Mendadak Jadi Pewaris

Mendadak Jadi Pewaris
Meninggalkan Rumah Sakit


__ADS_3

"I..iya kak!" jawab Tiana dengan gugup, dan nampak masih ada rasa ketakutan diraut wajah gadis kecil itu.


Waktu terus berlalu, hingga matahari telah berada diatas kepala. Dan Tiana sudah pulih dari rasa sakitnya.


Kemudian Arumi menunaikan sholat Dhuhur bersama Tiana di ruang rawat nomor empat, dengan dijaga oleh seorang perawat.


Tak berapa lama Barick yang pulang dari sekolah, sudah berada di depan pintu ruangan rawat nomor empat, setelah sebelumnya dia sudah menunaikan sholat Dhuhur di masjid yang berada di samping halaman rumah sakit itu.


Perawat yang sudah mengenal Barick, mempersilahkan Barick untuk masuk, dan menunggu kedua perempuan yang sedang beribadah di dalam ruang rawat nomor empat itu.


Beberapa menit kemudian, Arumi dan juga Tiana telah selesai menunaikan sholat dhuhur, dan mereka saat ini sedang melipat mukena yang mereka pinjam dari perawat perempuan yang bekerja di rumah sakit tersebut.


"Assalamu'alaikum!" ucap salam Barick yang kemudian masuk ke ruang rawat tersebut.


"Wa'alaikumsalam! eh Barick, syukurlah!" balas Arumi yang bernapas lega.


"Memangnya kenapa? apakah ada sesuatu yang telah terjadi?" tanya Barick yang penasaran.


"Kak Barick! tadi ada yang mau mencelakai Tiana lagi!" seru Tiana yang menatap ke arah Barick.


"Ah, benarkah itu?" tanya Barick yang sangat terkejut dan dia menatap Arumi untuk meminta kejelasan yang pasti, pada sahabat yang sangat dicintainya itu.


"Iya Bar! tadi sewaktu Tiana diberikan menu sarapan dari rumah sakit, aku merasakan ada sesuatu yang aneh Bar! wadah makanan yang diberikan pada Tiana berwarna lain dari yang lainnya. Karena curiga, aku melarang Tiana untuk memakannya." ucap Arumi yang menceritakan kejadian tadi pagi.


"Lantas?" tanya Barick yang merasa penasaran.


Kemudian Arumi dan dibantu Tiana, menceritakan perihal tadi pagi yang sangat mengguncang hati dan perasaan Arumi, Tiana dan juga Dokter Rohaya.


"Pasti ada apa-apanya!" seru Barick yang setelah mendengar cerita Arumi dan Tiana.


"Aku juga bersependapat demikian!" seru Arumi yang juga menatap Barick dengan serius.


"Kita tak mungkin disini terus, kita juga harus pulang. Apapun yang terjadi setelah ini, kita hadapi bersama!" seru Barick yang membuat Arumi menganggukkan kepalanya. Ada sinar mata yang penuh semangat yang berkobar Dimata Barick, membuat Arumi serasa tak takut lagi akan teror-teror yang telah terjadi dan mungkin akan ada teror lagi yang tentunya lebih mengerikan lagi.


"Iya, sebaiknya kita pulang saja kak! Tiana juga nggak mau disini, bau obat!" seru Tiana yang memencet hidungnya.

__ADS_1


"Ha...ha....! kakak juga parno kalau menginap di rumah sakit. Selain karena berbau hantu, juga berbau teror! he....he..!" seru Arumi seraya tertawa kecil, dan hal itu dinikmati oleh Barick.


"Arumi, lama sekali aku tak melihat tawa kamu! cantik dan merdunya tawa kamu itu! Ah, andai saja kita sepasang kekasih!" gumam dalam hati Barick yang tak terasa mengulas senyumnya.


"Wah...wah...! ketawanya sampai kedengaran di luar lho!" seru seseorang yang tiba-tiba sudah berada di belakang Arumi dan juga Barick.


Meraka sangat terkejut dan menoleh ke belakang, dan mereka melihat keberadaan dokter Rohaya.


"Eh, dokter Rohaya!" panggil Arumi yang kemudian merubah posisinya dan demikian pula dengan Barick.


"Kalian sedang bahas apa sih? sampai ketawa-ketawa begitu?" tanya Dokter Rohaya yang penasaran.


"Oh, itu dokter! Apakah Tiana boleh pulang?" tanya Barick yang mewakili kedua perempuan disebelahnya.


"Apa kalian serius mau pulang?" tanya Dokter Rohaya yang penasaran.


"I..iya! Tiana sudah tak tahan sama bau obat, dokter!" jawab Tiana yang jujur apa adanya.


"Apakah benar begitu Saudari Arumi?" tanya Dokter Rohaya yang memastikannya.


"Baiklah kalau itu keinginan kalian, ambillah obat di apotik sebelum kalian pulang. Dan jangan khawatirkan masalah biaya administrasi rumah sakit, Semuanya ditanggung oleh kakak saya, pengacara Rohadi." ucap dokter Rohaya dengan mengulas senyumnya.


"Terima kasih ya dokter, karena dokter telah membantu keperluan kami selama di rumah sakit ini." ucap Arumi seraya mengulurkan tangannya.


"Sama-sama! kalian sudah aku anggap adik-adikku. Kalian hati-hati di jalan dan dimana pun!" pesan dokter Rohaya sembari menerima uluran tanga Arumi dan tanpa sadar keduanya saling berpelukan.


"Arumi akan selalu merindukan dokter!" ucap Arumi lirih dan dibalas anggukan oleh dokter Rohaya.


"Dokter juga akan selalu merindukan kamu, dan kalian semua!" ucap Dokter Rohaya yang tak terasa mata ketiga wanita itu berkaca-kaca.


"Tiana, cepat pulih dan sehat kembali ya!" ucap dokter Rohaya seraya memeluk Tiana.


"Iya dokter, dokter seperti ibu kedua saya!" ucap Tiana yang kini terisak karena tangisnya.


Dokter Rohaya melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya dan kemudian beralih menatap Barick yang sejak dari tadi memperhatikan ketiga wanita itu yang saling berpelukan dan saling menangis.

__ADS_1


"Saudara Barick! saya titip mereka, jaga mereka baik-baik ya!" ucap Dokter Rohaya seraya mengulurkan tangannya pada Barick.


"Tentu, tentu saja Dokter. Mereka juga adalah keluargaku, bagian dalam hidupku!" balas Barick yang membalas jabat tangan dari dokter Rohaya.


Dan ucapan Barick tadi membuat Arumi dan Tiana saling pandang.


"Baiklah, saya antarkan kalian sampai ke tempat parkir. Saudara Barick bisa tebus obatnya dulu di apotik, setelah itu susul kami di tempat parkir." usul dokter Rohaya yang menatap ke arah Barick berikut memberikan resep obat yang dokter Rohaya tulis pada Barick.


"Siap dokter!" seru Barick seraya meletakkan telapak tangan kananya di dahinya seperti seorang perwira dalam yang mendapat perintah dari atasannya.


Arumi dan Tiana sempat mengulas senyum mereka, dan setelah itu mereka berkemas-kemas untuk segera meninggalkan ruang rawat nomor empat itu.


Tak berapa lama ketiga wanita beda usia itu pergi meninggalkan ruang rawat nomor empat dan melangkah menyusuri lorong-lorong rumah sakit, untuk menuju ke tempat parkir dimana mobil Dokter Rohaya dan Barick terparkir.


"Kita tunggu Barick sebentar ya, saya juga mau pulang. Karena jam praktek saya sudah habis." ucap dokter Rohaya.


"Iya dokter." ucap Arumi dan juga Tiana yang duduk diatas kursi roda secara bersamaan.


Ketiganya terlibat percakapan ringan sampai akhirnya Barick sudah berada diantara mereka.


Mereka pun terpisah, Dokter Rohaya menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir. Sementara itu Barick, Arumi dan Tiana sudah masuk ke mobil Barick.


Perlahan-lahan Barick mengemudi, saat keluarga dari rumah sakit. Sedangkan Arumi dan Tiana melambaikan tangan mereka saat melihat dokter Rohaya, sebagai salam perpisahan mereka.


Sampai dijalan raya, Barick mengemudi dengan kecepatan sedang seraya membunyikan musik yang sedang hits. Untuk mengatasi rasa tegang, jenuh dan takut mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2