
Disaat membuka pintu mobil, dia melihat adanya dua buah batu yang lumayan besar. Diambilnya batu itu dan kemudian dia berusaha berdiri dengan segenap kemampuannya.
"Jangan sakiti kakakku! rasakan ini!" seru Tiana yang melemparkan salah satu batu dan tepat mengenai kepala bagian belakang laki-laki itu.
"Dugh...!"
"Aaarrgh...!"
"Ka..kau..!'
Kembali Tiana melemparkan batu yang kedua dan mengenai dada laki-laki yang sempat menoleh pada gadis cilik itu.
Arumi dan Barick melihat ke sumber suara dan mereka sangat terkejut saat melihat laki-laki yang ada dibelakang Arumi yang tiba-tiba terkapar, mengerang kesakitan.
"Aaaargh...!"
"Tiana...!"
Panggil Arumi saat melihat ke arah Tiana yang berdiri disamping mobil Barick.
"Kak Arumi! kak Barick!" panggi Tiana yang menatap ke arah Arumi dan Barick, ada perasaan takut, lega dan senang yang bercampur menjadi satu.
Arumi segera bangkit dari duduk berjongkoknya, dan dia berlari menghampiri Tiana. Kemudian keduanya saling berpelukan.
Barick juga bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiri Arumi dan juga Tiana.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba salah satu laki-laki yang sebelumnya mereka kalahkan itu, bangkit dari terkaparnya dan mengambil sebuah kayu yang lumayan panjang.
Laki-laki itu mengendap-endap dibelakang Barick.
"Kak Bar, awas dibelakang!" seru Tiana yang memperingatkan Barick akan adanya bahaya yang mengancamnya.
Dengan posisi berputar 180 derajat, Barick mampu memukul balik dengan tendangan memutar kebelakangnya.
"Dugh....!"
"Aargh...!"
Tendangan kaki Barick tepat mengenai bagian pelipis mata kanan laki-laki itu dan kepala laki-laki itu ikut memutar searah dorongan kaki Barick. Dan pada akhirnya laki-laki itu terkapar juga.
"Wiu....wiu...wiu....!"
Tak berapa lama ada mobil patroli polisi yang melintas, dan mobil itu berhenti.
Para polisi itu bertanya apa yang ?telah terjadi, Barick segera menceritakan urutan yang menimpa mereka saat dijalan raya.
__ADS_1
Sementara itu Arumi yang bersama Tiana, memeluk Tiana dengan erat.
"Tia, ka...kamu bisa jalan?" tanya Arumi yang terkejut saat melepas pelukannya pada Tiana, dan tak menyangka kalau Tiana bisa jalan walaupun hanya tertatih-tatih.
"I..iya, sebetulnya sudah dari kemarin-kemarin kak. Cuma Tia baru bisa merambat saja." jawab Tiana.
"Itu sudah kemajuan yang luar biasa!" ucap Arumi sambil memeluk kembali adik tirinya itu.
Setelah urusan dengan para polisi selesai, mereka melanjutkan perjalanan pulang menuju ke rumah Arumi.
"Yummy, kamu merasa tidak sih! rentetan kejadian yang menimpa kita?" tanya Barick setelah menjalankan mobilnya menyusuri jalan raya.
"Iya, Arumi juga semakin penasaran. Kenapa banyak yang sepertinya mau membunuh kita, setelah kita kerumah pengacara Rohadi." jawab Arumi.
"Sebenarnya ada apa kenapa pengacara Rohadi meminta data diri kamu dan kenapa sepertinya banyak yang mau membunuh kita setelah itu, apakah ada sangkut pautnya dengan data-data kamu ya Yummy?" tanya Barick seraya menatap ke arah depan, memperhatikan jalan lalu lintas yang dilaluinya.
"Mungkin saja kak Arumi putri Cinderella!" celetuk Tiana seraya menatap wajah Arumi dan mengulas senyum manisnya.
"Hah, kenapa kamu berpikiran seperti itu Tia?" tanya Arumi yang terkejut dengan apa yang diucapkan Tiana.
"Hm, bisa jadi Yum! bisa jadi kamu putri yang terbuang!" seru Barick yang seakan mengiyakan ucapan Tiana.
"Cinderella, putri terbuang! entahlah, kita akan ketahui besok. Yang penting cepat sampai rumah, aku sudah capek! ingin istirahat dan makan serta mandi. Lengket semua rasanya badan karena peluh dan keringat!" seru Arumi.
"Iya sama! rasanya sudah gerah!" seru Barick yang kemudian mempercepat laju mobilnya.
Setelah masuk dan menutup pintu garasi itu, mereka segera masuk ke rumah. Arumibsegera mengantar Tiana ke kamarnya dan menyiapkan keperluan ganti pakaian sampai air yang akan digunakan adiknya itu mandi.
Setelah selesai, Tiana mandi dan Arumi melangkahkan kaki menuju ke dapur untuk memasak nasi dan lauk pauk yang masih ada di dalam almari es.
Sementara itu Barick menuju ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
Hari sudah beranjak malam dan semuanya sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, demikian pula dengan Arumi yang setelah memasak juga membersihkan diri dan mereka menunaikan sholat Maghrib berjama'ah di dalam kamar Tiana.
Kemudian mereka segera makan malam bersama, dengan menu yang telah dimasak oleh Arumi.
"Yummy! kita nanti tidur sekamar ya! aku takut kalau kalian kenapa-kenapa!" seru Barick sambil mengulas senyum.
"Hah! nggak-nggak! yang ada nanti kamu malah mesum Bar!" seru Arumi seraya membalas senyum sahabatnya itu.
"Ya sudah aku mau ke kamar tamu saja!" seru Barick seraya mengulas senyum kecutnya.
"Eh...!" seru Arumi yang kemudian berpikir, dan merasakan akan ada lagi kejadian yang tak menyenangkan menimpa mereka.
"Kamu tidur di ruang tamu! disofa saja ya!" lanjut seru Arumi sambil melangkahkan kaki bersama Tiana menuju ke kamar Tiana.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar Tiana, Arumi menunggui Tiana sampai tidur.
"Oiya, Barick belum aku beri selimut!" gumam dalam hati Arumi yang kemudian turun dari tempat tidur setelah Tiana benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Arumi bergegas mengambil selimut yang berada dalam lemari dan kemudian membawanya keluar dari kamar Tiana. Perlahan-lahan Arumi berjalan menuju ke sofa ruang tamu, dan terlihat kalau Barick sudah di tidur dengan posisi miring seperti meringkukdi atas sofa.
"Hm, cepat sekali pulasnya! pasti kecapekan!" gumam Arumi yang kemudian menyelimutkan selimut yang dia bawa ke tubuh Barick.
"Tampan juga kamu Bar kalau pas tidur begini." gumam dalam hati Arumi yang menatap wajah polos Barick yang sedang tertidur.
Kemudian Arumi berniat meninggalkan Barick dan hendak kembali ke kamar Tiana.
Tapi baru saja hendak melangkah, ada yang memegang pergelangan tangannya.
"Jangan pergi yummy! jangan tinggalkan aku lagi, aku mencintaimu!" ucap lirih suara yang sangat dikenal gadis itu.
"Ba..Barick!" panggil Arumi saat menoleh ke belakang, dan mendapati Barick sudah dalam posisi duduk dan memegang pergelangan tangannya.
"Yummy, jawablah pertanyaanmu! apakah kamu mencintaiku?" tanya Barick yang menatap wajah Arumi penuh arti.
"Emm....!" Arumi diam dan tak berani menatap wajah Barick, dia menundukkan kepalanya.
"Jawab Yummy, apakah kamu mencintaiku? seperti aku mencintaimu?" tanya Barick yang mengangkat dagu gadis dihadapannya dengan jari telunjuk sebelah kanannya.
Arumi tetap diam, dan terus memandang Barick dengan berkaca-kaca.
"Jawab Yummy! jawab sayang!" bisik Barick dan keduanya saling menatap dengan intens.
"Klutek....klutek...!"
Tiba-tiba terdengar ada yang mencoba membuka pintu.
"Tiana!" seru Arumi yang mengingat adik tirinya yang ada di kamar.
"Bagaimana yummy? apa kamu tak mau menjawabnya?" tanya Barick sekali lagi saat Arumi hendak beranjak dari hadapan Barick.
"A....aku...!"
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...