Mencintaimu Kembali

Mencintaimu Kembali
Apa!? Ibu kesini!?


__ADS_3

Pagi hari, di Bandara internasional. Terlihat seseorang turun dari pesawat, dengan membawa sebuah koper, dan tas kecil entah apa isinya. Ia adalah wanita paruh baya berpenampilan sederhana yang tak lain adalah Maya. Ibunya Amira.


Usia yang kini tidaklah terbilang tua , dan juga tidak muda lagi, namun tetap terlihat cantik itu menuruni tangga pesawat, dengan anggunnya walaupun pakaian yang ia kenakan tidaklah mewah.


Ia terlihat seperti sedang mencari keberadaan seseorang.


"Aghh dimana Wirawan!? Dia bilang, dia akan menjemputku jam setengah tujuh pagi!! Tapi, kenapa tidak kelihatan batang hidungnya!? Apa dia lupa!?". Gumamnya sambil melihat kesana kemari.


"Mayaaaaa!!". Teriak seseorang yang sedang berlari dari kejauhan. Pria paruh baya itu sangan kelelahan karena berlari.


"Hhah hhah hhah hah!!". Wirawan


"Eh- eh sebentar! Kuambilkan minum dulu ya!!". Ucap Maya sambil mengambil botol minum dari tas yang ia bawa.


"Ahh ini!! Tenanglah! Minum pelan pelan!!". Ucapnya.


"Hhahh maafkan aku!! Tadi, jalanannya sangat macet!! Banyak anak-anak yang diantar oleh orang tuanya di sekolah!! Tidak seperti biasanya!!". Jelasnya panjang lebar pada Maya.


"Hhhaha tidak apa-apa!! Lagipula aku juga baru turun tadi!!". Ucap Maya dengan lembut.


"Ehh apa Amira juga datang!?". Tanyanya pada Wirawan.


"Aku tidak tau! Sepertinya tidak! Kau taukan sekarang Raffael yang bertanggungjawab atasnya!?". Kata Wirawan.


"Hh iya!! Nanti kita kesana ya!? Aku sangat menyesal karen harus pergi sebelum pernikahan itu terjadi!!". Kata maya dengan nada sendu.


"Lebih baik kita segera pulang dan membereskan barang-barang mu!! Baru nanti kita kerumahnya Mahendra!! Aku tidak enak jika kesana terlalu pagi!!". Jelasnya.


...----------------...


Di Kediaman keluarga Mahendra. Mereka tengah menyantap sarapan mereka dengan tenang dan tertib di meja makan. Tidak ada yang mau bicara, ataupun ingin basa-basi dengan satu sama lain. Termasuk, Amira dan Ayah mertua yang bisa dibilang lumayan akrab di rumah itu.


*Haishh!! Menyebalkan!!_- aku bertanya boleh pergi atau tidak, malah disuruh menjadi babu ditengah malam!! Akukan hanya ingin melihat ibuku!!_-*. Amira.


Apa yang ada didalam pikiran Amira itu benar. Bagaimana ia tidak kesal!? Setelah Raffael membersihkan diri, Amira berulangkali menanyakannya, dan malah disuruh mencuci pakaian, memijat kaki, dan bahkan disuruh membersihkan kamar mandi malam-malam.


*Melihat wajahnya rasanya ingin sekali aku mencabik-cabiknya!! Kenapa sih!? Kak Raffa tidak menikah dengan kak Alenta saja!? Bukankah dia jauh lebih pantas dibanding gadis ini!?*. Batin Bianca selagi menyantap sarapan.


*Hhah!! Apa ya yang bisa kulakukan agar Gadis itu pergi dari rumah!?*. Sania.


Semuanya tengah menyelesaikan sarapannya. Ayah telah pergi lebih dulu ke kantornya. Sementara ketiga anaknya, ada di rumah. Kenapa Sania dan Bianca tidak pergi kuliah!? Nampaknya kampus mereka meliburkan para mahasiswanya. Sehingga Sania dan Bianca masih di rumah.


...----------------...


Raffael tidak ingin atau tepatnya malas berangkat bekerja. Maka, Affandi lah yang harus menggantikan posisinya dalm keadaan seperti ini.


Raffael tengah duduk diatas ranjang, memainkan HPnya. Sedangkan Amira ada di Sofa mengotak-atik laptopnya. Di selang kegiatannya,Amira kerap kali meliriknya, dengan tatapan kesal.


Raffael melirik Amira sekilas. Ia tau Amira sedang kesal dengannya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu!?". Tanya Raffa dengan wajah datar.


Amira mendekati Raffael, dan duduk di sebelahnya. Ia menatap Raffael dengan tatapan lekat dan sendu.


"Apa aku boleh pulang untuk hari ini saja!? Aku sudah izin cuti pada Mito kemarin". Tanya Amira.


"Pulang!? Bukankah kau sudah berada di rumahmu sekarang!? Mau pulang kemana lagi sekarang!?". Tanya Raffael tetap fokus pada layar HP nya.


* Rumahku!? Rumahku darimana!? Ini rumahmu bukan rumahku!! Aku hanya numpang disini!!*. Batin Amira kesal.


"Maksudku rumah orangtuaku!!". Kata Amira.


"Untuk apa!?". Tanya Raffael tanpa melirik Amira sedikitpun.


*APA!? JADI DIA TIDAK MENDENGARKAN KU KEMARIN!?*. Batin Amira.


Melihat wajah Amira yang sangat kesal, membuat Raffael tersenyum puas melihatnya. Ia sengaja membuat Amira kesal dan melihat reaksinya. Namun sayangnya, Amira tidak menunjukkan reaksi yang cukup membuat Raffael puas dengan tindakannya.


"Aku ingin menemui ibuku!! Hari ini dia pulang ke rumah!!". Kata Amira, dengan kesal.


"Hmm imbalan apa yang akan kau berikan jika aku mengizinkanmu pulang!?". Tanya Raffael dengan wajah tanpa dosa.


*Hadeuhh!! Mau pulang saja harus ada imbalannya!!*. Batin Amira dengan kesal.


"Hmm imbalan apa ya kira-kira!?". Tanya Raffael pada dirinya.


Amira terus saja mengumpat dalam hatinya. Tak peduli apa yang dikatakan Raffael untuk mencari imbalan yang tepat, untuk Amira.


*Dasar pria menyebalkan!! Tinggal izinkan saja masih banyak cek-cok pula!!*. Batin Amira.


"Aghh!! Bagaimana kalau tubuhmu saja!?". Ujar Raffael seraya memasang wajah liciknya dihadapan Amira.


* APA!? Apa dia Gila!? Kau sudah menyuruhku jadi pembantu, dan sekarang menginginkanku untuk kedua kalinya!? Sepertinya kau ingin membuatku mati dirumah ini ya hha!?*. Batin Amira yang semakin berkobar api dalam hatinya.


Raffael tidak peduli lagi dengan apa yang dipikirkan Amira kali ini. Dia mulai melepas kancing bajunya, dan memberi sentuhan lembut, walaupun Amira terdiam membisu di tempatnya.


...----------------...


Hingga satu jam kemudian.....


Ding dong ding dong.


Bell rumah berbunyi dengan begitu kerasnya.


"Hha!? Tumben sekali ada yang datang di pagi ini!! Apakah itu rekan kerjanya tuan Raffael!?". Tanya pak Amdan pada dirinya yang tengah menugaskan beberapa pelayan melakukan bagiannya.


"Ehh kalian lanjutkan pekerjaan yang belum kusebutkan!! Aku akan membuka pintunya!!". Perintahnya pada seluruh pelayan.


"Baik pak!!". Ucap pelayan yang tersisa itu serentak.

__ADS_1


Para pelayan membubarkan diri dan mulai melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


Pak Amdan segera berlari dan membuka pintunya, melihat siapa kira-kira yang datang pagi ini. Mengingat, biasanya tidak akan ada yang datang kerumah selain perintah tuannya.


Jeglek.


"Ohh tuan Wirawan dan Nyonya Maya!? Silahkan masuk!!". Ucap pak Amdan dengan ramah.


Pak Amdan sudah terbiasa memanggil kedua orang itu dengan sebutan seperti itu. Tuan dan Nyonya. Karena walaupun Eirawan hanyalah asisten pribadi Mahendra, Wirawan lebih berkuasa, dan ditakuti dibanding Mahendra. Sementara Maya, ia adalah orang yang mendidik ketiga anak Mahendra setelah Nyonya besar, Alias istri Mahendra tiada.


Namun, nampaknya ketiga anaknya itu tidak tahu kalau Maya adalah istrinya Wirawan.


"Baik!! terimakasih pak Amdan!!". Ucap Maya.


Mereka bertiga lalu masuk ke dalam rumah mewah Mahendra. Mereka duduk di ruang tamu, yang tersedia tidak jauh dari ruangan lainnya.


"Sebentar Akan saya panggilkan tuan muda!!". Ucap pak Amdan seraya membungkuk dan pergi.


Silang beberapa menit, Sania dan Bianca melihat ada orang yang tidak asing bagi mereka.


"Ehh Bi!! Itu Lihat!! Bukankah itu Ibu Maya!?". Tanya Sania pada Bianca.


"Hha!? Ehh iya!! Ayo kita kesana!!". Ucap Bianca dengan Antusias.


Mereka segera berlari meninggalkan tempat mereka berdiri, da segera menuju ke ruang tamu.


"BU MAYAaaaAaa!!". Teriak keduanya secara serentak.


"Ehh Sania, Bianca!?". Ucap Maya dengan senyum lebar di bibirnya.


"Bu Maya!! Aku kangen sama ibu!!". Ucap Bianca dengan manja.


"Ouhhb ibu juga kangen sama kalian!!". Jawab Maya.


Mereka bertiga berpelukan, layaknya ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu.


"Ehiya!! Dimana kakak kalian!?". Tanya Wirawan.


"Ehh tidak tau!! Sepertinya kakak tidak berangkat kerja!! Mungkin ada di kamar atau ruang kerjanya!!". Jawab Bianca.


...----------------...


Tok tok tok!!


"Tuan Muda!! Ada Nyonya Maya dibawah!! Apakah anda akan turun!?". Tanya Pak Amdan dari luar kamar, tidak ingin mengganggu yang ada di dalam.


***Yang di dalam***


"Hha!? Ibu datang!? Bukankah dia akan datang beberapa minggu lagi!?". Tanya Raffael pada dirinya sendiri, yang terus melakukan aktivitasnya.


*Siapa Nyonya Maya!? Dan kenapa Raffael bilang Ibu!? Apa itu ibunya Raffael!? Bukankah ibunya sudah meninggal!? Aghh masa bodoh!! Aku harus lepas dari cengkeraman tangannya dulu!!*. Amira.


"Lepaskan aku!! Ada pak Amdan diluar!!". Bisik Amira dengan kesal.


"Hha!? Benarkah!? Kapan kau menguncinya!?". Tanya Amira tak percaya.


"Aghh sudahlah!! Yang penting dia tidak masuk!!". Bisik Raffael.


*Aku sudah mendapatkanmu dan kau mau melepaskannya!? Heuh maaf ya! Tidak bisa!!*. Batin Raffael.


"Tuan!!". Teriak Pak Amdan dari luar kamar.


"Tinggalkan saja pak!! Mungkin saat ini Ibu bersama Sania dan Bianca!!". Jawab Raffael.


"Baik tuan!!". Teriak pak Amdan dari luar kamar.


Pak Amdan sudah pergi. Raffael tidak bisa berhenti menikmati tubuh Amira begitu saja. Dan Amira!? Dia masih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Raffael.


"Euhh!! lepaskan!! Aku mau pulang!! Aku mau menemui ibuku!!". Amira.


"Besok saja!! Aku akan mengijinkanmu jika aku sudah puas main!!". Ucap Raffael dibarengi dengan memincingkan bibir kanannya.


...----------------...


Maya terus saja mengobrol dengan Sania dan Bianca, melupakan tujuan utamanya datang kesini. Saking asyiknya, ia melupakan bahwa suaminya diam saja duduk membisu di sebelahnya.


Saat itulah pak Amdan kembali. Semuanya langsung menoleh kearahnya. Dengan tatapan bertanya-tanya, seperti menanyakan dimana yang kami tunggu!?.


"Maaf Nyonya!! Sepertinya tuan mudah sedang sibuk dikamarnya!! Dia bilang 'Tinggalkan saja pak!! Mungkin saat ini Ibu bersama Sania dan Bianca'!!". Pak Amdan menirukan Raffael.


"Hmm baiklah!! Aku akan keatas!! Dia tidak akan keberatan kan? Jika ibunya masuk ke kamarnya!?". Maya.


"Ehh apa perlu saya temani Nyonya!?". Tanya pak Amdan takut ia akan dimarahi kalau ada yang masuk tanpa izin.


"Tidak usah pak!! Aku sudah terbiasa!! Jika dia memarahimu, katakan saja padaku!!". Ucap Maya sambil menuju ke kamar Raffael sendirian, tanpa Wirawan.


...----------------...


"Aghh tidak bisakah kau berhenti!? Aku benar-benar ahh!!". Amira.


"TIDAK BISA!!". Raffael.


*Aghh kenapa pria ini Rakus, licik, dan tidak punya akal sih!! Ayah!! Selamatkan aku dari maut yang satu ini!!*. Amira.


Tok tok tok tok.


"Pak!! Akukan sudah bilang!! Nanti saja!! Aku sedang sibuk!!". Teriak Raffaek yang meengira bawa yang mengetuk pintu itu pak Amdan.


"Raffael!? Ini ibu nak!!". Ucap Maya dari luar.

__ADS_1


*Apa!? Itukan suara ibu!! Kenapa ibu kesini!?*. Amira.


"Gawat!! Itu ibu Maya!! Aghh bagaimana ini!?". Ucap Raffael perlahan namun penuh rasa khawatir.


Raffael dengan sesegera mungkin memakai celananya, dan segera menutupi tubuh Amira dengan selimut.


"bu Maya masuk ya!?". Kata Maya sambil memutar gangang pintu.


Krekkk. Jeglek.


Pintu dibuka dengan perlahan, tepat saat Raffael telah duduk diatas Ranjang debgan celana pendeknya, dan menutupi seluruh bada Amira. Yahhh badan!! Raffael belum sempat menutup kepala Amira dengan selimutnya karena pintu terlanjur terbuka.


"Ehhh ahhahahahaha!!". Senyum canggung dari Raffael pun keluar.


*Hha!? Dia benar-benar Ibu!! Matilah aku!! Dimana keberadaan urat maluku sekarang ini!?*. Amira.


"Hehehe maaf!! Sepertinya, ibu mengganggu kalian ya!?". Tanya Maya.


"Ehh tidak kok bu!! Masuk saja!! Tidak apa-apa!! Ehhhehehe". Kata Raffael yang diakhiri dengan senyim canggung.


"Ohh benarkah!? Tapi....". Maya.


"Tidak apa-apa ibu!! Masuklah!!". Ucap Raffael sambil turun dari ranjang, dan menarik tangan ibu, tak lupa mengunci pintunya.


*Dia sungguh pria tidak tahu malu dan juga gila!! Bagaimana bisa dia menyuruh ibu masuk!? Dan dia juga mengunci pintunya!!*. Batin Amira geram+malu.


"Ehhh apa aku perlu temani ibu duduk!?". Tanya Raffael.


"Tidak!! Tutupi saja dadamu itu dengan selimut!!". Ucap Maya dengan sorot mata tertuju pada apa yang ia maksud.


Raffael lalu naik ke ranjang kembali, namun tidak menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia duduk dengan membiarkan dadanya terbuka. Maya hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkahnya itu.


Maya beralih melihat putrinya. Urat malu Amira nampaknya sudah ada di ubun-ubun. Amira langsung menarik selimutnya, dan membiarkan wajahnya tertutpi oleh selimut. Maya tertawa melihat itu. Ia tahu kalau putrinya sedang malu menampakkan wajahnya.


"Apa kau baik-baik saja sayang!?". Tanya Maya masih melihat Amira yang tertutup selimut.


"Siapa yang kau tanyai bu!?". Tanya Raffael.


"Amira!!". Kata Maya.


"Hha!? Amira!? Ibu tahu namanya!?". Tanya Raffael.


"Hhahahah bagaimana bisa aku tidak tahu nama putriku sendiri sih Raff!?". Tabya ibu sambil tertawa.


"Hha!? Putri!?". Tanya Raffael sambil bengong.


"Iya!! Putri!! Memangnya kau tidak tau!?". Tanya Maya.


*Jadi aku menikahi anaknya ibu Maya!?Ibu yang mendidikku setelah ibu kandungku tiada*.


Raffael seketika melihat kearah Amira. Ia mulai mengelus elus kepala Amira yang tertutup Selimut itu.


"Baiklah!! Sayang? Ibu akan segera pulang!! Karena tidak enak mengganggu kalian ya!!". Kata ibu dengan menggoda keduanya.


Raffael dan Amira sama-sama memerah setelah mendengarkan hal itu. Lalu, ibu yang sudah berdiri dan memegang kinci yang tergantung di pintu, dihentikan oleh Amira. Amira keluar dalam keadaan tengkurap dari sisi samping kiri ranjangnya.


"Tunggu ibu!! Bisakah ibu tetap disini!? Aku masih ingin bicara dengan ibu!!". Ucap Amira dengan manja.


*Aaaaa imutnya!!!! Kendalikan dirimu Raffael!! Kendalikan!!*. Batin Raffael yang tidak bisa tahan melihat tingkah imut amira.


"Hhahaha!! Sebaiknya kau kendalikan sikap manjamu itu pada ibu!! Lihatlah wajah suamimu itu!! Hhahahah". Ucap Maya melihat Raffael sudah tidak tahan lagi.


Amira melirik Raffael dan melihat wajahnya memerah karena ucapan ibunya itu. Sedangkan Maya, sudah membuka kunci dan membuka pintu, sehingga pintunya terbuka sedikit.


"Aaaaa IBU!!". Rengeknya yang terlihat kesal pada Maya.


"Ahhahaha baiklah!! Ibu tunggu dibawah saja ya!!". Ucap Maya.


Maya lalu keluar dari kamar Raffael, dan kembali menghampiri suaminya. Saat yang sudah keluar sangat bahagia, tetapi justru yang masih didalam malah memerah karena saking malunya.


Lalu Raffael membalikkan badan Amira yang masih dalam dekapan selimut, dan meletakkan tubuhnya diatas Amira.


"Apa kau sengaja menggodaku!?". Tanya Raffael dengan memincingkan bibir kanannya.


"Ti-tidak!!". Jawab Amira dengan nada terbata-bata dan wajah ketakutan.


*Aaaa seseorang!! Tolong selamatkan Aku!!*. Amira.


*Aghh bisa-bisanya aku belum puas dengannya!! Dia sangat membuat nafsuku bertambah!!*. Raffael.


Raffael hendak mencium bibir Amira. Kini bibirnya sudah bersentuhan dengan bibir Amira. Namun, dengan sigap Amira menghindar.


"Ak-aku mau mandi!! Ibu sudah menunggu!!". Kata Amira sambil duduk di tepi ranjang menyelimuti tubuhnya.


"Aghh!!". Amira kesakitan saat akan berjalan.


"Hei!? Perlu bantuan!?". Tanya Raffael sambil memincingkan bibir kanannya.


"Ti-tidak!! Aku bisa sendiri!!". Jawab Amira sambil mencoba berjalan.


Amira sudah sampai di wastafel. Ia menghidupkan shower, dan menaruh selimutnya ke keranjang pakaian. Ia mulai membasahi tubuhnya dengan air. Namun, dia lupa tidak mengunci pintunya.


Dengan mudah, Raffael membuka pintunya, dan melihat tubuh mungil Amira. Dia masuk, dan memeluk pinggangnya.


"Hha!!". Teriak Amira kaget.


Amira melihat, dibelakangnya ada Raffael yang menenggelamkan wajahnya di tengkuk Amira.


"Apa yang kau lakukan!? Ini geli!!". Ucap Amira.

__ADS_1


Amira terus saja bergerak kesana-kemari, agar Raffael mau melepaskan pelukannya. Namun, semakin lama, Raffael semakin erat memeluk pinggangnya dan malahan mencium tengkuknya. Seketika wajah Amira mengeriyit, dan tubuhnya juga merinding sendiri.


"Diam atau kita lanjutkan!!". Ujar Raffael sambil menaruh kepalanya di bahu kanan Amira.


__ADS_2