
Setelah menyerahkan Tiana pada wali kelas Tiana, Arumi bergegas membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya meninggalkan sekolah dimana adik tirinya menimba ilmu itu.
Arumi terus menyusuri trotoar dengan sekali-kali melihat ke arah matahari.
Teruslah Arumi melangkahkan kakinya, dan waktu sudah menunjukkan jam tujuh tepat sedangkan Arumi masih dalam perjalanannya.
"Aduh, sudah telat nih! pasti pintu gerbang sekolah sudah ditutup!" gumam dalam hati Arumi yang tak bisa mengatur napasnya lagi.
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghampirinya, dan penumpang mobil itu membuka kaca dan menyapa Arumi.
"Arumi!" panggil seorang pemuda didalam mobil itu.
"Barick!" balas panggil Arumi pada saat melihat siapa yang tadi memanggilnya.
"Ayo masuk! kita berangkat sama-sama!" ajak Barick yang kemudian keluar dari mobilnya dan menuntun Arumi melangkahkan kaki menuju ke pintu mobil yang sebelah kiri. Dan Barick membukakan pintu depan untuk Arumi.
Gadis itu melihat sahabatnya yang membukakan pintu mobil, dengan terpaksa mengikuti kemauan sahabatnya itu. Dia masuk dan duduk di kursi depan dekat kemudi mobil.
Setelah menutup pintu mobil, Barick melangkahkan kaki menuju ke pintu mobil yang ada kemudinya. Kemudian Barick masuk ke mobil itu dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah mereka.
"Barick, sejak kapan kamu membuntutiki?"' tanya Arumi seraya menatap sahabatnya yang sedang mengemudi.
"Sejak kamu keluar rumah dan mendorong adik kamu." jawab Barick seraya mengulas senyumnya.
"Hah!" Arumi tercengang mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
"Lebih tepatnya sejak pulang sekolah kemarin, kamu bekerja di warung Bu Yuli sampai petang. Dan kemudian pulang ke rumah. Aku tahu karena aku mengikutimu." ucap Barick seraya mengulas senyumnya.
"Oh, dasar tukang penguntit!" seru Arumi seraya menowel lengan Barick dan pemuda itu pura-pura sakit
"Auww...!" seru Barick seraya mengusap-usap lengannya yang habis ditowel Arumi.
"Eh, sudah sampai!" seru Barick kemudian yang memfokuskan jalannya mobil. Karena berbarengan dengan para siswa-siswi lain yang akan masuk ke sekolah.
Arumi pun ikut memperhatikan ke sekitarnya.
"Wah, baru kali ini aku nggak terlambat! he...he...!" seru Arumi sembari tertawa kecil.
"Wah, aku seperti seorang pahlawan buat kamu! ha .ha...!" ucap Barick sembari tertawa dengan riangnya.
__ADS_1
"Pahlawan-pahlawan, pahlawan kesiangan kamu itu! he...he...!"canda Arumi dan keduanya tertawa bersama.
Setelah beberapa menit merayap, akhirnya mobil mereka berhenti di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pihak sekolah.
Setelah mobil berhenti dan keduanya turun dari mobil, mereka melangkahkan kaki menuju ke lorong sekolah yang menuju ke kelas mereka.
Saat sudah sampai di kelas, nampak para siswa yang malas dalam belajar. Entah apa karena hari Jum'at karena menjelang akhir pekan yang biasanya mata pelajaran di Hari Jumat tak banyak dan ringan.
Namun, ada yang berbeda di Jumat sore kali ini. Sekolah secara tiba-tiba mengumumkan, kalau semua murid wajib membersihkan kelas dan lingkungan kelasnya.
Semula siswa yang bersantai, mendadak kompak riuh tampak kesal.
“Aduh malas banget harus beres-beres kelas pas mau pulang,” ungkap Deni si ketua kelas.
Namun lantaran ia adalah ketua kelas, terpaksalah Deni meminta teman-temannya bersih-bersih sesuai arahan sekolah.
Semua siswa di kelas 1A pun akhirnya bersih-bersih walau dengan menggerutu.
Di antara semua siswa, ada satu siswa yang duduk-duduk santai tak mau membersihkan kelas.
Ia adalah Kayla dan Vita.
“Malas, kita kan sudah belajar, sudah mau jam pulang juga, kenapa harus repot-repot membersihkan kelas?” jawab Yanto.
Deni yang mendengar jawaban Kayla dibuat bingung, sebab ia pada dasarnya tak bisa memaksa Kayla untuk membersihkan kelas.
“Ya setidaknya kamu membuang sampah di dekatmu saja, nanti teman yang lain juga malas beres-beres.” ucap Deni si ketua kelas.
“Makin banyak yang nggak mau beres-beres, makin lama kita pulang,” jawab Barick yang menambahi.
“Nggak mau, urusan beres-beres kan ada penjaga sekolah,” ucap Kayla yang tak bergeming.
Untung, siswa yang lain tetap membersihkan kelas walau seperti terpaksa.
Guru-guru pun menyisir satu per satu kelas yang sedang kerja bakti.
Pak Bahtiar yang kebagian mengecek kelas 1 B cukup senang karena semua siswa kompak membersihkan kelas.
Namun perhatian Pak Bahtiar tertuju pada Kayla dan Vita yang santai-santai di dalam kelas.
__ADS_1
“Kay! kenapa tidak mau membersihkan kelas seperti teman-temanmu?” tanya pak Bahtiar.
Karena bingung, dia menjawab dengan pelan,
“Emang tugas bersih-bersih jadi tugas siswa juga, pak? kan ada penjaga sekolah.” ucap Vita yang ikutry
Pak Bahtiar lalu tersenyum dan menghampiri Kayla dan juga Vita.
“Ya, memang tugas bersih-bersih adalah tugas penjaga sekolah,” jawab sang guru.
“Tapi kegiatan bersih-bersih juga jadi salah satu tugas siswa yang tak kalah penting dari matematika,” jelas Pak Bahtiar.
“Kenapa, pak?” Kayla yang penasaran.
“Dengan bersih-bersih, kita akan belajar mencintai lingkungan sekitar, disiplin, kita pun akan merasa nyaman saat belajar.”
“Paling penting untuk saat ini, kelas yang bersih akan menjauhkan kita dari banyak penyakit,” terang Pak Bahtiar.
“Tapi kenapa pas kita mau pulang, pak?” desak Kayla.
“Justru ini adalah waktu yang tepat, kalau kita bersih-bersih mendekati jam pulang, kamu akan mendapat perasaan bahagia dan lega,” jawab Pak Bahtiar.
Ya diam dan seperti mengiyakan perkataan Pak Bahtiar.
“Okelah, aku beres-beres,” jawab Kayla dan Vita.
Dan akhirnya kayla pun akhirnya membantu teman-temannya yang sedang membersihkan kelas.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1