
Setelah mengunci pintu kamar tersebut dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke tempat tidur dimana adik tirinya sedang tidur terlelap.
Arumi segera merebahkan tubuhnya, mengistirahatkan badan dan pikirannya.
...***...
Pukul empat pagi hari, banyak masjid-masjid yang mengumandangkan adzan sholat Maghrib.
Arumi membuka kedua matanya dan berusaha mengumpulkan nyawanya seraya mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam.
"Oh iya, rumah ini ketambahan orang! aku harus mulai memasak dan mengurus lainnya!" gumam dalam hati Arumi yang kemudian ke kamar mandi dan berwudlu, kemudian mengambil mukena dan segera menunaikan ibadah sholat subuh.
Sementara itu, Tiana juga sudah bangun dari tidurnya. Perlahan-lahan dia berusaha menggerakkan kakinya, sesuai instruksi terapisnya.
"Eh, ada pergerakkan! ini berarti aku bisa berdiri dan berjalan!" gumam dalam hati Tiana yang mengulas senyumnya.
"Lebih baik aku simpan dulu rahasia ini. Aku akan coba latihan berdiri dan berjalan perlahan-lahan!" masih gumam dalam hati Tiana yang melihat Arumi yang sudah dalam posisi berdo'a.
"Eh, Tiana! kamu sudah bangun?" tanya Arumi pada saat melepas mukenanya.
'I..iya kak! bantu Tiana ke kamar mandi ya!" seru Tiana yang sudah melipat selimutnya.
"Tentu saja! ayo pegangan sama pundak kakak!" ucap Arumi yang bersiap memapah Tiana.
Dan keduanya berjalan melangkahkan kaki menuju kekamar mandi. Setelah menggosok gigi dan berwudlu, Tiana kembali meminta pada Arumi untuk memapahnya berjalan kembali menuju ke samping tempat tidurnya.
Setelah menyerahkan mukenanya pada adik tirinya. Dan gadis itu segera melangkahkan kaki ke dapur, dan memulai membuat sarapan seraya membersihkan dapur dan juga ruang makan.
"Widih, calon istri idaman!" celetuk seorang laki-laki yang bersandar di kusen pintu dapur.
"Eh, Barick! sudah bangun rupanya!" seru Arumi yang masih sibuk membuat sarapan.
"Hm, aku mau sholat subuh dulu tapi sebelumnya aku mau menjenguk si bapak yang pingsan kemarin." ucap Barick yang memberitahukan.
"Iya, jangan lupa kamu juga ambil seragam sekolah kamu ya!" seru Arumi yang mengingatkan.
"Iya-iya!" balas Barick yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar tamu dan melihat kondisi si bapak itu dan nampak dia masih tidur dengan pulasnya.
Setelah itu Barick segera mengambil air wudlu dan segera menunaikan sholat subuh.
Beberapa menit kemudian Barick selesai sholat subuh dan menghampiri Arumi yang sudah selesai memasak dan menyiapkannya di meja ruang makan.
__ADS_1
"Sudah selesai memasaknya, istriku?" goda Barick yang menghampiri Arumi dan menghirup aroma masakan yang ada dihadapannya.
"Iya, makanan sudah siap nih! aku mau siapin sarapan buat bapak semalam ya!" ucap Arumi yang mengambil piring dan nasi berikut lauk-pauknya.
"Tadi, masih tidur. Tapi coba saat ini mungkin sudah bangun!" seru Barick yang ikut menyiapkan minum buat si bapak itu.
Setelah siap, kedua ya melangkahkan kaki menuju ke kamar dimana bapak itu dirawat. Sampai di kamar tamu, nampak bapak itu sudah bangun dan sedang duduk bersandar didinding.
"Assalamu'alaikum pak! selamat pagi!" ucap salam Arumi seraya mengulas senyumnya.
"Wa'alaikumsalam!" jawab si bapak itu yang perlahan menatap Arumi dan juga Barick dengan sayu.
"Bapak, sarapan dulu ya!" ucap Barick saat sudah berada disamping si bapak itu.
"I..iya." jawab si bapak itu secara pelan-pelan dan kemudian menerima suapan demi suapan nasi dari Arumi.
"Kalau boleh saya tahu, bapak ini siapa? dan kenapa bapak berada di depan rumah Arumi semalam?" tanya Barick yang penasaran.
"Saya adalah seorang sopir sekaligus orang kepercayaan dari majikan saya. Nama saya Dadang, dan saya bekerja pada tuan Luck...ky... Ha...rahap!" ucap si bapak yang ternyata bernama Dadang itu dengan terbata-bata.
"Lucky Harapap si pengusaha emas dan permata itu?" tanya Barick yang memperjelas pendengarannya.
"I..iya memang benar!" jawab pak Danang yang menatap Barick dengan tajam.
"Kalung? aku sedang mencari keluarga dari pemilik kalung ini.'' jawab pak Dadang yang menatap Arumi dengan penasaran.
"Saya putrinya pak! Ayahku ada dimana pak? sudah delapan tahun ayah tidak pulang!'' ucap Arumi yang berlinanglah air matanya.
"Benarkah kamu putri dari pak Yuwono?" tanya pak Dadang yang semakin penasaran.
"Iya benar pak! saya putri kandung pak Yuwono!" jawab Arumi yang menatap pak Dadang dengan dada yang bergemuruh.
"Apakah ada yang bisa untuk membuktikannya?" tanya pak Dadang yang penasaran
"Oh ada, sebentar pak!" seru Arumi yang kemudian meletakkan piring yang masih ada nasi dan lauk pauknya itu ke tangan Barick.
"Tolong kamu suapin pak Dadang sebentar!" seru Arumi yang kemudian melangkahkan kakinya menuju keluar dari kamar tersebut dengan tergesa-gesa.
Barick tak banyak bicara, dia segera menggantikan Arumi menyuapi pak Dadang dengan telaten.
Tak berapa lama Arumi sudah datang membawa album foto dan berkas-berkas tentang ayahnya. Kemudian dia menunjukkan pada pak Dadang.
__ADS_1
"Coba pak Dadang lihat album ini!" seru Arumi seraya menunjukkan album foto yang dibawanya.
Sementara itu Barick yang telah selesai menyuapi pak Dadang, meletakkan piring dan gelas diatas meja disamping tempat tidur dimana pak Dadang duduk bersandar.
Pak Dadang, Barick dan Arumi melihat foto-foto dan juga berkas-berkas itu.
"Jadi benar kamu putri dari pak Yuwono!" seru pak Dadang yang mulai yakin akan kebenaran Arumi memang putri pak Yuwono.
"Iya, dan saya mau di tes DNA jika bukti ini tak membuat anda yakin!" ucap Arumi dengan yakin.
"Sebentar, memangnya ada apa ya pak?" tanya Barick yang penasaran.
"Saya tak berani mengatakannya, tapi pengacara Rohadi yang nanti bisa menjelaskannya!" jawab pak Dadang yang sedikit bernapas lega.
"Pengacara Rohadi?" tanya Arumi dan Barick yang bersamaan dan saling tatap mata.
"Iya, nanti saya yang akan bawa nona Arumi menemui pengacara Rohadi." ucap Pak Dadang yang menatap Arumi dengan penuh harap.
"Menemui pengacara Rohadi?" tanya Arumi yang memastikan pendengarannya.
"Iya." jawab Pak Dadang.
"Bolehkah saya mengajak teman?" tanya Arumi yang penasaran dan sedikit khawatir.
"Tentu, tentu saja!" jawab Pak dadang dengan mengulas senyumnya.
"Barick! temani aku ya!" seru Arumi seraya menatap raut wajah Barick yang sejak tadi memperhatikan tingkah polah pak Dadang.
"O, iya tentu saja! aku kan nggak mau tuan putriku kenapa-kenapa! he..he..!" jawab Barick seraya tertawa kecil.
"Baiklah kalau begitu, pak Dadang saya tinggal sebentar ya! kami mau sekolah, maklum kami masih anak-anak sekolah!" ucap Arumi pada pak Dadang.
"Tentu saja, lagi pula aku masih butuh istirahat. Tubuhku masih lemas karena kemarin tiga hari, perut ini tak terisi apapun.'' ucap pak Dadang yang mengulas senyumnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...