Mendadak Jadi Pewaris

Mendadak Jadi Pewaris
Ijin libur kerja


__ADS_3

"Arumi, apakah kamu masih harus bekerja sehabis ini?" tanya Barick yang sesekali melihat Arumi di saat dirinya mengemudi.


"Mungkin aku mau ijin dulu sama Bu Yuli, karena aku penasaran dengan cerita pak Dadang. Kenapa pak Dadang mencari keluarga dari pemilik kalung yang nyata-nyata itu milik ayah." jawab Arumi yang memandang Barick.


"Bolehkah aku menemani kamu?" tanya Barick yang tetap dalam posisi mengemudi.


"Eh, tentu saja Barick! aku kan butuh bodyguard! he...he...he...!" jawab Arumi seraya tertawa kecil.


"Bodyguard! hm...nggak apa-apalah!" ucap Barick seraya mengulas senyumnya.


Tak berapa lama mereka telah sampai di depan warung Bu Yuli. Dan Arumi segera turun lalu melangkahkan kakinya memasuki warung tersebut.


Nampak Bu Yuli sedang sibuk melayani pembeli, dan Arumi membantu sebisanya dalam melayani pembeli sayuran dan sembako itu.


Setelah selesai melayani pembeli, Arumi memberanikan diri meminta ijin pada Bu Yuli.


"Ibu, Arumi minta ijin. Kemarin rumah Arumi kedatangan tamu dari jauh, yang katanya kenal dengan ayah Arumi. Karena itulah Arumi hari ini dan mungkin sampai besok, tidak bisa membantu ibu membungkus-bungkus barang dagangan dan juga melayani pembeli. Mohon ibu Yuli maklum dan tidak memarahi Arumi." ucap Arumi dengan suara lirih tapi masih bisa untuk didengar oleh Bu Yuli.


"Baiklah, tapi kamu harus tetap hati-hati dengan orang baru ya Arumi. Adik kamu banyak cerita tadi." pesan Bu Yuli pada Arumi.


"Iya Bu, terima kasih. Oh iya, Tiana ada dimana Bu?" ucap sekaligus tanya Arumi seraya mengulas senyumnya.


"Tadi ada dihalaman belakang! katanya sedang mengerjakan tugas rumahnya!"jawab Bu Yuli seraya menata barang dagangannya ke lemari etalasenya.


"Terima kasih Bu." ucap Arumi yang bergegas mencari keberadaan adik tirinya.


"Tiana...! Tiana....!" panggil Arumi yang terus mencari keberadaan adiknya.


"Kak Arumi! kakak sudah pulang?" tanya Tiana yang sekaligus menjawab panggilan Arumi.


"Iya, ayo kita pulang!" ajak Arumi pada Tiana.


"Apakah kak Arumi tidak bekerja hari ini?" tanya Tiana yang penasaran.


"Tidak, bukan kah sekarang ini dirumah ada pak Dadang?" jawab sekaligus tanya Arumi.


"Oiya, tak baik meninggalkan rumah disaat di rumah ada tamu." ucap Tiana dengan polosnya.


"Nah, itu baru benar! Yuk kita pulang!" ajak Arumi yang kemudian mendorong kursi roda dimana Tiana ada diatasnya.

__ADS_1


"Iya kak!" ucap Tiana seraya memasukkan buku-buku pelajarannya.


Dan mereka melangkah menuju ke depan dan menemui Bu Yuli.


"Kakak mau belanja dulu!" ucap Arumi yang dengan berbisik.


"Iya kak." jawab Tiana dan Arumi menghampiri Bu Yuli yang sedang mewadahi tepung terigu untuk di timbang.


"Oiya Bu Yuli, saya mau belanja beras dua kilo, telur setengah kilo, sama sayur dan yang lainnya Bu." ucap Arumi seraya menunjuk bahan-bahan yang dia butuhkan.


"Oh, iya. beras sama telur ambil saja. Ibu akan ambilkan sayur mayurnya." ucap Bu Yuli seraya mengambil sayuran pesanan Arumi.


Beberapa menit kemudian, acara belanja Arumi telah selesai dan dia keluar bersama dengan Tiana dari warung Bu Yuli. Gadis itu melangkahkan kakinya mendorong kursi roda yang ditempati adik tirinya itu menuju ke mobil sport yang saat ini di kemudikan oleh Barick.


"Sebentar ya Tia, kakak mau letakkan belanjaan di bagasi dulu!" ucap Arumi pada Tiana.


"Iya kak!" jawab Tiana yang menyerahkan satu persatu belanjaan yang tadi dia letakkan dipangkuannya.


"Barick! tolong bantu Tiana masuk ke dalam mobil!" pinta Arumi seraya menatap ke arah Barick.


"Siap Bu!" balas Barick seraya meletakkan telapak tangan kananya di dahi, seperti sikap siap para perwira tentara.


"Hi...hi...hi...!" Tiana tertawa kecil. Dan Arumi hanya tersenyum kecut.


"Pantas saja lama di dalam warung Bu Yuli, ternyata sekalian belanja!" celetuk Barick saat melihat Arumi yang membuka pintu bagasi.


"Iya kan buat bahan makanan kita, masak nanti malam kita makan angin!" balas Arumi sembari memasukkan belanjaannya ke dalam bagasi, sementara itu Barick juga memasukkan kursi roda Tiana di dalam bagasi tersebut.


Setelah selesai memasukkan kursi roda tersebut, Barick segera menutup pintu bagasi mobil tersebut.


"Iya-iya istriku!" jawab Barick dengan bercanda dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu kemudi Ibu


"Apa'an sih dari tadi istra-istri! woy, kita ini sahabatan, bukan suami istri!" seru Arumi seraya melihat ke arah Barick yang sedang mengemudi.


"Ya siapa tahu saja kamu mau jadi istri aku! aku berjuang mencarimu seraya mencari papa aku!" seru Barick yang melirik ke arah Arumi.


"Itu kalau kita berjodoh, kalau tidak! trus mau apa?" tanya Arumi yang masih saja melihat ke arah Barick yang mengemudi dan sampai di halaman rumah Arumi.


"Aku akan terus berdo'a agar kita berjodoh!" ucap Barick yang saat ini sudah berhenti mengemudi, dan dia menatap Arumi dengan intens.

__ADS_1


"Eh, ke..kenapa tatapan Barick seperti itu?" gumam dalam hati Arumi yang merasakan desiran dihatinya saat Barick menatapnya dengan intens.


"Hm...hm...! kak, aku masih disini lho!" seru Tiana yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Eh..!"


Arumi tersentak kaget dan demikian juga dengan Barick, yang kemudian mengubah posisinya dan dengan rasa tak enak hati mereka segera turun dari mobil.


Keduanya pun membagi tugas, Barick mengambil kursi roda di bagasi dan mengangkat tubuh Tiana untuk kembali duduk diatas kursi rodanya. Sedangkan Arumi mengambil belanjaannya.


Kemudian mereka masuk ke rumah, dan setelah Arumi meletakkan belanjaannya di dapur, dia bersama Barick dan Tiana menjenguk pak Dadang di kamar tamu.


"Tokk...tokk...tokkk...!"


"Assalamu'alaikum!"


Ucap salam Arumi, Barick dan Tiana yang hampir bersamaan.


Nampak pak Dadang sedang berada didekat jendela, dia sedang melihat keadaan diluar rumah yang terlihat taman bunga dan juga rerumputan yang hijau.


"Wa'alaikumsalam!" jawab pak Dadang yang kemudian menoleh ke arah Arumi, Barick dan juga Tiana yang baru saja masuk ke kamar dan menghampirinya.


"Pak Dadang apa kabarnya? apakah sudah mendingan?" tanya Arumi yang penasaran.


"Alhamdulillah sudah mendingan, dan sepertinya aku harus segera mengajak nak Arumi untuk menemui pengacara Rohadi." ucap pak Dadang yang menatap Arumi.


"Hm, apakah lebih baik kita makan dulu ya?" ucap tanya Arumi.


"Oiya pasti itu! nih perut aku sudah konser dari tadi!" balas Barick sembari mengulas senyumnya.


"Hm ...dasar kau ini ya!" seru Arumi seraya mencubit lengan Barick.


...~¥~...


...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2