
Dan mereka belum menyadari kalau orang yang mengikuti mereka juga beristirahat di tempat itu.
Setelah sholat dan beristirahat sebentar, mereka segera melanjutkan perjalanan. Karena perjalanan mereka tinggal setengahnya saja.
"Kak, Tiana lapar." ucap Tiana yang memandang ke arah Arumi.
"Tadikan dapat kue' brownis dari mbok Sum, coba kamu buka dan makan!" seru Arumi yang mengingatkan.
"Oiya kue brownisnya tadi diletakkan dimana ya kak?" tanya Tiana seraya mengingat-ingat dimana kardus yang berisikan brownis itu diletakkan.
"Kardusnya ada disini!" sahut Barick yang mendengarkan percakapan dua gadis beda usia yang ada dibelakangnya.
"Dimana Bar?" tanya Arumi yang menatap Barick dengan rasa penasarannya.
"Itu dikursi sebelahku!" jawab Barick yang mana menunjuk ke arah kursi yang ada disampingnya, yang memang terdapat kardus yang berisikan brownis yang tadi diberikan oleh Bu Sum.
Arumi mengambil kardus yang berada di kursi di dan kemudian membuka kardus tersebut dan menyerahkannya pada adik tirinya.
Tiana dengan senang hati menerima dan kemudian mengambil satu bagian dari kue brownis tersebut.
"Terima kasih kakTia makan ya kak!" ucap Tiana dengan mengulas senyumnya.
"Iya, tapi baca doa dulu Ti......!" ucap Arumi yang belum selesai bicara, Tiana sudah memakan kue brownis tersebut.
"Hm...enak kak!" ucap Tiana dengan mengulas senyumnya.
"Duh...duh! lapar ya Tia!" seru Barick yang melihat adik tiri Arumi yang melalui kaca spion yang ada diatasnya
"Kak Arumi boleh minta Tia?" ucap Arumi yang menggoda adik tirinya yang sedang asyik makan kue brownis tersebut.
"Semua ini buat Tia! he...he.,!" ucap Tiana seraya mendekap erat kardus yang berisikan kue brownis tersebut.
"Sudah, makan saja! kak Arumi cuma goda kamu kok!" ucap Arumi seraya mengulas senyumnya.
Dan Tiana kembali memakan kue brownis tersebut dengan lahapnya, sementara Barick terus melajukan mobil yang mereka kendarai dengan kecepatan sedang.
"Kak pusing!" ucap Tiana yang tiba-tiba memegang kepalanya dan tubuhnya lemas lunglai ambruk dipangkuan Arumi.
"Tia....Tiana!" panggil Arumi seraya menggerak-gerakkan tubuh Tiana.
__ADS_1
"Tiana kenapa Yum?" tanya Barick yang kemudian menepikan mobilnya dan kemudian menghentikan laju kendaraannya,
"Nggak tahu Bar, tiba-tiba Tia pingsan. Dan ada busa dimulutnya!" jawab Arumi yang panik.
"Keracunan itu! kita bawa ke rumah sakit sekarang juga!" seru Barick yang sebelumnya menoleh guna melihat kondisi Tiana, kemudian membalikkan posisinya ke semula dan kembali menyalakan mobilnya menuju ke arah rumah sakit terdekat.
"Bar, tapi aku nggak punya uang. Trus bagaimana kalau di rumah sakit nanti biayanya besar? aku harus bayar pakai apa?" racau Arumi yang semakin panik mengingat uang yang dimilikinya hanya beberapa lembar uang dua puluh ribuan saja.
"Masalah uang kita pikirkan nanti! yang penting semoga nyawa adikmu bisa tertolong!" seru Barick yang sebetulnya juga panik dan dia berusaha untuk menguasai dirinya.
"Tia....bangun Tia!" panggil Arumi berkali-kali dengan isakan tangisnya.
Tak berapa lama mobil telah sampai di depan pintu unit gawat darurat.
"Emergency! tolong ada korban keracunan!" seru Barick pada satpam rumah sakit yang menghampiri mobil tersebut.
"Oh, baik tunggu sebentar!" seru satpam itu yang kemudian berlari memanggil beberapa perawat dan juga seorang dokter laki-laki yang akan memeriksa pada pasiennya.
"Arumi, cepat kamu temani Tiana. aku akan memarkirkan mobil lebih dahulu!" seru Barick yang menatap ke arah Arumi.
"Iya Bar!" balas Arumi yang bergegas mengikuti perawat-perawat yang mendorong Tiana melewati lorong rumah sakit menuju ke Unit Gawat Darurat.
Tak sampai ke ruang Unit Gawat Darurat, dan Tiana dibawa masuk ke ruangan tersebut.
"Saya kurang tahu pastinya, karena sehabis makan brownis dia tibaba-tiba tak sadarkan diri." jawab Arumi yang apa adanya.
"Makan Brownis ya?" tanya perawat itu sekali lagi.
"Iya." jawab Arumi yang apa adanya.
"Bisakah saya mendapatkan sampel brownis tersebut?" tanya perawat itu yang menatap Arumi dengan sedikit memohon.
"Saya bawakan brownisnya!" seru Barack yang setengah berlari menuju ke tempat dimana Arumi yang berdiri berhadapan dengan perawat itu seraya membawa satu kardus brownis yang tadi di.akan oleh Tiana.
Barick memberikan kardus brownis tersebut pada perawat, dan perawat itu menerimanya.
"Terima kasih, saya akan membawa brownis ini ke laboratorium untuk memeriksa apakah ada kandungan racun didalam brownis ini." ucap perawat itu yang menatap Barick dan Arumi satu persatu.
"Iya sus, tolong lakukanlah yang terbaik untuk adik saya!" seru Arumi yang tak kuasa air matanya terus mengalir.
__ADS_1
"Baik, akan kami usahakan semampu kami. Permisi!" ucap perawat itu yang kemudian masuk kedalam ruangan unit gawat darurat itu.
Setelah perawat itu berlalu, Barick melihat kesedihan dari sahabatnya dan dia memberanikan diri memeluk sahabatnya yang dalam kondisi sangat down sekali.
"Barick, andai saja Tiana tak makan brownis!" racau Arumi yang masih dalam dekapan Barick.
"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Sebaiknya kita tunggu hasilnya sambil duduk di kursi itu yuk!" ajak Barick dan Arumi menganggukka kepalanya seraya melepaskan pelukannya pada Barick.
Keduanya melangkahkan kaki menuju ke kursi yang sudah disediakan oleh rumah sakit, untuk duduk para keluarga pasien yang sedang di periksa oleh dokter di ruang unit gawat darurat.
Setelah sampai di deretan kursi itu, Barick menuntun Arumi untuk duduk, dan Arumi mengikutinya.
Keduanya duduk secara berdekatan di deretan kursi yang paling depan dan kebetulan juga dalam keadaan sepi.
"Bersandarlah di bahuku Arumi! semoga saja dapat mengurangi kesedihan kamu." ucap Barick yang siap pasang badan untuk Arumi.
Gadis itu ikut saja apa yang diucapkan oleh Barick, dan Arumi merasakan sedikit kenyamanan di bahu sahabatnya itu. Perlahan-lahan Arumi memejamkan kedua matanya dan akhirnya Arumi di bahu sahabat masa kecilnya itu.
"Arumi! rupanya sejak kamu meninggalkan kampung halaman kita, nasib kamu begitu malangnya." ucap dalam hati Barick yang menghela napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.
Barick merasakankegelisahan dari sahabatnya itu, pemuda itu menghirup dalam-dalam udara diruangan itu dan mengeluarkannya pelan-pelan.
"Apakah pingsannya Tiana ini karena makan brownis?" gumam dalam hati Barick yang kemudian dia mengambil dompetnya.
"Uangku tinggal segini! apakah nanti cukup untuk biaya pengobat Tiana nanti?" gumam Barick yang mendesah, menandakan dirinya dalam kondisi gelisah. Kepikiran dengan biaya pengobatan dan perawatan adik tiri sahabatnya itu.
Barick memasukkan kembali memasukkan dompetnya ke dalam sakunya.
Kemudian dibukanya ponselnya yang sudah ga mengutak-atik ponselnya yang tadi baru saja dia ambil dari sakunya.
Barick sibuk dengan membaca artikel-artikel tentang hal makanan yang ada ada racunnya di halaman ponseknya.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...