
Desa Vorgan
Di sebuah rumah yang nampak sangat sederhana, hanya ada perabotan kayu yang nampak usang namun masih terlihat cukup kuat. Seorang paruh baya berbincang dengan anak berumur sekitar 9 tahun.
"Perkenalkan pak kepala desa Justus nama saya Davin Lancaster, panggil saja Davin. Tujuan saya kemari ingin mencari tempat untuk bermalam. Kemungkinan anda bisa membantu.'' Kata Davin memperkenalkan diri.
"Nak Davin, satu-satu nya tempat untuk kamu bisa menginap adalah di rumah ini. Namun sebelumnya saya harus memeriksa sesuatu, mohon tunggu sebentar.'' Kata Justus, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Justus pergi menuju ruangannya memeriksa setiap lembar kertas yang dia dapatkan dari utusan kerajaan. Terdapat seketsa gambar dari masing-masing kertas itu.
Seorang gadis cantik berambut panjang kuning keemasan berjalan membawa secangkir minuman meletakkannya ke meja tepat di hadapan Davin, tanpa sepatah kata pun. Dia hanya menunduk de hadapan Davin tidak memperhatikanya.
Namum semenjak datang mata gadis itu tidak berhenti menatap seekor kucing belang hitam orange yang duduk meringkuk di samping Davin.
"Maaf tuan, kalau saya boleh bertanya apakah kucing itu binatang peliharaan anda.'' Tanya gadis itu kepada Davin. matanya berwarna kuning berkaca-kaca, menunjukkan kesukaannya terhadap Trais yang ada di samping Davin.
Davin melihat gadis itu sepertinya sangat menyukai binatang kucing.
"Sentuhlah jika kau menginginkannya.'' Kata Davin
"Benarkah?''. Gadis itu tampak senang, menatap Trais dan langsung mengangkat dan memeluknya.
"Namanya Trais, siapa namamu nona?'' Tanya Davin menatap tajam ke mata Trais agar dia tidak melukai gadis itu. Melihat tatapan tuannya Davin, Trais sudah pasrah akan dirinya yang hampir tidak bisa bernafas karena pelukan kuat gadis itu.
"Panggil saja Liyana, ayo Trais kita pergi bermain.'' Jawab Liyana yang sepertinya seumuran dengan Davin. Tentunya bukan umur Davin saat berada di bumi. Liyana langsung pergi meninggalkan Davin dan membawa Trais.
"Maafkan atas ketidak sopanan putriku nak Davin. Dia sangat menyukai binatang kucing, tidak akan bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Kamu bisa bermalam di desa ini. Saya akan menyiapkan kamar terlebih dahulu. Untuk biaya permalamnya cukup membayar 3 keping perak. nanti akan saya antarkan makan malam ke kamar nak Davin dan sarapan untuk besok pagi.'' Kata Justus beranjak dari tempat duduknya.
Saat Justus ingin pergi Davin memanggilnya. "Tunggu dulu Pak Justus, emm. Saya tidak memiliki uang. Namun apakah ini bisa di gunakan untuk membayarnya.'' Davin berkata sambil mengeluarkan berlian berwarna putih sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Davin tidak mengetahui harga mata uang di dunia ini. Jadi dia hanya menyerahkan sesuatu yang menurutnya berharga sebagai pengganti pembayaran kamar untuknya bermalam.
Justus hanya berdiri mematung mulutnya terbuka lebar dengan matanya yang melotot seakan keluar dari tempatnya.
__ADS_1
Justus baru tersadar kala Davin memanggilnya berulang kali.
"Mohon maaf tuan Davin berlian itu terlalu banyak untuk pembayaran kamar disini. Saya tidak memiliki kembalian untuk itu.'' Kini Justus menjadi sangat sopan sikapnya berubah, melihat sebongkah berlian Justus menganggap jika Davin memiliki latar belakang yang tidak biasa.
Davin tetap memaksa Justus untuk mengambilnya dan membiarkannya menginap untuk beberapa malam. Itu di karenakan Davin merasakan ada sesuatu yang tidak beres di desa ini. Membuat jiwa dermawannya sebagai manusia bangkit ingin membantu dan menyelidikinya.
Akhirnya Justus menerima apa yang di tawarkan Davin. Setelah Justus selesai menyiapkan kamar Davin memintanya untuk menjeleskan tentang mata uang di tempat ini. Meskipun Justus tidak mengerti maksud dari Davin tanpa berani menanyakannya, langsung menjelaskan nilai mata uang di sini.
Dari apa yang di jelaskan oleh Justus di dunia ini terdapat tiga jenis mata uang yang berlaku. Yaitu perak, emas, dan platinum.
Perak adalah mata uang dengan nilai yang terendah, 100 keping perak sama dengan 1 keping emas. dan 100 keping emas sama dengan 1 keping platinum.
Selain itu terdapat juga batang emas dan batang platinum.
Satu batang emas nilainya 1000 keping emas itu setara dengan 10 keping platinum. Dan satu batang platinum nilainya 1000 keping platinum.
Davin ingin sekali berbincang dan menanyakan banyak hal kepada Justus, namun karena malam sudah larut mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.
Ke esokan harinya Davin sudah terbangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Dia sudah berada di halaman rumah melakukan perenggangan tubuh. Ini berfungsi agar semua organ dalam tubuhnya dapat selalu bisa mengalirkan mana dengan baik dan lancar.
Setelah selesai Davin pergi membersihkan diri dan memakan sarapannya.
"Hei. Kepala desa keluarlah jangan membuatku menunggu lama.'' Seseorang dengan kepala botak berbadan besar berteriak dari halaman rumah Justus.
Justus bergegas keluar di tangannya terdapat sebuah kantong sepertinya berisi kepingan uang.
Davin mengikutinya agak jauh dari belakang. Pria botak itu langsung menyambar kantong yang ada di tangan Justus. Menimbang dengan menjatuh-jatuhkan pangkal kantong di telapak tangan yang lain. Wajah pria itu tampak marah kepada Justus.
Justus terlihat takut kepada pria botak itu dan hanya menunduk saja.
Davin menduga akan ada hal buruk yang menimpa Justus. Davin lekas menghampiri mereka. Benar saja tendangan datang dari pria botak itu menuju perut Justus.
"Hahh. siapa kau bocah kecil beraninya menahanku?'' Kata pria itu menarik kakinya namun melayangkan pukulan lain dengan tangannya ke arah Davin.
__ADS_1
Boom.
Pria botak itu sudah tersungkur jauh dari tempatnya berada memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Mencoba bangkit dengan susah payah, namun Davin sudah berada tepat di hadapannya.
"Pergi!'' Ucapan Davin lirih namun sangat jelas di telinga pria botak itu, dengan sedikit aura membunuh Davin yang menekannya.
Dengan membunuh ribuan monster Davin sudah memiliki aura membunuhnya sendiri.
Dengan sempoyongan pria botak itu berlari meninggalkan kediaman kepala desa.
"Pak Justus jangan memberikan apapun kepada orang yang tidak memiliki sopan santun terhadap orang lain, terutama yang lebih tua sepertimu. Mari kita masuk dulu ceritakan apa yang terjadi.'' Kata Davin memberikan kembali kantong uang yang terjatuh kepada Justus.
"Tu. tuan Davin apa yang telah anda lakukan. Perbuatan anda akan membuat masalah besar bagi desa ini.'' Kata Justus tergagap ketakutan.
"Tenanglah pak kepala desa, aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.'' Kata Davin
Masih mengalami sedikit ketakutan dan gemetar di tubuhnya Justus menganggukkan kepala dan memasuki rumah.
"Hariric ikuti pria botak itu.'' Perintah Davin, Hariric langsung menghilang dari hadapan Davin.
Setelah sedikit tenang Justus mulai menceritakan banyak hal yang terjadi di Desa ini.
Warga desa Vorgan sudah hidup 3 tahun lebih di bawah bayang-bayang para bandit gunung. Kepala desa juga menceritakan kalau para bandit juga menculik wanita desa, meskipun tidak memiliki cukup bukti namun kepala desa yakin penculiknya adalah para bandit.
Mereka harus memberikan upeti kepada kawanan bandit setiap bulannya setidaknya 100 keping perak. Jika tidak mereka akan meratakan desa ini.
Penculikan baru terjadi dalam satu tahun ini. Sudah ada 3 wanita yang menghilang, namun tidak menemukan jejak apapun.
Justus sudah sering meminta bantuan ke wali kota, namun hingga sekarang tidak ada tanggapan apapun. Justus beranggapan jika Wali kota ada hubungannya dengan para bandit itu. namun itu hanya perkiraan Justus saja.
Bersambung
.
__ADS_1