yang hampir menetes karena kearoganan temannya satu ini. Dia menunggu beberapa saat sebelum akhirnya berbicara kembali.
"Sebelum jadi istrimu dia anaknya orang lain kan??." Bian.
"Lalu??." Jawab Raffael dengan santai.
"Kamu tidak takut kalau-kalau nanti kepalamu dijitak mertua?." Canda Bian disertai gelak tawanya.
Tiba-tiba saja, Raffael masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.
"Hei hei! Aku belum selesai bicara!." Teriaknya panik. Dia memukul-mukul mobil itu berharap Raffael keluar.
Tiiin; tiin!
Akhirnya Bian mengalah. Pria berusia kepala dua itu melangkahkan kakinya dengan resah kedalam mobil.
"Apa adik kecil itu bisa kuat ya hidup bersama pria seperti Raffael?." Tanyanya setelah berhasil duduk di kursi kemudi.
Menyewa beberapa wanita hanya untuk mengambilkannya minum di bar itu. Duduk tegap dengan kepalanya yang sempoyongan. Bau tubuhnya penuh dengan bir yang diteguknya sedari tadi. Dia sudah menghabiskan dua botol penuh.
"Ahhh aku mau lagi!!." Pintanya pada wanita yang berada di sampingnya. Wanita itu sepertinya sangat senang. Bayaran banyak, hanya dengan menemani minum. Namun, sebelum menuangkan ke gelas,
Pyarr!
Botol itu ditarik oleh seorang wanita dan dipecahkannya di lantai. Bar yang tadinya penuh dengan suara disko menjadi senyap karena wanita itu.
Raffael mendongak dengan matanya yang sedikit kabur. "Eung;; eung;; siapa?." Tanya Raffael.
Pria itu berdiri. Ingin menghampiri wanita yang ada di depannya namun malah terjatuh ke lantai karena saking tak kuatnya dengan kadar alkohol yang ada di tubuhnya.
"Bawa kerumah!." Wanita itu menyuruh pria yang sedari tadi bersamanya mengangkat Raffael. Mereka yang melihatnya hanya bisa terdiam tak berkutik. Mata wanita itu menatap tajam ke semua orang yang takut melihatnya.
****
Sesampainya di rumah wanita itu, Raffael langsung dibawa ke shower dan diguyur air sebanyak-banyaknya dengan air. Sampai akhirnya tubuh pria itu basah kuyup. Para pelayan pria mengganti pakaiannya dan menidurkannya di kasur king size.
Wanita itu keluar dari rumah besarnya. Menuju kearah taman rumah itu. Sesampainya disana,
"Dia sudah kuamankan!.". Wanita itu berdiri di depan seorang pria.
Dengan kopi yang sudah disesap beberapa kali oleh si pria itu, pria itu hanya manggut-manggut saja. Melanjutkan kegiatannya meminum kopi hitam.
"Aku harap musuh tuan tidak melakukan hal berbahaya seperti itu!."
"Aku terkejut ketika mengetahui musuh tuan juga merupakan rival bisnis Raffael Wardana!." Wanita itu hanya manggut-manggut saja. Duduk di depan pria berbusana kaos oblong hitam itu.
"Bagaimana dengan nona Amira? Apa kita harus memberitahu dia?." Wanita itu menatap dingin.
"Cih, apa sekarang kamu mau merubah kebiasaan? Kenapa tiba-tiba peduli begitu?." Tanya pria itu.
__ADS_1
"Aku kan hanya memikirkan Nona Amira saja, Irfan! Memangnya tidak boleh apa?." Ucap wanita itu pada pria yang tak lain adalah Irfan.
Irfan menyeringai. Menatap lekat mata hitam pekat wanita yang selama ini menyukainya diam-diam. Dengan entengnya berucap, "Kenapa? Mau menarik perhatian ku?."
"Memangnya dengan mengandalkan nona Amira bisa buat aku langsung luluh apa?."
Seketika saja, pipi wanita itu menjadi merah. Semakin menundukkan kepalanya dan malu-malu kucing berbicara.
"E- ti-tidak kok!." Elaknya.
Irfan tersenyum. Pria muda yang tampan dan gagah yang bagaikan panglima perang sang tuannya. Itulah yang dilihatnya dari Irfan. Pria yang tenang namun ramah senyuman dan lembut kepada wanita. Apa lagi yang tak menjadikannya tipe idaman wanita ini.
"Baiklah, Fara! Aku pergi dulu!." Pria inipun pergi dari hadapan Fara. Dengan otaknya yang sudah bekerja lagi memikirkan perkataan Fara. Apakah harus memberitahu Nonanya atau tidak?.
'Hmm, bukannya yang meminta mengawasi tuan Raffael memang nona ya? Dan kita dapat perintah dari tuan Wirawan untuk menyelidiki keluarga Omero, ini sangat...!.' batin pria itu. Diapun menaiki mobil hitamnya dan kembali ke kediaman Wirawan.
*****
Fara kembali ke rumah besar itu dengan langkah cepatnya. Sebenarnya ini bukan miliknya. Ini milik Amira yang diberikan ayahnya. Namun, karena Amira belum mengetahuinya, rumah itu hanya diisi oleh pelayan dan beberapa anak buah Wirawan hanya untuk mengeceknya. Para pelayan pun memiliki sendiri ruangannya. Ada di rumah belakang.
Fara menghampiri batang tubuh Raffael yang masih tertidur pulas. Dia berbicara dengan lirih agar tak diketahui Raffael.
"Seharusnya kamu sudah saya laporkan ke tuan Wirawan karena sikapmu kepada nona yang sering membuatnya kebingungan!."
"Suka sekali berubah-ubah!."
"Apalagi statusmu sebagai suami yang selingkuh dan buka-bukaan menunjukkannya di depan istri!."
"Seharusnya tuan Wirawan sudah mencambukmu sejak dulu!."
"Dia pasti tidak rela kalau putri kesayangannya diperlakukan seperti pelacur dan budak di malam hari!."
"Tapi...."
*****
Setelah Amira pulang ke kediaman orang tuanya, tampaknya kedua penghuni rumah itu sedang tak ada. Hanya ada anak buahnya dan juga Irfan serta Fara tentunya. Dari semua anak buah ayahnya, Amira hanya dekat dengan kedua orang ini. Apalagi merekalah yang menyampaikan perintah dari Wirawan dan Amira.
Kebanyakannya Wirawan meminta mereka menuruti semua perintah Amira, namun sesekali juga diminta menyelidiki sesuatu.
Amira masuk ke dalam rumah disambut sapaan dari mereka. Dengan langkah gontai menuju ke ruang tamu.
Irfan juga Fara yang melihatnya pun langsung menghampirinya. "Nona, kenapa pulang sendiri?." Tanya Fara.
Keduanya menatap sendu wajah Amira yang lesu. "Hari ini ayah mertuaku meninggal! Dan aku diusir oleh neneknya Raffael! Jadi tidak bisa melihat prosesi pemakaman nya!." Jelasnya dengan mata berair.
"Apa??." Irfan berteriak.
"Nona, saya akan beri pelajaran pada mereka!." Ucap Irfan penuh emosi.
"Iya nona! Berani sekali mereka mengusir nona!." Ucap Fara tak kalah emosinya dengan Irfan.
Amira tampaknya semakin putus asa. Dia meminta salah satu anak buah yang ada disana mengambilkan minuman. Lalu, setelah merasa sedikit tenang, dia pun berucap kembali kepada mereka berdua.
"Jangan! Walau bagaimanapun, mereka kan tetap keluarga ku! Mana mungkin aku tega!." Cegahnya.
"Tapi kan nona!." Tolak Fara karena keberatan.
Mereka bertiga terdiam. Beberapa anak buah baik laki-laki maupun perempuan juga turut merasakan emosi yang sedang dirasakan mereka bertiga.
Dengan ragu-ragu, Irfan berkata, "Nona, apa Nona sudah mulai menyukai Raffael Wardana?."
Amira menoleh. Dan matanya mengisyaratkan bahwa dia memang nyaman bersama suaminya itu. "Hmm, mungkin karena sudah terbiasa! Kamu tahu kan? Cinta tumbuh karena terbiasa!."
"Walaupun dia tak terlalu perduli denganku, tapi saat dia menunjukkan kasih sayangnya, aku merasa nyaman! Aku ingin dia mencintaiku dengan tulus!."
"Bahkan sudah aku coba untuk menahannya sebelum Raffael memang mengatakan perasaannya padaku! Tapi, aku rasanya ingin selalu mencintainya walau tidak dia balas!."
__ADS_1
Saat mengingat itu, Fara dan Irfan akhirnya menyimpulkan bahwa Amira ingin masuk dalam dunia Raffael dengan sesungguhnya. Maka dari itu, Irfan meminta Fara membawa Raffael ke rumah ini, sedangkan Irfan masih ada dalam tugasnya. Pasti Nonanya ini akan sedih kalau tahu keadaan Raffael.