Mendadak Jadi Pewaris

Mendadak Jadi Pewaris
Kericuhan di dalam rumah bak istana


__ADS_3

"Ayo cepatlah! jangan lama-lama! atau adikmu akan menuju ke neraka!'' seru Keyla yang memberikan pena pada Arumi.


"Iya-iya, lihat baik-baik!" seru Arumi dan semuanya pun melihat ke arah jari Arumi yang memegang pena.


Sementara itu Arumi belum juga menggerakkan pena tersebut, kedua matanya terus menatap ke arah Tiana adik tirinya.


Dengan berpura-pura gemetaran, Arumi sengaja menjatuhkan pena tersebut.


"Plekk...!"


"Yah, jatuh!" ucap Arumi yang pura-pura terkejut.


"Kalau jatuh, ya ambil dong!" seru Keyla yang terlihat sangat tak sabar.


"Kamu mau tanda tanganku kan? jadi tolong dong kamu yang ambilkan! Kecuali kalau kamu tak Ingin tanda tanganku!" seru Arumi yang mengulas senyumnya.


"Eh..ogah kalau harus ambil pena disamping kakimu itu! aku nanti kayak pemulung dong!" seru Keyla yang kesal dan membantah.


"Hei, kamu itu mau hartaku atau tidak?" tanya Arumi yang memancing keinginan Keyla.


"Hmmm...!" Keyla terdiam dan sedang memikirkan sesuatu.


"Sudah Key, ambil saja! Kita butuh tanda tangannya! Kamu nggak mau kalau kita miskin kan Key?" bisik nyonya Lauren.


"Iya, tinggal ambil saja Key, apa susahnya sih!" ucap mbok Sum yang ikut berbisik.


"Em...ba-baiklah." ucap Keyla dengan terpaksa, dan dia pun perlahan membungkukkan badannya.


Sementara perhatian semuanya tertuju pada Keyla, Arumi melihat Barick sudah berada tepat dibelakang Tiana dan kedua orang yang berpakaian hitam yang mengapit gadis kecil itu, dengan membawa bambu.yang berukuran pendek.


"Tiana, pandang kak Arumi!" gumam dalam hati Arumi yang menatap Tiana, dan seperti telepati saja gadis kecil itu seperti mendengar kata hati kakak tirinya, dan dia menuruti apa yang dikatakan Arumi.


Gadis itu memandang Arumi seperti menunggu aba-aba dari kakaknya, dan beberapa menit kemudian Arumi memberi aba-aba pada Tiana.


"Menunduk!" seru dalam hati Arumi seraya mempraktekkan cara menunduk dan seketika itu juga Tiana menundukkan kepalanya dan bunyi yang lumayan nyaring dan kerasnya.


"Takk..takkk.....!"


"Aaarrgh...!"


"Aduuh...!"


Kedua orang yang berpakaian serba hitam itu dengan terpaksa melepaskan pegangannya pada Tiana, karena sibuk memegang kepala bagian belakangnya yang sakit karena benturan benda keras yang dipukulkan oleh seseorang. Dan akhirnya terhuyun-huyun jatuh ke lantai.

__ADS_1


Barick bergegas memegang Tiana dan menyuruh Tiana untuk tetap tenang dan tetap berada di dekatnya.


"Tiana, tenang dan tetap disamping kak Barick!" bisik Barick karena melihat kedua orang berpakaian hitam itu menatapnya dengan garang.


"I-iya kak!" balas Tiana yang menuruti apa kata Barick.


"Kurang ajar!" seru kedua orang orang yang berpakaian hitam itu, yang sudah bangkit dari posisi jatuhnya. Dan secara otomatis menarik perhatian yang lainnya.


Akhirnya terjadilah perkelahian antara Barick dan juga kedua orang yang berpakaian hitam itu.


Sementara itu Keyla yang akan mengambil pena yang ada di samping kaki Arumi, tiba-tiba saja terkejut. Karena Arumi mendang pena menjauh dari kerumunan itu.


"Hah, kurang ajar!" umpat Keyla yang melihat apa yang dilakukan Arumi.


"Ma'af Key, aku nggak bisa tanda tangan kalau tak ada penanya!" ucap Arumi dengan mengulas senyumnya.


"Apa kamu ingin adikmu mati ya!" seru Keyla dengan tatapan kesalnya.


Arumi menarik tangan Keyla ke belakang, dan mengarahkannya pada Tiana yang sedang dalam perlindungan Barick saat kedia orang berpakaian hitam selalu menyerang Barick.


"Aahhh lepaskan! kamu membuat pergelangan tanganku lecet!" seru Keyla dengan manjanya.


"Lihatlah itu! Tiana sama Barick! sekarang, perintahkan kedua ajudan kamu itu berhenti, atau aku akan membuatmu tak cantik lagi!' bisik Arumi di telinga Keyla.


"Aghh, tidak! aku tak mau itu!" seru Keyla yang meringis kesakitan.


Mau tak mau Arumi melepaskan Keyla, dan Barick menghentikan perlawanannya pada kedua orang yang berpakaian hitam yang menyerangnya.


"Weeeet...! Takk...!"


"Aaaghh..,!"


Tiba-tiba sebuah pentungan yang dilempar seseorang dan mengenai pergelangan tangan laki-laki yang menodongkan pistol ke tubuh dokter Rohaya.


Ternyata pelempar pentungan itu adalah satpam Mohari yang sejak tadi diam dan memperhatikan situasi.


Melihat ada kesempatan, pengacara Rohadi memukul tangan yang membawa pistol yang ditodongkan padanya.


"Takk...!"


"Bagh...bugh... Bagh...bugh...!"


Pengacara Rohadi memegang tangan dan kemudian memukul perut laki-laki yang berpakaian serba hitam yang menodongnya.

__ADS_1


Keyla yang berusaha lari, dikejar oleh Arumi. Namun nyonya Lauren dan mbok Sum berusaha menghalang-halangi. Terjadilah pengeroyokan pada Arumi.


Tanpa disangka-sangka, Tommy membantu Arumi dengan menarik tangan mbok Sum kebelakang. sementara Arumi menghindari lemparan bantal kursi dan benda-benda lainnya dari nyonya Lauren dan juga Keyla.


Sementara itu Barick kembali beraksi pada kedua laki-laki yang sebelumnya menyerangnya.


Kericuhan di rumah besar dan mewah bak istana itu pun terjadi.


"Tarr....tarr....tarr...!"


Tiba-tiba terdengar bunyi suara tembakan dari arah pintu utama. Nampak detektif Arjun dan delapan orang polisi masuk, mereka segera mengamankan situasi dengan menangkap laki-laki berpakaian hitam.


Setelah para laki-laki yang berpakaian hitam itu diamankan oleh para polisi, Arumi, Barick dan yang lainnya mengepung Nyonya Lauren, mbok Sum dan juga Keyla.


"Mbok Sum! apa tujuan kamu memberi racun pada brownis yang kamu berikan pada nona Arumi, nak Barick dan adik nona Arumi?" tanya pengacara Rohadi dengan rasa penasarannya.


Sementara itu mbok Sum hanya diam saja, dan Detektif Arjun memberikan kameranya pada satpam Mohari. Agar peristiwa yang terjadi saat ini bisa didokumentasikan.


"Cepat katakan mbok Sum! tahu tidak racun kamu itu bisa membahayakan Tiana!" seru Dokter Rohaya yang saat ini dalam posisi memeluk Tiana yang berada disamping Arumi.


Mbok Sum tetap diam saja, dan akhirnya detektif Arjun angkat bicara.


"Tuan pengacara dan semuanya! kalau mbok Sum tak mau bicara, biar saya yang akan memberitahukannya." ucap Dtektif Arjun yang maju selangkah dengan menatap pengacara Rohadi, lanjut menatap yang lainnya.


"Silahkan detektif!" seru pengacara Rohadi yang memberi kesempatan pada detektif Arjun, yang merupakan orang yang dia perintahkan untuk menyelidiki kejadian-kejadian yang terjadi di kediaman mendiang tuan Lucky Harahap.


Dan saat ini, detektif Arjun mencoba menceritakan dan menerangkan hasil penyelidikannya selama ini.


"Saya akan keluar sebentar!" seru detektif Arjun yang kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruang tamu itu.


Tak berapa lama detektif telah kembali dengan membawa seorang gadis yang sangat dikenal oleh Arumi, Barick, Tommy dan apalagi Keyla.


"Vita!" panggil mereka yang serempak dan betapa terkejutnya mereka.


"Kalian kenal gadis ini ya?" tanya detektif Arjun yang mengulas senyumnya.


...'~¥~...


...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2