
Dan keduanya melangkahkan kaki mereka menuju ke sepeda motor satpam sekolah yang sebelumnya di pinjam oleh Barick untuk mengejar Keyla dan juga Barick.
Setelah menyalakan sepeda motor tersebut, Arumi segera naik di jok belakang dan mereka meninggalkan villa dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.
Barick berusaha mengejar Tommy dan juga Keyla, tapi ternyata mereka sudah terlanjur jauh meninggalkan villa.
"Kamu tadi bawa apa Yum?" tanya Barick pada Arumi yang memegang diary dan juga album foto yang tadi dia bawa dari villa.
"Oh, ini diary dan album foto. Ini adalah bukti kenapa selama ini kita selalu diteror oleh orang yang tak dikenal!" jawab Arumi.
"Betulkah?" tanya Barick yang penasaran.
"Hm..hum! nanti aku ceritakan. Sebaiknya kita segera pulang. Aku khawatir dengan keadaan Tiana!" jawab Arumi dan mengingatkan akan adik tirinya.
"Ah, benar juga!" seru Barick yang kemudian mempercepat laju kendaraannya.
Sepeda motor yang dikendarai oleh Barick itu menuju ke sekolah mereka, dan kebetulan satpam si pemilik sepeda masih berjaga dan sedang menunggu rekannya untuk bergantian menjaga sekolah.
"Assalamu'alaikum pak Satpam!" sapa Barick saat menghampiri satpam tersebut.
"Wa'alaikumsalam! eh nak Barick, sudah ketemu nak Aruminya?" jawab sekaligus tanya satpam itu yang melihat Barick turin dari sepeda motornya bersama Arumi.
"Alhamdulillah, dan sekarang saya mau ambil mobil saya pak!" jawab Barick seraya mengatakan maksud dan tujuannya.
"Oh iya ini kuncinya!" seru pak Satpam yang merogoh kantong celananya dan memberikan kunci tersebut pada Barick.
"Terima kasih pak! dan ini kuci sepeda motornya. Oiya, ini ada yang buat beli bensin, ma'af tak sempat isi bensin tadi!" ucap Barick yang memberikan kunci sekaligus memberikan uang dua lembar seratus ribuan pada pak satpam.
"Wah, ini kebanyakan nak!" seru pak satpam yang tak enak hati.
"Sudah tak apa-apa pak! anggap saja saya menyewa. He..he...!" ucap Barick yang sembari tertawa.
"Makasih ya nak!" ucap pak satpam sembari mengulas senyumnya.
"Iya sama-sama. Assalamu'alaikum!" balas Barick seraya berpamitan.
"Wa'alaikumsalam..!" balas pak satpam yang masih mengulas senyumnya.
"Mari pak!" ucap Arumi seraya menganggukkan kepalanya.
"Iya, silahkan!" balas pak satpam itu yang juga ikut menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Arumi dan Barick melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir, dimana mobil Barick masih terparkir di tempat semula.
"Mobil Keyla sudah tak ada ditempatnya! berarti dia sudah pulang ke rumahnya." ucap Barick yang melihat ke tempat parkir dan tinggal mobilnya saja yang masih diam ditempatnya.
"Iya, tinggal mobil kamu saja Bar!" seru Arumi.
"Sudahlah, ayo masuk!" seru Barick yang mengajak Arumi untuk masuk ke dalam mobilnya.
Keduanya kemudian masuk ke dalam mobil, dengan posisi Barick yang mengemudi, sedangkan Arumi duduk disamping Barick.
Sahabat karib Arumi itu melajukan kendaraannya perlahan menuju ke jalan raya dan sebelumnya mengklaksin pak Satpam saat di pintu gerbang dan pak satpam melambaikan tangannya ke arah Barick dan Arumi.
"Yummy, bisakah kamu ceritakan ada apa dengan diary itu?" tanya Barick yang penasaran.
"Bar, di buku diary ini dikatakan kalau aku bukan anak ayah Yuwono. Dan ibuku ternyata bukan istri sah ayah Yuwono."Jawab Arumi seraya menatap Barick yang sedang mengemudi.
"A...apa? lantas siapa ayah kamu?" tanya Barick yang kaget namun masih tetap mengemudi.
"Lucky Harahap." jawab Arumi yang membuat Barick menepikan mobilnya dan kemudian menghentikan laju kendaraannya itu.
"Lucky Harahap?" tanya Barick yang meyakinkan ucapannya.
"Iya!" jawab Arumi dengan menganggukkan kepalanya.
"Saya pikir juga begitu, dan serangkaian teror yang kita alami, kemungkinan ada yang tak menyukai dengan kehadiran aku sebagai putri tuan Lucky Harahap." pendapat Arumi.
"Nah, itu yang aku pikirkan!" seru Barick dengan serius.
"Bar, kita tetap bersama ya! aku takut menghadapi teror-teror itu sendirian."Pinta Arumi seraya menatap wajah Barick.
"Tenang saja, aku akan selalu ada buat kamu!" ucap Barick seraya mengulas senyumnya. Dan kemudian dia menyalakan kembali mobilnya, menyusuri jalan raya yang menuju ke kampung dimana Arumi tinggal.
"Aku jadi paham, kenapa ayah Yuwono menggembleng aku sejak kecil untuk berlatih bela diri. Ternyata ayah membekali aku dengan bela diri, karena tahu akan bahaya yang selalu mencintaiku. Ayah Yuwono, terima kasih banyak!" gumam Arumi dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Ayah Yuwono juga selalu berpesan padaku untuk selalu menjaga kamu sebelum kamu pindah.'' ucap Barick yang sesekali memperhatikan Arumi dan memberikan Arumi tisu yang ada didalam dasbor mobilnya.
"Terima kasih Bar!" ucap Arumi saat menerima tisu tersebut dan dengan segera mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya.
"Sama-sama!" balas Barick seraya mengulas senyumnya.
Tak berapa lama mobil yang dikendarai Barick itu memasuki perkampungan dimana Arumibtinggal dan berhenti disamping rumah Bu Yuli.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Arumi dan juga Barick, pada saat melihat kerumunan penduduk yang berada di depan rumah Bu Yuli.
"Bar, kamu merasa aneh tidak?" tanya Arumi yang terus memperhatikan suasana didepan rumah Bu Yuli seraya melepas sabuk pengamannya.
"Iya, sepertinya mereka bukan untuk mengantri membeli sayur dan sembako! jangan-jangan telah terjadi sesuatu!" jawab Barick yang berusaha menyimpulkan kejadian tersebut seraya melepas sabuk pengamannya.
"Benar, itu yang aku curiga sedari tadi!" ucap Arumi yang kemudian turundari mobil dan keduanya melangkahkan kaki menuju ke depan warung Bu Yuli.
"Permisi....permisi....!"
Seru Arumi dan juga Barick secara bersamaan seraya membelah barisan warga yang sedang berkerumun.
Warga yang melihat Barick dan Arumi yang menerobos barisan kerumunan itu, menyingkir dengan sendirinya.
"Permisi, ada apa? apa yang terjadi?" tanya Arumi yang sangat khawatir dan juga sangat penasaran.
"A..Arumi!" panggil Bu Yuli yang langsung mencari sumber suara.
"Ibu Yuli kenapa?" tanya Arumi yang menghampiri Bu Yuli yang kemudian duduk bersimpuh disamping Bu Yuli.
"Alhamdulillah kamu sudah diketemukan nak Barick, tapi...!" ucap Bu Yuli yang sedikit ragu menceritakan apa yang dia alami pada Arumi.
"Tapi kenapa Bu?" tanya Barick yang ikut penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Bu Yuli.
"Nak Arumi dan nak Barick, ma'afkan ibu karena tak bisa menjaga adik kalian!" jawab Bu Yuli yang sangat berhati-hati.
"Tiana? ada apa dengan Tiana Bu?" tanya Arumi yang begitu cemasnya.
"Tadi ada yang menculik gadis malang itu, dan ibu sudah sebisa ibu berusaha mencegahnya. Tapi mereka telah memukul ibu, sampai ibu tak sadarkan diri!" jawab Bu Yuli dengan terbata-bata.
"A..apa, menculik Tiana!" seru Arumi yang bersamaan dengan Barick yang juga sangat terkejut.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...