
"Pengacara Rohadi?" tanya dokter yang menatap penasaran pada Barick.
"I...iya, kami baru saja dari rumah pengacara Rohadi. Dan bro..brownis itu dari mbok Sum yang memberikannya tadi saat kami hendak pulang." jawab Arumi yang sudah duduk kembali di kursi ruang tunggu, dan Barick juga duduk di sampingnya.
"Saya Dokter Umum dan nama saya adalah Rohaya, saya adik dari pengacara Rohadi." ucap dokter wanita itu yang memperkenalkan dirinya.
"Adik pengacara Rohadi?" tanya Barick dan Arumi yang bersamaan, kemudian saling bertatap mata karena rasa penasaran mereka.
"Iya, dan sekarang ini kak Rohadi sedang mengerjakan sebuah kasus yang sangat pelik. Dan terus terang saya sangat terkejut jika adik kalian keracunan saat memakan brownis pemberian dari mbok Sum!" ucap dokter Rohaya yang kemudian duduk disamping Arumi.
"Memang brownis itu dari mbok Sum, saya sendiri juga heran dok!" ucap Arumi yang menatap dokter Rohaya dengan serius.
"Baiklah, saya akan hubungi kak Rohadi sekarang juga. Mudah-mudahan kak Rohadi belum istirahat, mengingat waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam." ucap dokter Rohaya yang membuka ponselnya dan segera menghubungi kakaknya, pengacara Rohadi.
"Tuuut....tuuut.....tuuuut...!"
Panggilan telepon dari dokter Rohaya belum juga diangkat oleh pengacara Rohadi.
Sekali lagi dokter Rohaya menelepon kakaknya.
"Tuuut....tuuut.......!"
Pengacara Rohadi ; "Hallo! Assalamu'alaikum...!"
Dokter Rohaya ; "Wa'alaikumsalam..!"
Pengacara Rohadi ; "Ada apa Aya?"'
Dokter Rohaya ; "Kak, saya baru saja menerima pasien yang bernama Tiana. Dan disini ada kakaknya Tiana yang bernama Arumi dan juga temannya yang bernama Barick. Katanya mereka baru saja dari rumah kakak?"
Pengacara Rohadi ; "Iya, memang benar mereka baru saja dari rumah kakak. Ada apa dengan mereka Ya?"
Dokter Rohaya ; "Tiana baru saja lepas dari masa kritisnya. Dia keracunan karena makan brownis yang menurut Arumi, brownis itu pemberian dari mbok Sum. Apakah benar begitu kak?"
Pengacara Rohadi ; "A...apa! Gadis malang itu keracunan brownis?"
Dokter Rohaya ; "Iya benar, kak! Dan dia baru akan dipindahkan di ruang perawatan."
Pengacara Rohadi ; "Baiklah, tolong rawat dan jaga mereka. Terutama Arumi saat ada di rumah sakit."
Dokter Rohaya ; " Baik Kak!"
Pengacara Rohadi ; "Untuk mbok Sum, biar saya yang mengurusnya dan kalau ada apa-apa bisa hubungi aku!"
Dokter Rohaya ; "Baik kak!"
__ADS_1
Pengacara Rohadi ; "Assalamu'alaikum..!"
Dokter Rohaya ;" Wa'alaikumsalam....!"
Kemudian Dokter Rohaya menutup teleponnya, dan menatap ke arah Arumi dan Barick.
"Apa kata pengacara Rohadi Dok?" tanya Arumi yang penasaran.
"Tenang saja, kakak ku akan mengurus semuanya." ucap dokter Rahaya dengan mengulas senyumnya.
"Oh, begitu." ucap Arumi seraya menganggukkan kepalanya.
"Tadi dokter sempat bilang kalau Tiana sudah melewati masa kritisnya, apakah bisa kami menjenguknya?" tanya Barick yang menatap dokter Rohaya dengan setengah memohon.
"Oh tentu, tentu saja boleh!" seru dokter Rohaya yang kemudian mengajak Arumi dan Barick menuju ke ruangan dimana Tiana dipindahkan ke ruangan perawatan.
Dan akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu ruangan yang dimaksudkan oleh dokter Rohaya.
Mereka segera masuk, dan benar Tiana terbaring di ruangan itu dan masih memejamkan kedua matanya serta tampak sangat lemah sekali.
"Tiana!" panggil Arumi pada saat menghampiri adik tirinya itu.
"Kak Arumi!'' balas panggil Tiana dengan suara yang masih lemah itu.
"Tia lemas sekali kak!" ucap Tiana dengan suara lemahnya.
"Kamu tidur lagi ya, besok pasti bisa sehat kembali." ucap dokter Rohaya seraya mengusap kepala Tiana dengan lembut.
Tiana menganggukkan kepalanya dan dia kemudian memejamkan kedua matanya dan akhirnya terlelap dalam mimpinya.
"Kalian berdua juga nampak lelah, sebaiknya juga harus segera iiatirahat!" ucap dokter Rohaya yang menatap Arumi dan juga Barick satu persatu dengan mengulas senyumnya.
"Iya dokter!" ucap Arumi yang mengulas senyumnya, sementara Barick menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, pesan saya kalian harus hati-hati dimanapun kalian berada!" saya permisi." ucap dokter Rohaya yang dari suaranya seperti mengingatkan.
"Iya dokter." jawab Barick dan gantian Arumi yang menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." ucap dokter Rohaya yangng menatap Arumi dan Barick bergantian.
"Baik dokter " ucap Arumi dan Barick yang bersamaan.
Kemudian dokter Rohaya melangkahkan kakinya meninggalkan mereka bertiga. Sementara itu Barick menepuk punggung Arumi dan Arumi menoleh padanya.
"Ada yang ingin saya katakan pada kamu, sebaiknya kita keluar sebentar. Agar tak didengar oleh Tiana." bisik Barick dan Arumi pun mengerti maksud dari Barick.
__ADS_1
Kemudian Arumi pamitan sama Tiana, untuk keluar sebentar.
"Tia, kakak mau pergi sebentar ya! kamu tidur saja dulu!" ucap Arumi yang mengusap dengan lembut kepala Tiana.
"I...iya kak! Tiana juga mau tidur sebentar." balas Tiana sembari mengulas senyumnya.Dan Arumi pun membalas senyuman itu dengan senyuman pula.
Setelah itu Arumi melangkahkan kakinya, pergi mengikuti Barick yang keluar dari ruang rawat Tiana menuju ke ruang tunggu yang ada di depannya
"Ada apa Bar?" tanya Arumi yang penasaran.
"Besok kamu libur sekolah terlebih dahulu. Rawat dan jaga Tiana, dan nanti aku akan ke sekolah untuk memintakan ijin dari pak Gunadi. Bagaimana apakah kamu setuju?" tanya Barick saat keduanya sudah duduk di ruang tunggu itu.
"Baiklah aku setuju!" jawab Arumi yang menganggukkan kepalanya.
"Dan satu lagi, kita juga harus hati-hati!" bisik Barick yang menatap Arumi dengan tajam.
"Iya Barick, dimana dan kapan pun pastilah kita harus berhati-hati!" balas Arumi yang menatap Barick dengan perasaan aneh.
"Aku yakin kalau sasaran dia yang memberi racun itu adalah kita bertiga, jadi kita harus selalu waspada. Kamu ingat kalau roti brownis itu beracun, dan kejadian ini setelah kamu memberi bukti pada pengacara Rohadi tentang kenyataan kamu adalah putri tuan Yuwono!" ucap Barick yang penuh selidik.
"Hm...!walaupun aku sempat berpikir seperti itu, tapi aku punya pendapat lain. Kemungkinan saja Bu Sum tak tahu brownis yang diberikan pada kita itu mengandung racun, bisa jadi brownis itu buat pengacara Rohadi. Bukankah pengacara selain dibutuhkan oleh orang, juga bisa jadi musuh dalam persidangan?" pendapat Arumi yang membuat Barick berpikir keras.
"Hm, ada benarnya juga! tapi kita harus tetap waspada. Aku tak mau kehilangan kamu lagi!" bisik Barick yang membuat Arumi menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyumnya.
"Kamu nampak lelah sekali, sebaiknya kamu selalu disamping Tiana. Biar aku yang akan menjaga kalian disini." lanjut ucap Barick yang melihat raut kelelahan di wajah sahabatnya itu.
"Baiklah, selamat malam Barick dan semoga mimpi indah?" ucap pamit Arumi.
"Selamat malam dan selamat mimpi indah juga!" balas Arumi yang mengulas senyumnya dan kemudian dia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju ke ruangan dimana Tiana dirawat.
"Mimpikan diriku ya yummy, aku akan memimpikan saat-saat kita bersama." gumam dalam hati Barick yang kemudian memposisikan dirinya untuk berbaring diatas tempat duduk dimana tadi dia duduk bersama Arumi.
Sementara itu Arumi sudah memasuki ruang rawat dimana Tiana dirawat, kemudian gadis itu mengambil kursi dan duduk disamping adik tirinya yang sudah terlelap dalam mimpinya.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1