
"Ba...baik tuan!" ucap mbok Sum yang bergegas melangkahkan kakinya menuju ke meja yang dimaksudkan oleh pengacara Rohadi.
Mbok Sum bergegas mengambil gunting dan juga plastik klip yang dimaksudkan oleh majikannya.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan majikannya, mbok Sum segera melangkahkan kakinya menghampiri majikannya dan memberikan gunting dan uga plastik klip sesuai permintaan majikannya itu.
"Ini tuan gunting dan juga plastik klipnya.' ucap mbok Sum seraya menyerahkan kedua benda permintaan dari majikannya itu.
"Terima kasih, sekarang mbok Sum bisa kembali ke dapur." ucap pengacara Rohadi seraya menerima plastik klip dan gunting dari tangan mbok Sum.
"Iya tuan, permisi." ucap mbok Sum yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkan majikan dan para tamunya.
Sementara itu pengacara Rohadi menyerahkan gunting itu pada Arumi, dan Arumi menerimanya.
"Nah sekarang nona Arumi bisa gunakan gunting ini untuk memotong rambut nona." ucap pengacara Rohadi.
"Oh, iya pengacara!" jawab Arumi yang kemudian memotong sebagian rambut kepalanya, dan menyerahkannya pada pengacara Rohadi.
Setelah menerima rambut itu, pengacara Rohadi dengan segera memasukkannya ke dalam plastik klip yang dia pegang tadi dan kemudian menyimpannya dalam sebuah amplop coklat lebar bersama fotokopi berkas identitas Arumi.
"Saya perlu nomor telepon yang bisa saya hubungi, jika tes DNA ini sudah muncul." ucap pengacara Rohadi dengan bersemangat.
"Oh, iya ini nomor saya tuan pengacara!" ucap Arumi yang menunjukkan nomor ponselnya pada pengacara Rohadi.
"Baiklah dan saudara Barick, tampaknya saya juga perlu tahu nomor anda." ucap Pengacara Rohadi yang menatap Barick.
"Ini nomor saya pengacara." balas Barick seraya menunjukkan ponselnya dan kemudian mereka saling bertukar nomor telepon.
"Pak Dadang, coba ceritakan bagaimana anda bisa bertemu saudari Arumi dan yang lainnya ini?" tanya pengacara Rohadi yang penasaran.
"Ceritanya setelah kemarin saya menerima kalung dari tuan Lucky, saya mencari data-data tentang keluarga tuan Yuwono yang hilang. Entah kenapa tiba-tiba saya disekap sama tiga orang yang memakai topeng. Selama tiga hari saya tak diberi makan dan minum, setelah itu saya dimasukkan ke dalam mobil. Dan salah satu dari mereka kemudian mencekik saya, dan saya pingsan. Yang ada kemungkinan mereka mengira kalau saya sudah meninggal, yang entah kenapa saya dibuang di depan rumah nona Arumi." jelas pak Dadang yang satu persatu menatap ke arah Pengacara Rohadi, Barick dan juga Arumi serta Tiana.
__ADS_1
"Oh jadi dari kejadian itu, kemungkinan mereka mengira kalau pak Dadang sudah meninggal. Jadi mereka membuang pak Dadang ke sembarang tempat. Dan ternyata secara kebetulan bertemu dengan keluarga tuan Yuwono." ucap pengacara Rohadi yang mencoba merangkai kejadian itu.
"Allah telah memberikan petunjuk dengan cara-Nya. Dan kita perlu bersyukur dengan hal ini." ucap Barick.
"Alhamdulillahi robbil alaamiin..." ucap syukur semuanya yang dibarengi dengan membasuh wajah masing-masing.
"Ma'af bolehkah saya bertanya?" tanya Tiana yang memandang ke arah pengacara Rohadi.
"Apa yang ingin kamu tanyakan gadis manis?" tanya pengacara Rohadi yang menatap wajah Tiana dengan rasa ingin tahu apa yang ingin diucapkan oleh gadis kecil yang duduk diatas kursi roda itu.
"Bukankah aku juga putri Tuan Yuwono? Kenapa aku tidak di tes DNA juga?" tanya gadis berusia delapan tahun itu dengan polosnya.
"Iya, tapi yang kami cari adalah keluarga dari tuan Yuwono yang berusia lebih dari enam belas tahun. Sedangkan Tiana masih berusia delapan tahun. Jadi mohon ma'af ya Tiana." ucap pengacara Rohadi yang berusaha menjelaskan sesuai kemampuan gadis cilik itu.
"Oh, jadi begitu ya?" ucap Tiana yang sudah mengerti maksud dari pengacara Rohadi.
"Pak Dadang, mengingat keselamatan anda setelah kejadian kemarin, sebaiknya anda saat ini bekerja dengan saya sebagai sopir pribadi saya. Agar saya bisa selalu memantau dan mungkin saja kita bisa saling melindungi." usul pengacara Rohadi untuk kepentingan bersama.
"Baik tuan pengacara, saya setuju. Lagi pula tak mungkin saya balik lagi ke kediaman keluarga tuan Lucky Harahap, mengingat setelah apa yang telah terjadi dengan saya." ucap pak Dadang yang sudah mempertimbangkan apa yang telah terjadi dengan apa yang akan terjadi.
"Oh, tentu saja! urusan kita juga sudah selesai. Dan kita akan berjumpa lagi nanti setelah tes DNA keluar, nanti saya akan menghubungi kalian." ucap pengacara Rohadi sembari bangkit dari duduknya dan demikian pula dengan Barick, Arumi dan juga pak Dadang.
Kemudian mereka melangkahkan kaki hendak meninggalkan ruang tamu itu.
"Tunggu sebentar!" seru suara seorang wanita setengah baya yang tergopoh-gopoh menghampiri Arumi.
"Oh, mbok Sum! ada apa mbok?" tanya pengacara Rohadi yang penasaran.
"Ini ada brownis, buat bekal dijalan mereka." ucap mbok Sum seraya memberikan satu kardus yang berisikan brownis yang dimaksud mbok Sum.
"Terima kasih, ma'af kalau merepotkan." ucap Arumi yang menerima kardus tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kapan-kapan main lagi kemari ya!" ucap mbok Sum sembari mengulas senyum.
"Sekali lagi terima kasih, Assalamu'alaikum!" ucap salam Arumi dan diikuti yang lainnya.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Pengacara Rohadi dan mbok Sum yang hampir bersamaan.
Barick, Arumi dan Tiana masuk ke dalam mobil dan kemudian mereka melaju perlahan-lahan menuju ke jalan raya seraya melambaikan tangan mereka pada pengacara Rohadi dan juga mbok Sum.
Setelah mobil yang membawa tamu-tamunya hilang dari pandangan mereka, pengacara Rohadi dan mbok Sum melangkahkan kaki mereka masuk ke rumah dan menutup serta mengunci pintu utama rumah mereka.
Sementara itu mobil yang dikemudikan Barick yang membawa Arumi dan Tiana melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang.
"Aku sebenarnya masih penasaran, apa yang diinginkan pengacara Rohadi padaku. Sampai-sampai meminta identitas serta rambut aku untuk tes DNA. Apakah kamu juga berpikir demikian Bar?" tanya Arumi seraya mengusap kepala Tiana yang nampaknya mulai mengantuk itu.
"Aku juga merasakan seperti itu, tapi ya sudahlah. Kita tunggu sampai tes DNA keluar dan pengacara Rohadi bisa menjelaskan semuanya."ucap Barick yang terus mengemudi.
"Iya sih!'' ucap Arumi yang duduk dibelakang Barick dengan tetap masih mengusap-usap kepala Tiana yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Tanpa mereka sadari, ada sepeda motor yang ditumpangi oleh dua orang mengikuti jalannya mobil Barick. Mereka memakai pakaian yang serba hitam.
Tak berapa lama mereka sampai di pom bensin, setelah mengisi bensin mereka beristirahat dan menunaikan sholat Maghrib yang dijamak dengan sholat Isya' di Musholla yang terdapat di pom bensin tersebut, Di karenakan sejak tadi mereka tak menemukan tempat yang cocok untuk istirahat.
Dan mereka belum menyadari kalau orang yang mengikuti mereka juga beristirahat di tempat itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...