
"Sama kak, Tiana juga merasakan akan ada sesuatu yang menimpa kita!" ucap Tiana yang terus menatap ke arah mobil berwarna hitam itu.
"Ah, positif thinking saja. Yuk kita pulang seraya melihat apa yang ada disana!" ucap Arumi dan Tiana menganggukkan kepalanya, kemudian dengan perlahan-lahan mereka melangkahkan kaki menuju ke arah rumah mereka.
Sesampainya di depan rumah mereka, dan mobil yang mencurigakan itu telah pergi. Namun ternyata mereka meninggalkan sesosok manusia yang tergeletak di selokan depan rumah dalam kondisi yang mengenaskan.
"Siapa itu kak?" tanya Tiana sambil menunjuk ke arah sesosok laki-laki yang tergeletak lemah dan nampak kurus kering.
"Coba kakak lihat, semoga buka orang jahat!" seru Arumi yang bergegas menghampiri sesosok tubuh seorang laki-laki itu.
"Iya, hati-hati kak!' ucap Tiana yang penasaran dengan sesosok tubuh tersebut.
Arumi perlahan-lahan mendekati sesosok tubuh yang mencurigakan itu. Dan perlahan dengan hati-hati dirinya berjongkok untuk melihat sesosok tubuh yang nampak seperti seorang laki-laki yang berusia lebih dari lima puluh tahun itu.
Perlahan gadis itu memeriksa napas wanita setengah baya itu dengan jari telunjuk kanannya.
"Masih bernapas, Bapak ini orang gila apa orang normal ya?" gumam dalam hati Arumi yang sedikit takut.
"La...par, ha...us...!"
Ucap ya g keluar dari mulut laki-laki itu, yang menandakan masih hidup dan dia memang tidak gila.
"Ba..pak haus? sebentar ya pak!" seru Arumi yang kemudian dia mengambil bekal air minumnya yang selalu dia bawa dan kebetulan masih ada.
Setelah menemukan botol air minumnya, Arumi menyuapkan botol itu ke mulut laki-laki setengah baya itu.
Tiba-tiba ada sorot mobil yang mengarah pada arumi dan kemudian padam. Mobil itu berhenti dan nampak pengemudinya keluar dari mobil tersebut.
"Arumi! kenapa masih ada di luar rumah malam-malam begini?" suara seorang pemuda yang setengah berlari menghampiri Arumi dan Tiana.
"Eh, Barick! kebetulan. Bantu aku bawa bapak ini masuk ke rumah, bapak ini nampaknya sedang kelaparan!" seru Arumi yang membuat Barick penasaran.
"Apakah dia benar-benar orang baik Arumi? aku khawatir kalau dia orang jahat!" seru Barick yang berusaha untuk waspada.
"Niat kita menolong, kalau dia mau jahat sama kita pasrahkan pada yang maha Kuasa. Yuk, bantu bawa bapak ini masuk ke rumah!" jawab Arumi sembari mengulas senyumnya.
Barick berusaha untuk memahami maksud Arumi, dan dia kemudian mengangat tubuh bapak itu untuk dapat berdiri. Kemudian dia memapah laki-laki itu dan diikuti Arumi yang mendorong Tiana melangkah masuk ke halaman dan sampailah di teras rumah Arumi.
"Tunggu sebentar, biar aku buka pintunya!" seru Arumi yang bergegas membuka pintu dan setelah pintu terbuka, mereka bergegas masuk dan menutup serta mengunci pintu rumah tersebut.
__ADS_1
Barick memapah laki-laki setengah baya itu sampai di ruang tamu, Arumi dan Tiana juga sampai di ruang tamu.
"Aku akan buatkan kalian minuman, dan makanan. Kebetulan Bu Yuli tadi memberikan mie instan dan telur ayam. Tunggu sebentar ya!" seru Arumi yang bergegas ke dapur, setelah Barick dan Tiana mengiyakan.
Sementara itu Barick mengambil air hangat dan handuk kecil yang sempat diambilkan Arumi, dengan telaten Barick menyeka wajah sampai tubuh bagian atas laki-laki setengah baya itu.
"Bapak ini nampak lemah sekali. Kira-kira berapa lama dia tak makan maupun minum ya?" gumam dalam hati Barick yang terus membersihkan badan laki-laki itu.
Tiba-tiba Barick menemukan luka yang membiru pada leher laki-laki itu.
"Luka ini seperti ada yang berusaha mencekik bapak ini? Jangan-jangan ada yang berniat membunuh bapak tua ini?" gumam dalam hati Barick yang semakin penasaran dengan laki-laki yang ada dihadapannya itu.
Demikian pula dengan Tiana yang nampak sangat kasihan, melihat laki-laki setengah baya itu.
"Kasihan sekali, sesusah-susahnya keluarga aku ternyata masih ada yang lebih susah." ucap bocah yang berusia delapan tahun itu.
Makanan dan minuman sudah datang!" seru Arumi yang datang seraya membawa nampan yang berisikan minuman yang dia buat.
"Wah, buruan aku juga sudah lapar nih! he...he...!" celetuk Barick yang membantu meletakkan gelas-gelas yang berisikan teh panas buatan Arumi ke atas meja.
"Tunggu ya, aku ambil makanannya dulu!" ucap Arumi.
"Ternyata nasinya habis, terpaksa mie rebus sama telur saja ya makanan kita malam ini." ucap Arumi yang datang lagi dengan membawa nampan yang berisikan mie rebus yang baru saja dia buat.
"Iya nggak apa-apa. Ini juga sudah lumayan buat mengganjal perut kita!" seru Barick yang kembali membantu Arumi mengambil satu persatu mangkuk yang berisi mie instan itu.
"Mie rebus ya kak! Tia mau sekali!" seru Tiana yang bersemangat.
"Iya-iya tapi sebentar ya, masih panas!" seru Arumi yang mengingatkan.
Tak berapa lama mereka makan bersama dan tak lupa Arumi menyuapi laki-laki setengah baya itu.
"Apakah kamu punya pakaian laki-laki?" tanya Barick yang menatap Arumi.
"Pakaian ayah masih ada kak!" seru Tiana yang mengingatkan.
"Oh, iya! ada di kamar ibu!" seru Arumi yang bangkit dari duduknya dan bergegas melangkahkan kaki menuju ke kamar ibu tirinya.
Gadis itu segera mengambil pakaian santai milik ayahnya yang masih rapi tertata di lemari dan membawa pakaian itu kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
"Semoga muat ya!" seru Arumi sembari menunjukkan pakaian yang dia bawa.
"Aamiin, oke makan dan minum sudah, baju juga sudah ada. Sekarang bapak ini mau istirahat dimana?" tanya Barick yang menatap Arumi dan Tiana yang bergantian.
"Iya dirumah ini, mau dimana lagi?" ucap Arumi yang sedikit bingung.
"Iya dirumah ini, tapi maksud aku dikamar mana?" tanya Barick dengan sedikit gemas.
"Oh, iya he...he...! ma'af, di kamar tamu saja! ayo aku antarkan!" ucap Arumi dengan sedikit malu.
"Wah, sepertinya kak Arumi sudah ngantuk. Sama seperti aku!" ucap Tiana yang kemudian dia menguap.
"Huahahem....!"
Tiana pun memejamkan matanya dengan bersandar di kursi rodanya.
"Kasihan sekali! sebentar ya Tia, kak Arumi mau antar kak Barick dan si bapak ini ke kamar!" bisik Arumi seraya mengusap kepala adik tirinya.
Kemudian Arumi membantu Barick memapah bapak-bapak itu menuju ke kamar tamu.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai, dan mereka membaringkan si bapak itu diatas tempat tidur.
"Arumi, biar aku mengganti pakaian si bapak ini. Kamu bawa adik kamu ke kamar, kasihan kalau terlalu lama tidur diatas kursi roda!" seru Barick seraya menata posisi berbaring laki-laki itu.
"Oiya, ini pakaiannya!" seru Arumi seraya memberikan pakaian yang tadi telah dia ambil dari lemari ibu tirinya.
Setelah itu Arumi bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Mendadak Jadi Pewaris ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhananh wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1