Mendadak Jadi Pewaris

Mendadak Jadi Pewaris
Mirip Nyonya Majikan


__ADS_3

"Sekarang bagaimana cara aku keluar? Jendelanya ada teralisnya, jalan satu-satunya dipintu itu!" gumam Arumi yang kemudian menatap ke arah pintu kamar itu.


Arumi melangkahkan kaki perlahan ke depan pintu kamar itu. Berkali-kali dia mencoba membuka, tapi tak juga berhasil.


"Apa yang harus aku lakukan? apa aku harus menunggu sampai besok?" gumam dalam hati Arumi, seraya menebarkan pandangannya ke seluruh kamar itu.


"Iya, sebaiknya aku disini sampai besok, kalau ada yang mau membukakan pintu ini, lebih baik aku kumpulkan tenaga untuk besok!" gumam Arumi lagi dan kemudian dia melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dan setelah itu, Arumi menunaikan sholat dengan selimut yang digunakan sebagai mukena. Karena memang tak ada mukena di kamar tersebut.


Selesai sholat Arumi segera merebahkan diri di atas tempat tidur dan memejamkan kedua matanya.Dan akhirnya Arumi tertidur dengan pulas diatas tempat tidur.


Beberapa jam kemudian, malam telah berganti malam. Arumi segera bangun untuk menunaikan sholat Subuh. Setelah itu, dia melangkahkan kaki menuju ke jendela kamar dan melihat keadaan diluar viila tersebut.


Nampaklah sepasang laki-laki dan wanita tua yang melangkahkan kaki masuk ke villa.


"Apakah mereka itu tukang kebun dan pembantu di rumah ini!" seru dalam hati Arumi yang sambil berpikir dengan langkah berikutnya.


Beberapa jam kemudian, tak ada juga yang mengetuk dan masuk ke kamar dimana Arumi di tahan itu.


Rasa lapar pun menghinggapi perut gadis itu.


"Hah, kenapa pembantu itu tak masuk ke sini ya? membersihkan tempat ini atau memberikan aku sarapan. Atau jangan-jangan dia tak tahu kalau ada aku disini?" gumam dalam hati Arumi yang penasaran.


Baru saja selesai bicara dalam hati, tiba-tiba ada suara pintu yang hendak dibuka.


"Jangan-jangan pembantu itu mau masuk!" gumam dalam hati Arumi.


"Lebih baik aku terus terang saja munculnya, lagi pula aku tak tahu tempat ini seperti apa." ucap dalam hati Arumi yang tak akan sembuyi jika ada orang yang akan masuk ke kamar itu.


"Klek ..klek....ceklek...!"


Suara pintu yang terbuka, dan nampaklah seorang wanita tua yang masuk dengan beberapa alat kebersihan.


"Hah! nyonya?" tanya pembantu itu yang terkejut saat melihat ke arah Arumi.


"Nyonya? saya belum menikah Bu?" ucap dan tanya Arumi yang penasaran.

__ADS_1


"Eh, ma'af tapi kamu mirip sekali dengan nyonya istri pertama tuan majikan kami." jawab pembantu tua itu yang perlahan-lahan mendekati Arumi.


"Mirip dengan istri tuan majikan? aku tidak mengerti?" tanya Arumi yang bingung.


"Jangan-jangn apa kamu hantu?" tanya pembantu itu yang memegang lengan Arumi. Dan Arumi semakin penasaran.


"Bu kalau aku hantu, tentu tak dapat dipegang dan bicara terlalu lama dengan ibu disini." ucap Arumi yang masih saja menatap pembantu itu dengan rasa penasaran.


"Oh, iya ya! Lantas kenapa nona bisa berada dikamar ini?" tanya pembantu itu yang penasaran.


"Saya tidak tahu, saat saya berada di rumah, tiba-tiba ada yang masuk ke dalam rumah dan entah kenapa ada yang memukul saya dari belakang. Dan tahu-tahu saya berada disini dalam kondisi terikat." jelas Arumi yang menceritakan kejadian sebelumnya.


"Oh, jadi seperti itu ya? tapi sungguh nona mirip sekali dengan mendiang istri pertama tuan pemilik villa ini." ucap pembantu itu yang terus melihat ke arah Arumi.


"Krucuk...krucuk...krucuk....!"


Terdengar suara perut Arumi yang minta diisi.


"Oh, nona lapar ya?" tanya pembantu itu yang menebak. Dan Arumi menganggukkan kepalanya.


"Kebetulan saya sudah masak, ayo kita sarapan sama-sama!" ajak pembantu itu dan itulah yang diharapka Arumi saat ini, sarapan dengan sepiring nasi, sayur dan lauk-pauknya berserta minumannya.


"Ayo kita sarapan sama-sama!" seru pembantu itu seraya menarik lengan Arumi dan Arumi ikut begitu saja kemana pembantu itu mengajaknya.


Mereka keluar dari kamar itu, dan Arumi menebarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dengan takjub. Karena begitu mewahnya setiap sudut ruangan itu.


Tak berapa lama, mereka telah sampai disebuah ruang makan dan nampak laki-laki tua yang duduk di kursi meja makan itu.


"Nyo..nyonya!" panggil laki-laki itu yang bangkit dari duduknya dan sama terkejutnya dengan pembantu tadi.


"Bapak juga terkejut melihat nona ini, sama dengan ibu saat membuka pintu kamar tadi " ucap ibu itu yang bicara dengan suaminya.


"Benar-benar mirip dengan nyonya!" seru laki-laki tua yang terus memandangi Arumi.


"Sudahlah pak, kita bicarakan nanti saja! sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu." ajak pembantu itu yang mengambilkan kursi untu arumi duduk.


"Nona, siapakah nama kamu?" tanya pembantu itu seraya mengambilkan nasi, sayur dan lauk-pauk untuk suaminya.

__ADS_1


"Nama saya Arumi Bu, pak! Dan saya murid kelas dua di sekolah Bunga Citra.'' jawab Arumi yang apa adanya.


"A...Arumi? kelas dua di sekolah Bunga Citra?" tanya pembantu itu sekali lagi memastikan pendengarannya.


"I..iya, memangnya ada apa?" tanya Arumi yang penasaran.


"Pak! bapak apa nggak ingat dengan sekolahnya non Keyla?" tanya pembantu itu pada suaminya yang sedang makan, dan seketika menghentikan aktifitasnya.


"Iya, non Keyla memang sekolah disana." jawab suami pembantu itu yang penasaran.


"Keyla?" tanya Arumi yang memang akrab dengan nama itu.


"Itu nona muda anak istri kedua tuan majikan kami. Anaknya cantik tapi sedikit sombong, mungkin itu watak dari ibunya. He...he...!" celetuk suami pembantu itu.


"Oiya, bapak dan ibu ini namanya siapa?" tanya Arumi yang penasaran.


"Nama saya Lastri non, dan ini suami saya namanya Warno. Kami penjaga dan pembantu di villa ini. Kamu boleh saja tinggal disini, ya untuk menemani kami. Kami kesepian, putra dan putri kami sudah bekerja di luar kota." jelas pembantu itu yang menatap Arumi sambil mengulas senyumnya.


"Ah, sudahlah! kita pikirkan nanti. Sekarang kita lanjutkan sarapan kita. Nanti nggak enak kalau sudah dingin! he..he...!" ucap pak Warno sembari tertawa kecil.


"Iya, ayo kita makan lagi. Kalau mau nambah masih banyak lho!" seru Bu Lastri yang menatap pada Arumi.


"Terima kasih, saya mau menghabiskan yang ini dulu." ucap Arumi sembari menganggukkan kepalanya dan mengulas senyumnya.


Mereka bertiga sarapan dengan nikmatnya dan bahkan pak Warno bisa nambah dan nambah lagi.


Jarang sekali Arumi menikmati momen makan bersama sebahagia ini saat bersama ibu tirinya. Karena itulah Arumi sampai berkaca-kaca karena sangat merindukan keluarga yang bahagia.


Begitu nyaman dan senangnya hati Arumi, sampai-sampai tak sadar air matanya jatuh ke pipinya. Dan gadis itu menyekanya pelan-pelan.


...~¥~...


...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2