Mendadak Jadi Pewaris

Mendadak Jadi Pewaris
Menemui Pengacara Rohadi


__ADS_3

Setelah menghentikan laju mobil yang dikemudikannya, pak Dadang dan yang lainnya keluar dari dalam mobil.


Arumi, Barick, Tiana dan juga pak Dadang menatap ke arah rumah yang kecil namun terkesan mewah itu.


Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke teras rumah, lanjut pak Dadang mengetuk pintu utama rumah tersebut.


"Tokk....tokk...tokk.....!"


"Assalamu'alaikum!"


Ucap salam Pak Dadang, dan satu menit berlalu belum juga mendapat jawaban dari dalam rumah. Maka sekali lagi pak Dadang mengetuk dan mengucap salam.


"Tokk....tokk...tokk.....!"


"Assalamu'alaikum!"


Tak berapa lama terdengarlah suara seorang wanita yang kurang lebih berusia lima puluh tahun lebih, yang menjawab salam dari seseorang dari depan pintu rumahnya.


"Wa'alaikumsalam! sebentar ya!"


Kemudian terdengar wanita setengah baya itu membuka pintu utama rumah itu.


"Klek.....klek....ceklek...!"


Pintu terbuka dan terlihatlah seorang wanita setengah baya dengan memakai apron atau celemek yang membalut tubuhnya.


"Ma'af siapa ya, dan ada perlu apa?" tanya wanita setengah baya itu yang menatap tamu yang ada dihadapannya satu persatu.


"Saya pak Dadang sopir Tuan Lucky Harahap, dan saya mau bertemu dengan pengacara Rohadi." jawab pak Dadang yang apa adanya.


"Oh, tuan masih bertugas. Kalau mau menunggu, sebentar lagi beliau akan pulang." ucap wanita setengah baya itu.


"Apakah kami boleh masuk bi?" tanya pak Dadang dengan sopan.


"Oiya mari silahkan masuk!" ucap wanita itu yang mempersilahkan Pak Dadang, Barick, Arumi dan juga Tiana masuk ke rumah minimalis itu.


Keempat orang itu kemudian duduk di sofa ya g ada di ruang tamu.


Wanita setengah baya itu melangkahm.kan kaki menuju ke dapur, dan tak berapa lama dia datang dengan membawa satu nampan yang berisikan minuman dan juga makanan.


Kemudian makanan dan minuman itu dia hidangkan pada keempat tamunya itu.


"Terima kasih bi." ucap Arumi yang membantu memindahkan makananan dan minuman yang dibawa oleh wanita itu ke atas meja yang ada dihadapan Arumi dan yang lainnya.


"Silahkan makan dan minum ya tuan dan nona. Kalau ada perlu yang lain, bisa panggil saya." ucap wanita paruh baya itu yang tak lain adalah pembantu di rumah pengacara Rohadi.

__ADS_1


Tak berapa lama ada lagi yang mengetuk pintu utama.


"Tokk...tokk...tokk...!"


"Assalamu'alaikum...!"


Ucap salam suara laki-laki dari luar pintu.


"Wa'alaikumsalam...!"


Jawab wanita yang menjadi pembantu di rumah pengacara Rohadi itu, yang kemudian dia dengan tergesa-gesa melangkahkan kaki menuju ke pintu utama.


"Klek...!"


Di bukanya pintu yang tidak dia kuci itu. Dan nampak seorang laki-laki yang berusia kurang lebih berusia tiga puluh lima tahun.


"Seperti ada tamu ya mbok?" tanya laki-laki itu yang menatap pembantunya.


"Iya tuan, katanya namanya pak Dadang. Dan beliau membawa tiga orang yang sekarang berada di ruang tamu." jawab wanita yang dipanggil mbok oleh laki-laki yang tak lain majikannya yaitu pengacara Rohadi.


"Pak Dadang?" tanya pengacara Rohadi yang memastikan pendengarannya.


"Iya tuan!" jawab pembantu wanita itu,


"Kalau begitu letakkan tas ini pada tempatnya, Dan setelah itu buatkan kopi capucino buat saya." pinta pengacara Rohadi itu yang menyerahkan tasnya pada pembantunya


Bergegaslah pembantu itu melangkahkan kakinya meninggalkan pengacara Rohadi, dan menuju ke kamar majikannya.


Sementara pengacara Rohadi bergegas menemui para tamunya.


"Assalamu'alaikum, selamat siang menjelang sore!" ucap salam pengacara Rohadi pada para tamunya seraya menyalami mereka.


"Wa'alaikumsalam, selamat sore juga!":ucap pak Dadang dan yang lainnya secara tak bersamaan, seraya bangkit dari duduk mereka dan menerima uluran tangan dari pengacara Rohadi. Kecuali Tiana yang masih tetap berada di kursi rodanya.


"Pak Dadang, ada perlu apa? dan siapa mereka? apakah Pak Dadang sudah menemukan keluarga dari tuan Yuwono?" tanya pengacara Rohadi yang menatap Barick, Arumi dan Tiana satu persatu.


"Iya pengacara, ini saya membawa mereka yang ada kaitannya dengan keluarga dari tuan Yuwono." jawab pa Dadang yang apa adanya.


"Oh, baguslah!" ucap pengacara Rohadi seraya tangannya memberi isyarat pada para tamunya untuk duduk.


"Kalau boleh saya tahu, siapa nama kalian dan apakah kalian membawa bukti-bukti yang menyatakan kalian adalah keluarga dari pak Yuwono?" kembali tanya pengacara Rohadi itu yang menatap tamunya satu persatu


"Oh, iya ini saya Barick temannya Arumi, ini Arumi putri dari tuan Yuwono dan yang duduk di kursi roda itu Tiana adik tiri dari Arumi yang juga putri dari tuan Yuwono."Jawab Barick yang mewakili Arumi dan juga Tiana.


"Hm, Baiklah jadi ada dua orang yang menjadi keluarga dari tuan Yuwono. Bisa kalian perlihatkan bukti-buktinya?" tanya pengacara Rohadi yang menatap Arumi dan juga Tiana.

__ADS_1


"Oh, iya ini album foto dan juga berkas-berkas seperti surat kelahiran dan juga kartu keluarga kami." ucap Arumi yang menyerahkan album foto dan juga berkas-berkas penting lainnya pada pengacara Rohadi.


Pengacara Rohadi menerima dan memeriksa berkas-berkas itu serta melihat foto-foto di album tersebut.


Tak berapa lama pembantu wanita pengacara Rohadi datang dengan membawa pesanan minuman kopi capucino pada majikannya, seraya memperhatikan berkas-berkas dan juga foto-foto yang dilihat oleh pengacara Yuwono.


"Ini minumannya tuan.'' ucap pembantu wanita itu dengan sopan.


"Terima kasih, mbok Sum bisa kembali ke dapur!" seru pengacara Rohadi pada pembantu ya yang dia panggil mbok Sum itu.


"I...iya tuan. Permisi!" ucap mbok Sum itu yang terlihat gugup dan kemudian dia melangkahkan kaki kembali ke dapur.


Sementara itu pengacara Rohadi masih memeriksa berkas-berkas tersebut dan dia memandang ke arah Arumi.


"Baiklah saya akan membawa foto kopi dari kata kelahiran dan juga kartu keluarga. Apakah saya bisa minta, ma'af rambut nona Arumi?" tanya pengacara itu dengan hati-hati.


"Oh, untuk apa ya tuan?" tanya Arumi yang penasaran.


"Itu untuk tes DNA kamu Arumi, benar begitu tuan pengacara?" jawab sekaligus tanya Barick yang menatap Arumi dan berikutnya menatap pengacara Rohadi.


"Memang benar, karena saya ingin mengetahui bukti konkritnya!" jawab Pengacara Rohadi yang menatap Arumi dengan penasaran.


"Oh, boleh kalau begitu pengacara." ucap Arumi dengan mengulas senyumnya.


"Ok kalau begitu." ucap Pengacara Rohadi. Yang kemudian dia memanggil pembantunya.


"Mbok Sum!"


"Iya tuan." jawab mbok Sum yang dengan cepat, karena sedari tadi dia melihat dari balik sekat dinding. Memperhatikan perbincangan majikannya dengan para tamunya.


Wanita separuh baya itu melangkah dengan tergopoh-gopoh, menghampiri majikannya.


"Ada apa tuan?" tanya mbok Sum saat sudah sampai di samping pengacara Rohadi.


"Bisa ambilkan gunting dan juga plastik klip di laci meja kerja saya mbok?" pinta pengacara Rohadi yang masih memeriksa berkas dan album foto, tanpa melihat pembantunya.


"Ba...baik tuan!" ucap mbok Sum yang bergegas melangkahkan kakinya menuju ke meja yang dimaksudkan oleh pengacara Rohadi.


...~¥~...


...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2