
Sementara itu Arumi sudah memasuki ruang rawat dimana Tiana dirawat, kemudian gadis itu mengambil kursi dan duduk disamping adik tirinya yang sudah terlelap dalam mimpinya.
"Apa mungkin racun itu ada kaitannya dengan aku?" tanya dalam hati Arumi yang semakin penasaran.
Gadis itu menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan dengan sedikit mengernyitkan kedua alisnya.
"Kenapa pengacara tak bicara hal yang sebenarnya ya? sebetulnya buat apa berkas-berkas tentang diriku? dan apa perlunya juga dengan tes DnA segala?" gumam dalam hati Arumi yang penasaran.
Perlahan-lahan, Arumi menunjukkan kepalanya. Dan akhirnya kedua matanya terpejam dan dia telah pergi ke alam mimpi.
Malam pun semakin larut, tak ada kejadian yang mencurigakan pada malam ini. Yang ada hanya kesunyian malam dirumah sakit.
Keesokan paginya setelah sholat subuh, Barick berpamitan pada Arumi dan juga Tiana untuk ke sekolah.
"Aku pergi dulu ya Yummy!" ucap pamit BaricK saat menghampiri Arumi dan juga Tiana.
"Iya Bar! hati-hati!" ucap pesan Arumi yang membuat Barick mengangguk dan mengulas senyum.
"Kak, cepat jemput kita ya! Tiana sudah nggak betah disini!" seru Tiana yang juga mengulas senyumnya.
"Iya, iya! nanti pulang sekolah, kak Barick akan langsung menjemput kalian!" ucap Barick seraya mengulas senyumnya.
"Janji ya kak!" seru Tiana yang penuh harap.
''Iya! Assalamu'alaikum!" ucap salam pamit Barick seraya melambaikan tangannya.
"Wa'alaikumsalam!" balas Tiana dan juga Arumi yang bersamaan yang juga melambaikan tangan mereka.
Setelah Barick pergi, situasi seperti sedia kala. Sepi dan hanya mereka berdua.
Tak berapa lama, ada seorang cleaning servis yang datang untuk membersihkan ruangan.
Tanpa Arumi dan Tiana sadari, kalau cleaning servis itu memperhatikan setiap gerakan Arumi dan juga Tiana.
Tiana dan Arumi sedang berbincang-bincang ringan, dan cleaning servise itu terus bekerja seraya memperhatikan kedua gadis beda usia itu.
Setelah selesai membersihkan ruangan dimana Tiana dirawat, cleaning service itu meninggalkan tempat itu dan mengerjakan tempat lainnya.
Tak berapa lama, datang petugas yang membawa makanan untuk sarapan pasien.
"Permisi, waktunya sarapan ya!" ucap petugas itu dengan ramah.
"Oiya, silahkan letakkan di meja ya!'' ucap Arumi yang kemudian bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Entah kenapa, perasaan Arumi begitu gelisah pada saat melihat makanan yang baru saja di letakkan oleh petugas diatas meja, disamping tempat tidur Tiana.
Wadah makanan yang digunakan berwarna oranye, mungkin itulah yang membuat Arumi merasakan ada sesuatu.
"Kenapa hatiku serasa ingin aku keluar ya?" gumam dalam hati Arumi yang gelisah.
Kemudian dia melihat ke arah keluar ruangan, dan melihat troli yang membawa makanan untuk pasien itu semuanya memakai wadah berwarna hijau.
"Aneh! kenapa hanya punya Tiana yang wadahnya berwarna oranye?" gumam dalam hati Arumi yang penasaran.
"Jangan-jangan!"
Arumi bergegas masuk kembali ke dalam ruangan dan melihat secara teliti makanan apa yang diberikan oleh perawat tadi.
Arumi membuka tutup plastik yang menutupi setiap makanan, dan mencoba mencium aroma makanannya.
"Baunya lain! coba aku tetesakan dinampan." gumam dalam hati Arumi yang kemudian meneteskan satu sendok makan bubur itu diatas nampan.
"Kak Arumi sedang apa?" tanya Tiana yang penasaran.
"Meneliti makanan ini saja! kakak jadi trauma, jika lagi-lagi ada racun di makanan yang diberikan pada kita!" jawab Arumi yang kemudian meletakkan makanan itu di bawah meja.
"Tapi kak, Tiana lapar!" ucap Tiana dengan wajah memelas.
"Jangan lama-lama ya kak!" seru Tiana yang tak mau ditinggal sendirian.
"Iya, jangan khawatir! kakak akan berlari secepat angin! he..he...!" ucap Arumi seraya mengulas senyumnya dan mengecup kening adik tirinya.
Arumi segera membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju ke kantin rumah sakit dengan melewati lorong-lorong jalan rumah sakit tersebut.
Tanpa Arumi sadari, ada dua orang yang melihat kepergian Arumi dari ruangan dimana Tiana dirawat.
Kemudian mereka membagi tugas, satu orang mengikuti Arumi dan satu orang melangkahkan kaki menuju ke ruangan dimana Tiana dirawat.
Arumi telah sampai di kantin rumah sakit, dan dia memesan bubur ayam dua porsi dengan dua cup minuman hangatnya.
Setelah membayar makanan dan minuman tersebut, Arumi bergegas melangkahkan kaki menuju kembali ke ruangan dimana Tiana dirawat.
Gadis itu merasakan keanehan, dia merasa ada yang mengikuti sejak dari kantin rumah sakit tadi.
"Siapa dia? kenapa dia mengikuti aku?" gumam dalam hati Arumi yang terus berpikir.
Setiap kali Arumi menoleh kebelakang, laki-laki yang membuntutinya itu selalu memegang ponselnya. Entah beneran menelepon, ataukah hanya untuk menutupi sesuatu.
__ADS_1
"Orang aneh! jangan-jangan terjadi sesuatu pada Tiana!" seru Arumi yang kemudian berlari dan terus berlari, mengingat dia meninggalkan adiknya sendirian di ruang perawatan.
Sementara itu Tiana yang memang sedang sendirian, mencoba memejamkan kedua matanya kembali. Karena rasa kantuk yang telah menyerangnya sedemikian hebatnya.
Tanpa sepengetahuan Tiana, ada masuk ke ruangan dimana Tiana dirawat.
Laki-laki yang bertubuh kekar dan memakai penutup kepala itu berjalan mendekati Tiana yang telah tertidur kembali itu.
Kemudian laki-laki itu mengarahkan kedua telapak tangannya ke leher Tiana. Dia berniat untuk mencekik gadis malang itu.
"Ughh....!"
Tiana terkejut dan seketika dia tak bisa bernapas, tangannya meronta-ronta dan mencabik-cabik laki-laki yang mencekiknya dengan sekuat tenaganya.
"Siapa ka..mu! lepaskan aku!" rintih Tiana yang berusaha melepaskan dirinya, dan tak lama kemudian dia tak sadarkan diri.
"Hei, siapa kau!" seru seorang perawat yang baru masuk dan dia sangat terkejut saat melihat laki-laki yang memakai penutup kepala itu.
Laki-laki itu sangat terkejut saat mendengar seruan dari perawat itu, dan dia menoleh dan menatap perawat itu dengan tajam.
Melihat reaksi laki-laki yang memakai penutup kepala itu yang jelas tak baik, perawat itu membalikkan badannya keluar dari ruangan dan lari secepatnya menuju ke meja tugas perawat untuk meminta bantuan pada teman-temannya.
"Tolong! ada orang yang berbuat jahat di ruang nomor empat!" seru perawat itu pada rekan-rekannya.
"Apa! cepat hubungi security! kamu akan mengejar orang itu semampu kami!" seru perawat-perawat yang bertugas, dan dua orang perawat laki-laki bergegas mengejar laki-laki yang dimaksudkan perawat sebelumnya.
Tanpa banyak kata, perawat perempuan yang tadi dari ruangan Tiana itu segera menelepon bagian security.
Setelah selesai, perawat itu segera melapor pada dokter Rohaya, setelah menyuruh beberapa teman perawatnya untuk melihat kondisi dari pasien ruang rawat nomer empat itu.
Dokter Rohaya yang baru saja masuk ke ruangannya, melihat seorang perawat kepercayaannya berlari menghampirinya.
"Hei, kenapa perawat itu berlari-lari menuju ke sini?" gumam dalam hati Dokter Rohaya yang penasaran.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...