
"Hm ..dasar kau ini ya!" seru Arumi seraya mencubit lengan Barick.
"Auw, tapi iya kan kalau kita belum makan siang?" tanya Barick yang mengusap-usap lengannya yang memerah.
"He..he...! iya aku juga lapar. Aku masak dulu ya!" jawab Arumi yang kemudian dia bergegas melangkahkan kaki ke kamarnya terlebih dahulu untuk menunaikan sholat dhuhur dan kemudian melangkahkan kakinya ke dapur.
Arumi mulai memasak dan Tiana membantu menyiangi sayuran dan mengiris tempe menjadi beberapa bagian.
Tak berapa lama masakan telah matang dan mereka segera makan siang bersama.
"Pak Dadang, apakah tempat pengacara Rohadi itu jauh dari tempat ini?" tanya Arumi yang penasaran sambil meminum minumannya.
"Lumayan jauh, tapi tak sampai dua jam perjalanan." jawab pak Dadang yang sudah menyelesaikan makannya.
"Kalau kita kerumah pengacara Rohadi, Tiana bagaimana?" tw ya Barick yang melihat ke arah Tiana.
"Aku dirumah saja, tidak apa-apa kak! kalau aku ikut, pasti akan merepotkan kalian." ucap Tiana yang menatap kakaknya Arumi dan juga Barick secara bergantian.
"Kamu jangan disini sendirian, bagaimana kalau kamu kakak titipkan pada Ibu Yuli saja. Kakak khawatir kalau ada apa-apa dengan kamu!" seru Arumi yang menatap ke arah Tiana.
"Sudah, diajak saja nggak apa-apa! Dia juga putri pak Yuwono bukan?" tanya pak Dadang yang memberikan saran pada Arumi dan Tiana.
"Oh iya, baiklah kalau begitu. Ayo tunggu apa lagi, kita berangkat sekarang juga!" seru Barick yang sejak dari tadi diam saja.
"Iya, ayo lebih cepat akan lebih baik lagi." ucap pak Dadang yang kemudian bangkit dari duduknya dan diikuti dengan yang lainnya.
Mereka berempat melangkahkan kaki menuju ke luar rumah, dan setelah sebelumnya Arumi menutup dan mengunci semua jendela dan pintu rumahnya.
Setelah itu Arumi yang mendorong Tiana, kemudian Barick yang melangkahkan kaki bersama dengan pak Dadang.
"Bapak yang mengemudi ya!" seru Barick yang menyerahkan kunci mobilnya pada pak Dadang.
"Ok!" balas pak Dadang seraya menerima kunci mobil yang diberikan oleh pak Dadang.
Kemudian mereka masuk dengan posisi Pak Dadang sebagai pengemudi, Barick ada disebelah pak Dadang. Sementara Arumi dan Tiana duduk di belakang mereka.
__ADS_1
"Pak Dadang, bisa anda jelaskan kenapa pak Dadang bisa sampai di depan rumah Arumi?" tanya Barick yang ingin dia tanyakan sedari kemarin.
"Entahlah! Yang jelas oleh mendiang tuan Lucky Harahap, kalau beliau memberikan kalung itu dan mengatakan pada saya untuk mencari keluarga terutama anak dari tuan Yuwono selaku pemlik kalung itu. Dan mengantarkannya pada pengacara Rohadi. Nanti pengacaralah yang akan menjelaskannya." jawab pak Dadang sambil terus mengemudi.
"Bukan itu maksud Barick pak Dadang! tapi kenapa pak Dadang bisa pingsan di depan rumah kami?" tanya Arumi yang menegaskan pertanyaan Barick.
"Iya itu maksud saya Pak!" seru Barick yang membenarkan pertanyaan Arumi.
"Oh, itu!" ucap pak Dadang yang berusaha mengingat kejadian tempo hari.
"Pada waktu itu saya sedang menjenguk tuan Lucky Harahap, dan tuan saya itu memberikan kalung itu pada saya dan dihadapan pengacara Rohadi. Beliau menyuruh saya mencari keluarga dari pemilik kalung itu. Dan sejak itulah saya dan pengacara Rohadi berusaha mencari keberadaan keluarga Tuan Yuwono." cerita pak Dadang.
"Entah kenapa tiba-tiba saja data tentang tuan Yuwono semuanya menghilang bak ditelan bumi. Dan waktu itu kami kesulitan mencari keluarga tuan Yuwono, hanya kalung itulah satu-satunya petunjuk dan penuntut saya untuk mengetahui keberadaan keluarga tuan Yuwono." lanjut cerita pak Dadang yang masih terus mengemudi.
"Aneh, kenapa bisa hilang ya pak?" tanya Arumi yang penasaran.
"Apakah ada kaitannya dengan keadaan pak Dadang yang yang pingsan di depan rumah Arumi?" tanya Barick yang mencoba menggabung-gabungkan kronologi kejadian yang diceritakan oleh pak Dadang.
"Sepertinya iya, dan waktu itu saya disekap sama tiga orang yang memakai topeng. Selama tiga hari saya tak diberi makan dan minum, setelah itu saya dimasukkan ke dalam mobil. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka mencekik saya, say pun pingsan dan entah kenapa saya berada di depan rumah kalian." jelas pak Dadang yang sesekali menatap ke arah Barick dan juga Arumi dan Tiana.
"Dan ternyata mereka membuang pak Dadang ke tempat yang tepat! yaitu di rumah keluarga ayahnya Arumi!'' sahut Barick yang menarik kesimpulan dari cerita pak Dadang.
"Masyaa Allah! benar juga, kenapa tak terpikirkan olehku!" seru pak Dadang yang menepuk dahinya secara pelan.
Kemudian percakapan mereka kembali berlangsung secara ringan.
Sementara Tiana tertidur sedari tadi, dengan kepalanya berada di atas pangkuan Arumi.
Jam di ponsel Barick menunjukkan pukul tiga sore hari.
"Pak Dadang, sebaiknya kita cari masjid di tepi jalan. Kita sholat ashar dan sekalian istirahat!" pinta Barick setelah menatap poncelnya dan saat ini menatap ke arah pak Dadang.
"Oh, boleh! aku sih setuju saja!" balas pak Dadang yang terus melihat ke arah depan jalan raya.
Tak berapa lama terlihatlah sebuah masjid yang berada di tepi jalan, dan pak dadang menepikan mobil yang dikemudikannya lalu menghentikan nyala mesin mobil tersebut.
__ADS_1
Arumi membangunka adiknya Tiana yang masih tidur dengan pulasnya.
"Tia...Tia...! ayo bangun!" seru Arumi sembari menggoyang-goyangkan tubuh Tiana.
"Huahaheeem....! apakah kita sudah sampai kak?" tanya Tiana yang bergegas bangun dari tidurnya dan melihat ke sekelilingnya.
"Belum, kita sholat Ashar lebih dulu ya!" ajak Arumi.
"Oh, iya kak!" ucap Tiana dan kemudian mereka keluar dari dalam mobil dan menuju ke tempat berwudlu.
Arumi membantu Tiana dalam berwudlu, dan setelah itu dia sendiri yang mulai berwudlu di tempat wudlu khusus untuk perempuan.
Demikian pula dengan Barick dan pak Dadang yang berwudlu di tempat wudlu laki-laki.
Setelah selesai berwudlu, mereka kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam masjid dan mulai menunaikan sholat Ashar berjama'ah.
Beberapa menit kemudian mereka telah selesai menjalankan ibadah sholat Ashar, kemudian mereka melangkahkan kaki kembali menuju mobil milik Barick.
Mereka berempat pun masuk dan kemudian pak Dadang menyalakan mobil tersebut perlahan-lahan menuju ke jalan raya.
Perjalanan menuju ke rumah pengacara Rohadi pun di mulai kembali dan mereka juga kembali dengan perbincangan-perbincangan ringan, yang akhirnya mereka telah sampai di tempat yang menjadi tujuan mereka berempat.
Rumah dengan rancangan minimalis dengan aksen taman bunga di halaman depan yang diberi air mancur kecil yang menambah sejuk rumah yang mereka datangi.
Setelah menghentikan laju mobil yang dikemudikannya, pak Dadang dan yang lainnya keluar dari dalam mobil.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/Komen/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...