
Waktunya istirahat. Para karyawan tampaknya sedikit terkejut dengan keberadaan Raffael di tepat istirahat itu. Selama ini, Raffael selalu makan di ruangan khusus tempat itu. Tak pernah berada di sekeliling karyawan.
"Raffael? Mau aku temenin istirahat ngga?" Bella menggodanya.
Dengan tatapan itu, Raffael tak merasa tergoda lagi sekarang. Tak seperti dirinya waktu masih menjadi temannya dulu.
"Mata Lo belum dikasih obat tetes mata tuh?" Katanya dengan bengis.
"Maksud kamu gimana?" Bella tampaknya terkejut dengan perubahan Raffael ini.
"Maksudnya, kenapa mata Lo kedip-kedip nggak jelas? Sakit mata Lo?" Kata-kata yang mampu menjatuhkan Bella sejauh-jauhnya.
Krak!!
Hatinya seperti hancur berkeping-keping. Mendengar itu dari Raffael.
"Kamu kok berubah sih Raff?" Tatapannya berubah. Setelah tadi terlihat genit, sekarang malah terlihat seperti tatapan menyedihkan.
"Urusan Lo sama gue apa ya?" Dari belakang, beberapa karyawan telah menggosipkan mereka.
"Kamu lupa aku siapa? Kita udah berhubungan tiga tahun ini, Raff!"
"Oh, jadi pak Raffael selingkuh sama Bella selama tiga tahun ini!"
Sebagian besar dari mereka berkata begitu. Dengan mudahnya menyimpulkan hal-hal yang belum jelas kebenarannya.
"Apaan sih, gue nggak pernah ada hubungan sama Lo ya! Lagian gue udah punya istri!"
Deggg!
Hati Bella hancur mendengar orang yang selama ini didambakannya telah memiliki istri.
"Pak Raffael punya istri? Siapa istrinya?"
"Iya! Siapa ya? Kok nggak ada beritanya di sosmed!"
Mereka mulai menggosipkan jikalau Raffael berpacaran dengan Alenta, lalu melakukan perselingkuhan dengan Bella, dan meninggalkan mereka padahal Raffael juga memiliki istri.
Bella tampaknya senang dengan itu. Semakin banyak potensinya dirinya berurusan dengan Raffael sekarang. Setelah gosip ini tersebar tentunya. Raffael malah tampak tak selera makan dan keluar dari tempat istirahat itu.
*****
Hari berikutnya. Kini, siang yang panas menjadi semakin panas dengan gosip yang semakin tersebar ke seluruh kantor. Namun, belum diketahui siapa istri Raffael Wardana itu.
"Jadi, kalian mau beli rumah sendiri?"
Suara menggema yang tampak jelas gemuruh dari luar ruangan. Amira dan Raffael mengangguk tunduk meminta persetujuan Ayah. Namun, tentu saja ayah memikirkan kedua gadis itu.
Layar kaca yang bening menjadi sasaran lantaran tak ada jawaban dari sang ayah.
"Ayah! Kali ini aja! Bentar lagi mereka juga ada yang ngelamar kok!" Amira merengek tak melepaskan tangan sang ayah.
Sayup-sayup terdengar suara orang bergosip dari luar. Tentu saja, suara sekeras itu dari Wirawan tak mungkin tak didengar mereka. Termasuk, Bella.
"Rumah sendiri?" Bella bergumam. Tanpa ada yang mendengarkannya.
Wajahnya tampak serius dengan sorotan mata tajam itu. "Kamu punyaku, Raffael Wardana,"
Singgg!!
Seperti hembusan angin yang berlalu, Raffael dapat merasakannya. Perkataan itu seolah terhubung langsung ke pikiran Raffael.
'Siapa? Siapa yang ngincer gue?' Raffael sudah mulai mempersiapkan itu.
Pasti. Pasti ada yang memiliki niat buruk pada mereka. Dia akan melindunginya. Amira, istri tercintanya.
"Okey, kalau itu mau kalian! Ayah turutin! Tapi ingat, Ayah nggak bisa melindungi kalian,, pasti media mau gali kehidupan pribadi Raffael setelah kasus waktu itu!"
Perkataan yang seolah memberi sihir hitam di tubuh mereka. Mereka pun yakin, kedua musuh itu pasti akan kembali. Entah dalam bentuk yang sama, atau yang lainnya.
Raffael tak bergerak sedikitpun. Wajah ibanya yang tampak resah dengan peringatan Ayah, seperti membelenggu banyak kebencian dan kesedihannya.
Bagaimanapun, lima tahun itu bukanlah waktu yang singkat untuk Raffael melupakan Alenta. Setidaknya bukan dia, tapi ternyata dia juga.
__ADS_1
Ayah tak memilik alasan untuk tetap menahan mereka berada di sampingnya. Bagaimanapun , amira sudah memiliki kehidupannya sendiri. kini, tinggal menjaga kedua gadis itu. Dan dapat dipastikan, mereka aman terkendali.
"Oke. Raffael rasa, Affandi udah nggak bisa jadi asisten pribadi aku lagi. Aku serahin dia ke Ayah! Bentar lagi, dia juga bakal jaga Sania kan?"
Ini keputusan Raffael. Dia sendiri yang akan menjaga sang istri sekarang. Setelah tujuh tahun bersama, akhirnya dia melepaskannya.
Affandi pun tak menolak. Dia tersenyum hangat mendengarnya. "Terimakasih, Tuan!" Menunduk sopan bak di depan rajanya.
"Jangan panggil aku kayak gitu!" Raffael berjalan melewati Amira menuju kursi kebesarannya.
Tak mengerti, kedua orang itupun bertanya dengan wajah tak bisa dimengerti. "Maksudnya?" Kedua orang itu berucap.
"Panggil aja Raffael, kalo nggak terbiasa boleh panggil kak!"
Duarrr!!
'Kak?' kedua orang itu sedang sehati hari ini.
"I-iya kak!" Affandi bahkan tersenyum senang. Sepertinya, ini memanglah impiannya memanggil Tuannya dengan kata itu.
*****
Huru-hara sore hari membuat resah para pengendara motor yang mulai kelelahan dengan harinya. Namun, tak begitu dengan Raffael. Dia lebih lelah dengan hal yang dihadapinya kali ini.
"Pengusaha sukses yang merupakan keturunan bangsawan diduga melakukan perselingkuhan dengan anak seorang pengusaha yang bernama Bella.
Setelah menjalin hubungan kekasih dengan Alenta, Raffael Wardana menikah dengan seorang yang kita kenal dengan nama Amira, lalu selingkuh dengan Bella ini!"
Krakk! Pyarrr!!!
Hancur berkeping-keping seperti vas bunga berbahan keramik yang dipecahkannya di ruang kerjanya. Affandi yang hendak menjemputnya pulang hari ini tak berniat menghentikannya.
Mata merah yang menyala menyeramkan, dan tangan besarnya yang menggenggam erat-erat pecahan fas bunga itu dengan darah yang mengalir.
"Ini udah hari ketiga kakak kerja! Jangan hancurin mental kakak sendiri sama berita itu! Kakak harus lebih mementingkan Amira dulu!"
Dengan kepala dingin itu, Affandi memapah Raffael yang tampak kelelahan ke kursinya. Memerban luka itu dan membawanya ke rumah baru. Rumah yang kemarin dibelinya setelah persetujuan dari Ayah.
Namun,
Cekrek cekrek cekrek..
Lampu kilat dan kamera terpasang dimana-mana di halaman rumahnya. Beberapa wartawan datang untuk memastikan kebenaran dari gosip itu.
Amira pun tampak berada di sana. Namun, tanpa sedikitpun ekspresi. "Pak! Apa benar bapak memutuskan hubungan dengan nona Alenta, lalu berselingkuh dengan Nona Bella?"
Konyol sekali menurutnya. Keringat dingin mulai menetes, dan wajah Raffael dipenuhi kekhawatiran kepada Amira.
Amira pun menghampirinya tanpa memperdulikan orang-orang yang berkerumun itu.
"Sayang, ayo masuk!" Amira langsung saja menarik tangannya dan membawa masuk ke rumah.
Affandi pun tak pikir panjang dengan itu. Melihat nona nya yang santai-santai saja. Dia pun sedikit tenang melihatnya ternyata, Amira sama sekali tak terpengaruh dengan berita itu. Dia akhirnya pulang.
*****
Seorang gadis duduk di sofa panjangnya melihat televisi yang menayangkan berita itu. Mengetuk-ngetuk sandaran sofa dan mengubah tatapannya menjadi tatapan bengis.
"Gimana? Papa udah berhasil kan?"
Seorang pria paruh baya datang dengan jas hitamnya. Menghampiri Bella, dan memeluknya dari belakang.
Mereka berdua tersenyum puas dengan berita itu. Mereka menikmati teh yang disediakan oleh pelayan.
"Berhasil, ayah! Sekarang istrinya pasti lagi diincar media! Dan istri kamu akan tinggalin kamu, Raffael!"
Bella tersenyum kejam melihat berita televisi itu. "Kamu punyaku, Raffael!"
*****
"Huft! Ell! Kok bisa mereka ke rumah kita?"
Amira menutup pintu dengan keras sembari menarik nafas frustasi. Menarik sang suami ke kamar mereka dan mulai menyidiknya.
__ADS_1
"Kayaknya ada yang tahu kalau kita pindah rumah! Dan dia itu yang bilang ke mereka itu!" Raffael menghela nafas berat. Tampak lusuh dan letih sekali dengan hari ini.
Amira yang melihatnya pun tersenyum dan mencium Raffael. "Aku bikinin air hangat ya?"
Rafael tak bisa menahan tubuhnya untuk tak memeluk Amira. Tersenyum dalam dekapan masing-masing.
"Kamu nggak lagi kambuh kan sayang?" Amira yang kesal pun memutar jari jemarinya di pinggang Raffael.
"A-aduh sayang! Haha! Jangan dong!"
"Makanya jangan aneh-aneh kalo ngomong! Emang nggak boleh kalo aku perhatian sama kamu?"
"Ya boleh lah sayang, tapi nanti kan ngeri kalo kamu tiba-tiba," Raffael mengingat saat Amira tiba-tiba saja memberi perhatiannya dengan sedikit berlebihan itu.
Amira menyipitkan matanya dan tersenyum. Mulai memeluk Raffael, dan berinisiatif menciumnya.
"Tuhkan mulai lagi!" Raffael memejamkan matanya dengan merinding melihatnya kembali.
"Ih, apaan sih? Orang cuma mau cium kok" Amira menoel-noel hidung mancung Raffael.
Raffael tersenyum senang. Setidaknya Amira tak membuatnya seperti sedang menonton film thriller pembunuhan itu.
"Yaudah! Mana ciumnya?" Sekarang dia berbalik manja dengan Amira. Amira dengan senang hati memberinya sebuah kecupan manis di pipinya.
Mereka pergi ke kamar. Berpeluk mesra dan memandangi langit-langit bergambarkan siluet-siluet indah itu.
"Kamu tahu berita itu?" Raffael kini dalam mode seriusnya.
Namun, Amira tak menjawabnya langsung. Dia tampak sedih dengan apa yang digosipkan tentang suaminya itu.
"Aku percaya kamu nggak sejahat itu! Tapi aku juga nggak bisa ngapa-ngapain kan?" Amira benar. Walau bagaimanapun, media dan pengguna medsos lainnya tidak akan melupakan gosip itu dengan mudah. Terlebih lagi, para pembenci Raffael.
"Ah, gimana kalau di pertemuan para pebisnis aja!" Sebuah ide tertiba muncul di benaknya.
Melompat kesana kemari, dan akhirnya berhenti dibalik kening indahnya.
"Pertemuan para pebisnis?" Amira tak mengetahuinya.
Pertemuan itu diadakan setahun sekali diantara kalanganpara CEO yang terkemuka. Dan, acaranya digelar live di platform tv.
Disana, biasanya membahas topik-topik yang sedang panas di kalangan mereka. Dan Raffael adalah rajanya pertemuan itu. Semua mata pasti melihatnya.
"Udah! Pokoknya kamu ikut aja!"
*****
Disaat yang sama pula, sore hari di taman dekat rumah inap yang dibangun untuk Anak buah Wirawan, tampak Fara yang mengenakan jaket sweater di tengah jembatan kolam.
Irfan menghampirinya dan membawakan sepucuk bunga mawar untuknya. Tatapan yang ditunjukkan Irfan tak seperti biasa. Serius, tulus, manis, dan romantis menjadi satu.
"Fara! Mau jadi pacar aku?" Benar-benar tanpa sekat.
Irfan langsung menembaknya tanpa persiapan apapun. Hanya bermodalkan senyuman, bunga dan cinta saja.
Namun, Fara tak lantas menerimanya. Dia malahan terlihat cemberut. "Kenapa?" Sepertinya si kekasih hati khawatir padanya.
"Cuman pacar?"
Syut!! Tubuh Irfan terperosok ke bawah. Tersenyum nanar dengan ucapan Fara barusan.
"Jadi mau dilamar nih?" Dia sekarang tersenyum teduh.
Sekarang Fara pula yang malu. Pipi merahnya sudah menjelaskan semuanya. Senyum malu dengan sedikit anggukan kecil itu, membuat Irfan gemas sendiri.
"Yaudah! Besok aku lamar ya?"
Duarrr!!!
Hatinya berbunga-bunga mendengar itu. Mereka lantas berpelukan di sore yang hangat itu.
Setelahnya, mereka menatap lekat satu sama lain dengan hati mendalam. Napas yang beradu menyatu oleh perasaan mereka. Cinta yang dimulai dari kehujanan ini?
Cinta yang bermula dari kesialan Fara lalu menjadi sebuah anugerah yang indah.
__ADS_1