
Barick membalikkan badannya dan melangkahkan kaki menuju ke mobilnya dan setelah masuk, dia melajukan kendaraannya menuju ke arah tempatnya menimba ilmu.
Dalam perjalanannya, pikirannya terus terpikirkan pada keadaan Arumi. Dan jika benar yang menculik Arumi itu Kayla, dia tak habis pikir apakah mungkin Kayla setega itu?
"Tapi sepertinya memang bisa saja tega, karena Kayla sering membully Arumi." gumam dalam hati Barick yang perlahan menepikan kendaraannya. Karena sudah berada di depan sekolah dan mengantri untuk memarkirkan kendaraannya.
Sesampainya ditempat parkir sekolah, Barick melihat keberadaan mobil dengan plat nomor K347A. Mobil itu tepat berada disamping mobilnya.
Tak berapa lama dia melihat tommoy teman sebangkunya yang baru saja datang dengan sepeda motornya.
"Hai Tom!" sapa Barick pada saat menghampiri Tommy.
"Hai juga Bar!" balas Tommy yang terkejut dan kemudian melepaskan helmnya.
"Kamu kenapa Tom? seperti baru khitan saja? Ha..ha...!" tanya Barick yang berusaha tertawa disaat hatinya sedang resah, yang sempat melihat ada luka lebab dipelipis kanan Tommy, dan nampak dia berjalan sedikit aneh.
"Oh, kemarin jatuh dari motor!" jawab Tommy yang dari raut wajahnya menyembunyikan sesuatu.
Walaupun sedikit ada rasa curiga, namun Barick berusaha menepisnya.
Kemudian mereka bersama-sama melangkahkan kaki menuju ke lorong-lorong sekolah mereka, dan mereka berbincang-bincang dan bercanda layaknya anak sekolah.
...****...
Sementara itu Arumi yang malam itu tak sadarkan diri dan dibawa oleh mobil yang berwama merah dan bernomor K347A itu, terus melaju menembus gelapnya malam.
"Kita bawa kemana gadis ini, Key?" tanya laki-laki yang mengemudi itu seraya melepaskan penutup kepalanya pada gadis yang duduk disampingnya.
"Sudahlah! ikuti petunjukku saja!" seru seorang gadis yang dipanggil Key oleh laki-laki yang mengemudi itu, yang tak lain adalah Keyla dan laki-laki itu adalah Tommy teman sekelas Arumi dan Barick.
Mobil itu terus melaju, dan membawa Arumi yang masih tak sadarkan diri.
Tibalah mereka di depan sebuah villa tua, tapi masih terawat dengan rapi dan bersih.
Setelah mematikan mobilnya, Tommy dan Keyla keluar dari mobil dan Tommy membuka pintu belakang mobil kemudian mencoba mengangkat tubuh Arumi yang terkulai lemas itu.
__ADS_1
"Hm, wangi sekali ternyata aroma tubuh kamu. Bibir ini, ah....! rasanya ingin aku lumatt saja." gumam dalam hati Tommy seraya mengangkat tubuh Arumi dan kemudian membopong tubuh mungil Arumi mengikuti arah Kayla yang melangkahkan kakinya.
Sesampainya di depan pintu villa itu, Keyla membuka pintu dan mereka masuk ke dalam villa itu.
"Kita bawa Arumi ke salah satu kamar di villa ini!" ucap Keyla seraya menutup dan mengunci pintu utama villa tersebut.
Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju sebuah kamar yang ditunjukkan oleh Keyla.
Setelah masuk ke kamar itu, Tommy segera membaringkan Arumi ke atas tempat tidur yang berada di kamar itu.
"Wah, rupanya dia manis juga! ha...ha...!" seru Tommy yang melihat raut wajah Arumi yang tak sadarkan diri itu sambil tertawa.
"Sudah jangan tertawa saja! cepat ikat kedua tangan dan kakinya. Setelah itu kita plester mulutnya, adat kalau bangun nanti dia tak merepotkan!" perintah Keyla seraya memberikan tali pada Tommy.
Tommy pun mengikat tangan dan kaki sesuai perintah Keyla. Sementara Keyla menyimpan mulut Arumi dengan plester.
"Aku ingin membalaskan rasa sakitku ini!" seru Tommy yang terus memandang Arumi dengan tatapan liarnya.
"Sudah besok saja! sekarang kita tinggalkan dia disini!" seru Keyla yang menarik tangan Tommy.
"Tom, ini uang yang kamu inginkan. Dan ingat! jangan kasih tahu siapapun akan hal ini, mengerti!" seru Keyla seraya memberikan segepok uang pada Tommy.
"Ha...ha...! ini yang aku harapkan!" seru Tommy yang mencium aroma uang saat sudah menerima uang tersebut dari Keyla.
"Sudah! ayo kita pergi dari sini! Kita akan lakukan kesenangannya besok siang saja! yang terpenting, Arumi sudah ada di tangan kita, jadi dia tak akan bisa menggangguku dalam mendapatkan Barick dan yang jelas aku akan tetap kaya jika dia tak dapat ditemukan lagi!" seru Keyla dengan senyum sinisnya.
"Kenapa melakukan kesenangannya besok? bukankah lebih baik sekarang saja?" tanya Tommy yang menatap wajah cantik Kayla yang penuh dengan riasan itu.
.
"Bukannya kamu sendiri yang membutuhkan uang itu untuk menebus ibu kamu yang saat ini di tahan oleh rentenir, yang digunakan jaminan agar kamu segera melunasi hutang-hutang ibu kamu pada rentenir?" jawab sekaligus tanya Keyla yang mengingatkan tujuan semula
"Ahh,iya! Aku hampir saja lupa! gawat jam dua belas jatuh temponya! aku tak mau kalau ibuku dipaksa melayani mereka!" seru Tommy yang mengingat akan tujuan semulanya dia membutuhkan uang untuk menebus ibunya yang ditahan para renternir yang meminjamkan uang pada ibunya.
Keduanya bergegas meninggalkan villa tersebut, dan juga meninggalkan Arumi di dalam salah satu kamar di villa itu dalam ke adaan terikat.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Arumi membuka kedua matanya dan mengetahui kalau dirinya saat ini dalam kondisi terikat dan mulut yang sedang di plester
"A..aku kenapa?" tanya dalam hati Arumi yang mencoba mengingat ingat sesuatu yang telah menimpanya.
"Ya Allah kenapa aku seperti ini?" racau dalam hati Arumi yang tak terasa mengalirlah air mata dipipinya.
"Aku tak boleh menangis, aku harus kuat!" gumam dalam hati Arumi yang mencoba menyemangati dirinya sendiri sambil berusaha mencari cara untuk membebaskan dirinya dari ikatan yang membelenggunya.
Arumi menebarkan pandangannya ke sekitar kamar itu, kosong tak ada sesuatu yang bisa digunakan sebagai alat pembuka ikatan itu.
"Apa ya yang bisa aku gunakan? kamar ini kosong tak ada benda tajam yang bisa aku gunakan untuk memotong tali ini!" gumam Arumi yang terus menebarkan pandangannya ke tiap sudut kamar.
Tiba-tiba Arumi melihat ke arah pintu kamar mandi, dan melihat ada bagian tepi kamar mandi itu yang runcing. Bergegaslah dia berjalan dengan meloncat-loncat karena kakinya yang juga terikat itu, secara tertatih menuju ke pintu kamar mandi.
"Aku coba pakai ini saja, semoga bisa!" gumam dalam hati Arumi saat sudah sampai di depan pintu itu dan kemudian dia duduk membelakangi pintu dan mulai menggisok-gosok ikatan itu pada bagian tepi pintu tersebut.
Lumayan lama Arumi menggosok tali itu secara naik dan turun beberapa kali, hingga terasa panas dan lama-lama putus juga tali yang mengikat tangan Arumi.
"Alhamdulillah akhirnya putus juga ikatan ini!" ucap dalam hati Arumi dengan rona wajah yang bersemangat.
Setelah terlepas ikatan di tangannya, kemudian Arumi membuka plester yang menempel di mulutnya dan membuka ikatan yang membelenggu kakinya.
Tak berapa lama ikatan itu berhasil dia selesaikan, dan kini Arumi bangkit dan melihat ke arah jendela.
"Sekarang bagaimana cara aku keluar? Jendelanya ada teralisnya, jalan satu-satunya dipintu itu!" gumam Arumi yang kemudian menatap ke arah pintu kamar itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...