
"Arumi, ini uang harian kamu, ada empat puluh ribu. Mau buat apa uang ini nantinya?" tanya bu Yuli seraya menatap Arumi yang sedang berpikir.
"Ma'af ya Bu kalau Arumi memintanya upahnya tiap hari, bukan seminggu. Ini karena untuk kebutuhan harian Arumi. Saya butuh alat-alat tulis dan uang saku untuk sekolah." ucap Arumi lirih dan Bu Yuli terenyuh ucapan gadis dihadapannya itu.
"Apakah ibu kamu jahat pada kamu nak?" tanya Bu Yuli yang menangkap kesedihan di mata Arumi.
"Ibu tidak jahat Bu. Ini karena sejak ayah menghilang perekono.ian kita jadi tak terpenuhi. Dan ibu membanting tulang dengan bekerja sebagai buruh pabrik." jawab Arumi yang menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Oh, terserah kamu saja. Ini ada sayur balado telur sisa lauk tadi siang. Kamu bawa dan buat lauk ya, ibu sudah kebanyakan lauk!" ucap Bu Yuli seraya memberikan rantang kecil yang berisikan nasi dan telur balado.
"Aduh bu, saya malah jadi merepotkan ibu?" tanya Arumi yang tak enak hati.
"Sudahlah tidak apa-apa! sana pulang, nanti kamu dicari ibu kamu lho!" seru Bu Yuli yang mengingatkan.
"Oiya, sekali lagi terima kasih Bu!" seru Arumi sembari mengulas senyumnya dan kemudian menundukkan kepalanya sebentar.
"Iya " ucap Bu Yuli yang membalas senyum Arumi
"Assalamu"Alaikum." ucap pamit Arumi.
'
.Wa'alaikumsallam...!balas janda yang tam mempunyai anak itu.
Dengan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Bu Yuli,
Tak berapa lama langkah Arumi telah sampai di luar warung sayur dan sembako Bu Yuli. Kemudian Arumi melangkahkan kakinya meninggalkan warung sayur dan sembako.
Sementara itu di didalam mobilnya Baric masih saja mengawasi pergerakan Arumi. Yang mana pada saat itu Arumi sudah keluar dari rumah dan warung Bu Yuli.
"Eh, itu Arumi!" seru Barick yang kemudian mengikuti Arumi perlahan-lahan di belakang Arumi.
Sementara itu Arumi belum menyadari kalau dirinya diikuti oleh Barick. Gadis itu terus melangkahkan kakinya dan belok kepada saat masuk ke sebuah halaman rumah yang lumayan besar dan terlihat tak terawat karena pagarnya yang nampak lama tak dicat ulang.
"Assalamu'alaikum...!" Arumi mengucap salam dan mengambil kunci cadangan rumah dari dalam tasnya.
Ucap salam Arumi tak mendapat balasan dari dalam rumah, dan arumi sudah menduganya.
__ADS_1
"Hm, pasti ibu sudah berangkat kerja . Lebih baik aku masuk dan pastinya Tiana saat ini berada dikamar sendirian!" seru Arumi yang membuka pintu dan kemudian melangkahkan kakinya masuk ke rumah dan menutup kembali pintu rumahnya.
Dengan bergegas, Arumi melangkahkan kaki menuju ke kamar Tiana. Namun sebelumnya dia meletakkan rantang makanan dari ibu Yuli di atas meja dan juga tas sekolahnya di kursi meja makan.
Setengah berlari Arumi akhirnya tiba di depan kamar Tiana.
"Tokk...tok...tokk....!"
Gadis itu mengetuk pintu kamar Tiana.
"Masuk kak!" balas gadis yang berada didalam kamar.
Arumi segera masuk dan melihat Tiana duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Gadis itu sedang membaca buku-buku yang ada di sampingnya.
"Kak Arumi." panggil gadis itu yang menghentikan aksi membaca bukunya.
"Tia, ma'af kak Arumi kesorean menghampirimu." ucap Arumi yang merasa bersalah.
"Tak apa-apa kak. Tiana mau mandi kak." ucap Tiana yang tak mau bertanya maupun berkata lebih lanjut lagi.
"Oh iya sebentar ya." ucap Arumi yang kemudian membuka pintu kamar mandi yang sengaja dibuat didalam kamar, untuk memudahkan memandikan dan mengantar Tiana buang air besar dan buang air kecil.
Tak berapa lama Arumi telah selesai mengurus Tiana mandi dan kini sudah memakai pakaian dan berhias dengan bedak tipis serta menyisir rambut Tiana.
"Nah sekarang Tiana sudah cantik, kak Arumi mandi dan sholat dulu ya. Nanti kakak kembali dan kita makan bersama ya." ucap Arumi sembari mengulas senyumnya pada adiknya.
"I...iya kak!" ucap Tiana yang juga membalas senyum kakak tirinya.
Arumi kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Tiana sendirian di dalam kamarnya. Segera gadis itu melangkahkan kaki menuju ke ruang makan dan mengambil tas sekolahnya.
Kemudian dia melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, setelah itu Arumi mengambil handuk dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Arumi melakukan ritual mandinya, dan segera berwudlu setelah memakai pakaian gantinya.
Setelah membuka pintu kamar mandi, Arumi melangkahkan kaki menuju ke kamarnya yang memang kamarnya terletak di belakang, yang sebelumnya untuk kamar pembantu pada saat ayah Arumi masih ada.
Gadis itu segera menunaikan sholat Maghrib di dalam kamarnya. setelah selesai dia melipat mukena dan meletakkannya ditempat biasanya.
__ADS_1
Kemudian gadis itu melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan, dan mengambil rantang dari Bu Yuli tadi sore. Arumi menghangatkan balado telur itu dan dia menyiapkan dua piring nasi dan di atasnya dia beri balado telur yang tadi dia panasin.
Arumi meletakkan dua piring nasi itu diatas nampan dan membawanya ke kamar Tiana. Dan keduanya makan malam bersama di dalam kamar dengan menu telur balado tadi.
Setelah selesai, Tiana segera tidur, sementara Arumi segera mencuci piring dan membersihkan dapur serta menyiapkan makanan untuk ibunya jika pulang kerja nanti malam.
Selesai dengan hal itu semua, Arumi melangkahkan kaki menuju ke kamarnya. Gadis itu belajar sekaligus menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari serta seragamnya juga.
"Hari ini aku tak sempat mencuci pakaian, sebaiknya aku mencuci sekarang saja. Dan besok pagi tinggal menjemurnya " gumam dalam hati Arumi yang kemudian keluar dari kamarnya dan segera melangkahkan kaki menuju ke sumur dan mencuci pakaian yang sedari tadi pagi dia rendam.
Kurang lebih satu jam lamanya, Arumi menyelesaikan pekerjaannya itu dan dia melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
"Sepertinya segelas teh hangat bisa menghilangkan rasa haus dan dinginnya malam ini." gumam dalam hati Arumi yang kemudian membuat teh manis untuknya.
"Ting...Ting...."
Terdengar suara gesekan piring dan sendok di ruang makan. Karena penasara, Arumi melangkahkan kaki menuju ke sumber suara.
"Ibu, ibu sudah pulang!" seru Arumi yang melihat ibu tiri yang sedang makan dengan lahapnya.
"Hah, kebetulan! buatkan aku teh manis yang hangat!" seru Ibu tiri Arumi yang masih mengunyah makananya.
"I..iya Bu." jawab Arumi yang bergegas melangkahkan kaki kembali ke dapur dan segera membuat teh pesanan ibu tirinya.
Setelah selesai, dia melangkahkan kaki dengan membawa segelas teh manis yang hangat dan meletakkannya disamping ibu tirinya.
"Dari mana kamu dapat uang buat beli telur balado ini?" seru ibu Partinah itu dengan tiba-tiba dan memandang Arumi dengan sinis.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...