
"Hei, kenapa perawat itu berlari-lari menuju ke sini?" gumam dalam hati Dokter Rohaya yang penasaran.
"Dokter! Dokter Rohaya!" panggil perawat itu dengan tersengal-sengal.
"Ada apa? atur napas kamu terlebih dahulu!" jawab sekaligus seru dokter Rohaya yang penasaran.
"Dokter...! ada yang berniat jahat pada pasien di ruangan nomor empat!" seru perawat itu dengan tersengal-sengal.
"Ruangan nomor empat? adiknya Arumi! celaka!" seru Dokter Rohaya yang bergegas melangkahkan kakinya menuju ke ruangan dimana Tiana dirawat. Dan perawat itu mengikuti dari belakang.
Tak berapa lama mereka telah sampai diruangan dimana Tiana tak sadarkan diri, dan dokter Rohaya segera memeriksa keadaan gadis itu.
"Alhamdulillah....! Gadis ini masih bernapas! masih ada kesempatan dia untuk hidup!" ucap dokter Rohaya yang selesai memeriksa Tiana.
"Apa yang perlu kami lakukan dokter?" tanya perawat yang tadi mengikuti dokter Rohaya.
"Ambilkan air hangat untuk mengompres, dan juga Paracetamol!" perintah dokter Rohaya pada perawat yang ada disampingnya.
"Baik dokter!" seru perawat itu yang bergegas melangkahkan kaki mengambil baskom yang berisi air hangat dan juga handuk kecil sesuai petunjuk dokter Rohaya.
Sementara itu Arumi yang baru saja dari kantin rumah sakit, sudah sampai di depan pintu ruangan dimana Tiana di rawat.
Betapa terkejutnya Arumi saat melihat dokter Rohaya dan beberapa perawat yang mengerumuni Tiana.
"Assalamu'alaikum...!" ucap salam Arumi yang mendekati dokter Rohaya.
"Wa'alaikumsalam...!" balas dokter Rohaya yang membalikan tubuhnya dan melihat siapa yang telah memberi salam.
"Arumi! darimana saja kamu!" seru dokter Rohaya saat melihat siapa yang datang.
"Ma'af dok! saya sedang membeli sarapan!" jawab Arumi yang apa adanya.
"Telah terjadi sesuatu pada adik kamu, Arumi!" ucap dokter Rohaya yang menatap Arumi dengan rasa iba.
"Apa yang telah terjadi dok?" ucap Arumi yang bergegas melihat keadaan adik tirinya yang sedang diperiksa oleh dokter Rohaya.
"Tadi ada seorang perawat yang memergoki sedang berusaha untuk mencekik Tiana. Dan untunglah belum terlalu parah dan Tiana dapat diselamatkan." jelas dokter Rohaya.
"A..apa? ada yang mau mencekik Tiana?" tanya Arumi yang penasaran.
"Iya, nona. Saya sendiri yang melihatnya." ucap perawat yang baru saja datang dan membawakan baskom yang berisikan air hangat dan handuk kecil untuk kompres.
__ADS_1
Dan datang lagi seorang perawat yang membawakan Paracetamol pesanan dari dokter Rohaya.
Dokter Rohaya menerimanya dan melakukan apa yang harus dilakukan. Dia megkompres bagian leher Tiana, setelah selesai, dokter rohaya
”Saat dicekik, aliran darah di area leher bisa menjadi tidak lancar dan fungsi jaringanpun menjadi terganggu, sehingga timbullah nyeri,memar, kaku, pegal, kesemutan, bengkak, dan banyak lagi keluhan lainnya. Pada kasus yang ringan, seringkali kondisi ini bisa sembuh sendiri dalam beberapa hari.'' jelas dokter Rohaya yang telah mengkompres bagian leher Tiana.
"Bisakah anda jelaskan langkah-langkah pertolongan pertama jika kembali terjadi bila terjadi kembali pencekikkan." ucap Arumi yang penasaran.
"Ok, dengarlah baik-baik langkah-angkahnya yang berikut:
1.) Kompres hangat area leher hingga bahu Anda
2.) Tidak sembarangan mengurut leher hingga bahu
3.) Tidak juga membiasakan mematahkan atau membunyikan leher dan bahu
4.)Istirahat lebih banyak, jangan gunakan bantal terlalu tinggi, sangga bagian belakang leher Anda dengan gulungan handuk kecil supaya kelengkungan tulang belakangnya tetap terjaga
5.) Rutin berolahraga
6.) Minum obat paracetamol bila nyeri dan pegal masih belum membaik." ucap dokter Rohaya yang menjelaskan
"Tidak ada, tapi bila nyeri, kaku, dan pegal di sekitar leher dan bahu yang Anda rasakan terjadi karena cidera jaringan yang lebih serius, misalnya retak tulang, syaraf kejepit, dan sebagainya, tentu penanganan seperti di atas saja tidak cukup dilakukan. Maka dari itu, jika keluhan yang Anda rasa amat mengganggu, dan sudah dilakukan langkah di atas namun tidak juga membaik, jangan segan periksakan langsung diri Anda ke dokter atau dikter syaraf. Dokter nantinya bisa juga mengarahkan Anda untuk menjalani pemeriksaan rontgen atau CT scan bila menduga ada kerusakan jaringan yang lebih serius yang mencetuskan keluhan Anda." jelas Dokter Rohaya yang membuat Arumi sedikit paham.
"Oh, jadi begitu ya dok." ucap Arumi seraya menganggukkan kepalanya
"Sekarang saya mau tanya, kenapa makanan rumah sakit ini ada dibawah? Jadi Tiana belum makan?" tanya dokter Rohaya yang penasaran.
"Ma'af ya dok, akibat kasus brownis kemarin saya menjadi trauma pada setiap diberi makanan orang lain. Coba dokter periksa apakah ada yang lain dari makanan ini, ataukah hanya dugaan saya saja?" ucap dan tanya Arumi yang kemudian mengambil mangkok yang berisi bubur dari petugas pemberi makanan tadi.
"Bukankah hari ini harusnya mangkoknya berwarna hijau?" tanya dokter Rohaya pada saat menerima semangkok bubur yang diambil oleh Arumi dari bawah meja.
"Iya dokter. Seharusnya memang hijau." jawab perawat yang ada disamping dokter Rohaya.
"Aneh!" gumam dokter Rohaya seraya mengaduk-aduk bubur tersebut.
"Ada apa dok? apakah dokter menemukan sesuatu?" tanya Arumi yang penasaran.
"Perawat, bawa bubur ini ke laboratorium!" seru dan perintah dokter Rohaya pada perawatnya.
"Baik dokter!" ucap perawat itu dan dia melakukan tugasnya.
__ADS_1
"Saudari Arumi bisa jaga pasien sebentar, saya akan menelepon kak Rohadi terlebih dulu." ucap dokter Rohaya pada Arumi.
"Oh, baik dokter!" ucap Arumi yang kemudian mendekati adiknya dan mengusap lalu mengecup kening adik tirinya itu,
Sementara itu dokter Rohaya menelepon kakaknya pengacara Rohadi. Untuk menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di rumah sakit, terutama pada Arumi dan Tiana.
Tak berapa lama, perawat yang tadi diperintahkan oleh dokter Rohaya sudah datang dan memberikan laporannya pada dokter Rohaya.
Wanita setengah baya yang memakai pakaian yang serba putih itu, membaca laporan yang diterimanya dengan teliti.
"Simpan bubur ini, ini bisa menjadi bukti kelak! dan apakah pelaku tadi juga sudah di amankan?" tanya dokter pada perawat yang telah memberikan laporannya itu.
"Sudah dok! sekarang ini ada di kantor satpam!" jawab Perawat kepercayaan dokter Rohaya.
"Baiklah, sekarang jaga saudari Arumi dan juga adiknya. Saya akan lapor polisi sekarang juga, karena memang bubur ini mengandung senyawa racun!" seru dokter Rohaya.
"Apa, jadi benar ada racunnya?" tanya Arumi yang tak percaya, kalau dugaannya benar bubur itu ada racunnya.
"Iya, sekarang beri Tiana sarapan yang anda belikan dari kantin tadi. Dan setelah itu paracetamolnya jangan lupa diminumkan dengan jarak satu jam dari obat sebelumnya." jelas dokter Rohaya.
"Baik dokter.' sahut Arumi dan perawat itu serempak.
Dokter Rohaya melangkahkan kakinya meninggalkan mereka, dan kemudian Arumi menyuapi Tiana dengan bubur yang baru saja dia beli. Sekalian dia juga sarapan bubur setelah menyuapi adik tirinya.
Sementara itu si perawat melepas selang infus dan memeriksa denyut nadi Tiana.
"Adik Tiana jangan takut ya, ada kak Arumi dan juga kak perawat disini." ucap perawat itu dengan ramah.
"I..iya kak!" jawab Tiana dengan gugup, dan nampak masih ada rasa ketakutan diraut wajah gadis kecil itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1