
Satu batang sapu lantai bagian pegangannya di ayunkan ke arah tubuh Arumi, dan Arumi hanya bisa pasrah dan memejamkan kedua matanya serta berdoa memohon pertolongan dari yang maha Kuasa.
"Berhenti...!"
Teriak suara seorang laki-laki yang sangat dikenal oleh Arumi, dan gadis itu pun menoleh ke arah sumber suara.
"Ba...Barick!" panggil Arumi lirih dan melihat Barick yang melangkahkan kaki ke arah dimana ada dia, Tiana dan Bu Partinah, dengan memegang ponsel dalam modem video.
Ternyata yang di lakukan oleh Barick adalah merekam apabyang telah dibuat oleh Bu Partinah sedari tadi pada Arumi dan juga Tiana.
"Hei, siapa kamu dan apa yang kamu lakukan itu?" tanya Bu Partinah yang menatap Barick secara tajam dan curiga.
"Aku hanya seorang anak laki-laki yang kebetulan lewat di rumah ini. Dan aku mendengar teriakan dan juga rintihan, tentu saja aku penasaran. Aku melihat apa yang ibu lakukan pada sahabatku sedari kecil dan juga anak yang berkebutuhan khusus itu. Dan aku tak suka dengan apa yang ibu lakukan pada anak-anak ibu! Maka dari itulah aku merekam semua yang ibu lakukan pada Arumi dan adiknya. Rekaman inilah nantinya yang akan membawa ibu ke penjara!" seru Barick setengah mengancam pada ibu Partinah.
"Pen...penjara? ti..tidak aku tak mau di penjara! jangan...jangan anak muda, ma'afkan ibu. Ibu tak akan mengulanginya lagi. Ibu khilaf, karena ibu saat ini di PHK dari tempat kerja ibu. Jadi ibu bingung dan kalut anak muda!" racau Bu Partinah yang mencoba membela diri.
"Barick, sudahlah jangan diperpanjang lagi. Ibu kan sudah meminta ma'af, jadi kita lupakan kejadian ini. Kita mulai hal yang baru ya Bu." ucap Arumi seraya menatap ibu Partinah yang penuh harap jika ibu tirinya itu benar-benar berubah.
"Terima kasih putriku, ma'afkan ibu yang sedang khilaf ini!" ucap ibu Partinah yang kemudian memeluk anak tirinya itu, walaupun ada sedikit keterpaksaan dihatinya.
Arumi pun menerima pelukan ibu Partinah dan dia menyeka air matanya seraya mengulas senyumnya.
"Kakak, ibu!" panggil Tiana yang sedari tadi duduk dilantai, tepat dimana dia tadi terjatuh.
"Ohiya, Tia!" seru Arumi dan Bu Partinah yang bersamaan, saat menatap Tiana yang memanggil Meraka.
Kemudian mereka membantu Tiana kembali duduk di kursi rodanya.
"Nah begini kan terlihat akur dan damai!" seru Barick yang kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ma'afkan ibu ya Tiana, ibu khilaf!" ucap Bu Partinah yang kemudian memeluk putrinya Tiana, dan Tiana pun memeluk ibu kandungnya itu.
"Ibu berjanjilah pada diri ibu dan pada Allah, kalau ibu tidak akan berbuat jahat lagi pada anak-anak ibu." ucap Barick seraya menatap Bu Partinah.
"Iya, ibu janji. Dan Arumi, bukankah kamu harus kerja siang ini?" ucap sekaligus tanya Bu Partinah yang secara otomatis mengingatkan Arumi akan pekerjaannya.
"Oiya, Arumi ganti pakaian dan habis itu Arumi berangkat!" seru Arumi yang memandang Tiana, ibu Partinah dan juga Barick satu persatu.
__ADS_1
"Aku juga mau ke masjid, mau sholat Jum'at!" ucap Barick dan di masjid-masjid sekitar rumah Arumi sedang berkumandang adzan sholat Jum'at. Sholat yang wajib hukumnya buat para laki-laki.
"Iya, dan Tiana mau makan siang Bu."ucap Tiana yang menatap ibunya.
"Oh baiklah ibu juga mau makan siang. Ayo kita makan sama-sama." ucap Bu Partinah yang kemudian mendorong kursi roda dimana Tiana duduk.
Arumi dan Barick saling pandang dan kemudian mengulas senyum mereka masing-masing.
"Aku ke masjid dan nanti sekalian pulang ya!" ucap Barick kemudian.
"Oh iya, terima kasih Barick." ucap Arumi yang menatap Barick dengan berbinar-binar. Dan detak jantung keduanya pun berdecak hebat, seakan ingin keluar dari dalam tubuh masing-masing.
"A...Arumi, a...ku pa...mit. Assalamu'alaikum...!" ucap salam pamit Barick pada Arumi yang tiba-tiba saja dia merasa gugup, dan napasnya tak beraturan.
"Wa'alaikumsalam! I...iya Barick." balas Arumi yang ikut gugup seperti Barick.
Barick membalikkan badannya dan terus melangkah menuju ke pintu utama rumah ibu Partinah untuk keluar dari rumah,
Sementara Arumi menuju ke kamarnya dan segera mengganti pakaian dan juga alas kakinya.
Beberapa menit kemudian, Arumi berpamitan dengan ibu tiri serta adik tirinya untuk bekerja di rumah Bu Yuli.
"Ibu, Tia! Arumi berangkat bekerja dulu. In syaa Allah pulang nanti sore." ucap Arumi seraya mencium punggung tangan ibu tirinya itu.
"Iya, dan kamu jangan pikirkan pekerjaan di rumah. Sekarang ini ibu sedang menganggur. jadi kamu jangan khawatir ya, biar ibu yang mengerjakannya semua.
"Ibu, biar Arumi kerjakan setelah pulang kerja saja Bu. Itu sudah jadi tugas Arumi." ucap yang berikukuh kalaubpekwrjaan rumah adalah kewajibannya.
"Sudahlah, sana cepat kamu kerja! ibu yang akan mengurus semuanya ini!" seru Bu Partinah yang kemudian mendorong tubuh Arumi keluar dari rumahnya.
"I...ibu!" seru Arumi yang merasa ada sesuatu hal lain dari ibu tirinya.
Sesampainya Arumi di luar rumah, Bu Partinah segera menutup pintu rumahnya.
"Brakk...!"
Pintu itu ditutup dengan kasar oleh Bu Partnah, yang membuat Arumi sedikit terkejut.
__ADS_1
Gadis itu menghela napasnya panjang, kemudian membalikan badannya dan melangkahkan kakinya menuju ke halaman rumah. Lanjut melangkahkan kaki menuju ke luar pagar dan kemudian menuju ke rumah Bu Yuli.
Warung Bu Yuli siang ini cukup ramai, dan Arumi segera masuk ke dalam warung itu,
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Arumi saat melihat Bu Yuli yang sedang melayani pembeli.
"Wa'alaikumsalam!" jawab ibu Yuli yang akan menghitung belanjaan dari ibu-ibu yang selesai belanja.
"Ibu Yuli, apa yang harus arumi kerjakan?" tanya Arumi yang menyakan pekerjaan untuknya,
"Wah, iya coba wadahin gula pasir pasir sesuai takarannya, setelah gula pasir, nanti terigu dan telur. Stok yang kemarin sudah habis!" jelas Bu Yuli seraya menunjuk pada karung
"Oh, dijadikan seperempatan, setengahnya dan sekiloan lagi ya Bu?" tanya Arumi.
"Iya, agak cepat ya! karena pekerjaan hari ini banyak sekali." jelas Bu Yuli seraya memberikan plastik untuk wadah gula pasir pada Arumi. Dan Arumi menerimanya.
Setelah mengerti apa yang dimaksudkan oleh wanita setengah baya itu, Arumi dengan segera masuk ke warung dan mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan baik.
Arumi bekerja sampai jam lima sore. Gadis itu menyempatkan dirinya untuk sholat Dhuhur dan Ashar.
Ibu Yuli amat senang dengan hasil kerja Arumi, dirinya banyak terbantu karena Arumi.
Arumi yang sudah tahu cara berjualan terutama dalam menghapal harga dan melayani pembeli, dia melayani satu dan dua orang yang datang untuk belanja.
Sebelum pulang, Arumi sempat dibuatkan makanan oleh Bu Yuli. Kemudian Arumi meninggalkan Bu Yuli seorang diri.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1