
"Huahaahemm...!"
Arumi menguap, dan akhirnya dia tertidur dengan pulasnya.
Jam dinding menunjukkan pukul lima pagi, Arumi bangun dengan sedikit bermalas-malasan.
"Eh, dah jam lima!" gumam dalam hati Arumi yang kemudian bangun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta berwudlu.
Setelah keluar dari kamar mandi, Arumi segera menunaikan sholat subuh. Kemudian Arumi ke dapur dan segera memasak untuk sarapan mereka berdua.
Selesai memasak, Arumi kembali ke kamar Tiana dan mengantarkan Tiana ke kamar mandi untuk mandi. Lalu menyiapkan seragam sekolah Tiana.
Setelah Tiana selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Arumi memapah Tiana untuk duduk di kursi rodanya.
"Kamu jalan sendiri ke ruang makan ya, kakak mau mandi dan mengganti pakaian." ucap Arumi yang telah selesai mendudukkan adiknya di kursi rodanya.
"Iya kak, Tia sudah bisa jalan sendiri " ucap Tiana seraya mengulas senyum dan mengambil tas sekolahnya.
Dan keduanya melangkahkan kaki menuju ke tujuan masing-masing. Tiana ke ruang makan, Arumi ke kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
Beberapa menit kemudian Arumi sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, kemudian dia keluar dari kamarnya setelah sebelumnya mengambil tas sekolahnya.
Sesampainya di ruang makan, Arumi segera menyiapkan makanan untuk diri ya dan juga untuk adiknya Tiana.
"Sepi ya kak! walaupun ibu suka marah-marah, tapi sepi juga kalau tak ada ibu." ucap Tiana seraya menerima piring yang sudah diisi nasi oleh Arumi.
"Iya, dan kita harus tetap terbiasa seperti ini." ucap Arumi yang selesai mengambil nasi untuk dirinya dan kemudian mengambil sayur dan lauk-pauk yang tadi dia masak.
Setelah berdoa, keduanya sarapan dengan lahapnya walaupun hanya sayur bayam dan tempe goreng serta sambal terasi.
Selesai makan, Arumi segera menyiapkan bekal untuk mereka bawa ke sekolah.
"Hari ini lauk sambal terasi sama tempe saja ya Tia. kakak tadi nggak sempat belanja." ucap Arumi seraya menutup kotak bekal mereka.
"Iya nggak apa-apa kak, tempe dan sambal kan juga enak. Lagi pula mengenyangkan!" ucap Tiana sambil mengulas senyumnya.
"Bagus, anak baik!" ucap Arumi sembari mengulas senyumnya dan kemudian memasukkan bekal itu satu ke dalam tas Tiana dan satu lagi ke dalam tas miliknya.
Setelah itu keduanya melangkahkan kaki menuju ke pintu untuk keluar dari rumah.Kemudian Arumi membuka dan menutup serta mengunci pintu rumahnya.
"Tia, pulang sekolah nanti kamu ke rumah Bu Yuli ya!" ucap Arumi saat mendorong kursi roda yang dimana Tiana duduk diatasnya.
__ADS_1
"Tapi apa Bu Yuli tak keberatan kak?" tanya Tiana yang penasaran.
"Sebaiknya kita tanyakan pada Bu Yuli sebentar ya, sebelum berangkat ke sekolah!" seru Arumi.
"Iya kak!" ucap Tiana dan kemudian mereka melangkah menuju ke rumah Bu Yuli, dimana Bu Yuli sedang melayani beberapa pembeli di warungnya.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam Arumi dengan ramah.
"Wa'alaikumsalam, eh nak Arumi! ada apa?" jawab sekaligus tanya Bu Yuli saat sudah selesai melayani pembeli sayuran.
"Begini Bu, semalam ibu ditahan polisi karena kasus penganiayaan..." 1 1111¹111pljawab Arumi dengan hati-hati, tapi tetap saja membuat Bu Yuli terkejut dan penasaran dengan jawaban dari Arumi.
"Apa benar yang aku dengar ini? ibu kamu di tahan polisi?" tanya Bu Yuli yang memastikan dari ucapan Arumi.
"Iya, ibu memang saat ini sedang dipenjara Bu. Ibu mengirim surat pada kami." ucap Tiana yang memberikan kertas yang berisikan tulisan dari ibunya pada Bu Yuli.
Kemudian ibu Yuli membacanya dan setelah selesai, dia melihat kedua gadis beda usia dihadapannya itu dengan iba.
"Jadi begitu, baiklah ibu mengijinkan Tiana untuk pulang kesini saat pulang sekolah nanti. Pintu rumah ini terbuka untuk kalian!" ucap Bu Yuli sembari mengulas senyumnya.
"Benarkah!" seru Arumi dan juga Tiana yang bersamaan.
"Hem..em!" balas Bu Yuli yang menganggukkan kepalanya..
"Sudah cepatlah berangkat, nanti terlambat lho!" ucap Bu Yuli yang mengingatkan.
"Iya Bu, assalamu'alaikum!" ucap pamit Arumi yang bersama lagi dengan Tiana.
"Wa'alaikumsalam..! hati-hati ya!" jawab sekaligus pesan Bu Yuli.
"Baik Bu!" jawab Tiana dan Arumi yang kompak lagi.
Kemudian Arumi mendorong kursi roda dimana Tiana duduk diatasnya perlahan-lahan menuju ke jalan raya. Arumi mempercepat langkahnya karena jam sudah menunjukkan jam setengah tujuh pagi.
Tak berapa lama Arumi telah sampai dan seperti biasa dia mencari guru wali kelas Tiana.
"Assalamu'alaikum Bu Mul!" sapa Arumi yang menghampiri wanita tua yang baru saja memarkirkan sepeda motornya.
"Wa'alaikumsalam, eh nak Arumi!" balas Bu Mul wali kelas Tiana.
"Bu, saya nitip adik saya. saya nanti tidak bisa menjemput Tiana waktu pulang sekolah dan ibu juga demikian." ucap arui yang terbata-bata.
__ADS_1
"Kalau kamu kan memang sedang sekolah, tapi ibu kamu apa kerja?" tanya Bu Mul yang penasaran.
"Ibu saat ini ada di penjara Bu, jadi tak bisa bersama lagi sampai masa tahanannya selesai " jawab Arumi lirih tapi masih bisa didengar oleh Bu Mul.
"Oh, baiklah. Nanti ibu saja yang antar Tiana pulang." ucap Bu Mul seraya menatap Tiana.
"Tapi apa tidak merepotkan Bu Mul?" tanya Arumi yang tak enak hati.
"Sudah tidak apa-apa, ini kewajiban ibu." ucap Bu Mul yang mengulas senyumnya.
"Tapi nanti di rumah tidak ada orang, ibu bisa menitipkan Tiana pada Bu Yuli Bu, beliau adalah tetangga kami yang rumahnya disamping rumah kami." ucap Arumi yang memberitahu.
"Ibu Yuli?" tanya Bu Mul yang memastikannya.
"Iya Bu, pemilik warung sembako dan juga sayur mentah. Nanti pulang sekolah saya bekerja disana Bu. membantu mewadahin gula, tepung terigu dan lain-lain." ucap Arumi.
"Oh, baiklah kalau begitu. Kamu jangan khawatir ya." ucap Bu Mul dengan menepuk lengan Arumi, agar gadis itu tak khawatir dan percaya padanya.
"Terima kasih Bu, saya berangkat!" ucap pamit Arumi.
"Iya hati-hati!" balas Bu Mul yang mengulas senyumnya.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam pamit Arumi.
"Wa'alaikumsalam!" balas Bu Mul yang masih melihat Arumi yang kemudian membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan Tiana, Bu Mul dan sekolah luar biasa itu.
Setelah melihat Arumi hilang dari pandangan mata mereka, Bu Mul mendorong Tiana untuk masuk ke kelas.
Sementara itu Arumi berjalan ke jala raya seraya mencari angkutan yang menuju ke tempatnya menimba ilmu.
Tak berapa lama datanglah angkutan umum yang biasa dia tumpangi saat berangkat ke sekolah.
Setelah Arumi masuk ke dalam angkutan umum itu, angkutan itu melaju dengan kecepatan sedang ke arah yang sejalan dengan sekolah Arumi.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...