
Dan akhirnya kayla pun akhirnya membantu teman-temannya yang sedang membersihkan kelas.
Setelah kerja bakti usai, semua siswa dan siswi beristirahat, ada yang ke kantin dan ada yang memakan bekal masing-masing. Seperti halnya Arumi, yang juga memakan bekalnya.
"Arumi, aku ikut makan ya!" seru Barick yang menghampiri Arumi.
"Hei kamu bawa bekal juga?" tanya Arumi yang penasaran.
"Ya iyalah biar bisa makan bareng sama kamu." ucap Barick yang mencari kursi yang kemudian dia tempatkan di samping kursi Arumi membuka
"Hm, bisa saja ya kamu." ucap Arumi yang kedua kemudian salin bertukar lauk mau pun sayur.
Tanpa mereka sadari keduanya diawasi oleh seorang gadis pada saat mereka sedang mengobrol. Dia adalah Sisil, teman sebangku Arumi yang juga bawa bekal dan makan di samping Arumi.
"Arumi beruntung bisa dekat dengan laki-laki ganteng seperti Barick. Sedangkan aku? tak ada satu pun laki-laki yang mau dekat denganku." gumam dalam hati Sisil yang sedang menikmati makannya seraya melihat ke arah Arumi dan juga Barick yang tampak menikmati keseruan mereka makan bekal masing-masing.
"Apa mungkin karena penampilanku yang seperti ini ya, para laki-laki tak ada yang mau mendekatiku?" tanya dalam hati Sisil yang sempat melihat keadaan dirinya.
Tak berapa lam mereka menyelesaikan acara makan bekal masing-masing, dan bel tanda mulai pelajaran pun berbunyi.
"Teeet... teeeet.....!"
Semua murid mulai masuk dan duduk di kursi mereka masing-masing. Dan mulai mengeluarkan buku pelajaran setelah Pak Guru masuk ke kelas dan memulai pelajaran.
Hari Jum'at pulang lebih awal, dan Barick menawarkan diri untuk mengantarkan Arumi pulang.
"Arumi ayo kita pulang sama-sama!" ajak Barick yang melangkahkan kaki sejajar dengan Arumi.
"Ma'af Barick. Bukannya aku menolak, aku harus jemput adik tiriku." ucap Arumi dan hal itu sedikit membuat Barick kecewa dan terus melangkahkan kaki menyusuri lorong di sekolah dimana mereka menimba ilmu.
"Kan bisa sama-sama?" ucap Barick yang masih berusaha.
"Adikku anak berkebutuhan khusus, dan dia tak mau ketemu dengan orang asing." ucap Arumi yang berusaha meyakinkan sahabatnya.
"Oh, begitu ya. Kapan-kapan kenalkan aku sama adik kamu ya, kan biar bisa saling akrab." ucap Barick dengan memohon dan menatap Arumi.
"Baiklah!" ucap Arumi yang membalas dengan tatapan pada Barick, kemudian dia pamit untuk pergi lebih duluan.
"Dah, ya! aku pergi dulu. Daa... sampai jumpa!" seru Arumi seraya melambaikan tangannya.
"Oiya, sampai jumpa!" balas Barick yang menganggukan kepalanya seraya menatap gadis yang dia sukai sejak kecil itu, meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu antarkan aku Bar!" seru seorang gadis yang berkacamata itu, yang tak lain adalah Sisil. Teman sebangku Arumi yang sejak tadi memperhatikan dan mengikuti langkah Arumi dan juga Barick diam-diam di belakang mereka.
"Bukannya kamu sudah pakai sopir pribadi?" tanya Barick tanpa menoleh ke arah Sisil.
"Iya memang sih, tapi kalau kamu mau mengantarkan aku juga nggak apa-apa. Sopir aku biar pulang duluan!" ucap Sisil yang berjuang untuk mendapatkan hati Barick.
"Ma'af mungkin lain kali saja." ucap Barick yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Sisil yang hanya bisa menatap punggungnya.
"Barick, aku akan mendapatkannya!" seru dalam hati Sisil. Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir.
Sesampainya disamping mobilnya, Sisil melihat mobil Barick melaju keluar dari tempat mereka sekolah.
Sisil pun masuk ke dalam mobil dan sopirnya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari halaman sekolah.
"Kita jangan pulang dulu ya pak!' pinta Sisil pada sopirnya.
"Lantas kita akan kemana non?"tanya si sopir dengan penasaran.
"Nanti akan saya beritahu, yang penting jalan saja dulu!' ucap Sisil yang membuat sang sopir tambah bertanya-tanya.
...***...
Sementara itu Barick dengan mengendarai mobilnya melaju mencari keberadaan Arumi, dan dia menuju ke sekolah Tiana adik tiri Arumi.
Mendengar itu Barick bergegas kembali ke mobilnya dan melaju menuju ke rumah Arumi.
Benar saja pada saat Barick memberhentikan mobilnya di depan rumah Arumi, terlihat Arumi sudah masuk ke rumah dengan mendorong kursi roda.
"Arumi!" panggil dalam hati Barick yang segera turun dari mobilnya dan berjalan memasuki halaman rumah Arumi.
Sementara itu Arumi yang sudah masuk ke rumah bersama Tiana mendapat sambutan tatapan mata tajam dari ibu tiri Arumi.
"Arumi!" seru ibu Partinah yang sintal membuat Arumi dan Tiana yang mendengarkannya pun sangat terkejut.
"I...ibu." panggil Arumi di saat keterkejutannya.
"Dasar anak tak tahu diri! sudah ibu bilang jangan sekolah! kamu itu harus beres-beres rumah!" seru Bu Partinah yang ternyata sudah memegang sapu lantai. Dan bersiap memukul ke arah Arumi.
"A..apa yang akan ibu lakukan pada kak Arumi?" tanya Tiana yang panik melihat tingkah ibunya itu.
"Diam kau! anak cacat tak diuntung!" seru Bu Partinah yang menarik kursi roda yang ada Tiana diatasnya. Karena terlalu kuatnya dorongan itu membuat kursi roda itu terjungkal dan demikian pula dengan Tiana.
__ADS_1
"Brugh ...!"
"Aaarrgh...!"
Tiana mengerang kesakitan karena dia jatuh secara miring bersama kursi rodanya.
"Tia....!"
Arumi menjerit sejadi-jadinya, sampai terdengar keluar rumah. Gadis itu bergegas menghampiri adik tirinya. Tapi belum sempat dia membungkukkan badannya hendak menolong Tiana, tubuh Arumi dipukul oleh Bu Partinah dengan batang sapu lantai yang dibawanya.
"Bugh..!"
"Aaarrgh ..!"
Pukulan itu mengenai pantat Arumi yang otomatis membuat Arumi mengerang kesakitan, karena pantatnya sekarang ini terasa panas dan sakit yang amat luar biasa.
"Ibu, kenapa ibu memukulku?" tanya Arumi yang diiringi Isak tangisnya.
"Ibu jahat!" seru Tiana yang menggerutu.
"Apa! ibu jahat kamu bilang! ibu itu yang menghidupi kalian berdua! dasar anak-anak tak berguna maski bilang ibu jahat!" seru ibu Partinah yang dalam posisi hendak menendang Tiana.
"Jangan Bu! jangan sakiti Tia! Tia masih kecil Bu, jangan sakiti Tia!" seru Arumi dengan berlutut memohon pada ibu tirinya. Dia tak tega jika adiknya yang merupakan anak berkebutuhan khusus itu disakiti oleh ibunya ataupun orang lain.
"Owh, mau sok jadi pahlawan ya kamu! baiklah kalau itu mau kamu, kamu yang akan menggantikannya!" seru ibu Partinah yang sudah bersiap mengayunkan sapu lantai ya ke atas dan siap memukul Arumi.
"Ibu jangan......!" jerit Tiana dan ibu Partinah yang memperdulikan lagi jeritan anak kandungnya Tiana.
Satu batang sapu lantai bagian pegangannya di ayunkan ke arah tubuh Arumi, dan Arumi hanya bisa pasrah dan memejamkan kedua matanya serta berdoa memohon pertolongan dari yang maha Kuasa.
"Berhenti...!"
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...