
matahari sudah naik ke atas. nampaknya sudah berkisar antara jam 11 sampai jam 11:30 siang. Penghuni utama rumah Wardana kini sudah dibawa ke kediaman keluarga Airlangga.
di dalam mobil mewah pribadi milik Raffael, hanya ada dirinya dan kedua adiknya. sementara Amira lebih memilih menaiki mobil ayahnya sendiri.
"hah! akhirnya bisa melihat rumahku lagi!." tutur Amira dengan suara lirih.
"hm? memangnya kenapa? kamu enggak suka, jika tinggal di sana?." tanya Wirawan dengan mata menyidik. sontak saja, Amira langsung kebingungan menjawabnya. pasalnya disana ia memang hanya akrab dengan Mahendra dan Laila saja.
"y-ya, bukan begitu sih ayah! kamu tahu kan aku sangat mencintai gambar sketsa ku?." ucap Amira dengan sedikit terbata-bata.
"dan.. kebanyakan, gambar sketsaku ada di kamar!." sambungnya dengan sedikit lebih tenang.
"ohh! begitu?." ucap Wirawan.
----------------
Sementara itu yang ada di dalam mobil Raffael,
"Untung saja kak Amira berada di mobil pak Wirawan! kalau tidak, aku enggak akan bisa menikmati perjalanan ini!." Lirih Sania yang masih bisa didengar oleh Bianca dan Raffael.
"ek-khem! apa kamu bilang?." Ucap Raffael dengan aura membunuh.
"eh? ehehe! enggak ada kak!." ucap Sania dengan sedikit kikuk.
Mereka melaju dengan kecepatan penuh. sebenarnya sih, Amira yang ingin cepat-cepat kembali ke rumahnya. maka dari itu, dia terus saja mendesak Ayahnya agar mengebut. mengingat perjalanannya juga sebentar, jadi mereka sampai lebih cepat dari biasanya.
"ahh akhirnya sampai juga!." ucap Amira saat menuruni mobil Ayahnya. ia berlari menuju pintu rumah dan terlihat seperti memeluk gagang pintu rumah itu.
"ha? ada apa dengan putrimu? apa dia sudah gila karena enggak bisa melihat hasil karyanya?." tanya Maya yang tak mendapatkan respon apapun dari sang suami.
"hei! aku sedang bicara padamu!." Bentaknya.
Akhirnya mobil Raffael tiba setelah susah payah mengimbangi kecepatan mobilnya Wirawan. dia ingin mengebut juga tapi takut jika tiba-tiba Wirawan berhenti mendadak.
"ahh! ayah! kenapa kamu mengebut? aku kelimpungan karena mu!!." Ucap Raffael yang baru keluar dari mobilnya.
"kenapa enggak mengimbangi kecepatannya?." tanya Wirawan dengan sorot mata tajamnya.
"ehh! enggak enggak hehe!." Raffael.
Merekapun menyusul Amira bersama-sama. terlihat Amira yang sangat bahagia saat ayahnya akan membuka rumah yang terkunci itu. Raffael, Sania dan Bianca terlihat kebingungan akan hal itu. Namun, tidak dengan kedua orang tuanya yang tau apa alasannya Amira bahagia.
__ADS_1
"eh? ada apa dengan mu?." tanya Raffael yang memandangi Amira dengan heran.
Bukannya menjawab, Amira malah langsung masuk dan meninggalkan kelima orang itu diluar. Tentu saja, dia langsung menuju kamarnya yang ia rindukan.
Dia membuka kamar itu. kamarnya ada di lantai satu. sedangkan kamar utama atau bisa dibilang kamar orang tuanya ada di lantai dua. di lantai satu dan dua ada masing-masing satu ruang keluarga. dan ruang tamunya berada tak jauh dari pintu. dapurnya pula, ada di paling pojok rumah itu beserta rung makannya juga. dan tepat di sampingnya ada ruang keluarga lantai satu.
Di rumah ini, tak ada kolam renang yang akan menemani Amira di waktu senggangnya. Namun, ada taman terbuka hijau tepat di depan kamarnya. dia melengkapinya dengan kursi cantik yang terbuat dari kayu beserta mejanya. Amira paling sering berada di sana.
Untuk kamar tamunya ada di depan ruang tamu. namun, kamar tamu di rumah ini hanya ada satu saja.
"ahh karyaku! aku merindukanmu!." Ucap Amira saat tiba di dalam kamarnya. ia segera menutup pintu, dan menempelkan tubuhnya di tembok yang berisi beberapa rancangan yang telah ia lukis dengan indahnya. sementara rancangan lainnya ia letakkan di dalam album.
----------------
Raffael, Wirawan, Maya, Sania dan Bianca duduk di ruang tamu. walaupun ruang tamunya tak selebar dan seluas milik mereka, namun ketiganya nyaman berada di rumah ini.
"wah! ayah, apa ayah suka mengoleksi lukisan mahal?." tanya Raffael yang melihat dinding ruang tamunya dipenuhi dengan lukisan mahal.
"hahaha, kamu tahu saja Raff!." ucap Wirawan sembari mendudukkan bokong di sofa.
Maya pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman segar kepada mereka. mengingat hari ini cuacanya sedikit lebih panas dari biasanya. nampaknya, ia menyiapkan es sirup rasa nanas yang merupakan kesukaan Amira. ia keluar dan menuju ruang tamu itu kembali.
"Amira? mungkin dia di kamarnya!." ucap Wirawan dengan santai saat minuman yang dibawa Maya diletakkannya di meja.
Raffael terlihat ragu akan suatu hal. itu membuat Wirawan meliriknya. " kenapa? jika mau menemuinya silahkan saja!." ucapnya.
"eh? hehehe! iya ayah, tapi aku enggak tahu kamarnya yang mana!." ucap Raffael dibarengi tawanya.
"oh? kamarnya? itu! kamu lihat kan, disana ada taman kecil? pintu di dekat taman itu adalah pintu kamarnya Amira!." Ucap Wirawan.
Raffael bangkit dan bergegas menuju kamar Amira yang tak dikunci itu. Dia sepertinya sangat bahagia saat melangkah. sampai-sampai membuat kedua adiknya yang tau perlakuannya itu menganga keheranan.
"ha? kakak kenapa ya?." bisik Sania pada Bianca namun tak dapat di dengar oleh Wirawan dan Maya.
"enggak tau! enggak biasanya dia seperti itu pada kak Amira!." Bianca juga menjawabnya dengan berbisik pula.
Raffael langsung pergi menuju kamar Amira. saat tiba di pintu, nampaknya ia sedikit ragu untuk memegang gagang pintu itu. sepertinya dia sedang membayangkan bagaimana kamar Amira saat ini. mengingat rumah Raffael lebih luas dan lebih megah, pastinya ia agak segan untuk menempati kamar yang dikiranya tak akan semewah kamarnya.
Namun, tetap saja akhirnya ia memutar gagang pintunya. dengqn perlahan namun pasti, dia sedikit mengintip ke dalam kamar itu mencari keberadaan Amira. saat mengintip kamar Amira, nampaknya kamarnya seperti biasa-biasa saja menurutnya. namun,ketika ia membuka pintu dan hendak masuk, ia terkejut sekaligus tertegun akan pemandangan yang ia lihat.
di atas tempat tidurnya terdapat tiga lukisan yang nampaknya paling besar di kamar itu.
__ADS_1
satu lukisan tumbuhan dipadukan dengan hewan liarnya, sedikit sentuhan kemewahan dan keanggunan yang diciptakan Amira dengan kuasnya serta beberapa teknik yang nampaknya memperindah lukisan tumbuhan itu.
Ada juga yang memperlihatkan gambar galaksi disana. namun, tak hanya satu galaksi, Amira membuat tiga galaksi yang diberi pembatas pada satu kertas gambar saja. dan yang terakhir adalah rancangan pakaian terbaiknya yang sudah ia berikan warna yang menambah kesan indah pada rancangan pakaiannya.
ada juga lukisan yang lainnya. namun, tiga lukisan yang berada tepat di atas tempat tidur lah yang paling mencolok dan paling indah.
Raffael yang terkesima dengan lukisan indah di dinding kamar Amira tak sadar bahwa Amira sudah melihat kehadirannya sedari tadi. Nampaknya, Amira barusaja selesai mandi. kini, ia sudah memakai kaos oblong dan celana trainingnya. hanya tinggal satu hal yang belum ia lakukan, yakni menyisir rambutnya.
karena Amira tak suka dengan make up, di meja riasnya hanya ada beberapa alat make up saja yang ia gunakan. ya, terkadang diamemang sedikit iseng memotret dirinya sendiri dalam baluran make up tipisnya.
Amira melewati Raffael begitu saja yang masih sibuk dengan kekagannya dengan lukisan-lukisan itu. namun, Raffael segera menyadarinya dan menarik pinggang Amira. Raffael mendudukkan bokongnya di bibir ranjang dan menarik Amira kedalam pangkuannya.
"Haih! lepaskan aku! kenapa kamu menarikku!?." Amira terus memberontak berharap Raffael akan melepaskan dekapannya itu. apalagi Amira didekapnya dari belakang tentunya, karena ini adalah hal yang sangat tidak disukai Amira. dipeluk dari belakang lebih buruk dari apapun munurutnya. karena itu akan terasa mengejutkan sekali jika dilakukan secara tiba-tiba.
"kenapa? enggak boleh?." Raffael semakin mempererat dekapannya. tak memeprdulikan kata-kata mutiara yang sedari tadi diucapkan Amira. dia lebih memilih mencium aroma wangi shampo Amira daripada mendengarkan ocehan tidak jelasnya Amira itu.
"dasar pria terkutuk! lepaskan aku! aku mau menyisir rambut!." Selorohnya yang berhasil membuat perhatian Raffael teralihkan dari rambutnya.
"kamu mau menyisir rambut?." tanyanya yang mendapatkan anggukan dari Amira. dia segera menurunkan Amira dari pangkuannya. setelah itu, dia berjalan ke arah meja rias dan mengambil sisir rambut yang tergeletak disana.
dia kembali ke sisi ranjang dan meminta Amira untuk membalikkan badan membelakanginya. "Amira! hadap sana!." Amira yang mendengarkannya pun hanya menunrut saja. tanpa ada kata penolakan dan pemaksaan dari kedua belah pihak.
Raffael mulai menyisir rambut panjang Amira dengan telaten. Amira yang merasakan aura berbeda dari Raffael pun terlihat menikmatinya. apalagi saat Raffael tidak membiarkan kepalanya sakit saat disisir. sentuhan lembut di kepalanya membuatnya terenyuh menikmatinya.
selesai sudah kegiatan menyisir rambut itu. kini tangan Raffa memegan pundak Amira dan perlahan membalikkan tubuhnya hingga menghadap kearahnya. dia tersenyum puas dengan penampilan Amira.
"kamu terlihat sangat cantik, Amira!!." pujinya kepada sang istri. Amira yang mendengarnya pun merona. pipi merahnya dapat dilihat oleh Raffael, membuat Raffael ingin menjahili sang empunya.
Raffael mendekatkan wajahnya ke wajah Amira.sekarang, tak ada lagi jarak antara keningnya dan kening suaminya itu.
"berhenti mendekatkan wajahmu itu, Raffael! kamu membuatku merinding sendiri!." Batinnya melihat tingkah Suaminya itu.
"apalagi saat tadi lagi bersamaku!." Ucapnya sambil menggigit manja binir ranum Amira.
"hah! jangan mengada-ada!." Gumamnya dalam hati.
"pergi!!." ucap Amira dengan mendorong tubuh Raffael sampai tertidur di atas ranjang miliknya. naasnya lagi, tangannya ditarik oleh Raffael saat itu juga. membuatnya jatuh kedalam dekapan Raffael.
"hah! bilang saja jika kamu ingin selalu berdekatan denganku! kenapa kamu harus mendorongku agar bisa memeluk tubuh seksiku ini?." unarnya kembali menggoda sang istri.
"aku enggak berminat dengan keseksianmu!." ucap Amira dengan ketusnya lalu segera memberontak dan bangkit dari posisinya.
__ADS_1