
Setelah itu Arumi bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
Gadis itu menghampiri adiknya dan mendorong kursi roda tersebut menuju ke kamar Tiana. Arumi menyiapkan tempat tidur kemudian membangunkan adiknya serta mengangkat adiknya ke atas tempat tidur.
Selesai membaringkan adiknya, Arumi segera melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu dan ternyata Barick sudah berada di sana.
"Arumi, apakah aku boleh menginap?" tanya Barick yang kemudian duduk di sofa.
"Bagaimana ya? sebetulnya tidak boleh sih, karena aku hanya tinggal berdua dengan Tiana. Tapi bagaimana dengan si bapak tadi?" Arumi yang balik bertanya karena mempertimbangkan situasi dan kondisinya.
"Kalian sendirian? ibu tiri kamu dimana?" tanya Barick yang penasaran.
"Selama bapak itu masih berada disini, aku akan tetap berada disini ya?" pinta Barick yang mengeluarkan sebuah kalung yang berliontin bulat dan pipih, seperti sebuah simbol yang sangat dikenal oleh Arumi.
"Iya deh!"Jawab Arumi dengan terpaksa.
"Hei, apa yang kamu bawa itu?" lanjut tanya Arumi yang penasaran saat melihat kalung yang dibawa Barick itu.
"Kalung dan sepertinya aku mengenal kalung ini!" jawab Barick yang menyerahkan kalung itu pada Arumi.
"I...ini kalung ayahku Barick!" seru Arumi yang memperhatikan serta mengingat betul kalung yang ada ditangannya.
"Pantas saja, aku seperti pernah melihatnya!" gumam Barick yang sedikit lega karena telah terjawab rasa penasarannya.
"Bagaimana kalau kalung ini bisa ada ditangan kamu?" tanya Arumi yang penasaran menatap ke arah Barick dengan masih memegang kalung itu.
"Aku menemukannya disaku pakaian bapak itu tadi pas menggantikan pakaian bapak itu tadi. Kita bisa tanyakan setelah bapak itu bangun nanti." jelas Barick.
"Apa mungkin laki-laki itu ada kaitannya dengan ayah ya?" tanya Arumi seraya memandang ke arah Barick.
"Entahlah, mungkin saja." jawab Barick yang kedua ya diam sejenak untuk berpikir, bagaimana menjawab teka-teki yang mereka hadapi sekarang ini.
"Kalau begitu, kamu tidur saja disini sampai bapak itu bangun. Aku juga takut kalau ada apa-apa. Takutnya juga jika si bapak itu orang jahat." ucap Arumi dengan rasa khawatirnya.
"Baiklah kalau begitu aku tidur disini, besok pagi-pagi sekali aku pulang untuk mengambil pakaian dan tas sekolah aku." ucap Barick.
"Iya, itu lebih baik. Kalau begitu aku ambilkan selimut dulu ya. Eh, tapi kamu nggak apa-apa kan tidur di sofa ini?" tanya Arumi yang khawatir.
"Jangan khawatir, aku sudah tahan banting! ha..ha...!" jawab Barick sembari mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Ah, bisa saja! tunggu sebentar ya!" seru Arumi yang mengulas senyumnya.
"Iya jangan lama-lama, aku akan merindukan kamu yummy!" balas Barick yang menggoda sahabatnya itu.
"Nggak lucu Bar!" seru Arumi yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamarnya dan mengambil selimut dan juga bantal buat Barick
Tak butuh lama Arumi sudah datang dan menghampiri Barick yang sedang memainkan ponselnya.
"Ini selimut dan juga bantalnya Bar!" seru Arumi yang menatap keseriusan Barick menatap ponselnya.
"Serius amat!" seru Arumi sembari duduk dan kembali dia menatap kalung yang tadi ditemukan Barick di saku bapak-bapak tadi.
"Oh, aku sedang cari info orang hilang. Mungkin saja ada orang yang sedang kehilangan anggota keluarganya." jawab Barick yang menjelaskan.
"Oh, kali aja menghubungi Sisil!" ucap Arumi yang mengalihkan pandangannya ke sudut ruang tamu itu.
Tiba-tiba saja Barick menghampiri Arumi dan duduk berlutut untuk mensejajarkan dirinya sama dengan Arumi.
"Arumi, mohon ma'af aku belum cerita sama kamu tentang Sisil. Karena aku sedang menyelidiki kebenarannya." ucap Barick dengan pelan.
"Barick, kita ini sudah bersahabat sekian lama. Apakah kamu sudah tak percaya lagi padaku?" tanya Arumi yang menatap raut wajah Barick.
"Mencari papa kamu?" tanya Arumi yang memastikan pendengarannya.
"Iya, mama aku sudah menikah lagi dan kami pindah ke kota ini beberapa bulan yang lalu. Karena itulah aku mencari papa aku, yang kabarnya juga sudah menikah sejak meninggalkan mama dan aku."Jelas Barick.
"Lalu apa hubungannya dengan Sisil?" tanya Arumi yang penasaran.
"Aku mendekati Arumi karena..... karena aku mengenal mobil dan sopir pribadi Sisil." jawab Barick.
"Hah, apa maksud kamu ada kaitannya dengan papa kamu?" tanya Arumi yang penasaran.
"Iya, tapi aku masih menyelidikinya. Jadi aku harap kamu jangan berpikir yang macam-macam ya." pinta Barick yang memohon.
"Kenapa kamu tak bilang dulu padaku?" tanya Arumi yang sedikit kesal.
"Aku minta ma'af, karena aku ingin menyelidikinya sendiri. Dan ketahuilah aku sampai pindah sekolah ke sekolah kalian itu karena aku melihat mobil papaku! Dan tak disangkanya bisa ketemu dengan kamu Yummy!" jelas Barick.
"Oh, jadi begitu ya." ucap Arumi.
__ADS_1
"Yummy, sekarang giliran aku yang mau tanya sama kamu!" seru Barick yang membuat Arumi terkejut.
"Eh, mau tanya apa?" tanya Arumi.
"Kenapa kamu ada di kantor polisi, dan diantarkan Tommy segala?" tanya Barick yang menatap Arumi dengan tajam.
"E.... anu, ibu tiriku ada disana!" jawab Arumi lirih.
"O...jadi ibu tiri kamu itu seorang polwan begitukah?" tanya Barick yang penasaran.
"Bu..bukan begitu, tapi ibuku terkena kasus penganiayaan. Ibu kena PHK dan ibu kehabisan uang. karena itulah ibu menagih hutang pada teman-temannya yang berhutang sama ibu. Dan mereka saling bertengkar, dan akhirnya ibu melukai teman-temannya yang berhutang itu. Kemudian ibu dilaporkan pada polisi, dan ibu terkena pasal penganiayaan." jelas Arumi.
"Oh, jadi begitu ya. Memang sekarang ini jaman aneh, dulu pas pinjam seperti pengemis dan sekarang malah yang punya uang yang seperti pengemis." ucap Barick dan Arumi menganggukkan kepalanya tanda memahami apa yang dikatakan oleh Barick.
"Sudah malam, aku mau istirahat. Besok pagi banyak aktifitas yang kita jalani." ucap Arumi yang bangkit dari duduknya.
"Benar juga, lagi pula aku sudah mengantuk sekali!" balas Barick yang kemudian meletakkan posisi bangal dan mulailah dia berbaring dan menggunakan selimutnya.
'Selamat malam Barick!" ucap Arumi seraya melangkahkan kakinya menuju ke kamar Tiana.
"Malam juga Arumi, mimpikan masa kecil kita ya!" seru Barick seraya mengulas senyumnya.
"Arumi pura-pura tak mendengarkannya dan terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar Tiana.
Sesampainya di depan pintu kamar Tiana, Arumibuka dan kemudian masuk ke kamar Tiana dan mendapati Tiana yang tertidur pulas terbaring di lantai.
Setelah mengunci pintu kamar tersebut dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke tempat tidur dimana adik tirinya sedang tidur terlelap.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1