
"Memang akan terjadi sesuatu, dan itu akan menjadi perubahan besar buat kamu. Tugas kami adalah menguak kebenaran dan melaksanakan amanat mendiang tuan Lucky Harahap." jelas pengacara Rohadi.
"Tunggu apa lagi? ayo lekas berangkat!" seru dokter Rohaya yang sudah memposisikan dirinya menghadap ke depan.
Pengacara Rohadi kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang kembali menyusuri jalan raya menuju ke arah yang dituju oleh pengacara Rohadi.
Tak ada kendala dalam perjalanan itu dan mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki halaman rumah yang begitu luasnya, Dari halamannya saja bisa sepuluh kali luas halaman rumah yang selama ini ditinggali oleh Arumi dan Tiana.
Mobil itu terus menyusuri jalan dihalaman itu dan berhenti di depan teras rumah besar dan mewah itu.
"Inilah rumah eh, istana tuan Lucky Harahap dan nyonya Lianti. Sebaiknya kita lekas turun!" ajak pengacara Rohadi yang melepas sabuk pengamannya.
Semuanya pun mengikuti dan keluar dari mobil mewah kepunyaan pengacara Rohadi.
Arumi dan yang lainnya melihat beberapa mobil yang berjajar dengan rapi, dan ada satu yang berplat nomer K347A yang berarti itu milik Keyla.
"Keyla ada disini!" bisik Barick pada Arumi, dan Arumi sempat melihat mobil tersebut.
"Kita masuk dan lihat apa yang akan terjadi nanti." ucap dokter Rohaya dan mereka melangkahkan kaki menuju ke teras dan tiba-tiba ada yang menghampiri mereka..
"Selamat malam pengacara Rohadi!" ucap sapa seorang laki-laki yang memakai seragam satpam.
Satpam itu adalah teman akrab pengacara Rohadi, yang sengaja pengacara Rohadi minta pada tuan Lucky Harahap untuk memperkerjakan temannya itu yang bernama Mohari sebagai satpam.
Dan Satpam Mohari yang bekerja dirumah besar itu, saat ini menjadi pemberi informasi buat pengacara Rohadi dalam menyelidiki kasus di rumah besar dan mewah itu. Terutama mengawasi pergerakan nyonya Lauren.
"Selamat malam juga bung Mohari!" balas pengacara Rohadi dan keduanya saling berjabat tangan.
"Ada yang ingin saya sampaikan pada anda pengacara!" ucap satpam Mohari secara berbisik.
"Apakah ada berita yang penting?" tanya pengacara Rohadi yang juga dengan berbisik.
"Iya, didalam sedang ada pertemuan keluarga." ucap satpam Rohadi.
"Pertemuan keluarga?" tanya Pengacara Rohadi yang mengernyitkan kedua alisnya. Karena dia sama sekali tak diberitahu oleh pihak keluarga.
"Iya pengacara, didalam ada nyonya Lauren, nona Keyla, temannya nona Keyla, dan beberapa keluarga dan orang kepercayaan mereka. Dan ada satu lagi yaitu pembantu anda, mbok Sum." jawab Satpam Mohari yang terang saja membuat pengacara Rohadi sangat terkejut.
__ADS_1
"Mbok Sum? apa yang membuat mbok Sum kemari lagi? Diakan seharusnya ada dirumah?" tanya dokter Rohaya yang sedari tadi diam saja dan ikut penasaran.
"Sudah aku duga!" seru pengacara Rohadi yang raut wajahnya berubah menjadi serius.
"Iya, dia tadi datang bersama empat orang yang memakai pakaian hitam. Dan mereka bersama seorang gadis kecil, yang usianya sekitar delapan sampai sepuluh tahun." jelas satpam Mohari yang menatap pengacara Rohadi.
"Ti..Tiana!" ucap Arumi yang bersamaan dengan Barick.
Mendengar Arumi dan Barick bersuara, Satpam Mohari mengarahkan pandangannya pada gadis yang ada di belakang dokter Rohaya dan juga pengacara Rohadi.
"Nyo..nyonya!" panggil satpam Mohari itu dengan sangat terkejut.
"Dia putri yang hilang!" ucap pengacara Rohadi seraya mengulas senyumnya.
"Oh, akhirnya ketemu juga." ucap satpam Mohari yang bernapas lega.
"Sudahlah, ayo kita masuk! Dan kita lihat, apa yang akan dilakukan oleh nyonya Lauren selanjutnya!" seru Pengacara Rohadi seraya menepuk pundak sebelah kanan satpam Mohari dengan tangan sebelah kirinya.
"Nyonya Lauren? siapa dia pengacara?" tanya Arumi yang penasaran.
"Nyonya Lauren adalah ibu tiri anda, yang berarti ibunda dari teman sekelas anda yaitu Keyla." jawab pengacara Rohadi yang menjelaskan.
"Mbok Sum dulu adalah kepala pembantu disini, dan aku meminta untuk bekerja di rumahku, karena pada saat itu aku kerepotan mencari pembantu. Yang secara kebetulan, mbok Sum diberhentikan dari rumah besar dan mewah ini, karena ada yang memberitahukan kalau mbok Sum sedang sakit." jelas pengacara Rohadi.
"Terus kenapa bisa bekerja di tempat pengacara?" tanya Barick yang terus mengikuti jalan ceritanya.
"Itu karena aku memang butuk pembantu, dan kebetulan bertemu dengan mbok Sum." jawab pengacara Rohadi sembari mengulas senyumnya.
"Sssst, sudah! kapan kita masuknya!" bisi dokter Rohaya yang mengingatkan tujuan awal mereka.
"Oiya ayo kita masuk! dan kamu Bung Mohari, sekalian kita masuk! akan ada tontonan seru nantinya, dan aku butuh kesaksian kamu!" ucap Pengacara Rohadi.
Satpam Mohari mengerti maksud dari pengacara Rohadi dan kemudian dia mengikuti langkah pengacara Rohadi yang menuju ke teras depan rumah besar nan mewah itu.
Tak berapa lama mereka telah sampai di depan pintu utama rumah besar dan mewah itu.
"Ting....tung.... Assalamu'alaikum...!''
__ADS_1
Bunyi bel pintu yang telah dinyalakan oleh pengacara Rohadi.
Tak juga mendapat jawaban, pengacara itu membunyikan lagi bel yang menempel di samping sebelah kanan pintu tersebut.
"Ting....tung.... Assalamu'alaikum...!''
"Klek...klek...ceklek....!"
Tak berapa lama pintu telah terbuka, dan terlihatlah wanita setengah baya yang sangat dikenal oleh pengacara Rohadi.
"Tu...tuan Rohadi, nyonya ro..Rohaya!" panggil wanita itu yang amat sangat terkejut.
"Mbok Sum? mbok Sum kok berada bisa disini?" tanya pengacara Rohadi yang pura-pura terkejut.
"Oiya, tadi dijemput oleh sopir. Nyo..nyonya Lauren, nyonya ...hm, minta dikerik karena sedang masuk angin." jawab wanita itu yang tak lain adalah mbok Sum, mantan pembantu dirumah besar itu.
"Dikerik ya?" gumam pengacara Rohadi yang dalam hati bertanya-tanya.
"Hm, setahu aku nyonya Lauren tak suka kalau dipijat apalagi dikerik." gumam pengacara Rohadi yang mengernyitkan kedua alisnya, tanda sedang berpikir.
"Oh, apakah kami hanya sampai disini saja? kami ingin bertemu dengan nyonya Lauren sekarang juga!" seru dokter Rohaya yang langsung menyelonong masuk ke rumah menuju ke ruang tamu, dan diikuti oleh yang lainnya.
Pengacara Rohadi sempat melirik wajah mbok Sum yang nampak pucat pasi. Demikian pula dengan Arumi dan Barick, apalagi pada saat mbok Sum melihat satu persatu tamu tuan rumah yang tiba-tiba melihat ke arah Arumi.
"Bu..bukankan itu tamu pengacara Rohadi, bahkan mirip sekali dengan nyonya Lianti. Tapi bukannya dia, bukannya dia sudah-sudah meninggal?" gumam mbok Sum yang penasaran dengan apa yang ada dihadapannya itu.
"Assalamu:Alaikum?" ucap salam pengacara Rohadi dan juga dokter Rohaya serempak saat sudah berada di ruang tamu yang ada beberapa orang disana.
Orang-orang yang mendengarkannya pun menoleh dan mereka sangatlah terkejut pada saat melihat siapa yang datang.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like /Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...