
"Sayang, besok ajak aku ke restoran ya! Makan siang bareng gitu! Pasti di rekening kamu masih ada uangnya kan?." Kata Alenta dengan manja.
'Setelah tahu kebusukan Alenta, aku makin jijik dekat sama dia! Lihat dia saja udah muak!'
"Iya! Tapi, apa boleh aku ajak Amira?." Kata Raffael sedikit ragu-ragu.
"Hah? Kenapa dia? Aku tidak mau." Kata Alenta dengan bibir cemberut.
"Ya jangan gitu dong sayang! Kamu nggak mau memanas-manasi Amira?." Tampaknya Alenta berfikir ulang.
"Hmm, okey deh!."
Akhirnya rencana terakhir. Mereka hampir mendapatkan semua buktinya. Irfan juga meminta temannya masuk ke cctv perusahaan yang diduga tempat bagaimana Alenta dan Hendri menyalin tanda tangan Raffael.
*****
"Kamu kenapa minta aku ketemuan disini?." Tanya Amira agak kesal.
Amira datang seperti biasanya, namun kali ini tidak memakai kaos oblong. Celana kulot yang dipadukan dengan sweater.
Ya, walaupun itu membuatnya tampak sedikit gemuk, namun Amira sangat cantik memakainya. Bahkan tanpa menggunakan makeup.
"Nggak ada! Ngajak makan aja!." Raffael tersenyum ditengah hati berkecambuk Amira.
'Aku tahu kamu bawa cewek itu kesini! Makanya aku marah sama kamu! Tapi kenapa kamu nggak peka sih Ell?? Ihhh jadi kesel!.'
"Hey! Sayang!!!." Mereka berdua cipika-cipiki didepan Amira.
'iuhhh!!!' ternyata Amira dan Raffael sama saja.
"Kamu kok baru Dateng? Dari tadi kemana?." Tanya Raffael sok mesra dengan Alenta.
"Maaf ya, tadi lagi ke salon! Masa ketemu pacar sendiri nggak make up cantik!." Kata Alenta yang ingin menyindir sekaligus membanggakan diri sebagai pacarnya Raffael.
Mereka berdua berbicara dengan mesra didepan Amira. Sementara Amira hanya bisa diam seribu bahasa.
Ada rasa kesal sih, tapi harus apa? Pikirannya benar-benar kosong kali ini. Hanya ada kata cemburu, cemburu, dan cemburu.
Akhirnya Alenta meminta izin ke toilet. Momen yang sangat dinantikan Raffael.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya!."
"Oh iya sayang!!." Mereka saling melempar senyuman yang membuat Amira semakin panas.
Namun, tanpa diduga, Raffael mengusap-usap tangan dan wajahnya seakan bereaksi jijik terhadap hal yang barusan dilakukannya.
"Sayang! Marah ya?." Tanya Raffael sedikit manja padanya.
Amira masih memonyongkan bibirnya. Tak mau bicara sama sekali.
"Sayang, maafin dong!!." Rayu Raffael sekali lagi.
"Kamu bilang cintanya sama Lily dan Amira! Kemana tuh??." Ucapnya tanpa basa-basi.
"Sayang, jangan ngambek dulu, nggak kayak gitu! Nanti aku jelasin kok!." Bujuk rayunya lagi.
Amira meninggalkan restoran itu. Dengan perasaan kesal, sedih, marah, cemburunya mengingat kemesraan mereka.
"Aduh!!! Si ayang cemburu lagi!." Kata Raffael.
'aku kan udah dapet bukti banyak setelah kemarin suruh orang ngehack cctv rumahnya Alenta.'
'eh, malah dicemburuin sama si ayang!.'
Alenta pun kembali. Dia terheran-heran kenapa hanya ada Raffael di meja. "Amira kemana, Sayang,"
"Dia pulang, ada urusan kayaknya!." Kata Raffael dengan santai.
"Yaudah, Kita pulang aja yuk! Udah kesiangan! Aku harus jemput Bianca nih, dia pulang siang soalnya!." Kata Raffael mencari celah untuk pergi.
"Hhh, yaudah deh!."
*****
Dalam perjalanan, Amira melihat Bianca berada di trotoar kampus. "Irfan, Berhenti!." Irfan pun menurutinya.
"Bianca?." Kata Irfan.
"Kamu intai dia?." Tanya Amira menerka yang dilakukan Irfan selama ini.
"Iya, Non! Kok bisa tahu?." Tanya Irfan yang sedikit terkejut.
"Kamu sukanya sama Bianca atau Fara sih?." Tanyaku lagi.
"Ma-maksud Nona Amira apa?." Katanya tak mau mengakuinya.
Bianca menunggu mobil jemputan Affandi yang belum juga datang. Namun, sekelompok orang laki-laki mendekatinya.
"Bianca!." Seorang pria memanggilnya diantara keempat orang itu.
"Ap-apa?." Bianca ketakutan. Entah apa yang selama ini dilaluinya.
"Kamu mau jadi pacar aku, atau ikut kami!." Ancam pria itu.
Sepertinya Bianca pernah menolaknya. Karena sudah beberapa kali ditolak, pria itu pun mengambil langkah berbahaya.
"Eng-enggak!!." Teriaknya dengan ketakutan.
Bianca menundukkan kepalanya. Menangis sesenggukan dan berharap ada yang menolongnya.
Para pria itu menarik paksa bahkan sedikit menyeret Bianca yang tak hendak bergerak.
"Eh, Fan Fan! Turun! Ayo tolongin!!." Kata Amira yang sudah panik melihat keadaannya.
"Iya Nona!." Mereka berdua pun turun.
Namun, para pria itu sudah menarik Bianca ke gudang. Irfan dan Amira pun mengikuti.
Saat sudah hampir sampai ke gudang, Bianca menangis tersedu-sedu dan para pria itu mencengkram tangan dengan sangat kuat.
"Hei! Lepasin Bianca!." Kata Amira.
"Gimana kalo kita nggak mau?." Kata pria itu menyeringai.
Tanpa basa-basi, Amira menendang kepala ketiga pria itu. Dan genggaman itupun terlepas. Bianca segera berlari dan memeluk Amira.
"Kak Mira, hiks hiks!!." Panggilnya sembari menangis.
"Udah, jangan nangis!." Tutur Amira membelai lembut rambut Bianca.
"Irfan! Urusin ya? Perlu bantuan nggak??." Tanyanya.
"Tidak perlu, Nona! Saya bisa atasi!." Irfan melawan mereka dengan sangat mudah. Mereka pun segera pergi dari hadapan Irfan.
"Kak! Kok tahu aku disini?." Tanya Bianca yang tampaknya masih syok dengan apa yang terjadi.
"Tadi kakak lewat sini, dan lihat kamu sendirian! Jadi, suruh Irfan Berhenti dulu deh!."
"Nona, kita pulang! Tuan besar sudah menunggu!."
Mereka pun beranjak pergi. Namun, setelah berada di trotoar, Sania mencegat.
"Eh Lo!!!! Apa yang Lo lakuin sama Bianca??? Kenapa dia nangis begitu??." Tanya nya sembari menarik Bianca.
"Tadi..."
"Lo tuh emang beda ya sama kak Alenta! Jahat!!."
Amira hanya bisa menghela napas. Sementara Bianca mencoba menenangkannya.
"Kak! Tadi kak Amira selamatan aku dari Doni! Doni mau celakain aku kak! Hiks hiks!." Kata Bianda.
Sania tampak bersalah. "Maaf! Aku nggak tahu kalo kamu yang selametin Bianca!."
Amira tersenyum. Senang rasanya memiliki kedua adik yang saling melindungi seperti mereka.
"Mau pulang kemana?." Tanyanya yang tahu kalau rumahnya sudah diambil oleh musuh Raffael.
"Nggak tahu kak! Dari semalem kita, sama Affandi di hotel! Karena diusir orang-orangnya rival bisnis kakak!." Kata Bianca.
"Kalian ikut kami ke rumah!." Kata Irfan tiba-tiba.
"Tapi gimana sama Affandi?." Tanya Sania yang menginginkan kehadiran Affandi.
__ADS_1
"Dia sedang menyelidiki kasus ini! Jadi pasti belum sempat jemput kalian! Nanti Tuan besar yang akan beritahu!." Kata Irfan.
"Tuan besar?." Tanya mereka kebingungan.
"Tuan besar kami itu Tuan Wirawan! Bukan ayah kalian!." Jelas Irfan.
"Yuk naik!!."
Amira besadi diantara kedua gadis itu. Sementara Irfan menyetir di depan.
Saat perjalanan pulang, Bianca terus saja memeluk Amira. Dan Amira tak keberatan dengan itu.
"Bianca kalo mau tidur, tidur aja! Nanti kalo Sampek kakak bangunin!." Ucapnya melihat Bianca yang masih menangis.
Bianca mengangguk. Kini, dia menutup matanya dan perlahan tertidur.
"Makasih ya,,, k-kak! Udah selametin Bianca!." Kata Sania yang masih kaku dengan panggilan kak.
"Kalo belum terbiasa nggak usah panggil kak!." Ujarnya.
Sania mulai tersenyum. Sepertinya sekarang dia mulai nyaman dengan Amira.
Selang beberapa menit, ponselnya berbunyi. "Ha? Raffael?."
"Halo?." Ujarnya sedikit dingin.
"Kak, load speaker!." Bisik Sania padanya.
Sekarang, Load speaker sudah diaktifkan.
"Sayang, kamu jemput Sania sama Bianca?." Tanya Raffael dengan senang.
"Iya!." Tetap dingin.
"Jangan dingin-dingin gitu dong sayang!." Ucapnya sedikit manja.
Sania dan Irfan yang mendengarnya menahan tawanya.
"Tudep aja kenapa sih?." Katanya masih ketus.
"Jangan ngambek kenapa sih?." Amira semakin panas mendengar kata-kata itu.
"Hih! Udah, Lo lanjut aja sana pacarannya! Nggak usah gangguin Gue!." Katanya dengan tegas.
"Nggak pacaran loh!." Kata Raffael sedikit murung.
"Gue nggak peduli!." Amira kembali mendingin.
"My Lily," Raffael mencoba merayu. Namun, Amira malah Tampak sedih mendengar panggilan itu.
"Iya," Rasanya ia ingin menangis.
"Jangan sedih, nanti aku jemput mereka ya? Sekalian ketemu!." Katanya juga ikut sedih.
"Nggak usah! Nanti ayah marah!." Katanya yang tetap sedih.
Amira langsung menutup sambungan itu.
"Kak, boleh aku tanya?." Sania sedikit ragu.
"Iya? Kenapa?." Amira tampaknya sudah tak bisa menahannya. Ia menitihkan air mata.
"Apa, Lily yang dimaksud kak Raffa itu,,,, kamu kak?." Amira mengangguk.
Sekarang Amira diam seribu bahasa. Diam tak berbicara lagi. Tetap menunduk.
"Kak, Maafin aku ya selama ini aku udah jahat sama kakak!." Katanya ikut menangis.
"Aku nggak nyangka kakaklah yang udah mengubah hidup Kak Raffa!." Sania merasa sangat bersalah.
"Kenapa emangnya?." Tanya Amira masih dengan sesenggukan nya.
"Setelah ibu meninggal, Kakak makin menutup diri. Dia terus aja murung, bahkan Sampek nggak mau keluar kamar." Jelasnya.
"Kakak juga nggak mau makan sampek sampek selalu dibawain makanan waktu jam istirahat di sekolahnya!."
"Kakak jadi sering di-bully! Dan kata kakak setelah ketemu Lily, dia pengen kayak Lily! Jadi pemberani gitu deh! Yah, walaupun masih sesukanya sendiri sih Sampek sekarang! Kakak juga jadi sering senyum!." Kata Sania.
"Ha? Kenapa kak," Kata Sania sedikit tak setuju.
"Itu karena dia mau merubah setelah melihat kekuatan orang lain!." Jelasnya merendah.
"Tapi kan tetep aja kak, kalo nggak kakak mungkin dia nggak begitu," Kekehnya.
"Kalo semisal dia gitu karena nggak mau kamu sedih gimana?." Sania merenungkan.
"Yang pasti, kakak kamu sayang kalian berdua!." Amira masih tak tersenyum. Sementara Sania tertiba memeluknya dengan hangat.
*****
"Ayah!." Amira dan yang lainnya memasuki rumah.
"Iya? Loh, kalian?." Kata Ayah melihat kedua bocah itu.
"Hehe, maaf ya Om, kita nginep!." Kata Bianca sedikit tergelak.
"Sejak kapan kamu panggil saya Om?." Kata Ayah.
"Ya sejak sekarang," Sania menimpali.
"Yaudah! Sana ke kamar! Irfan! Minta yang lain ambil barang-barang mereka!."
"Baik Tuan!." Kata Irfan dengan Formal.
"Ayah kira kamu kasih mereka ke Raffael!." Ayah sedikit kesal tampaknya.
"Kejauhan yah, lagian kasiha Bianca! Tadi hampir dijahatin sama temennya! Makanya aku bawa kesini, biar agak tenang!."
Ayah mengangguk mengerti. Sepertinya memang lebih baik dia kesini. Agar dia bisa istirahat lebih cepat.
"Kak!."
"Kenapa san?." Tanyanya melihat Sania yang keluar dengan muka masam.
"Bianca tidur pules banget! Aku nggak bisa tidur siang gara-gara kakinya kemana-mana!." Jelasnya sedikit kesal.
"Oh, yaudah! Kamu tidur di kamar kakak aja!." Ujarnya.
"Iya kak! Makasih ya?." Sania beranjak ke kamar Amira.
Saat Sania sudah masuk, ayah langsung membahas tentang Raffael. Tampangnya sangat serius. Seperti ingin membahas ekonomi negara saja.
"Terus gimana sama Raffael?."
Amira tersenyum masam. "Dia juga ajak cewek itu, Yah! Tapi, dari gelagatnya waktu Alenta izin ke toilet sih, dia ngerencanain sesuatu!."
"Kamu nggak cemburu?." Ayah malah menggodanya.
Dia tahu, Raffael dan Alenta itu sangat mesra. Jadi, mana mungkin Alenta melewatkan nya. Tentu saja, untuk membuat Amira semakin panas.
"Ayah ihhh!!!."
Tok tok tok. Suara pintu diketuk.
"Ayah!!." Apa? Suara Raffael? Kenapa dia kesini?
"Masuk!!." Sambut ayah dengan tegasnya.
"Ayah, Sania sama Bianca nya ada?." Tanya Raffael.
"Lagi tidur! Nanti aja! Duduk sini?." Hah? Apalagi ini? Ayah seperti menyambut hangat Raffael ke rumah.
Yah, walaupun Amira masih kekeh dengan sikap dinginnya.
'Masih sama manisnya kayak dulu,' Batin Raffael sembari tersenyum melihat Amira.
"Gimana? Kamu bener-bener mau ngelakuin itu?." Tanya Ayah seperti sudah menjadi penguasa.
"Iya yah! Karena aku ngajak dia keluar! Jadi perhatian dia teralihkan! Dan kita udah punya buktinya! Laporan ke pengadilan berjalan lancar!!." Jelasnya.
"APA??." Amira teriak. Jadi semua ini hanya untuk mengembalikan hartanya itu!
"Ayah juga dapat kabar baru! Ibunya Hendri tenyata dulu semasa nenekmu menjabat dia memberikan pinjaman hutang sama nenek! Terus sekarang menumpuk jadi banyak! Kemungkinan rumah kamu nggak bisa kembali!."
__ADS_1
"Hah??? Yang bener yah?." Raffael Syok.
"Iya, dari data perusahaan yang lama, perusahaan mengalami krisis keuangan!." Terang Ayah.
"Dan ada sejumlah pemasokan uang dari perusahaan investor! Dan belum dibayar semua!." Terusnya.
"Haih!."
"Kakak!!." Sania keluar. Dia memakai handuk di kepalanya dan mantel mandi.
"Sania? Kamu ini malu-maluin banget sih! Sana pakek baju!!." Gerutunya pada sang adik.
"Kan bajunya belum Sampek kak!." Protes adiknya.
Amira tersenyum. Sudah lama tak melihat mereka berdebat seperti ini.
"Yaudah, San pakek baju yang di lemari ku aja sana! Tapi nggak ada yang dress ya? Celana semua!." Jelasnya.
"Okey kak!." Sania pun kembali.
Sementara Raffael terheran-heran kenapa dia memanggil Amira Kak. Karena biasanya dia sangat benci dengan Amira.
"Tumben panggil kak!." Katanya.
"Aaaa!!!." Terdengar teriakan dari kamar tamu. Kamar yang digunakan Bianca sekarang.
"Bianca??." Kata Raffael khawatir. Mereka bertiga pun masuk ke kamar itu.
"Bianca!! Kenapa sayang?." Kata Raffael memeluk sang adik.
"Kakk! Aku mimpi dijahatin sama Doni! Hiks hiks." Tangisnya.
"Kenapa?." Tanya Raffael kepada Amira.
"Dia tadi hampir di..... Itu pokoknya dijahatin lah sama temennya!." Kata Amira.
"Sayang, adiknya kakak! Tenang ya? Nggak lihat kakak disini?."
Bianca masih menangis histeris. Setelah beberapa lama, barulah dia tenang.
"Kak Mira! Makasih udah tolongin aku! Aku nggak tahu kalo nggak ada kakak aku bakalan kayak apa sekarang!." Bianca masih sedikit terpukul.
"Bianca! Kakak tahu yang kamu alami itu nggak mudah! Tapi, coba buat bersyukur karena kamu udah ada disini sekarang!."
"Kakak kamu nggak akan biarin Doni deketin kamu lagi!" Amira mengelus kepala Bianca dengan lembut .
"Nggak mudah sih mungkin, tapi dengan bersyukur kamu bakalan lebih bahagia dan melupakan itu semua! Pelan-pelan aja nggapapa!." Kata Amira.
"Tapi kak???"
"Nggak mudah, tapi kamu coba dulu!." Kata Amira.
"Kapan libur akhir tahunnya?." Amira berinisiatif mengajak kedua adiknya untuk berlibur.
"Ehh, Lusa kak! Emangnya kenapa?."
"Lusa ikut kakak ke Villa ya? Liburan!!." Bianca tersenyum. Kakaknya yang satu ini ternyata sangat baik.
"Iya kak!." Tapi, dia berfikir sejenak.
"Kak, yang ikut siapa aja?." Sepertinya Amira tahu apa yang dipikirkannya.
Amira menaruh jari kemari tangannya di pinggang. "Nggak usah terlalu berharap!! Irfan dikasih tugas sama Ayah!." Katanya to the points.
Pipi Bianca memerah karena perkataan Amira tepat sasaran. Sudah dua kali Irfan menyelamatkannya. Dengan gaya yang sama pula. Dingin namun hangat. Atau, sebaliknya ya? Entahlah.
"Apasih kak!." Amira tersenyum. Lagi-lagi cinta segitiga. Dan laki-laki yang harus menentukan pilihannya.
"Oh, Bianca suka sama Irfan?." Goda sang kakak kepadanya.
"Ihh enggak kak!!." Bianca semakin memerah. Ahh, kakak ini!!!
"Hahahaha,"
"Yasudah! Raffael, kamu Ayah bebasin! Kamu boleh kembali lagi setelah hasilnya keluar! Dan kamu, wajib sekali memutuskan hubungan sama Alenta!." Kata Ayah sejelas-jelasnya.
"Loh, setelah keluar Yah? Nggak sekarang aja?." Protesnya.
"Enggak! Kamu pasti masih disuruh ketemuan terus sama cewek itu sebelum kasusnya selesai!." Kata Ayah tak memberi keringanan.
"Tapi kan yahhh!!." Gerutu Raffael sekali lagi.
"Udah! Jangan bawel! Mau Ayah tambahin?." Ancamannya.
Raffael menghela napasnya. Jadi dirinya harus menyendiri lagi? Ah, itu tak adil.
"Nggak usah khawatir! Palingan besok juga selesai! Saham sama perusahaan kamu akan balik! Tapi rumah kamu bakalan jadi miliknya Sarah Omero!." Kata ayah.
Raffael terlihat lesu. Rasanya ia tak sanggup menunggu lagi. Dia ingin sekali memeluk dan menikmati waktu bersama Amira.
"Sabar saja ya, siapa suruh buat salah!."
Amira berlalu keluar kamar, sementara Raffael menatap nanar ucapan Amira yang sebenarnya hanya bercanda tadi.
"Yah, boleh ya! Lagian kata Ayah tinggal besok kan?." Dia menggunakan Poppy eyes nya sebagai senjata.
Kita lihat, apakah mempan atau tidak wajah melasnya itu.
"Enggak! Ayah bilang besok ya besok!." Wah, ternyata ayah masih konsisten. Tidak goyah dengan bujuk rayunya si tengil Raffael itu.
"Hhh, aku nggak peduli! Malam ini aku mau tidur disini!."
Raffael beranjak keluar dan menggendong tubuh Amira yang sedang asyik menonton tv.
"El, kamu ngapain sih?." Amira mencoba turun, namun tangan kekar Raffael tak mampu dilepasnya.
"Aku mau tidur siang! Kamu tidur sama aku ya?." Raffael tersenyum. Arti dari sebuah senyuman penuh cinta.
Amira pun ikut tersenyum. Namun, dengan segera menggelengkan kepala melihat tingkahnya itu.
"Eh, Raffael! Dasar bocah tengil kamu ya!!." Teriak Ayah dari belakang, sebelum mereka masuk ke dalam.
*****
Raffael langsung saja membanting tubuhnya ke kasur, dan memeluk Amira dengan hangat.
"El, kamu nggak denger? Ayah marah itu, nanti kalo dihukum ayah gimana?" Katanya khawatir.
"Biarin, yang penting bisa peluk kamu!"
Raffael mencium wajah Amira dari segalah sisi, membuat Amira tertawa kegelian.
"Ahahahah, udah El, udah, ahahha" Raffael ikut tersenyum melihat keceriaan Amira.
Sangat jarang Amira menunjukkan keceriaannya seperti ini. Rasanya, seperti menikmati keindahan lain di dunia ini.
Jeglek. Suara pintu terbuka. "Aaa!!! Kakkk!!."
Sania berteriak. Melihat Raffael yang hendak menimpali Amira.
Mereka berdua menutup telinga karena teriakannya begitu kencang. Untung kamar itu ada kedap suara.
"San, ngapain kamu disini?" Gerutu kakaknya.
"Ya mandi lah, udah tahu dari kamar mandi!" Kata Sania tak kalah kesalnya.
"Terus kakak ngapain? Ini siang-siang loh kak! Jangan macem-macem deh!" Protesnya.
"Nggak ada, orang mau tidur peluk Mira kok!" Jawabnya dengan cepat.
"O-ohh, hehe! Kirain kak!"
"Udah keluar sana! Kakak mau tidur siang!" Usirnya. Sania keluar dengan menghentakkan kakinya keras sekali.
Sementara, Amira memandangi kepergian Sania. "Ngapain disuruh keluar?" Tanya Amira.
"Aku mau sama kamu!" Jelasnya.
"Iya, tapi kan nggak gitu juga kan ngusir nya? Sama adik sendiri juga," Gerutu Amira.
"Udah ah! Sayang,,," Amira mengeriyitkan dahinya.
"Tidur yuk!" Pintanya pada Amira.
__ADS_1