Mendadak Jadi Pewaris

Mendadak Jadi Pewaris
Dihadang empat laki-laki bertubuh tegap


__ADS_3

Sampai dijalan raya, Barick mengemudi dengan kecepatan sedang seraya membunyikan musik yang sedang hits. Untuk mengatasi rasa tegang, jenuh dan takut mereka.


Perjalanan mereka terasa menyenangkan karena, ketiganya saling sahut menyahut mengikuti lirik lagu yang mereka bisa nyanyikan.


Tanpa mereka sadari, ada dua sepeda motor yang mengikuti mereka.


"Dugh...dugh....dugh...!"


"Woi....! berhenti...!" seru pengendara yang pertama dengan mengetuk kaca jendela mobil yang mereka tumpangi.


"Hah siapa mereka!" seru Arumi yang khawatir, demikian pula dengan Barick yang harus berbagi perhatian antara kemudi, jalan raya dan juga sepeda motor yang terus memepet mobilnya.


"Kak, siapa mereka? Tia takut kak!' seru Tiana yang membuat Arumi segera memeluk adik tirinya. Berusaha membuat adiknya tenang.


"Dugh...dugh....dugh...!"


"Woi....! berhenti...!" seru pengendara sepeda motor itu lagi, dan beberapa menit sepeda motor yang pertama itu berhenti tepat menghadang di depan mobil Barick. Sementara sepeda motor yang kedua posisinya seperti posisi sepeda motor yang pertama sebelum menghadang mobil yang mengangkut Barick, Arumi dan Tiana.


"Waduh terpaksa kita berhenti!" seru Arumi yang sedikit panik karena situasi seperti itu.


"Kurang ajar! harus diberi pelajaran mereka!" seru Barick yang menghentikan laju mobilnya dan segera melepas sabuk pengamannya.


"Kamu mau apa Bar! Jangan gegabah!" seru Arumi yang mengingatkan.


Tapi hal itu tak dihiraukan oleh Barick, yang saat ini emosinya telah memuncak.


"Barick! Dasar Oyen Bar...bar...!" seru Arumi yang bingung memakai cara apa menghentikan Sahabatnya itu, sampai-sampai panggilannya kalau sedang marahan dengan Barick dia keluarkan.


Sementara itu Barick sudah membuka pintu dan keluar dari mobilnya.


"Kalian jangan keluar, tetap disini!" seru Barick yang berpesan pada Arumi.


"Hati-hati Bar!" pesan Arumi yang terpaksa dia membiarkan Barick keluar dari mobil.


"Kak Barick mau apa kak?" tanya Tiana yang penasaran.


"Entahlah, kamu jangan lihat! ini adegan 18 tahun ke atas!" seru Arumi seraya menutup kedua mata adik tirinya.


"A..apaan sih kak! delapan tahun ke atas segala! kak Arumi memang sudah delapan tahun ke atas?" seru sekaligus tanya Tiana yang mencoba mengingatkan kakak tirinya.


"Eh iya! khusus enam tahun ke atas! he...he...! kakak ralat!" ucap Arumi yang ketawa sendiri karena omonganya yang diprotes adik tiri ya itu.


"Idih! dasar kakak yang mau menang sendiri!" gerutu Tiana yang menurut saja menutup kedua matanya.


Sementara itu situasi di luar mobil, dimana Barick harus menghadapi empat orang yang berpakaian serba hitam dan bertubuh kekar itu.


"amqi apa kalian menghadang kami?" tanya Barick dengan suara lantang.


"Ha...ha...! tentu saja nyawa kalian yang kami inginkan!" seru laki-laki yang pertama.


"Apa! Kami tak ada urusan sama kalian, kenapa menginginkan nyawa kami?" tanya Barick yang waspada dan menatap satu persatu orang yang berpakaian hitam dihadapannya itu.

__ADS_1


'Kamu memang tak ada urusannya dengan kami! Tapi salah satu gadis yang ada didalam mobil kamu itulah sasaran kami! maka dari itu, serahkan pada kami!" seru laki-laki kedua dengan geram.


"Apa! tidak akan aku berikan pada kalian!" seru Barick dengan lanantang.


"Oh, bosan hidup rupanya!" seru laki-laki ketiga, dan saat ini keempat laki-laki itu mengepung Barick.


Satu persatu mereka memberikan pelayanan pada Barick, dan Barick pun melayani dengan kemampuannya. Yang kebetulan kalau Barick dan Arumi pernah belajar bela diri waktu masih di kampung, saat mereka masih kecil dan yang mengajari mereka adalah ayah Arumi yaitu tuan Yuwono.


"Hopp...!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh....!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh....!"


"Arghh...!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh....!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh....!"


"Aargh...!"


Beberapa pukulan Barick mampu mengimbangi mereka, bahkan mengalahkan dua diantara empat laki-laki itu.


Dan kini tinggal dua orang laki-laki yang bertubuh tegap, yang kini membawa senjata tajam dan berhadapan dengan Barick. Mereka sudah siap menyerang Barick dengan senjata tajam berupa belati ditangan mereka.


Melihat Barick yang hampir terdesak itu, perasaan Arumi sangat gelisah.


"Barick! bagaimana ini!" gumam Arumi yang terus melihat ke arah perkelahian itu.


"Oiya, pengacara Rohadi dan dokter Rohaya!" seru Arumi dan Dian mengambil ponselnya. Kemudian dia mencari nomor-nomor orang penting bagi mereka itu.


Disaat sudah menemukan nomor yang dimaksud di kontak ponselnya, Arumi melihat Barick terdesak.


Lengan kiri Barick terkena sabetan salah satu belati laki-laki bertubuh tegap itu.


"Arghh...!"


Barick mengerang kesakitan dan terus memegangi lengannya yang mengeluarkan darah segar itu.


"Barick!" Panggil Arumi yang panik.


"Apa-apa kak Barick terluka kak?" tanya Tiana yang menyembul dari pelukan Arumi dan melihat ke arah dimana Barick sedang terluka, dan posisinya berhadapan dengan kedua laki-laki bertubuh tegap yang membelakangi mobil dimana Arumi dan Tiana berada.


"Tia! hubungi pak pengacara dan Bu dokter ya! kakak mau bantu kak Barick!" bisik Arumi seraya menyerahkan ponselnya pada Tiana.


"Ba...baik kak!" jawab Tiana yang gugup, karena takut menghadapi situasi seperti ini.


Arumi perlahan-lahan membuka pintu mobil, dan kemudian Arumi memberi tendangan dari belakang salah satu laki-laki itu, dan kemudian memberikan beberapa pukulan pada laki-laki yang lainnya seperti yang diajarkan mendiang ayahnya.


"Belajarlah beladiri walaupun hanya sedikit, karena itu akan sangat penting bagi kamu kelak. Tak selamanya kamu bergantung pada laki-laki. Ada kalanya kamu yang harus maju, dan mengalahkan lawanmu secara sendirian."

__ADS_1


Itulah kata-kata dari mendiang ayah Arumi, yang selalu diucapkan untuk memberikan semangat berlatih pada Arumi putrinya. Dan Arumi selalu mengingatnya.


"Hopp...!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh....!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh....!"


"Aargh..!"


Laki-laki kedua itu mengerang kesakitan karena pukulan Arumi tepat mengenai pelipis matanya dan dia terjatuh tersungkur.


Tiba-tiba laki-laki yang tadi di tendang dari belakang, sudah bangkit dan bersiap melawan Arumi.


"Gadis sialan! keparat!"


Umpat laki-laki itu yang menyerang Arumi dengan beberapa pukulan.


"Bagh...bugh...bagh...bugh....!"


Arumi mengelak ke kiri, ke kanan dan kadang berputar untuk mundur untuk mengindari serangan-serangan dari lawannya.


Saat ada kesempatan, gadis itu menarik tangan laki-laki itu dan menghadiahi bogem mentah diulu hati laki-laki itu beberapa kali.


"Bugh.....bugh......bugh....!"


"Aaaarghh...!"


Darah segar keluar dari mulut laki-laki itu, dan dia terdorong jatuh terduduk dengan memegangi perutnya.


"Bukkk....!"


"Aaaghh...!"


Disaat pandangan Arumi melihat ke arah lawannya yang dikalahkannya itu, dan demikian pula dengan Barick yang juga begitu senangnya atas keberhasilan Arumi.


Tiba-tiba seorang laki-laki yang sebelumnya dikalahkan oleh Barick, berdiri dengan membawa bambu pendek yang dia pungut dipinggir jalan.


Posisinya ada dibelakang Arumi, dan dia siap memukul Arumi dari belakang.


Tiana yang melihat hal itu berusaha keluar untuk mengingatkan kakak tirinya.


Disaat membuka pintu mobil, dia melihat adanya dua buah batu yang lumayan besar. Diambilnya batu itu dan kemudian dia berusaha berdiri dengan segenap kemampuannya.


...~¥~...


...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2